
"Udah?" tanya mas bojo ketika aku sudah beberapa kali mengambil gambar yang terbaik.
"Udah, terima kasih yah sudah mau diajak foto. Padahal Lydia tahu kalau Mas tidak suka untuk berfoto," ucapku dengan menunjukan foto terbaik yang barusan kami ambil.
"Kata siapa Mas nggak suka difoto? Suka kok, apalagi fotonya sama kamu, suka banget." Yah, meskipun aku lihat mas bojo kalau diminta berpose seperti terpaksa, tetapi pada kenyataanya ternyata suka juga kalau aku ajak foto. Memang mimik wajahnya datar, tapi tidak apa-apa, aku tetap suka dengan mas bojo.
"Ya udah yuk buruan jalan nanti malah Mamih marah."
"Bi, Mbok, Lydia titip Iko yah, sekarang kalau malam tidak sering bergadang kok." Sebelum pergi aku pun kembali menitipkan jagoan pada Bibi Lilis dan Mbok Jum. Meskipun tanpa aku bilang lagi mereka akan tetap menjaga Iko dengan baik.
"Setelah memastikan Iko bakal dijaga dengan baik, dan berpamitan dengan jagoan pun sudah. Aku dan mas bojo pun langsung menujuk ke gedung di mana pesta akan diadakan. Ternyata gedung tempat pesta tidak jauh sehingga aku tidak harus bercape-cape di jalan. Mengingat kesabaranku untuk terbiasa berlama-lama di jalan belum juga sebaik Mas Aarav, itu alasan aku masih sangat betah di rumah.
Sebelum turun aku pun kembali memastikan kalau riasan ku masih layak untuk menghadiri pesta mewah.
"Udah cantik, malah cantik banget. Aku yakin nanti bakal banyak yang iri kalau lihat kamu," ucap Mas suami yang mengagetkan aku yang sedang memastikan kembali tidak ada sesuatu di wajahku, setidaknya mengecek takut nanti bulu mata copot sebelah, kan nggak lucu datang ke undangan orang kaya bulu mata melambai sebelah.
"Kamu bisa aja Mas, siapa yang mau iri coba, Lydia kan hanya wanita desa ya jelas jauh dari mereka yang berasal dari kota." Yang aku katakan bukan untuk merendah. Tetapi memang seperti itu adanya. Aku melihat orang-orang yang terbiasa hidup di kota kulitnya saja licin-licin seperti dilapisi dengan minyak goreng. Biasanya. mereka menyebut dengan istilah Glowing.
"Kalau tidak percaya ayo kita turun, lagian tuh lihat Mamih sudah berdiri seperti security nungguin kamu." Mas Aarav menunjuk seorang wanita paruh baya yang tampil sangat cantik sedang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
"Ya Allah kasihan sekali Mamih berdiri di situ sendirian pasti nungguin kita lama. Kalau gitu ayok buruan turun. Sebelum aku di pecat jadi menantunya." Ingat itu hanya candaan, aku sih yakin Mamih Misel tidak akan memecat aku, yang baik hati dan tidak sombong ini.
__ADS_1
Aku pun berjalan lebih dulu dari mas bojo untuk segera menghampiri mamih mertua yang sudah langsung menyambutku dengan senyum terbaiknya.
"Maaf Mih telat, udah lama nunggu yah? Papi mana?" tanyaku yang mana Mamih Misel hanya seorang diri, tidak mungkin dong papih mertua yang super romatis itu membiarkan sang istri datang sendirian ke pesta besar.
"Tidak kok, Mamih juga baru datang, kalau Papih baru saja masuk duluan. Tadi sekalian dengan teman bisnisnya. Ngomong-ngomong Iko lagi ngapaian?" tanya mamih mertua yang sudah jelas menanyakan cucu tampanya dari pada anaknya. Yah, meskipun mas suami tidak ditanya juga sudah kelihatan sih.
"Iko tadi masih main sama Bi Lilis dan Mbok Jum, tapi palingan juga sebentar lagi bobo. Sekarang istirahat Iko sudah lumayan teratur, dan malam bangun juga kalau sudah haus dan setelah minum susu melek sebentar juga nanti tidur lagi," jawabku sekalian memberitahukan pada mamih mertua kalau cucunya itu sudah makin pandai.
"Iya bagus itu, nanti juga kalau dibiasakan seperti itu, akan terbiasa dengan sendirinya dan tidak mengganggu istirahat kalian."
Aku pun membalas dengan anggukan, setelah bercerita santai kami pun masuk ke dalam gedung yang mana baru sampai depan saja aura-aura pesta orang kaya yang biayanya mahal pun sudah tercium. Yah, dari penjagaan dan cara masuk gedung yang tidak sembarangan orang bisa masuk sudah bisa mewakilkan kalau pesta ini memang bukan untuk kalangan rakyat yang kondangan masih menggunakan amplop.
Minimal kondangannya dengan kartu ATM, cek, dan hadiah yang fantastis. Sesuai yang aku bayangkan baru masuk saja sudah terlihat aura-aura kemewahan.
Pandangan mataku pun langsung tertuju pada pasangan pengantin yang mana aku lihat David dan sang istri sepertinya sangat bahagia. Jelas mereka bahagia mengingat ini adalah hari paling istimewa dari pasangan suami istri itu.
"Mas istrinya cantik yah," ucapku sembari pandangan mata terus menatap mempelai yang berada di atas pelaminan. yang sudah jelas dekornya mewah.
"Lebih cantikan kamu," balas mas suami dengan berbisik di balik daun telingkau. Aku pun tersenyum bukan karena gede rasa, tetapi ternyata pandangan mata aku dan mas suami kurang lebih sama. Entah karena pengaruh dari make up yang mungkin kurang menarik, atau memang wajah pasangan David yang memang biasa saja. Jujur kalau di bandingkan dengan Mimin saat belum sakit jauh berbeda. Mimin itu selain pekerja keras juga cantik, aku saja yang cewek suka melihat wajah cantik Mimin. Kembali aku tepiskan pikiran ini yang mana apabila menatap David pikiranku langsung terbang kenasib sahabatku itu.
Aku duduk seorang diri di mana mas suami menghampiri teman bisnisnya, dan mamih mertua juga menghampiri teman arisan. Sebelumnya tentu mas suami sudah izin kalau dia akan menghampiri temanya, dan aku pun yang tidak memiliki kenalah hanya duduk dengan pandangan mata terus menatap dua anak manusia yang tengah berbahagia. Yah, aku bilang tengah berbahagia pasalnya manten yang ada di atas pelaminan sejak tadi mengembangkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Ehemzzz... Aku yang sedang menikmati jamuan sedikit tersentak kaget ketika ada seseorang yang datang menghampiriku, pasalnya aku tahu, kalau aku itu tidak memiliki teman di pesta ini, sehingga ketika ada yang menghampiriku jiwa penasaranku langsung naik ingin segera tahu siapa gerangan yang duduk dalam satu meja denganku.
Bibirku langsung terkembang sempurna tetapi cenderung terpaksa ketika aku melihat kalau Mbak Siska duduk tepat di hadapanku.
"Hai, Mbak Siska. Diundang juga?" tanyaku dengan sebisa mungkin bersikap ramah dan sopan.
"Seharusnya gue yang tanya sama loe, diundang. Usus bisa nyesuaikan dengan makanan mahal?" tanya balik Mbak Siska yang aku tahu maksudnya untuk mengejek aku yang sedang menikmati makanan ala orang kaya. Yah, mekipun aku dari kampung tapi aku tahu yang sedang aku makan ini namanya puding. Eh, emang puding makanan orang kaya yah? Lebih seperti rakyat jelata malah, tapi aku percaya saja kalau puding adalah makanan orang kaya, meskipun rakyat jelata juga sering makan puding. Hanya. mungkin penampilan saja yang terlihat mewah.
"Mbak Siska datang sendirian? Tidak sama pasangan?" tanyaku lagi, yang mengabaikan ucapan wanita yang selalu berpenampilan seksi. Bahkan aku melihat dua balon di hadapanku rasanya ingin aku tutup pake serbet.
"Gimana rasanya punya anak?" tanya Mbak Siska balik, yang mana aku cukup terkejut dengan pertanyaan dari Mbak Siska, dan tenyata dia tahu kalau aku dan mas suami sudah punya anak.
"Mbak Siska tahu dari mana kalau aku dan Mas Aarav sudah punya anak?" tanyaku balik, rasanya malas banget menanggapi ucapan Mbak Siska, tetapi kalau tidak ditanggapi aku juga semakin penasaran.
"Sekuat apapun kalian mengelak berselingkuh, tetapi waktu yang akan menjawabnya. Berpura-pura anak dari orang lain nyatanya anak dari hubungan gelap. Kalau aku sih malu berhijab, tetapi kelakuan menjijikan tidak lebih baik dari seorang pellacuur."
Deg!! jantungku seolah saat itu juga berhenti berdetak. Sekuat aku berusaha sabar, kalau disamakan dengan pe-la-cur siapa yang akan tahan?
Bersambung....
__ADS_1
...****************...