
Aku menyiapkan semua keperluan mas suami menyambut bulan Ramadhan untuk tarawih pertama di masjid.
"Kamu nggak ikut Sayang tarawih di masjid?" tanya mas suami seperti berat karena mungkin mas suami belum kenal dengan lingkungan setempat. Sehingga merasa canggung untuk ibadah di masjid.
"Lydia kan cewek, kalau cewek lebih baik sholatnya di rumah, jadi Mas saja yah lagian tadi bukanya Mas sudah minta Le Man (Security) untuk tarawih bersama. Paling juga Le Man sudah nunggu di pos. Untuk awal-awal memang seperti itu malu, dan canggung, tapi nanti kalau sudah banyak kenalan di masjid juga biasa kok," ucapku sembari memberi semangat sama Mas bojo.
"Ya udah kalau gitu Mas berangkat yah, dan Jagoan, Papah berangkat terawih dulu yah. Jagoan untuk sementara sholatnya sama Bunda di rumah, tapi nanti kalau sudah besar ikut sama Papah kita sholatnya di masjid. Kira-kira kapan yah Bun, Iko cepat gede dan di ajak sholat berjamaah dengan Mas, biar makin semangat ibadahnya," ucap Mas suami, baru juga berojol udah nggak sabar untuk cepat besar biar bisa di ajak ibadah berjamaah ke mesjid.
"InsyaAllah tiga tahu lagi, sudah bisa diajak belajar untuk beribadah bersama. Udah kih, tuh Le Man udah ngintip-ngintip terus," ucapku sembari menunjuk pak satpam yang siap untuk tarawih bersama.
Hati ini teduh ketika melihat mas bojo akhirnya mau beribadah di masjid yang tidak begitu jauh dari rumah ini. Butuh drama untuk mengajak mas suami ibadah di masjid. Yah, mungkin karena faktor tidak biasa sehingga alasan malu. Namun, setelah jurus rayuan dan janji manis diberikan, akhirnya mas suami berangkat ibadah juga. Sedangkan aku pun memilih ibadah di rumah, itu karena Iko masih terlalu kecil untuk ikut ibadah ke majid. Lagi pula dikutip dari beberapa hadis wanita lebih afdol ibadah di dalam kamarnya bukan?
Tersungkur aku dalam sujudku, dalam gumpalan kepasrahan aku berserah. Aku menyeret tubuhku yang hanyalah sebutir debu dihadapan_Mu. Memohon ampun atas semua kelalaianku yang dalam sadar atau tidak sadar aku sengaja lakukan. Seluruh alam berdzikir menyambut bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Saat Allah memberikan bulan yang penuh ampunan, aku seorang hamba yang berlumur dosa pun meminta ampunan atas segala khilaf ku. Semoga ini adalah awal yang baik, dan selalu berusaha memperbaiki diri.
Aku tak mahir berenang, karena aku tidak pernah meminta bisa menyelam sampai dasar palung. Aku pula tak memiliki sayap, karenanya aku tidak terobsesi untuk bisa menguasai langit luas. Jika saat ini aku diberikan kesempatan untuk menjelajah lautan, dan diberi kesempatan untuk bisa melihat dari ketinggian. Sesungguhnya ini adalah bukti kebesaran-Nya yang maha memberi keadilan.
Saat takdir dijadikan alasan untuk mencela, tak perlu menghujat siapa, tidak usah mengaitkan dengan siapa. Yang licik pasti berpikir picik, dan yang baik pasti berpikir positif.
Muhasabah diri. Menerima garis hidup yang nyata adalah kunci kebesaran jiwa. Aku berharap di ramadhan, tahu ini apa yang sudah terjadi selama ini menjadi lebih baik. Hubunganku dengan ketiga adikku pun semakin baik dan untuk adikku juga semoga bisa jauh lebih baik lagi. Aku hanya ingin agar Ibu dan Bapak tidak lagi cape memikirkan nasib putri-putrinya. Dan dimasa tuanya mereka bisa berbahagia dengan anak yang saling akur.
Tidak ada permusuhan lagi meskipun mungkin hubungan kami tidak akan sehangat dulu kala kecil, tetapi saling membuka pintu maaf dan saling bertukar kabar dan sapa mungkin akan sedikit membuat Bapak dan Ibu tenang.
Tanpa terasa air mata ini luluh ketika aku mengingat kejadian kebelakang. Ini adalah Ramadhan ku yang pertama kali berjauhan dengan keluarga. Tadi sore aku sudah sempat menghubungi kedua orang tuaku. Yah, aku memang masih rutin menghubungi Ibu dan Bapak, terutama menanyakan perkembangan Lysa dan Lyka. Mengingat kedua adikku saat ini berada jauh dari orang tuaku. Lyra pergi ke pulau sebrang untuk mondok dan berharap bisa jauh lebih baik dalam kepribadiannya.
__ADS_1
Sedangkan Lyka Ibu bilang kalau adik nomor satu, saat ini sedang berusaha menempuh pendidikan bahasa untuk kerja ke luar negri menjadi TKW. Mungkin itu keputusan yang sudah dia pikirkan dengan matang. Aku tidak bisa terlalu ikut campur dengan keputusannya, karena aku yakin Lyka memutuskan ini bukan dalam waktu yang singkat. Dan aku pun hanya bisa berdoa untuk Lyka semoga dia bisa memiliki kelapangan hati untuk memaafkan semuanya.
Yah, memaafkan dan sepertinya kalau melupakan tidak akan bisa. Aku yang secara langsung masalahnya tidak separah dengan Lyka pun rasanya tidak bisa melupakan, rasa sakit tetap ada atas semua perlakuan adik-adikku, terutama Lysa, tetapi aku mencoba memaafkan meskipun mungkin tidak sepenuhnya ikhlas.
Aku tahu tidak semua orang beruntung dalam sebuah hubungan keluarga. Ada yang tidak beruntung memiliki kasih sayang Bapak, atau Ibu, atau malah seperti aku yang tidak beruntung dalam hubungan persaudaraan, tetapi tidak henti aku berharap akan ada hari kami kumpul bersama dan saling menangis menyesali semua kesalahan masih-masih. Yah, aku pun merasa belum sepenuh menjadi kakak yang baik. Barang kali apa yang Lysa lakukan ada kata atau perilaku dari aku yang membuat dia marah dan kesal. Aku harap hari itu akan datang.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk ibadah, dan jagoan aku pun sangat anteng, hanya sesekali merengek tetapi ketika diberikan mainan dan empeng Iko akan kembali anteng. Mungkin bayi kecil itu tahu kalau sang bunda tengah menyembah Sang Penciptanya.
Kembali setelah aku selesai ibadah, kami pun turun ke bawah, untuk menyambut mas suami pulang dari masjid. Aku ingin memberikan hadiah untuk membuat hati yang tenang dan nyaman ketika kang mas bojo akan ibadah diantar dengan senyum dan di sambut dengan senyum juga saat pulang, sehingga aku ingin mas suami merasa bahagia di momen ini, dan menjadikan momen ini hal yang sangat di sukai dan apabila tidak dilakukan maka akan ada rindu untuk momen yang simpel, tetapi aku yakin sangat banyak manfaatnya terutama untuk membuat bahagia mas suami karena sudah berhasil menjadi contoh yang baik untuk keluarganya.
Tanpa menunggu lama aku pun mendengar suara mas suami yang sudah pulang. Yah, kali ini pulang ada suaranya karena sepertinya ada tetangga yang rumahnya dekat dengan kami.
"Saya duluan Pak, kapan-kapan mapir ke rumah."
"Siap, ditunggu waktu tidak sibuknya."
Itu adalah obrolan yang aku dengar dari kang mas suami dengan sebagian warga yang melakukan ibadah juga.
Senyum terbaik aku persembahkan untuk menyambut kang mas suami begitu sudah sampai di depan pintu. Ku ulurkan tangan ini untuk menyambut Mas. Aarav. Yah, sesuai yang aku bayangkan wajah mas suami sangat bahagia melihat aku dan Iko menyambut dengan hangat.
"Terima kasih. Berkat nasihat dari kamu sekarang Mas udah banyak teman," adunya dengan memelukku dan mengambil jagoanĀ untuk kembali kang mas bojo yang menggendongnya.
"Sama-sama. Lydia senang kalau Mas juga senang, dan Lydia senang kalau Mas juga bisa nyaman dan ikhlas ibadahnya."
__ADS_1
"Yah, benar kata kamu kalau belum biasa memang akan canggung, tapi sekarang Mas sudah banyak kenalan, jadi nyaman dan InsyaAllah ikhlas banget."
"Kalau gitu nitip Jagoan yah, Lydia mau masak untuk makan malam, dan persiapan sahur pertama, mekipun Bi Lilis sudah masak rendang, tapi mau siapin sayur sop biar seger."
"Ok siap, ayo kita main Jagoan!"
Aku pun menggelengkan kepala dengan senyum bahagia. Karena nyatanya kami bisa melewati hari-hari menjadi orang tua dengan saling bantu. Mas Aarav tidak pernah keberatan kalau aku minta tolong untuk menjaga Iko. Justru aku lihat mas suami sangat menikmati pertanyaan menjadi seorang papah. Semoga selamanya akan seperti ini. Kami. mendidik putra putri kami bersama-sama tidak ada yang merasa paling berhak. Karena anak bersama didik bersama.
Marhaban ya ramadhan. Dengan segenap jiwa dan raga, semoga novel ini menjadi pembakar semangat berpuasa. Selamat menunaikan ibadah shaum.
Bersambung....
,
...****************...
Anak kecil bergembira bermain ketapel
Ada juga yang bermain Kincir-kincir
Nih othor rekomendasiin Nopel
Yuk lah readers mampir!
__ADS_1