Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pertengkaran


__ADS_3

Di saat Lydia dan keluarganya merasakan kebahagiaan karena di lebaran tahun ini bisa bersama dengan sanak keluarga besar dan saling berbagi kebahagiaan dan juga berbagi cerita. Seorang wanita di ruangan rumah sakit justru merasakan hal sebaliknya, ia merasakan kehampaan karena lagi-lagi di hari raya kali ini dia tidak tahu arti kehangatan keluarga, tidak tahu arti hari raya yang selalu di tunggu oleh sebagian besar umat muslim, ia masih berjuang untuk kebahagiaan yang entah bisa atau tidak dia raih.


"Mbak Mimin, ada telpon dar Mbak Lydia." Suster Ria memberikan ponselnya pada Mimin. Dan wajah pucatnya pun sedikit mengembangkan senyumnya. Kali ini panggilan vidio.


[Assalamualaikum... ] ucap Mimin dengan suara lemahnya.


[Wa'alaikumsallam..., hai Mah, Iko malam ini pakai baju balu, tampan sekali,] ucap Lydia dengan kamera diarahkan pada Iko yang sedang bermain dengan keluarga yang lain, yah dia sebagai pusat perhatian.


Ada tas buat simpan THR yah Ko...Ayo sapa tau ada yang mau kasih thr buat Baby Iko....



Pandangan mata Mimin terus tertuju pada anak bayi yang sedang tersenyum seolah dia tahu kalau sedang di lihat oleh ibu kandungnya, sekejap kemudian Mimin merasakan matanya menghangat dan dari sudut bola matanya menetes butiran air turun dengan pelan sekali, dengan gerakan yang elegan. Wanita berhijab panjang itu memang tidak merasakan kehangatan keluarga secara langsung, tetapi di hati terdalamnya dia merasakan bahagia karena buah hatinya merasakan hal yang sebaliknya. Ia menitipkan pada orang yang tepat, sehingga Iko anaknya merasakan bahagia yang sudah jelas tidak bisa dia berikan.


[Kamu jangan nangis, malam ini adalah malam kemenangan kita sebagai umat muslim, mungkin saat ini kamu masih terpisah dari kita, tetapi tahun depan mungkin kamu sudah bisa merasakan apa arti dari hari raya dan bisa berkumpul bersama. Iko aman di sini, Iko juga bahagia, dia bahkan sangat bahagia dan semua sayang dengan Iko. Bahkan dia hari ini banyak banget dapat baju dari tante dan neneknya. Besok kita akan usahakan untuk menjenguk kamu, tapi tentu lihat kondisi dulu, dan kalau kamu boleh izin keluar kamu yang akan pulang ke sini, tapi semuanya nanti kita bicarakan dengan dokter Doni,]  Lydia yang tidak tega melihat Mimin menangis pun ingin berbicara dengan sang suami dan juga mertuanya, agar Mimin bisa merasakan kehangatan keluarga. Mungkin akan izin barang satu atau dua jam dengan dokter Doni, dan nanti akan kembali lagi ke rumah sakit. Mengingat kalau mereka yang datang ke rumah sakit tidak akan bisa.


[Terima kasih Lyd, tapi kalau tidak bisa tidak usah, segini saja aku sudah sangat bahagia, aku sudah sangat senang bisa melihat Iko senang,] jawab Mimin, wanita itu merasa tidak enak karena sudah sangat banyak merepotkan temanya.


[Kamu tenang aja, Iko sudah kami anggap anakku sendiri, bahkan bukan cuma aku yang anggap anak pada anak kamu tetapi semuanya sudah menganggap yang sama, semua orang sayang Iko, jadi kamu semangat yah,] Lydia di tempat yang berbeda terus memberikan semangat untuk Mimin yang sedang berjuang untuk kesembuhannya.


[Pasti Lyd, oh iya aku sudah dulu yah barusan minum obat bawaannya ngantuk banget, salam untuk semuanya, dan titip jaga dan rawat Iko yah] Entah berapa kali Mimin selalu berbicara seperti itu, padahal tanpa dia berbicara seperti itu pun Lydia dan yang lainya akan menjaga baby Iko.


Tanpa menunggu jawaban dari Lydia Mimin pun langsung mematikan ponselnya dan memberikannya pada suster Ria.


Namun belum juga Mimin menceritakan apa yang Lydia katakan tadi, tiba-tiba di luar ada yang mencari nama Mimin.

__ADS_1


"Sus, coba lihat kenapa ada yang cari-cari kamar saya?" ucap Mimin, dan suster Maria pun mengikuti apa kata Mimin, wanita paruh baya itu ke luar untuk melihat siapa yang gerangan membuat ribut.


"Anda...ngapain ke sini?" tanya suster Ria dengan ketus.


"Aku ingin berbicara dengan Jasmin, tolong beri waktu saya berbicara dengan Jasmin, hanya sebentar janji." Namun, belum juga suster Ria menjawab David sudah masuk  ke dalam ruangan rawat Mimin. Dan membuat Mimin kaget.


Wanita berhijab itu yang sudah sangat malas melayani David pun langsung memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam dan melepaskannya dengan pelan, serta duduk dengan tenang.


"Apa kamu tidak ada kerjaan lain selain mengganggu hidup orang , David?" tanya Mimin yang  memulai obrolan wanita itu sebenarnya sangat malas untuk berbicara dengan mantan suaminya, tetapi kalau dibiarkan terus juga pasti David akan melonjak.


"Aku datang baik-baik Jasmin, di mana anak kita? Kalau kamu katakan di mana anak kita aku akan pergi dan tidak akan datang lagi mengusik kamu," ucap David dengan nada bicara yang masih bisa terdengar lembut. Yah, sesuai yang dia katakan bahwa dia akan berbicara dengan baik-baik.


"Masalahnya apa yang aku katakan ke kamu adalah benar. Anak kamu yang kamu tinggalkan begitu saja sudah meninggal, jadi tidak lama setelah kamu pergi aku juga menyusul ke Jakarta untuk mencari kamu tapi bukanya bertemu sama kamu, aku justru kehilangan anak aku, harus berapa kali aku ngomong, kalau anak itu sudah meninggal, seperti yang kalian inginkan. Bukanya kamu dan papah kamu tidak ingin anak itu? Bukanya Tuan Wijaya ingin aku membunuh anak itu? Dan sekarang kalian sudah senang kan kalau anak itu sudah meninggal dan juga bukanya kamu ragu kalau anak itu adalah anak kamu, lalu kenapa kamu datang lagi ke aku untuk cari tahu di mana anak itu, dasar tidak tahu malu." Mimin pun kembali beraksi, dia tidak akan pernah mengatakan kebenaranya.


Brugggh... Awhhh... Suster Maria meringis ketika tubuhnya terpental karena menabrak seseorang.


"Sus, apa tubuhku tidak kelihatan? Apa aku kurang besar sampai Suster tabrak?" tanya Dokter Doni yang tetap berdiri, untung dia tidak sempai terpental seperti suster Ria.


"Maaf Dok, saya buru-buru mau meminta tolong pada security untuk mengusir mantan suami Mbak Mimin, sudah dua kali datang terus ke rumah sakit ini, dan sekarang juga datang lagi untuk meneror Mbak Mimin," ucap Suster Maria dengan suara tersengal karena setengah berlari tadi.


"Biar saya yang urus." Dokter Doni tanpa menunggu lama pun langsung mengayunkan kakinya ke ruangan Mimin, padahal dia sudah bergegas ingin segera pulang untuk membantu sang mommy masak rendang, tetapi demi pasiennya laki-laki tampan itu rela menunda kepulangannya.


Ehemmm... Apa seperti ini seorang laki-laki datang ke mantan istrinya dan membuat pasien saya ketakutan?" tanya dokter Doni dengan tatapan yang tajam dan suara yang tegas dan berat.


"Tutup mulut Anda Tuan Dokter, ini urusan saya bukan urusan Anda jadi jangan ikut campur," balas David, laki-laki itu yang awalnya masih bisa berbicara baik-baik pun sejak Doni datang langsung memancing keributan.

__ADS_1


"Kata-kata itu seharusnya saya yang ucapkan, karena Mbak Mimin itu adalah pasien saya." Mungkin David tidak tahu siapa dokter Doni dia sama saudaranya berani berperang untuk membela pasiennya, apalagi dengan David yang tidak kenal silsilah keluarganya sudah jelas sikat. (Kisah dokter Doni baca di novel CINTA BERSELIMUT DENDAM, tamat)


"Saya datang ke sini baik-baik, ingin menanyakan di mana anak saya, jadi kenapa Anda ikut campur." David pun yang biasanya selalu dihormati dan disanjung ketika bertemu dengan Doni yang sedikit nyolot tentu kesal dan ingin menghajarnya, tetapi Doni yang sudah biasa berhadapan dengan orang seperti David bahkan jauh lebih mengesalkan lagi pun tetap kalem menghadapi laki-laki itu.


"Anak Anda di surga, kenapa mau nyusul? Kalau mau saya masih punya sel kangker ganas bisa saya suntikkan pada Anda saat ini juga mungkin Anda ingin menyusulnya," balas Doni dengan bibir sebelah terangkan, menunjukkan senyum sinis.


"Kurang ajar dokter gila," umpat David yang terpancing tetapi dua security yang dipanggil oleh suster Maria pun langsung mengaman David. Dan menyeretnya ke luar ruang rumah sakit.


"Anda tenang saja Mbak Mimin, laki-laki itu tidak akan datang lagi ke rumah sakit ini, akan saya pastikan," ucap dokter Doni sebelum pergi menyusul David.


Mimin pun merasa sangat senang karena ada dokter Doni, kini mantan suaminya sudah pergi.


"Satpam tolong foto orang ini dan sebarkan ke seluruh penjaga rumah sakit ini, jangan biarkan masuk karena dia berniat jahat pada pasien saya," ucap Doni yang langsung memancing David untuk protes dan membela dirinya.


"Anda jangan bicara yang tidak tidak dokter gila, saya ke sini hanya tanya soal anak saya, bukan mencelakai Jasmin," balas David yang tangannya masih dipegangi oleh security.


"Itu sama aja Tuan, Anda membuat pasien saya tertekan, dan membuat penyembuhan bisa berpengaruh, dan harus Anda ingat lagi, urusan pasien saya sudah jadi urusan saya, kalau Anda tetap cari masalah saya tidak akan segan-segan menyuntikkan sel kangker ganas ke tubuh Anda agar Anda tahu rasanya jadi pejuang pasien yang ingin sembuh," ancam Doni sebelum meninggalkan David yang siap untuk menyerang ucapan Doni, tapi sayang Doni sudah mengayunkan kakinya dengan gagah meninggalkan David dengan tangan masih di pegang oleh dua satpam.


#Udah mau lebaran David tobat dulu kek...


Bersambung.....


Catatan : Berhubungan sepertinya editor sebagian sudah libur sepertinya up bakal ngaret, tapi tenang dari othor insyaAllah kalau tidak ada halangan up tetap 2 Bab, tapi kalau sedang ada halangan paling 1 bab tapi insyaallah akan tetap up setiap hari....


Sembari nunggu up yuk mampir ke novel CINTA BERSELIMUT DENDAM, seru dan no menye-menye semua tokoh ceweknya badass....

__ADS_1


__ADS_2