Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Ayang?


__ADS_3

Begitu Mimin keluar dari ruangan Hadi, Arum pun duduk di samping putranya, Sedangkan Ahmad duduk tidak jauh dari Arum, tetapi jelas Ahmad bisa mendengar obrolan anak dan istrinya. Arum bisa melihat wajah putranya yang saat ini jauh lebih segar setelah dijenguk oleh calon istrinya. Cie, udah ketemu dokter mah makin seger dasar Bambang.


"Mamah sudah lihat dan ngobrol langsung dengan Mimin, dia orang yang baik, lemah lembut, dan juga pekerja keras. Lebih baik pernikahan kalian disegerakan. Mamah dan Papah ingin kalau meninggalkan kamu di sini tidak cemas karena tidak ada yang merawat. Kalau ada Mimin mungkin Mamah dan Papah akan lebih tenang untuk kamu tinggal di sini," ucap Arum dan di balas anggukan oleh Ahmad yang duduk tidak jauh dari sang istri.


Hadi mengulas senyum masam sebelum menjawab ucapan Arum. Memang hampir semua yang dekat dengan mereka pasti menyarankan hal yang sama, ada yang  menakutkan keimanan mereka, ada yang seperti mamahnya agar Hadi ada yang merawat. Ada juga yang takut kalau akan jadi fitnah dari orang lain. Semuanya benar. Namun, kondisi Mimin tidak seberuntung wanita  lain yang memiliki orang hubungan baik dengan ayah dan abangnya. Saat ini Mimin baru ada niat untuk memperbaiki hubungan itu dan semoga saja jalannya tidak berliku. Itu yang ada dalam pikiran Hadi, sehingga ia tidak pernah memaksa Mimin untuk segera melangsungkan pernikahan.


Karena Hadi tahu sakit hati tingkat individu akan berbeda. Mungkin orang lain akan beranggapan kalau yang dirasakan Mimin tidak terlalu berat, tetapi berbeda dengan perasaan Mimin sendiri yang mengalaminya langsung, bisa jadi memang ini adalah ujian terberat yang dia rasakan seperti yang pernah Mimin katakan. Karena dia yang merasakannya. Hadi hanya bisa mendukung dan mendampingi agar Mimin tidak merasa sendiri.


"Hadi juga berpikir seperti itu Mah, tapi Mimin tidak seberuntung Hadi yang memiliki orang tua mengeri perasaan anaknya. Mimin dan orang tuanya tidak berhubungan baik," balas Hadi dengan suara yang pelan.


Arum dan Ahmad adalah calon mertua Mimin sehingga Hadi beranggapan tidak masalah mereka tahu apa yang terjadi dengan keluarga Mimin, tentu tujuannya agar mereka bisa mengerti juga berada di posisi Mimin, tidak menghakimi dan kalau bisa memberikan kasih sayang seperti layaknya anak sendiri.


Arum dan Ahmad menatap Hadi dengan tatapan yang minta penjelasan dengan detail dengan apa yang Hadi maksud.


"Mimin, terlahir dari keluarga broken home. Dari yang Hadi tahu ia ikut bersama dengan ibunya, sedangkan kakak laki-lakinya ikut dengan ayahnya. Namun tujuh tahun mereka tinggal bersama, ibunya meninggal dunia dan menurut yang Mimin katakan ibunya kecelakaan dan penyebabnya adalah ditabrak dengan sengaja oleh orang suruhan ayahnya." Hadi mengentikan ucapannya karena dadanya lagi-lagi sesak kalau membahas masalah Mimin dan orang tuanya.


Laki-laki itu seolah merasakan apa yang Mimin rasakan saat itu. Dia merasa tenggorokannya seperti tercekik ketika Mimin mengalami itu semua sendiri. Menyembuhkan mentalnya berbagi kesedihan seorang diri dan itu pasti sangat berat.


"Apa Mimin sudah cari tahu kebenaranya?" Ahmad menyahut dari belakang. Sedangkan Arum nampak syok mendengar cerita anaknya.


Hadi menggeleng. "Awalnya pihak ayahnya menutup komunikasi dengan Mimin bahkan saat ibunya meninggal  tidak ada satu pun yang datang termasuk kakak laki-lakinya. Semenjak ibunya meninggal akhirnya Mimin pun menutup komunikasi dengan pihak ayahnya hingga detik ini."


"Jadi wali nikahnya?" tanya Ahmad lagi.


"Itulah alasan Hadi dan Mimin masih menunda niat baik kita. Hadi ingin setidaknya tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan setidaknya meminta izin dari ayahnya Mimin, agar kami dapat wali yang sah. Tapi untuk menyiapkan mental dan membuka  kelapangan dada untuk Mimin tidak semudah itu. Hadi harus lebih bersabar."

__ADS_1


Arum mengangguk anggukan kepalanya. Wanita paruh baya itu pun mengerti kondisi calon menantunya.


"Berat memang yah masalahnya. Tapi Mamah berharap semuanya bisa saling duduk bersama dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau tidak ada duduk bersama, selamanya akan beransumsi yang tidak-tidak, dan mudah-mudahan bukan ayahnya Mimin yang memang melakukan pembunuhan itu. Kalau memang benar Mamah tidak tahu bagaimana hancurnya seorang anak kalau tahu ayahnya adalah yang membuat ibunya meninggal. Semoga Mimin dikuatkan hatinya, dan mau duduk bersama untuk saling terbuka." Arum mengusap butiran bening yang menetes di wajahnya. Meskipun wanita itu hanya dengar ceritanya sepenggal, tetapi ia bisa merasakan apa yang Mimin rasakan. Rasa sayang dan simpati pun semakin tumbuh, pada. wanita malang itu.


"Amin, semoga saja Mah, itu juga yang ada dalam pikiran Hadi."


"Tapi kamu sudah tahu tempat tinggal dan keberadaan orang tuanya Mimin?" Ahmad pun semakin penasaran sejauh mana Hadi berupaya menemui calon mertuanya.


"Udah Pah, hanya Hadi belum sempat menemui, karena sudah jatuh sakit duluan," balas Hadi. Memang itu yang terjadi, orang suruhannya sudah melaporkan hasil kerjanya, tapi Hadi yang belum bisa mencari tahu lebih karena kondisi tubuhnya yang tiba-tiba sakit.


"Ya udah baiknya memang selesaikan dulu masalah keluarga Mimin, biar dia juga tidak terbebani masalah keluarganya. Nikah tidak apa-apa nanti-nanti saja, sekalian cari tahu lagi kekurangan dan kelebihannya. Lebih baik telat dari pada nantinya menyesal," balas Ahmad yang  lebih mendukung cara Hadi dan Mimin. Menyelesaikan masalah Mimin dulu baru menikah.


Apalagi menikah itu bukan perkara mudah dan sebentar. Seumur hidup mereka akan lewati bersama sehingga butuh pemikiran yang matang, dan menerima satu sama lain dalam suka maupun duka.


*******


"Turun di sini saja Mas, saya akan mampir beli sate dulu," ucap Mimin pada sopir taxi yang membawanya pulang. Ia kelaparan karena sebenarnya Mimin belum makan. Biasa yah kalau ketemu calon mertua malu mau makan jadi rela nahan lapar. Hayo siapa yang kaya Mimin ngaku. Othor paling pertama ngaku karena othor pemalu. 🙈


"Mang sate empat porsi yah, sop satu porsi, dan lontong dua bungkus. Biasa di rumah ada empat kepala sehingga Mimin pun membeli empat bungkus. Meskipun Mimin yakin orang-orang rumah sudah pada tidur, tapi nggak apa-apa pagi-pagi bisa diangetin untuk sarapan.


Deg!! Laki-laki di meja pojok yang sedang menikmati seporsi sate dengan dua lontong pun langsung memalingkan pandanganya ketika ia mendengar suara yang ia kenal. Namun, yang ia lihat adalah gadis muslimah dengan pakaian yang sangat tertutup bahkan wajahnya pun tertutup sehingga laki-laki itu kesulitan untuk mengenali wanita yang ada dibalik cadar berwana peach pink. Yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


Laki-laki itu juga sedikit sangsi ketika melihat postur tubuh wanita itu yang cenderung kurus sedangkan wanita yang sedang ia cari adalah anak yang suka sekali olahraga sehingga badanya sangat bagus. Laki-laki itu kembali makan mungkin memang hanya suaranya yang sama.


"Bakarnya biasa yah Mang jangan sampai gosong-gosong," ucap Mimin pada Amang sate langganan.

__ADS_1


"Siap Neng Mimin, tumben nih pulang malam banget. Terus Ayang kemana?" ledek Amang sate. Siapa lagi kalau bukan calon suami.


Deg! Kembali laki-laki yang ada di meja pojok jantungnya berdetak semakin kencang ketika mendengar sebutan yang lagi-lagi sangat familiar.


"Iya Mang baru pulang nguli. Kalau Mas Hadi lagi atit," balas Mimin sembari setengah berkelakar karena mereka memang sudah seakrab itu. Mimin, dan Orlin sering beli sop lontong di tukang sate langganan ini, dan beberapa kali Mimin juga makan bareng ayang di tempat ini sehingga mereka bisa ngobrol sedekat ini. Apalagi amang sate emang seramah itu.


"Astaga Ayang sakit apa?" tanya Mang sate sok deket banget kan panggil Hadi dengan istilah Ayang.


"Abis operasi Mang," jawab Mimin dengan santai Mamang sate memang cenderung bayol sehingga yang beli rame terus kebetulan aja ini Mimin gak ngantri mungkin karena sudah malam.


"Hah, serius Neng, sakit apa emang Ayang? Kasihan Ayang sakit," tanya Mamang sate dengan menatap serius pada Mimin.


"Iya lah Mang, ini juga baru pulang dari tempat kerja mampir ke rumah sakit dulu, abis operasi usus buntu," jelas Mimin.


"Astaga, semoga Ayang cepat sembuh yah. Amang gak bisa jenguk tapi Amang doain agar Ayang cepat sembuh. Pantesan Neng Mimin naik taxi biasanya pasti bareng Ayang terus. Jadi kangen Ayang."


Mimin pun tertawa ngakak dengan kelakuan amang sate yang memang lucu banget padahal ada istrinya, tapi sering bercanda yang bikin pembeli akrab.


"Ya udah nanti disampein salam sama Ayang yah," balas Mimin masih dengan tertawa renyah. Tidak harus menunggu lama sate dan sop pesan Mimin pun sudah selesai. Kini Mimin hanya tinggal masuk ke gang rumahnya tidak jauh dari warung tenda amang sate.


Laki-laki yang duduk di meja pojok pun langsung membayar sate yang sudah ia pindahkan ke dalam perutnya, lalu berjalan mengikuti Mimin.


"Jasmin ...." Panggil laki-laki itu. Mimin yang merasa dipanggil dan suaranya seperti tidak asing pun membalikan badanya dengan santai.


Deg! Sate yang baru ia beli dalam pegangan pun jatuh ke tanah.

__ADS_1


#Aduh sayang banget Mbak Mimin, Othor lagi kelaparan nih. Pungutin sama othor ah. Lumayan kan buat makan malam biar nggak beli.


__ADS_2