
"Aku pun bingung kenapa aku dan kehidupan kamu selalu terhubung," balasku sebelum aku memanggil Mas suami untuk berkenalan dengan Mimin, dan aku berharap dengan kami yang saling terbuka dan saling kenal tidak ada lagi rahasia, bisa saling bantu untuk melindungi Iko dari keluarga David.
"Ayolah siapa dia, kenapa aku jadi deh-degan sekali," protes Mimin dengan wajah mengiba.
"Baiklah kalau gitu aku panggil suamiku yah, tapi kamu jangan kaget ok," ucap ku lagi sengaja untuk memancing Mimin.
"Iya Lydia, iya. Udah buruan aku udah sangat penasaran," balas Mimin dengan nada bicara yang semakin tidak sabar karena keisengan ku.
"Ya, aku butuh memastikan saja Min, nanti kamu kaget dan..."
"Lydiaaa... aku pikir udah lama kita nggak saling ketemu kamu akan berubah ternyata tidak. Ayo buruan nanti aku keburu mati penasaran," protes Mimin lagi, dengan melebarkan matanya, khas Mimin yang dulu.
Aku pun terkekeh cukup renyah karena pada kenyataanya Mimin tidak akan pernah berubah. "Galak banget, aku pikir Mimin yang sekarang lebih lemah lembut, mengingat udah jadi ibu-ibu taunya makin galak." Aku pun langsung meninggalkan Mimin ketika sahabatku sudah hampir membalas ucapanku lagi.
"Ehemm... Lagi ngomongin apa sih seru banget?" tanyaku sama Mas suami yang sedang ngobrol hangat dengan Ambu.
"Tidak ada, hanya ngobrol ringan aja soal kesehatan Mimin, apa dia udah baikan?" tanya Mas suami terlihat sangat cemas sih. Namun, aku mencoba menekan perasaan ini, aku tahu diposisi ini tidak mudah, tetapi aku sudah terlanjur terseret dalam masalah ini. Maka aku akan tetap berjalan hingga semuanya berkata baik-baik saja.
"Mimin ingin ketemu dengan Mas," ucapku tetapi pandanganku tidak bisa menatap wajah Mas suami, aku terlalu takut melihat wajah bahagia Mas suami karena pada akhirnya bisa bertemu Jasmin.
"Dengan aku? Kamu serius?" tanya Mas suami dengan nada yang tidak percaya. Aku pun mengembangkan senyum tipis dan mengangguk.
"Saya masuk dulu Ambu." Mas suami sangat bersemangat untuk masuk ke dalam, sedangkan aku semakin merasa kalau hati ini tidak kuat, apabila memang Mas suami masih memendam rasa sama Mimin. Ketika Mas suami sangat bersemangat untuk mengayunkan kakinya masuk ke ruangan Mimin, aku justru merasakan sakit. Aku bergeming dengan menatap Ambu, kelopak mataku panas karena Mas suami justru masuk seorang diri tanpa mengajakku.
Pandanganku kosong, aku bingung apakah aku akan ikut masuk, apa aku tetap berdiri di sini saja, mengingat Mas suami sepertinya lupa dengan aku. Namun, aku kaget ketika pintu dibuka kembali.
__ADS_1
"Sayang, ayo sini. Masa Mas masuk sendirian, kan dia teman kamu." Hatiku langsung adem, aku pun mengembangkan senyum dan balik badan menatap Mas suami yang belum juga masuk.
"Lydia pikir Mas lupa dengan Lydia karena sudah bertemu dengan Jasmin," balasku dengan mengusap air mata yang bandel ingin mengintip kejadian ini.
"Mana mungkin Mas lupa sama kamu, ayo buruan udah malam kasihan Iko." Entahlah ucapannya benar atau tidak, tetapi aku tidak jadi bermellow mellow.
Hal yang pertama aku lihat justru Mimin seperti tidak mengenali Mas suami, terlihat dari raut wajah Mimin yang sepertinya sedang berpikir keras, mencoba mengingat ingat siapa kira-kira laki-laki yang ada di hadapannya.
"Apa kamu tidak kenal suamiku Min?" tanyaku untuk memastikan mengingat kalau dilihat dari raut wajahnya sangat berat untuk mengingatnya.
"Kayak kenal, tapi lupa juga," balas Mimin dengan masih berpikir keras. Aku pun menatap Mas suami yang terlihat tengah menatap aku. Tanpa sengaja aku justru terkekeh. Mas suami masih mengingat Jasmin, tapi Mimin jangankan ingat kalau laki-laki dihadapannya adalah mantan kekasih, ingat mas suami pun tidak.
"Dia bukanya mantan kekasih kamu yah Min. Mas Aarav bilang gitu ke aku." Aku justru keceplosan. Di mana Mimin mengernyitkan keningnya lagi.
"Emang iyah?" tanya Mimin, yang membuat aku semakin terkekeh.
"Yah udah, Lydia hanya ingin kenalkan Mas sama Mimin, saja kok, dia itu teman Lydia sekaligus ibu kandung Iko, untuk saat ini Mimin sedang sakit, tapi sebentar lagi pasti sembuh," ucapku sembari mengenalkan Mimin, pada suamiku.
"Ngomong-ngomong sakit apa?" tanya Mas suami kepo mengingat kalau dari fisiknya untuk sekarang tidak separah dulu. Mungkin karena Mimin berhijab udah gitu pakaian yang dikenakan cukup besar sehingga tubuh kurusnya sedikit tersamarkan.
"Itulah mungkin besok baru ketahuan sakitnya apa. Besok Mimin baru akan menjalani serangkaian pemeriksaan, kira-kira kalau besok Lydia datang ke sini untuk menemani Mimin menjalani pemeriksaan apa Mas Aarav setuju?" tanyaku, aku hanya ingin memastikan pada dokter penanggung jawab Mimin kalau sahabatku itu mendapatkan penanganan yang tepat, dan terbaik. Aku tidak ingin membuat semangat Mimin kembali melemah hanya karena dia yang tidak juga kunjung ada perubahan karena perawatan yang diberikan alakadarnya.
"Oh boleh. Iko untuk sementara sama Mamih saja dulu, asal jangan ajak Iko, Mas nggak keberatan," balas Mas suami yang aku lihat seolah masih penasaran dengan Mimin yang ada di hadapannya apalagi Mimin seolah benar-benar lupa kalau pernah menjadi mantan Mas Aarav. Entah lupa atau justru Mimin yang aku kenal itu beda dengan Jasmin mantan kekasih Mas suami dulu. Tapi rasanya kalau diingat dari ceritanya Mimin yang aku kenal dengan Jasmin mantan kekasih Mas suami hampir sama.
"Ok, kalau gitu untuk malam ini aku pulang dulu yah Min, maaf tidak bisa lama-lama, kan kita punya anak kecil jadiĀ nggak boleh pulang malam-malam," ucapku sembari setengah berkelakar agar Mimin tidak merasa jenuh.
__ADS_1
"Itu anak aku ngab," balas Mimin sembari menunjukan muka kesalnya.
"Kalau anak kamu, kenapa ada sama aku? Dia ada sama aku berati anak aku dong."
"Aku nitip Lydia, nanti kalau udah sembuh, aku ambil lagi," balas Mimin, hati ini senang ketika Mimin berbicara seperti itu.
"Yah, cepatlah sembuh, dan ambil anak kamu. Kalau nggak diambil juga berati itu anak aku," balasku dan setelah cukup lama berdebat, yang mana Mimin sih pasti tahu banget arti ucapanku, kami pun pamit pulang mengingat saat ini juga sudah hampir jam sepuluh, waktu yang sudah sangat malam untuk ukuran kami yang sudah biasa jam sembilan mulai bersikap untuk menjemput Mimpi.
"Min, serius yah kamu harus sembuh, kalau nggak sembuh aku bakal marah banget. Dan kita akan kembali besok lagi," ucapku sebelum pulang dan setelah pamitan dengan Mimin, aku pun bergantian dengan Ambu, yang aku kenal dan dari cerita Mimin beliau adalah istri dari pemilik pesantren tempatnya menuntut ilmu. Sangat beruntung bukan kalau Mimin sampai diperhatikan seperti itu oleh istri dari pemilik pesantren.
"Terima kasih Lyd, kalau kamu besok sibuk, tidak apa-apa kalau tidak datang ke sini, ada dokter Sera yang pasti akan temenin aku, dan aku nitip Tiko yah."
"Kamu tenang saja, Tiko aman dengan kami, banyak yang sayang dengan Tiko, bahkan dia adalah primadona di keluarga kami. Dan soal besok, aku hanya ingin memastikan kalau kamu nggak ngeyel lagi. Aku akan memastikan kalau kamu menjalani pemeriksaan dengan baik, karena aku tahu betapa keras kepalanya kamu, jadi aku harus datang dan memastikan semuanya kamu lewati dengan baik," jawabku dengan menunjukan wajah mengancam.
"Perasaan kamu yang biasanya seperti itu." Mimin membongkar kartu buruk ku.
"Itu dulu Min, sekarang kayaknya sifat itu sudah berpindah ke kamu," balasku sembari setengah berkelakar dan benar saja aku pun langsung menatap mas suami dan benar-benar pamit setelah memastikan semuanya baik-baik saja.
Dan aku cukup senang karena Mimin di malam ini sangat jauh berbeda dengan Mimin terakhir aku temui. Dari semangatnya Mimin jauh lebih baik, dan pastinya ibadahnya juga semakin taat. Aku yakin, pasti Mimin sudah banyak mendapatkan terapi mental dari pesantren, meskipun dia belum sampai satu bulan di tempat itu, tapi perkembangannya sangat baik.
Di saat kita jauh dari Tuhan, maka syetan akan sangat mudah menghasut kita. Keputusan Mimin kala itu untuk mendekatkan diri pada Tuhan adalah awal yang sangat baik dan tepat, mungkin kalau saat itu Mimin tidak memutuskan untuk memperdalam ilmu di pesantren. Hingga saat ini aku tidak menemukan Mimin yang seceria saat ini aku tidak menemukan Mimin yang memiliki semangat untuk sembuh.
Ada kalanya kita lelah menjalani ujian hidup dari-Nya, tapi ingatlah jangan sampai kita menjauh dari perintah Alloh, karena yang akan membantu kita untuk kembali semangat dan keluar dari ujian-Nya adalah Alloh juga. Itu yang aku lihat dari peliknya masalah Mimin. Ada bantuan Alloh dari semua masalahnya.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...