Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Perpisahan Untuk Sementara


__ADS_3

A... Ayah kenapa nangis?" tanya Iko ketika melihat mata David yang memerah.


"Ayah tidak nangis Jagoan, Ayah hanya kelilipan." David mengerjapkan matanya berkali-kali dan mencoba menarik bibirnya dengan senyum yang manis. Sangat mirip dengan Iko kalau tersenyum.


"Tapi mata Ayah melah? Kata Papah kalau matanya melah nangis. Kata Bunda kalau laki-laki tidak boleh nangis. Iko nggak boleh nangis lagi sama Bunda kalena Iko sekalang mau jadi Abang, jadi halus kuat dan nggak boleh nangis. Ayah juga dong jangan nangis."


Deg!! Semua yang ada di situ kaget dengan ucapan Iko, padahal tidak ada yang mengajari untuk berbicara seperti itu, tetapi Iko sangat pandai dan bisa berkomunikasi selancar itu.


"Ya udah Ayah tidak nangis, Ayah kan juga laki-laki." David mengulas senyum bangga dengan tingkah anaknya dan mengusap air matanya dengan punggung tangan yang terborgol.


Namun, betapa kagetnya David ketika Iko maju beberapa langkah lagi dan mengusap ujung matanya yang masih ada air mata yang bandel tetap keluar dengan baju yang anaknya pakai.


"Ayah jangan nangis. Nih Abang peluk." Iko memeluk David dengan mesra. Sehingga David bukanya berhenti nangis justru ia semakin terharu dengan perlakuan David.


"Terima kasih Nak, sudah mau peluk Ayah. Ayah sayang sama kamu." David terus mencium pipi Iko dan rambutnya. Meskipun dari tingkahnya Iko seperti kurang nyaman dengan perlakukan David, tetapi anak itu tetap diam seolah membiarkan ayahnya memeluknya hingga puas.


Mimin pun langsung mengalingkan pandangan matanya, karena tidak kuasa air matanya juga ikut mengalir dengan kuat.


Andai David tidak meninggalkanya, dan memilih papahnya, mungkin kali ini ia dan dirinya akan menjadi keluarga yang bahagia dengan anak imut di tengah-tengah keluarga sebagai sumber kekuatan keluarganya, dan hubunganya dengan Wijaya pun tidak akan seperti sekarang.


Namun, jalan dari Alloh memang sangat sulit untuk ditebak sulit untuk dimengerti, tetapi banyak sekali yang Mimin dapatkan dari tiga tahun kebelakang. Ia benar-benar mendapatkan teman yang baik dan arti keluarga di mana ia tidak tahu arti keluarga sebelumnya seperti apa.


Bukan hanya Mimin yang sedih melihat pemandangan ini Lydia pun sedih dengan pemandangan di hadapannya, bahkan ia pun sampai meneteskan air mata. Sejahat-jahatnya orang kalau sudah melihat buah hatinya ia akan sangat lemah dan menjadi orang yang penuh dengan kasih sayang.


Iko pun terus mengusap punggung David seperti orang besar.


"Terima kasih Nak. Terima kasih sudah peluk Ayah ...."


Iko pun terus mengusap punggung David seperti orang besar. Ruang sidang yang hanya tersisa keluarga Aarav dan dokter Sera serta Hadi pun terasa hening, mereka benar-benar larut ikut merasakan kesedihan pertemuan Iko dan ayah biologis.


"Terima kasih Nak. Terima kasih sudah mau peluk Ayah ...."


"Ayah kok nangis lagi?" tanya Iko, setelah David melepaskan pelukanya.


David menatap putranya yang sangat mirip denganya. "Ayah sangat senang karena Iko mau dipeluk oleh Ayah. Terima kasih Nak. Ayah sangat senang," balas David dengan pandangan mata menatap Iko dengan bangga.

__ADS_1


Iko hanya menatap David dengan bingung. "Kan Iko sudah peluk Ayah, sekalang Ayah jangan nangis lagi yah." Iko mengusap rambut David seperti yang tadi David lakukan padanya.


Mendengar nasihat oleh putranya. David pun semakin sakit hatinya. Ia mengulas senyum masam. "Ayah janji tidak akan menangis lagi. Tapi Iko jangan lupa Ayah yah."


Ada perasaan takut di hati David kalau nanti ketika dirinya bebas Iko tidak akan ingat dengan dirinya. Lima tahun bukan waktu yang singkat ia harus menghabiskan waktu lima tahun untuk menebus kesalahanya.


"Kamu tenang saja David, Iko tidak akan melupakan kamu. Mungkin kalau dari hukum negara Iko sudah resmi menjadi anakku, tetapi aku tidak akan memisahkan kalian. Kamu dan Mimin tetap orang tua Iko, dan aku akan selalu ingatkan itu." Kali ini Aarav yang mengambil alih pertanyaan David.


David pun mengalihkan pandangan pada Aarav dan Lydia.


"Terima kasih Rav, Lyd, kalian memang pantas jadi orang tua Iko, kalian selain baik juga pandai mengurus Iko. Dia tumbuh jadi anak yang baik dan pandai. Aku bangga dengan pola asuh yang kamu berikan pada Iko," ucap David dengan memberikan senyum kepuasan, dan bangga.


"Sama-sama, aku hanya menjalankan apa yang aku bisa."


Kali ini David menatap Mimin yang dari sorot matanya wanita itu sedang menahan kesedihan.


"Terima kasih Min," ucap David membuat Mimin yang awalnya sedang menunduk pun langsung mengangkat wajahnya.


"Untuk?" tanya Mimin, ia benar-benar bingung, dan juga kaget, hatinya sedang sedih, tetapi malah David tiba-tiba mengajaknya berkomunikasi sehingga Mimin pun kaget dengan ucapan David yang tiba-tiba.


"Banyak sekali yang harus aku ucapkan terima kasih pada kamu. Salah satunya kamu telah izinkan Iko untuk bertemu dengan aku, padahal aku adalah orang yang sudah memberikan kamu banyak sekali cobaan hidup, tetapi kamu tidak memperdulikan itu, kamu tetap mengizinkan Iko untuk bertemu dengan aku," ucap David dengan menatap Mimin yang sangat jauh dari dulu sekarang jauh lebih dewasa dan baik, tentunya cantiknya tidak pernah berkurang.


"Terima kasih juga karena kamu tidak pernah mengikuti apa kata Papah, aku tahu papahku pernah meminta kamu menggugurkan Iko, tetapi kamu tidak melakukanya. Terima kasih tetap menjaga anakku dengan penuh kasih dan aku tahu kamu pasti banyak melewati kesusahan saat hamil Iko dan kamu hanya hadapi seorang diri, sekali lagi terima kasih dan maaf sudah memberikan luka yang sangat dalam," ucap David lagi. Menjadikan ruangan ini semakin hening hanya ucapan Mimin dan David meskipun tidak terlalu kencang, tetapi masih bisa terdengar oleh Aarav dan Lydia, dan yang lainnya. Mereka sangat bangga pada David karena berani mengakui semua kesalahanya dan meminta maaf.


"Iko adalah penguat aku saat aku melewati banyak sekali cobaan hidup. Mungkin kalau tidak ada Iko di rahimku dulu, aku akan melakukan perbuatan paling bodoh di dunia itu, tetapi setiap aku putus asa dan hampir menyerah dalam menghadapi hidup ini, aku selalu ingat Iko, hanya dia yang aku punya sehingga aku bertekad akan tetap mempertahankanya sebagai penguatku, jadi kamu tidak usah terlalu merasa bersalah karena aku bahagia adanya Iko."


David pun mengulas senyum dengan jawaban Mimin yang cukup tegas dan tidak terlihat lemah, padahal David tahu kalau yang ia jalani sangat berat.


Kini pandangan David teralihkan pada Lydia dan Aarav kembali.


"Aku dengar kasus kalian dengan Papah sudah masuk kepersidangan?" tanya David dengan cukup serius.


"Yah, kemarin disidang pertama seperti pada persidangan perdata pada umumnya, pertama sidang pasti upaya damai tapi Tuan Wijaya menolak tawaran pengadilan, dan kami pun sepakat kalau kasus ini akan terus di lanjutkan hingga semuanya terbukti kalau kami tidak pernah ada jual beli anak, seperti yang dituduhkan oleh papah kamu," jawab Aarav setiap membahas Tuan Wijaya laki-laki yang hampir memiliki tiga orang anak pun selalu terpancing emosinya.


"Aku atas nama papah dan ibuku, minta maaf kalau kalian harus menghadapi ini semua. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara berbicara dengan Papah, tetapi aku selalu berdoa agar Papah tidak melanjutkan masalah ini, karena hanya membuang-buang waktu."

__ADS_1


"Yah, aku pun berpikir seperti itu, tetapi semua ini sudah terlanjur berjalan, jadi kami pun harus menghadapinya. Soal menang dan kalah itu urusan nanti, tetapi yang terpenting kami akan berjuang semampu kami agar nama baik kami tidak tercemar. Jujur dengan masalah ini aku merasa dirugikan oleh papah kamu."


Mungkin bagi sebagian orang nama baik tidak terlalu penting, tetapi bagi Aarav yang notabenya pembisnis dan pemimpin perusahaan kalau nama baiknya tercoreng tentu saja ia merasa dirugikan.


"Sekali lagi aku minta maaf Rav, tapi kamu tidak akan penjarakan Papah kan?" tanya David dengan pandangan serius.


Mendengar pertanyaan dari David, Aarav pun hanya bisa diam, dia memang merasa dirugikan oleh perbuatan Wijaya, dan juga terusik dengan teror-teror yang laki-laki itu lakukan, tetapi kalau harus kembali menuntutnya dan membuat Wijaya masuk penjara Aarav juga tidak setega itu. Belum ia harus kembali berurusan dengan polisi rasanya sangat malas dan bosan.


"Rav, aku mohon jangan buat Papah masuk penjara, aku tahu papahku sudah sangat bersalah, dan membuat kamu tidak meras nyaman, tetapi aku mohon kamu jangan buat Papah terpenjara. Aku yakin Papah pasti akan menadapatkan hidayah, tetapi aku tidak tega kalau Papah di penjara, kalau kamu ingin penjarakan Papah biar aku saja yang tanggung. Papah sudah tua, aku tidak tega kalau beliau harus menghabiskan masa tuanya di dalam penjara." David mengatupkan kedua tanganya agar Aarav tidak melaporkan Papahnya ke dalam penjara.


Mendengar permohonan dari David, Aarav pun kembali tidak tega.


"Kamu tenang saja aku tidak sejahat itu Vid, aku juga ingin hidup dengan damai, dan aku tidak akan melakukan itu semua, kamu tenang saja, tetapi kalau papah kamu tetap mengganggu hidup keluargaku dan membahayakan untuk keluargaku aku mungkin akan berubah pikiran, mungkin dengan dipenjara Papah kamu akan bertaubat," balas Aarav dengan suara yang tegas.


"Yah aku percaya dengan kamu. sekali lagi aku ucapkan terima kasih pada kamu dan istri kamu karena sudah merawat dan menjaga Iko dengan baik." David mengucapkan terima kasih pada Aarav dan Lydia.


"Aku ucapkan sekali lagi untuk kamu Min, banyak yang ingin aku obrolkan dengan kamu, tetapi sepertinya Hadi tidak menginginkan aku banyak berbicara dengan kamu." David mengalihkan pandangan matanya dari Mimin, menatap ke arah Hadi yang sejak tadi beberapa kali menatap kearahnya. David tahu kalau Hadi ada rasa dengan matan istrinya.


Mimin dan Aarav serta Lydia pun menatap kearah Hadi, di mana Hadi sendiri justru salah tingkah karena tiba-tiba orang-orang melihatnya.


"Salam yah untuk Hadi," ucap David seblum ia kembali ke dalam penjara.


"Nanti aku sampaikan," balas Mimin.


"Kamu hati-hati di dalam penjara, jangan berbuat jahat lagi, semoga hukuman ini bisa membuat kamu jauh lebih baik lagi, dan menjadi orang yang baik," ucap Mimin dan langsung mendapat anggukan dari David. Mereka pun akan kembali berpisah tentu setelah David kembali memeluk Iko.


"Iko jadi anak yang pandai dan baik yah, jaga Mamah, Bunda, dan Papah." David berjongkok di hadapan anaknya, setelah puas memeluk malaikat kecilnya. Ia pun bangkit dan segera berjalan kembali ke dalam penjara.


"Siap Ayah. .. Dadah, Ayah jangan nangis lagi yah," ucap Iko sembari melambaikan tangannya pada ayahnya.


David pun tertawa mendengar pesan dari jagoannya.


"Dadah jagoan.... Ayah tidak akan nangis lagi. Iko juga jangan nangis yah." David meberikan hormat seperti yang Iko. lakukan. Hingga anak kecil itu terkekeh melihat kelakuan ayahnya.


"Kita pulang yuk, udah selesai. Tinggal urusan dengan Wijaya semoga semua berjalan lancar." Aarav menggendong Iko yang sekarang lebih ceria.

__ADS_1


Bersambung..... '


...****************...


__ADS_2