Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Keisengan Mas Suami


__ADS_3

"Kopi late, pesanan Papah Aarav telah datang," ucapku ketika aku masuk dan mas suami masih dalam posisi yang sama yaitu menatap Iko yang seolah dia malah sangat pulas tidurnya ketika diperhatikan terus oleh papahnya.


Mas Aarav langsung menatap aku dan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya yang sengaja dimonyongkan sedikit. "Jangan berisik tadi anak kita sempat membuka mata mungkin mencari kamu pas aku tepuk-tepuk bo-kongnya dia langsung kembali pulas tidurnya," adu mas suami yang membuat hati ini semakin damai. Karena ternyata se terbuka itu hatinya menyayangi anak yang bahkan dia sendiri tidak tahu siapa orang tua kandungnya.


"Lydia jalan sampai cepat-cepat karena takut kalau Iko keburu bangun, dan nangis, tapi kayaknya anak kita memang tipe anak yang baik dan tidak rewel," ucap ku sembari menyuapkan menu makan dengan sambel cumi dan juga lalapan. Entah mengapa aku sedang makan ala sunda dan di kantin hanya ada itu sehingga aku pun beli yang ada aja.


Kembali Mas Aarav terkekeh ketika membalas pesan dari adik-adiknya. "Coba deh kamu lihat. Mereka sangat lucu, iri dengan Mas," ujar Mas Aarav sembari menunjukkan ponselnya di mana grup keluarganya sedang debat mengenai anak kami.


[Anak siapa itu Bang? Enggak mungkin anak Abang kan?]


[Ya Allah kirimkan satu  bayi yang seperti Tiko!]


[Bang, Tiko buat aku aja Bang, tuker deh sama Ferrari]


[Bang, sekarang Mamih ke rumah Kamu]


[Papih pulang kerja juga mau ke rumah kamu]


[Rav, loe curang banget bisa dapet yang kaya gitu cu-lik dari mana?]


[Gue lagi hamil, kalau sampai ngidam yang kaya Tiko, loe tanggung jawab! ]


Aku pun sama, sejak tadi terkekeh membaca perdebatan dari keluarga Mas Aarav sedangkan Mas Aarav yang bikin kehebohan malah nggak muncul, bahkan adik-adik Mas Aarav ada yang saling memojokan mas suami karena dikira mas suami bohong. Dan hanya halu belaka.


"Mas tanggung jawab tuh. Amora sama Ainun berantem," ucapku sembari mengembalikan ponsel mas suami yang makin rame dengan mereka yang masih bersikukuh kalau anak yang mas Aarav kirim fotonya hanya anak orang yang diakui anak oleh Mas Saran hanya untuk bisa pamer sama anggota keluarganya yang lain. Maklum anak sodara mas suami semuanya baru perempuan. Baru Tiko yang berjenis kelamin laki-laki.


"Biarin ajah, memang mereka itu kaya gitu kerjaannya berantem terus. Mas suka keributan," balas Mas Aarav masih terkekeh ketika membaca pesan adik-adiknya. Yah ini adalah bentuk keisengan mas suami yang baru aku kenal. Mengingat dulu aku kenal mas suami masih sangat dingin dan irit bicara.

__ADS_1


Eaaa... Eaa... seolah Tiko tidak terima ketika dia dijadikan bahan lelucon oleh adik-adik mas suami. Aku bergegas menyelesaikan makan siang yang tertunda.


"Mas titip Tiko dulu. Lydia mau cucu tangan, dan bikinkan susu. Ini susunya sudah sejak tadi takut basi," ucapku, asli baru nangis seperti itu aja kami sudah sangat heboh. Bagaimana kalau yang dikatakan oleh dokter Sera terjadi. Kalau malam Iko sangat aktif untuk bermain. Itu tandanya aku harus bersiap-siap jam tidur yang pasti berantakan.


Satu botol susu sudah habis dan kini Iko kembali diam dan menatap tempat yang mungkin asing bagi dia.


"Mas pulang yuk, mungkin Iko tidak betah  dengan tetap di kantor." Apalagi perutku udah kenyang dan sekarang rasanya ingin pulang dan digantikan dengan kekacauan rumah baru kita. Siap nggak siapa harus siap melihat rumah baru yang pastinya sangat berantakan.


"Ok, ayo kita pulang. Mas juga pengin cepat-cepat main dengan Iko," balas Mas suami sangat berantusias untuk pulang ke rumah. Aku dan Tiko pun kembali naik kendaraan roda empat. Aku sudah membayangkan kalau Iko akan rewel lagi, tetapi kali ini Tiko justru hanya diam saja tidak banyak merengek seperti tadi malah seolah menikmati perjalanan kali ini. Sangat berbeda dengan apa yang tadi Iko lakukan seolah Iko tidak betah di mobil.


"Coba deh Pah, lihat sekarang Iko, betah banget kayak nikmati naik mobil, sedangkan tadi boro-boro. yang ada Iko ngerengek terus, kaya nggak betah gitu.


"Mungkin Iko tahu kalau dia memang sedang bersama papahnya," ucap mas Aarav dengan percaya diri, sembari sesekali melirik matanya ke arah Tiko yang memang anteng.


Aku pun membalas dengan senyuman yang menandakan kau aku setuju dengan ucapan mas suami.


Mas Aarav langsung menatapku dengan bingung. "Emang kapan Mamih, dan Papih akan ke rumah kita?" tanya Mas Aarav dengan santainya. Nah kan laki-laki yang sudah menyandang status sebagai suamiku nggak nyadar kalau dia sudah membuat kekacauan di grup wathsap keluarganya. Mana tanya balik lagi.


"Mas ini gimana sih, bukanya Mas sendiri yang bikin ke kacauan di grup, tadi Lydia baca Mamih dan Papih mau ke rumah untuk mastiin kalau kita sudah punya anak. Apa Mas Aarav nggak baca pesan mereka. Bahkan mungkin sekarang mereka masih penasaran kita punya anak beneran atau nggak. Mas ini jahat banget ngerjain keluarga sendiri," ucapku sembari kesal, kasihan sama mereka pasti masih saja memperdebatkan Iko di grup keluarga.


Mas Aarav justru terkekeh dengan renyah. "Biarin lah sekali-kali ngerjain mereka. Palingan juga kalau Mamih dan Papih ke rumah kita dan kita tidak ada di jewer apalagi pasti udah banyak panggilan nih di telpon." Seperti biasa laki-laki yang ada di sampingku selalu santai dengan keluarganya.


"Mana telpon Mas Aarav biar Lydia yang pegang takut Mamih atau Papih benaran ke rumah kita nggak enak kalau mereka malah bingung tidak ada kita," ucapku sembari mengulurkan tangan. Aku yang sudah memiliki sifat baik dari orok mana tega membiarkan mertuaku kesusahan.


"Nih... ambil sendiri di saku celana," ucap Mas Aarav sembari menunjukan saku celananya.


 Aku pun mencoba mengambil dengan sebelah tanganku. Mengingat yang sebelah lagi masih menggendong jagoan Iko.

__ADS_1


"Awas jangan salah pegang, nanti buah pi-sang lagih yang di pegang," kelakar Mas Aarav.


"Ya kali Mas, biarpun tangan nggak ada matanya, tapi masa iya ponsel ada di samping, masa iya tangan larinya ke tengah," balasku dengan sedikit ketus. Kadang-kadang memang mas Aarav ngadi-ngadi.


"Ya kali, mau minta bikin adik untuk Iko," balas Mas Aarav lagi dengan santainya.


"Masih belum bersih Papah, lagian kasihan masa Tiko baru ajah brojol udah membahas tentang adik. Kini tangan Mas Aarav sudah di tanganku, benar saja dugaan aku panggilan dari Mamih dan Papih sudah berjajar.


"Mas lihat Deh, kamu tega banget sama Mamih dan Papih." Aku menunjukan layar ponsel mas suami yang banyak panggilan masuk tak terjawab, dan juga pesan yang berjibun ngantri untuk di baca.  Kembali Mas Aarav terkekeh dengan santainya.


"Paling habis ini aku diceramahin, tujuh hari tujuh malam. Terus juga ini mah yang ceramah bukan Mamih dan Papih lagi Satu Kakak dan dua adik bakal ikut-ikutan juga," balas Mas Aarav, tetapi masih bisa tertawa dengan santainya.


"Lagian kamu sih Mas iseng banget. Kalau belum bisa balas satu-satu jangan mancing-mancing."


Aku langsung tersentak kaget ketika ponsel mas suami kembali nyala, yah itu adalah panggilan dari mamih mertua. Tanpa aku bertanya pada mas suami, jari jempolku langsung menekan gambar telepon berwana hijau.


[Abang, kamu ke mana saja sih. Mamih sudah ada di rumah kamu, dua rumah mamih datangin tapi kamu nggak ada. Mana Tiko yang kata kamu anak kamu itu. Kamu bukan lagi ngerjain kita kan Bang, kamu sekarang ada di mana. Buruan pulang...Mamih sudah nunggu dari tadi sampai jamuran, ini juga ada Papih di rumah kamu...." Suara mamih mertua langsung terdengar cempreng sampai aku yang nggak pernah dengar mamih mertua dengan suara tinggi pun cukup terkejut.


"Mih, ini Lydia Mih," ucapku dengan suara yang lembut.


[Ya Allah ini kamu Sayang. Suami kamu yang nakal ada di mana...?] tanya Mamih mertua dengan suara yang jauh lembih lembut dari sebelumnya. Sedangkan anaknya di balik ke mudi dari tadi terkekeh tidak ada hentinya mendengar suara Mamih Misel yang sangat jauh berbeda. Ketika bicara dengan Mas Aarav dan dengan aku.


"Hahah... malu tuh Mamih... "


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2