Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pindahan


__ADS_3

"Apa kalian sudah siap?" tanya Sony ketika laki-laki paruh baya itu sudah pulang, setelah mencari rumah yang akan dijadikan tempat untuk mengungsi sementara.


"Harus banget pindah yah Pi?" tanya Lydia yang merasa betah sebenarnya tinggal di rumahnya, tetapi tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba harus pindah demi kenyamanan bersama. Memang takdir itu kadang berbicara lain, dengan yang kita inginkan seperti itulah yang dirasakan oleh Lydia dan keluarganya.


"Ini hanya sementara Sayang, nanti kalau situasinya sudah aman kita akan kembali lagi kok ke rumah lama kita. Mas juga sebenarnya sudah nyaman di rumah itu, tapi kamu kan lagi hamil jadi kita amankan dulu keselamatan kita dan anak-anak kita."


"Kalian tenang saja, semuanya akan baik-baik saja, polisi sudah bergerak untuk mencari penerorĀ  itu dan soal rumah kita yang sementara, insyaAllah kalian akan merasa nyaman kok."


"Tapi, anak-anak kita nggak tahu kan Pi, kalau kita di sini sedang dalam keadaan yang kurang aman?" Kali ini Mami Misel yang dapat giliran bertanya.


"Sepertinya tidak ada? Tapi nggak tahu kalau Aarav atau Lydia kasih tau." Papi Sony menatap menantu dan putranya. Dan secara bersamaan Lydia dan Aarav pun menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Bahkan mereka belum ada yang tahu kalau Lydia sedang hamil," balas Aarav, laki-laki itu belum mengabarkan kehamilan sang istri, padahal biasanya dia adalah orang yang paling senang membuat sodara perempuanya iri, ia akan membuat rusuh di grup keluarga, sebelum nantinya dia yang membisukan pemberitahuan obrolan para keluarganya.


"Yah, pantas grup whatsapp sepi, padahal biasanya kamu paling jahil, dan paling senang bikin onar," balas Mami Misel.


Aarav pun hanya tersenyum tandanya mengakui semua keusilanya, yang ia lakukan bukan karena tobat, tetapi ia lupa dengan keisenganya, karena hari ini benar-benar banyak banget kejadian yang membuat ia tidak memikirkan hal-hal receh seperti itu, tetapi pasti kejahilan itu akan tiba. Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam satu keluarga dengan sodara perempuan tiga membuat Aarav menjadi orang yang paling jahil, tetapi juga orang yaang paling bisa diandalkan dalam setiap urusan apa pun itu dalam keluarganya.


Setelah semuanya siap, terutama semua keperluan jagoan. Satu keluarga itu pun secara diam-diam pindal ke rumah yang dianggap jauh lebih aman dan tentunya dengan harapan tidak ada teror, teror lagi, bahkan untuk kedaraan Aarav dan papinya diganti untuk mengecoh orang yang mungkin saja masih mengikutinya.


Ini rumah yang dipilih papi mertua untuk mengungsi sementara.



Dan ini bos kecil yang sudah siap ikut pindah. Kaca mata hitam jangan sampai ketinggalan yah Ko.



Di saat Aarav dan keluarganya mencari tempat untuk berlindung dari terror yang cukup membuat kurang nyaman. Di rumah mewah, seorang laki-laki tengah marah, kesal, kecewa dan memaki orang kepercayaannya, yang datang dengan membawa kabar yang membuat masalah semakin sulit untuk diurai.

__ADS_1


"Apa kamu sudah pastikan pada polisi?" tanya Wijaya pada Yono, asisten kepercayaannya.


"Sudah Tuan," jawab Yono dengan yakin, dan pasti. Tidak mungkin ia berani memberitahukan kabar penting pada bosnya tanpa ia pastikan kebenarannya. Semua kabar berita yang sampai di telinga Wijaya, sudah dipastikan oleh Yono bahwa kabar itu pasti dan dapat dipercaya kebenarannya.


"Anak itu memang gila, bisa-bisanya aku di sini bekerja setengah mati, bagaimana caranya agar dia bebas dari tuntutan ini semua, bahkan aku rela membayar uang yang tidak sedikit untuk membebaskan anak itu, tapi dia malah mengakui semua perbuatanya, menyesal aku punya anak seperti dia." Wijaya kembali melempar barang yanga ada di hadapannya.


Yono hanya diam dan diam, tidak bisa berucap sedikit pun. Pengalamanya ikut bekerja dengan Wijaya puluhan tahu membuat laki-laki itu paham betul saatnya ia bisa berbicara untuk menyampaikan pendapatnya dan kapan ia harus diam, hanya mendengarkan Wijaya dengan kemarahannya.


"Kalau di ujungnya ia akan mengakui semua perbuatanya, lalu apa gunanya polisi? Apa gunanya ada pengacara yang aku bayar mahal, toh mereka hanya menguras uang-uangku saja. Aku nggak bisa berpikir dengan jernih, maksud David itu apa, kenapa anak itu bisa jadi gila seperti sekarang ini."


Laki-laki yang sudah tidak lagi muda pun semakin sesak dan marah ketika memikirkan anaknya yang pastinya akan dikurung di dalam penjara.


"To, berapa kira-kira hukuman untuk anak itu?" tanya Wijaya setelah ia berbicara panjang kali lebar untuk meluapkan rasa kesalnya.


"Pengacara Sandy tadi sempat mengatakan hukumannya kurang lebih lima tahun penjara Tuan." Yono pun mengatakan apa yang pengacara keluarga katakan.


"Apah? Li... lima tahun penjara? Mau jadi apa semua bisnis yang dia bangun kalau anak itu segitu lamanya mendekam dalam penjara?" Wijaya kembali harus belajar menelan pil pahit dengan yang Yono ucapkan. Membayangkan satu tahun penjara saja bakal kacau semua perekonomian perusahaan ini lima tahu. Bisa-bisa apa yang ia bangun selama ini akan hancur begitu saja.


"Tapi Tuan, ini semua sudah keputusan David. Dia sudah mengakui semuanya polisi tidak akan percaya kalau tiba-tiba David melakukan jawaban yang berbeda-beda."


Seperti yang sudah-sudah, Wijaya akan melebarkan kedua bola matanya apabila apa yang ia perintahkan akan ditolak oleh Yono.


"Bai... baik Tuan, akan saya buat jadwal besok Anda bisa bertemu dengan David."


"Kalau gitu kamu pergilah dan biarkan aku berpikir untuk hari esok."


Tanpa menunggu waktu lama Yono pun kembali mengundurkan diri dan melanjutkan tugas-tugasnya.


"Yon..." Suara yang sudah sangat dikenal memanggil namanya. Yono pun langsung mencari sumber suara, saat laki-laki paruh baya itu baru keluar dari ruangan kerja sang bos.

__ADS_1


"Nyoya panggil saya?" tanya Yono setelah memastikan semuanya aman, laki-laki itu menghampiri sang majikan.


"Emang ada lagi yang namanya Yono di rumah ini?" tanya balik sang majikan yang langsung di balas gelengan kepala oleh laki-laki bernama Yono itu.


"Ada perlu apa, Nyonya panggil saya?" tanya Yono dengan sopan.


"Apa yang kamu bicarakan dengan suami saya?" tanya wanita yang berpenampilan cantik itu.


"Urusan pekerjaan."


"Hist... anak kecil juga tahu apa yang kamu bicarakan dengan suamiku pasti urusan pekerjaan, kamu adalah asisten kepercayaannya, bahkan kamu tahu nomer pin ATM suami saya, saya tidak, tapi pekerjaan apa," desak wanita itu lagi.


Yono pun membuang nafas kasar, dan bersiap untuk pergi. "Anda bisa masuk ke ruangan kerja suami Anda, dan tanyakan apa yang barusan kami bicarakan."


"Yono, apa kamu lupa aku ini istri dari atasan kamu, yang itu artinya aku majikan kamu juga."


"Maaf Nyonya saya sibuk." Yono pun tidak mendengarkan ucapan istri sang bos. Namanya Risa, dia adalah istri dari atasannya, yang artinya bosnya juga. Tapi sayang kesibukannya dengan jabatan pemilik yayasan pendidikan membuat wanita itu sibuk dengan berbagai kegiatannya. Bahkan tidak jarang meninggalkan suami dan anaknya ke luar kota yang pastinya tidak sebentar. Bahkan saat ini anaknya terlibat dalam masalah wanita itu pun sepertinya tidak tahu. Itu alasan Yono tidak mau memberitahukan apa yang terjadi dengan David.


Itu semua laki-laki itu lakukan agar Risa dan bosnya berkomunikasi layaknya pasangan suami istri sungguhan bukan sebatas suami istri di atas kertas.


"Dasar anak buah tidak tahu diuntung. Baru kali ini dapat bawahan songong banget." Meskipun Risa tidak suka dengan Yono, tetapi wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak bisa membuat suaminya memecat Yono. Yah, bahkan sang suami lebih percaya asistennya dari pada dirinya sendiri. Buktinya Yono tahu semua nomor pin kartu ATM sang suami sedangkan dirinya, jangankan pin kartu ATM, bicara saja sangat jarang.


#Ada yah suami istri seperti itu.


Bersambung....


...****************...


Hai teman-teman othor bawa rekomendasi novel karya bestie othor yang kece baday. Yuk mampir...

__ADS_1



__ADS_2