
Setelah drama kejutan yang sedikit melenceng, tetapi tidak berpengaruh terhadap acara yang aku susun dengan sedemikian rupa. Aku bahkan sampai mencatat semua yang harus aku lakukan agar tidak membuang waktu yang tidak terlalu penting. Sehingga semua yang sudah tersusun berjalan dengan lancar.
Sekarang kami tengah menikmati makan malam dengan hangat. "Ngomong-ngomong ko kamu tahu kalau Mas suka masakan dari restoran ini?" tanya Mas Aarav yang terlihat sangat lahap makannya. Mungkin karena sudah lapar juga, dan ditambah makanan yang sesuai dengan seleranya.
"Mamih Misel yang kasih bocoran," balasku, untung punya mertua yang baik sehingga apa yang anaknya suka dibocorkan semua.
"Pantes, ada yang kasih bocoran." Kami pun terus menikmati makan malam dengan sesekali melempar candaan dan obrolan yang hangat. Setelah makan malam kami pun langsung kembali ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh masing-masing. Ada sedikit ragu untuk aku ketika aku harus memakai pakaian yang bahkan rasanya hampir sama seperti tidak berpakaian.
Namun, selain aku sudah berjanji dengan mas suami aku juga sudah bertekad kalau aku akan belajar menjadi istri yang patuh, nurut dan juga nakal agar suamiku tidak tergoda dengan wanita lain di luar sana. Yang mana sekarang jamannya sudah aneh dan juga edan. Bahkan gadis di luar sana seolah tidak malu dan tidak memiliki hati wanita lain, mereka malah seolah lebih suka mengejar laki-laki yang beristri. Dan ketika sudah dapat dengan terang-terangan membuka aibnya. Aib yang Tuhan saja menutupnya dengan rapat, tetapi justru wanita itu dengan terang-terangan menjadikan sebagai konsumsi publik.
Bahkan mirisnya lagi ada yang berpendapat se'k itu sudah menjadi kebutuhan pokok yang wajib, menikah atau pun tidak. Karena bagi segelintir orang menikah hanya sebagai ligalitas saja, halal atau tidak sedangkan kebutuhan lahir adalah tidak kenal legallitas. Gila memang orang-orang yang berpikir demikian. Lalu apa gunanya Tuhan mengenalkan agama? Kalau pada kenyataanya cara binatang dibenarkan dan dijadikan sebagai pegangan?
Bukankan tujuan adanya agama agar kita bisa membedakan mana cara binatang dan mana cara manusia? yang dalam ciptaan Tuhan manusia dibekali akal dan pikiran yang paling sempurna tapi cara binatang saja masih dia rebut sebagai pegangan hidup.
Ajaran agama itu bukan rumus matematika yang masih punya banyak cara untuk mendapatkan jawabanya.
Setelah badan ini segar aku melangkah ke luar dengan percaya diri. Tentu setelah mempertimbangkan dengan matang. Tujuannya tentu ingin menyenangkan sang suami. Benar saja aku melihat mas suami nampak bahagia dan senyumnya terlukis dengan sempurna.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memakai kado pemberian Mas. Aku sangat suka," ucap Mas suami sembari menatapku dengan tajam.
"Lydia akan belajar jadi istri yang bisa membahagiakan suami. Jadi bantu Lydia mana yang Mas suka dan tidak," ucapku untuk meyakinkan kalau apa yang aku lakukan semata-mata untuk menyenangkan suamiku.
"Kalau Mas 'mau' apa kamu mau membantu?" tanya Mas suami dengan suara lirih karena itu tandanya aku harus membatu mendapatkan kepuasanya dengan cara yang lain, tetapi masih diperbolehkan dalam agamaku. Karena dalam agama pun diizinkan kalau suami tengah tegang dan sang istri tengan datang bulan maka ada cara lain yang bisa tetap memuaskan suami (Untuk yang sudah nikah pasti sudah sangat paham apa yang dilakukan). Bisa heand job atau mount job. Silakan pilih asalah jangan melalui lubang surgawi.
#Salah satunya, mereka berpegangan pada hadits riwayat Malik dari Zaid bin Aslam: “Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: ‘Apakah yang dihalalkan bagiku dari istriku yang sedang datang bulan?’ Beliau bersabda: ‘Hendaklah engkau kencangkan sarungnya, kemudian dibolehkan bagimu bagian atasnya. Anggota tubuh istri yang harus dijauhi adalah tempat keluarnya darah ha'id yaitu lubang surgawi. Artinya, suami boleh meng gaulii istri selain yang dilarang. #
Aku membalas dengan senyuman. "Lydia sudah banyak baca dari internet, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang istri ketika sedang datang bulan. Mas Aarav bersih bersih bandan dulu Lydia akan bantu setelah semuanya bersih," ucapku sembari memberikan senyum untuk mas suami.
"Terima kasih. Mas mandi dulu kamu jangan tidur," ucap Mas suami dengan segera bangun dari duduknya dan beranjak ke kamar mandi sedangkan aku kembali mengambil ponselku yang aku yakin temanku Sari pasti sudah membalas pesanku mengenai Mimin. Aku masih terus penasaran kenapa Mimin mencariku.
"Rawamangun, di mana itu, apa dekat dengan Rawa buaya?" batinku, bankan aku sendiri tidak tahu nama-nama kota di Jakarta ini selain tempat tinggal mas suami. Namun seolah hati ini tergerak untuk menemui Mimin, aku seolah sangat yakin kalau Mimin sedang butuh aku. Seolah wanita itu hanya percaya dengan aku hingga dia bertanya pada Sari kenapa bukan langsung meminta bantuan pada Sari kenapa harus mencari aku.
Sementara Mimin juga pasti tidak tahu kalau suamiku adalah manta cinta pertamanya. Aku pun diam-diam tetap mencari tahu keberadaan Mimin dan kontak wanita itu hingga rasa penasaranku terjawab. Tentu secara diam diam agar mas suami tidak tahu akan rencanaku. Aku yakin Mimin bukan mental perebut laki orang seperti wanita yang aku takutkan selama ini.
Dengan cekatan aku kembali menghapus pesan-pesanku, dan meletkan ponselku di atas nakas, setelah mendengar pintu kamar mandi di buka.
__ADS_1
"Ini pakaian Mas," ucapku sembari memberikan pakaian mas suami. Dan Mas Aarav pun memakainya dihadapanku sudah menjadi hal yang biasa karena sudah bukan kali ini saja mas suami melakukan hal itu.
"Besok akan ada orang yang memindahkan pakaian kita. Kamu amankan barang berharga ajah dan setelah itu biarkan urusan pidah barang serahkan sama orang-orang yang datang untuk bekerja. Aku nggak mau kalau aku pulang kerja nanti kamu kecapean karena ikut bekerja mengangkat barang-barang," ucap Mas Aarav sembari memakain pakaiannya sedangkan tangaku membantu mengeringkan rambut mas suami.
"Baik Mas, lagian Lydia mana bisa mengerjakan semuanya," balasku dengan santai. Sesuai janjiku aku pun melayani suamiku dengan dengan baik. Entah berapa kali juga mas suami mengucapkan rasa terima kasihnya pada aku. Seolah aku melakukan kebaikan, padahal yang aku lakukan adalah kewajiban.
"Mas kalau ke Rawamangun apa jauh dari sini?" tanyaku hanya iseng ingin tahu jaraknya.
"Untuk apa kamu tanya Rawamangun?" tanya Mas suami lagi. Aku pun yang sudah menyiapkan jawaban langsung menjawab dengan yakin.
"Tadi Bapak bilang katanya ada salah satu sodara yang tinggal di Rawamanung, tapi aku juga nggak dapat alamatnya, Bapak hanya sebut nama itu," jawab aku dengan yakin dan tidak terlihat sedang berbohong.
"Oh, kalau Rawamangun cukup jauh dari sini. Kasih aja alamat kita biar dia yang main ke rumah kita," ucap Mas suami dengan santai.
"Ah nggak usah. Lydia juga nggak terlalu kenal. Lagian juga belum tentu sodara itu kenal Lydia. Wong Bapak bilang saja sudah lama tinggal diJakarta berati itu tandanya lupa juga pasti dengan Lydia. Hanya penasaran saja," balasku kembali aku menyiapkan barang-barang berharga. Kami masih belum mengantung sehingga aku gunakan untuk membereskan barang-barang berharga termasuk jam tangan Mas Aaraav yang aku tahu jam-jam suamiku harganya bukan receh. Sementara Mas suami sendiri masih mengecek laporan kerja.
Setelah semua aman kami pun tidur dengan damai. Dan tentunya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak tidak lagi terpikirkan Mimin, atau Jasmin. Aku yakin semua bisa aku atur dengan sangat baik. Tanpa melibatkan mas suami.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...