
Assalamualaikum..." sapaku. Sepanjang perjalanan aku memang selalu bertukar kabar dengan mas suami sehingga begitu aku masuk Mas Aarav seolah sudah tahu kalau yang datang itu aku.
"Walaikumsallam Sayang, kenapa kamu perginya lama se....ka... li..." ucapan mas suami tertahan ketika melihat aku masuk dengan menggendong bayi. Aku melihat wajah mas suami langsung berubah.
Oh ya Tuhan apakah Mas Aarav akan marah karena aku tidak izin dulu membawa Tiko pulang ke rumah?
Jantung ini semakin berdetak lebih kencang ketika melihat wajah Mas Aarav berubah seketika.
"Mang minta tolong simpan tas Tiko di sofa, setelah itu Mamang boleh pulang. Terima kasih karena sudah membantu Lydia," ucapku sama Mang Dudung. Siap atau tidak ini sudah menjadi keputusanku sehingga aku harus menjelaskan apa yang terjadi, dan tentunya soal Tiko.
"Sama-sama Mba, Amang pamit dulu yah." Tanpa menunggu jawaban dari kami Mang Dudung langsung pamit dari ruangan mas suami.
Aku menatap Mas Aarav yang sejak tadi pandangan matanya tertuju pada Tiko. "Duduk Mas, Lydia akan jelaskan siapa anak ini," ucapku, setelah berkali-kali aku menghirup nafas dalam untuk menghilangkan kegugupanku.
Mas Aarav pun tanpa banyak bertanya langsung duduk di sofa, dan aku pun meletakan Tiko yang sedang tidur di samping Mas Aarav.
"Anak siapa ini Sayang?" tanya Mas Aarav, tetapi pandangan matanya tak lepas dari Tiko yang bibirnya gerak-gerak seolah sedang haus.
Aku tidak menjawab ucapan Mas Aarav. Melainkan aku menunjukkan surat perjanjian yang ditanda tangani dengan disertai materai.
Dengan tatapan bingung Mas Aarav menatap aku. "Dari surat ini Mas Arav bisa tahu anak siapa yang Lydia bawa ke sini," ucapku sembari menyodorkan surat perjanjian yang aku dan Mimin buat.
Tanpa menjawab Mas Aarav langsung mengambil surat itu, dan membaca isinya, tidak sampai lama kini Mas suami kembali menatapku dengan tajam. "Jadi anak ini, sudah jadi anak kita?" tanya Mas Aarav dengan suara yang parau.
__ADS_1
"Lydia nggak bisa menolak. Karena Lydia tahu bagaimana kondisi ibu dari Baby Tiko," balasku dengan suara yang aku buat lebih tenang. "Sebelumnya Lydia minta maaf karena tidak izin dulu sama Mas Aarav. Semua harus diurus dengan cepat dan sedikit ribet dengan surat perjanjian ini sehingga Lydia ambil keputusan sepihak. Semoga Mas Aarav nggak marah karena keputusan Lydia yang sepihak ini," ucapku sembari dengan perlahan aku tatap maas suami.
Cukup lama Mas Aarav tidak menjawab ucapan aku. Dan aku pun sudah siap apa pun keputusan dari mas suami kalau memang beliau tidak setuju dengan cara aku membawa Tiko pulang ke rumah. Namun, aku juga bisa lihat ada garis bahagia dari wajah mas suami.
"Bagaimana Mas mau marah, kalau yang kamu bawa saja anak setampan ini, tapi kenapa namanya Tiko? Nanti bisa diledek sama teman-temanya saat sekolah dengan nama Teko," balas Mas Aarav dengan mengusap tangan mungil Baby Tiko.
"Nama Tiko adalah nama pemberian dari Ibu kandung bayi ini, dan menurut Lydia bagus kok namanya mudah diingat Tiko," balasku dan memang aku lebih suka dengan nama yang mudah diingat, dan gampang diucapkan.
"Kalau diganti apa ibu bayi ini akan marah?" tanya Mas Aarav yang mungkin memiliki kado nama untuk baby Tiko. Aku pun membalas dengan senyuman terbaik.
"Lydia rasa tidak, asal kita tetap pakai nama itu sebagai hadian untuk Baby Tiko kalau ibunya memberikan nama yang bagus. Emang Mas Aarav punya cadangan sendiri?" tanyaku, kini hatiku sudah sedikit tenang, karena bayanganku kalau Mas Aarav akan marah dan kesal karena aku mengambil keputusan besar ini sendiri nyatanya tidak Mas Aarav langsung bisa menerima keputusanku dengan baik, tanpa ada drama dulu.
"Sebenarnya nama Tiko bagus, tapi lebih bagus kalau dipanggilnya Iko, jadi kaya nama aktor Iko Uwais, Mas suka dengan aktor Iko Uwais, ingin kalau punya anak cowok ada nama Uwais di belakangnya. Jadi seperti nama dari sang idola dan juga pengen ada nama Izya," balas Mas Aarav sembari tangannya sejak tadi bermain dengan tangan mungil baby Tiko. Yang justru seperti tidak terganggu sama sekali.
"Terus namanya siapa Tiko Izya Uwais?" tanyaku sembari setengah terkekeh karena aku rasa tidak nyambung susunan namanya.
"Mungkin nama Tiko-nya di tengah Sayang. Jadi Izya Tiko Al Uwais," balas Mas Aarav yang menambahkan nama Al ditengahnya.
"Lumayan bagus dari pada Tiko yang di depan rasanya canggung." Aku mengacungkan jari jempol sebagai tanda kalau nama yang Mas Aarav berikan itu bagus.
"Jadi ini kado lagi untuk Mas?" tanya Mas Aarav sembari menunjuk Iko yang bobo terus.
"Anggap saja gitu, jujur tadi saja Lydia sampai ragu. sempat nolak malah karena takut Mas Aarav akan marah tiba-tiba Lydia bawa bayi, belum gitu Lydia juga bingung mau bilang apa sama Mas, sedangkan Lydia aja pamit sama Mas untuk jenguk saudara teman, tapi sekarang udah lega. Ternyata Mas Aarav nggak marah." Aku mengusapkan kedua telapak tanganku ke wajah sebagai tanda kalau aku sangat bersyukur dengan hari ini.
__ADS_1
"Kamu lucu banget sih. Lagian kenapa Mas marah, malah seneng dong. Jujur kalau dibilang pengin banget punya anak, ya jelas apalagi anak laki-laki siapa sih yang nggak mau ngurus anak, kalau di kasih dua juga mau," balas Mas Aarav yang bisa aku lihat memang dari wajahnya terlihat sangat bahagia sekali dengan hadirnya Iko di tengah-tengah keluarga kita.
"Ya, kan Lydia nggak tahu apa yang ada di hati Mas. Tapi yang penting sekarang Lydia sudah lega," ucapku yang saking tegang dan bingung memikirkan cara berbicara pada Mas Aarav. aku sampai lupa belum makan siang.
"Mas, harus bilang sama Mamih, Papih dan adik serta Mazaya kalau Mas sudah punya anak sekarang," ucap Mas Aarav, tangannya langsung mengambil ponselnya dan mengarahkan layar kameranya ke wajah Tiko yang masih tertidur.
Cekrekkk... cekrekkk... entah berapa banyak gambar yang mas suami ambil dan langsung memberitahukan kabar gembira ini pada keluarga besarnya. Aku pun melakukan hal yang sama, hanya saja aku simpan di galery aku akan mengabarkan pada keluargaku, kalau masalah Lyra sudah selesai. Dan Ibu serta Bapak sudah bisa bernafas dengan tenang. Kali ini aku tahu orang tuaku masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Yah, meskipun ini adalah kabar bahagia, tetapi rasanya aku masih belum siap untuk membaginya.
"Mas, kita mau pulang sekarang atau nanti?" tanyaku di sela-sela Mas Aarav tersenyum sepanjang jari jempolnya menari di atas keyboard ponselnya.
"Kenapa emang?" tanya Mas suami dengan suara yang lembut.
"Kalau masih lama Lydia mau ke kantin dulu, beli makan, maklum dari tadi belum sempat makan siang. Lydia mau titip Baby Iko," balasku dengan suara pelan mengingat baru kali ini Tiko bobo sedikit nyenyak. Berbeda dengan di perjalanan tadi yang mana kurang nyaman untuk tidur. Bahkan beberapa kali Baby Iko menangis karena merasa kurang nyaman.
"Oh ya Tuhan, kalau gitu buruan kamu ke kantin, soal Iko biarkan aku yang jaga, dia pasti akan senang dengan papahnya," ucap Mas Aarav dengan percaya diri, sampai-sampai aku tidak sadar terkekeh dengan kelakuan papah baru itu.
"Terima kasih yah Papah-nya Iko, Lydia ke kantin dulu apa Mas akan nitip sesuatu?" tanyaku mungkin saja Mas Aarav juga lapar.
"Belikan satu cangkir kopi late, rasanya ada Iko jadi pengin ngajak ngopi." Mas Aarav meletakan ponselnya dan lebih memilih memperhatikan Iko yang sedang tidur. Ternyata Mas Aarav juga sama dengan aku yang suka memperhatikan bayi kalau lagi tidur yang kadang tertawa dalam tidurnya dan setelah itu ngejebe dan seolah menangis, cukup menjadikan hari ini bahagia dengan melihat pemandangan seperti itu. Seolah beban hidup ini langsung hilang. Padahal aku yakin setelah ini pulang ke rumah entah seperti apa berantakannya rumah kami nanti.
Namun dengan adanya baby Iko aku sedikit lupa akan keruwetan pindahan rumah. Yah, aku terlalu senang karena punya teman baru kalau mas suami kerja nanti.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...