
"Jadi ini alasan kamu mengajak aku ketemuan. Kamu ingin aku mati?" tanya Mimin dengan wajah yang sudah lebam karena tamparan dari David, andai ditanya sakit. Sudah jelas jawabannya iya dia kesakitan, ia sangat merasakan sakit apalagi kulitnya berbeda dengan orang lain.
Namun, Mimin tidak mau terlihat lemah dan akan membuat David semakin senang menindasnya.
"Bukan. Yang aku ingin kamu berikan anak untuk pengganti anakku yang kamu jual," balas David sembari melihat wajah Mimin yang tanpa hijab, rambut bondol menyerupai laki-laki, itu adalah bukti perjuangannya ia selama satu tahun ini menjalani kemoterapi yang mengakibatkan dia membotaki rambutnya, dan sekarang rambut sudah kembali tumbuh meskipun tidak seindah dulu.
"Aku tidak mau, kalau gitu lebih baik kamu bunuh aku. Apa kamu tidak tahu alasan aku memberikan anakku pada Lydia adalah aku tahu kamu tidak akan pernah bisa menjaga dia dengan tulus. Kamu menginginkan anak dari aku hanya untuk bisnis, kamu menjadikan anakku nantinya seperti robot untuk menambah pundi-pundi harta kalian, tanpa memberikan kebebasan pada anakku, haknya kalian rampas demi harta," balas Mimin tetap dengan tenang, luka di wajahnya tidak seberapa, dari pada dia melihat anak yang dilahirkan hanya dijadikan alat untuk melanjutkan bisnis keluarga mantan suaminya.
"Lancang kamu ngomong seperti itu." Kembali David melayangkan tamparan, tetapi Mimin tetap diam dan tanpa mengaduh bahkan memegang pipinya yang panas.
"Sekuat apapun kamu mengelak, justru aku semakin yakin kalau pilihan aku sudah paling betul. Aku tidak yakin Iko akan aman di tangan kalian. Kamu MUNGKIN memang ayah biologis anakku, tapi kamu tidak bisa menjamin anakku bahagia, Iko sudah aman dan bahagia dengan keluarga barunya. Keluarga yang sangat menyayanginya dengan tulus, sekali pun kamu menuduh aku menjual anakku aku tidak marah yang terpenting anakku bahagia dan berkecukupan, serta tidak kekurangan kasih sayang, dan terjamin keselamatannya. Aku tidak pernah menyesal memberikan anakku pada Lydia." Mimin menekankan kata mungkin dalam ucapannya, karena David sendiri yang pernah meragukan anak itu anaknya.
"Aku tidak mungkin menyakiti anakku," balas David, kali ini dengan suara yang kecil tidak seperti sebelumnya yang terus-terusan kasar.
"Kamu mungkin tidak, tapi tidak papah kamu, dan ibu kamu, kalian hanya sedang menyiapkan neraka untuk anakku. Sekali lagi sampai mati pun aku tidak akan membiarkan anakku diambil sama kalian. Kamu saja bisa melukai dan menyakiti wanita yang pernah kamu cintai dan perjuangkan, bukan tidak mungkin kamu juga bisa menyakiti anakku bahkan mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti pada ibunya."
"Banyak ba'cot, tinggal diam saja layani aku dengan baik, aku akan berikan harta yang jauh lebih banyak dari yang Aarav dan Hadi berikan."
"Kamu tidak bisa memberikan hal yang lebih dari Hadi dan Aarav, karena dua atasanku itu memberikan harta yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya, dari siapa pun" jawab Mimin memancing kembali kemarahan mantan suaminya.
"Hahaha, katakan dia berikan kamu apa saja, rumah? Kendaraan? Uang? Liburan atau apa?" tanya David dengan tangan menyusuri wajah Mimin, tetapi langsung ditepis oleh wanita itu dengan kasar.
"Kenyamanan, perhatian, dan rasa sopan yang dia berikan itu nominalnya jauh lebih berharga dari yang kamu katakan sebelumnya. Karena saat ini yang aku inginkan bukan lagi tumpukan harta, tetapi orang-orang yang mampu memberi kenyamanan," balas Mimin, kembali memancing David yang sedang dalam mode emosi.
"Jangan sok munafik kamu, pengobatan kamu tidak murah, kamu juga tidak memakai uang yang pernah aku berikan, lalu dari mana kamu dapatkan uang sebanyak itu, kalau tidak menjual diri?"
__ADS_1
"Yah, kalau dipikir secara logika, tuduhan kamu masuk akal, karena tidak mungkin aku dapatkan uang yang banyak untuk membayar pengobatan dan segala kebutuhanku, tetapi sekali lagi aku percaya bahwa Allah itu ada, Allah memiliki cara sendiri untuk membantu hamba-Nya yang sedang kesusahan. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang menjalani ujian-Nya. Allah memberikan aku ujian, Allah juga yang membantu aku untuk keluar dari ujian itu, kalau kamu bertanya aku dapat uang dari mana, sampai bisa membayar tagihan rumah sakit yang banyak, itu tandanya kamu meragukan kemampuan Allah, pertolongan Allah itu nyata."
"Sudah pandai berdakwah kamu, memang pel-la-cur sekarang senang sekali bersembunyi dibalik mulutnya yang sok suci. Aku tidak butuh nasihatmu , aku tidak butuh ceramah darimu yang aku butuh kamu melayani aku, dan kamu akan menjadi wanita satu-satunya dalam hidupku, kali ini aku akan memperjuangkan kamu untuk mendapatkan restu dari papah dan ibuku." David tidak kehabisan cara untuk menunjukkan kata-kata manisnya.
"Dulu kamu juga pernah mengatakan hal yang sama, dan aku pernah memberikan kamu kesempatan itu, jadi untuk sekarang tidak ada kesempatan apapun untuk kita kembali bersama."
"Jadi kamu menolak aku?" tanya David kali ini dia kembali menggeser tubuhnya semakin dekat pada mantan istrinya.
"Iyah."
Mimin menjawab dengan singkat, dengan pandangan yang lurus ke depan, segala resiko dari penolakan yang diberikan ia sudah siap apapun itu resikonya. Meskipun kehilangan nyawa.
Hezz... David mendengus kasar.
"Nyali kamu besar juga," ucapnya dengan tangan yang terus menyusuri tubuhnya. Namun, dengan kasar Mimin segera menepisnya.
"Istri aku tidak akan tahu, dan kalaupun tahu dia tidak akan keberatan, yang ada dalam pikirannya hanya uang."
"Istri kamu tidak tahu, tapi Tuhan maha tahu. Dia mencatat semua perbuatan yang kita lakukan sekali pun tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tahu."
"Sudah aku bilang, aku tidak percaya kalau Tuhan itu ada." David justru semakin menantang.
"Na'uzubillahiminzalik, tobat kamu David sebelum Tuhan murka dan menghukum kamu. Hukuman dari Tuhan adalah yang paling menyakitkan dari pada hukuman manusia." Mimin sampai bingung mau menasihati David dengan cara apa lagi, laki-laki itu benar-benar berubah bahkan dia tidak menyangka David pernah ia cintai setengah mati, laki-laki yang dulu ia kenal baik bisa berbicara seperti itu.
"Kalau Tuhan ada kenapa tidak menghukum aku dari dulu?"
__ADS_1
"Itu tandanya Tuhan ingin melihat kamu tobat dan memperbaiki diri, bukan malah kamu sombong. Aku heran kenapa kamu bisa jadi laki-laki bejad dan hancur seperti ini."
Plakkk... David yang memang sebenarnya sudah kesal, dan marah pada mimin pun kembali menamparnya. Gigi-giginya saling beradu dan dia juga yang sudah dikuasai nafsu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, jalan sepi dan mobil berhenti di pinggir jalan yang cukup aman untuk dia berbuat yang dia inginkan.
"Hentikan David. Kamu akan menyesal kalau melakukan itu," pekik Mimin, dengan terus memberontak. Tenaganya yang tidak sebanding justru hanya membuat David semakin menggila.
"Diam dan nikmati saja, aku janji hanya ingin anak satu dari kamu setelah itu kamu bebas berhubungan dengan siapa pun."
"Aku tidak sudi mengandung anak haram kamu."
Plakkk.... Kembali David menampar Mimin. Hingga wanita itu semakin sulit melakukan perlawanan pada laki-laki itu.
"Anakku bukan anak haram!"
"Bagi aku kamu sudah haram untuk aku."
Bukan hanya tamparan dan pukulan yang laki-laki itu berikan, leher Mimin pun jadi sasaran terakhirnya hingga bulir air mata keluar dari sela mata indah wanita itu sebagai kebencian yang tidak akan pernah dia maafkan.
Brakkkkk....
Mobil yang tengah melaju kencang langsung menabrak mobil yang mewah David hingga terguling, dan berhasil melepaskan tangan David dari leher wanita yang sudah tidak berdaya itu.
Bersambung...
#Komen dipersilahkan, Othor mau cuci karpet mushola dulu ke kali...
__ADS_1
...****************...