
"Wah... Wah... kayaknya enak sekali tuh, makan rujak, sampe tidak tawar-tawar..." goda Mami Misel yang datang dengan menggendong cucu laki-lakinya yang kali ini sudah tidak nangis lagi.
Aarav yang sedang asik makan rujak pun menoleh ke sumber suara. Namun, sedetik kemudian laki-laki itu pun bersikap acuh dan masa bodo. Ia tetap kembali makan dengan enak.
"Padahal Mami, beli semua itu untuk menantu Mami, bukan anak Mami," ucap Mami Misel dengan mengambil rujak serut dan menyantapnya. Seperti halnya Aarav, Mami Misel pun nampak sangat menikmatinya, kalau kata mereka enak segar, pedas dan manis. Sedangkan Lydia hanya bisa melihat bagaimana ibu dan anak sangat kompak makan rujak.
Iko sendiri sedang bermain di lantai, dan tentunya sudah tidak nangis lagi, apalagi mainannya banyak sudah lupa lagi tragedi papahnya yang memecahkan lampu saking senangnya kalau dia bisa membuktikan kejantanannya.
"Kalau kaya gini, Lydia lihatnya jadi kayak Mami dan Mas Aarav yang ngidam," ucap Lydia, wanita itu malah tidak terlalu tertarik dengan makanan seperti itu. Ia lebih tertarik untuk nonton mertua dan suaminya yang makan rujak dengan lahap.
"Loh, kok iya yah. Apa jangan-jangan Mami juga hamil sama kayak kamu, Sayang," balas Aarav yang terlalu senang meledek sang mami.
"Hust, kamu kalau ngomong sembarangan. Mami mana bisa hamil lagi udah menopause. Lagian kan makan rujak aja kenapa bisa dituduh langsung hamil. Kalau setiap ada yang makan rujak dikira hamil kasihan dong mereka yang pengin makan seger-seger langsung dikira hamil, padahal belum punya suami. Nanti yang ada tukang rujak nggak laku.
"Enggak Mi, ini hanya bercanda aja. Baper banget. Ingat bentar lagi dapat cucu dua lagi, tapi malah makin baperan sih," goda Aarav pada sang Mami yang bagi dia sang ibu makin hari makin lucu.
"Abisan kamu itu, udah mau punya anak tiga aja masih ngeselin terus bawaannya."
"Ini kayaknya bukan karena Aarav yang ngeselin deh, tapi kayaknya Mami memang yang sekarang sudah mulai tidak sayang lagi sama anaknya. Sedih banget sih, padahal anaknya imut gini, tapi kena marah terus." Kembali Aarav justru semakin memancing sang ibu untuk marah-marah lagi, dan ia akan berkelakar dengan renyah. Entah mengapa laki-laki itu sudah hampir punya anak tiga tapi malah makin menjadi-jadi jahilnya, dan yang jadi korbannya sang ibu. Durhaka kamu Aarav....
"Aarav, kamu memang ngeselin banget yah."
__ADS_1
Plukk... Plukk... Mami Misel yang gemas dengan kelakuan putranya pun memukul lengan sang anak.
"Aduh Mih, aduh sakit..." Aarav justru kembali berdrama.
"Huaaa... Huaaa... Papapa..." Iko yang melihat kalau papahnya kesakitan gara-gara dipukul oleh omanya pun kembali menangis, sedangkan. Aarav justru terkekeh oleh kelakuan putranya yang terlihat sekali kalau dia sangat sayang dengan dirinya. Buktinya lihat papahnya dipukul meskipun hanya bercanda tetap menangis dengan tersedu-sedu. Takut kalau papahnya akan kesakitan betulan.
"Uluh Sayang, maafkan Oma, ini Oma hanya bercanda dengan Papah kok. Oma sayang dong sama Papah, tidak mungkin Oma marah sama Papah."
"Bohong Sayang, itu hanya pencitraan saja," balas Aarav dengan besar kepala karena sekarang sudah punya pembela.
"Kamu diam saja, ini pura-pura, biar Iko percaya." Mami Misel justru kembali mencubit dima-diam anaknya. Tentu Iko tidak tahu aksinya, kalau tahu bisa kembali berdendang dengan merdu.
Sang Oma pun berdiri dan mengusap-usap sang anak untuk menunjukkan rasa sayangnya dengan Aarav, agar Iko percaya kalau papahnya baik-baik saja. Sedangkan Lydia langsung merangkul sang putra dan memangkunya. Mencoba menasihati putranya kalau semuanya baik-baik saja. Oma dan papahnya sedang bercanda, bukan pukulan beneran yang bikin sakit.
"Kamu ngerasa nggak sih Sayang, kalau Iko hari ini itu lebih sensitif, apa mungkin Iko ikut ngidam atau justru seperti ada rasa ketakutan kalau dia nantinya akan jadi kakak dan takut kita tidak sayang lagi sama Iko," ucap Mamih Misel. Padahal biasanya Iko itu tahan banting, jarang nangis dan pastinya tidak cengeng seperti hari ini.
"Iya betul Mam, tadi saja begitu Mami dan bundanya pergi dia kayak sedih gitu terus beberapa kali nangis, meskipun masih bisa dialihkan, tapi beda aja dengan hari-hari biasanya," balas Aarav yang merasakan hal yang sama, kalau anak sulung mereka sedikit sensitif.
"Yah, kalau begitu kita harus jauh lebih bisa membagi kasih sayang yang adil lagi, karena kayaknya dia sudah ngerti bagaimana lingkungan sekitar. Jangan sampai aja nanti dianya merasa kalau kita sudah tidak sayang lagi."
Aarav dan Mami Misel masih terus bercerita dan membagi nasihat-nasihat baik, terutama untuk menerapkan polah asuh pada anak adopsi. Yang sebenarnya justru lebih sulit. Karena kalau bukan anaknya yang sensitif biasanya lingkungan yang akan sensitif, dan kritis. Berbeda dengan membesarkan anak kandung. Meskipun kita sudah bersikap seadil mungkin bagi orang lain, akan banyak cacat kita. Contohnya kalau kita memarahi anak kandung , sebagai orang tua sesabar-sabarnya, pasti ada kalanya marah pada anak, kalau anak kandung hal yang biasa orang tua marah, kecil kemungkinan akan jadi bahan gunjingan orang yang melihatnya, bahkan tidak jarang ada yang mengerti kalau yang dilakukan orang tuanya demi kebaikan bersama.
__ADS_1
Namun, lain cerita kalau yang kena marah adalah anak adopsi, padahal kita marah tujuannya sama, yaitu untuk memberikan pelajar agar tidak berbuat yang salah. Apabila dilihat oleh yang lain, pasti gunjingan akan lebih heboh.
Si ini mentang-mentang sudah punya anak kandung, sama anak adopsinya gini-gini. Padahal tanpa mereka tahu, sang orang tua memarahi anak itu demi kebaikannya, sama anak kandung pun apabila salah s
akan tetap ditegor.
Itulah tujuan Mami Misel menasihati putra dan menantunya. Agar nantinya bisa siap dengan hal yang barusan di bicarakan.
"Tapi kok Lydia malah jadi kepikiran pada Mimin yah Mas. Bukanya Mas tadi pulang bilang kalau David sudah mulai curiga dengan foto Iko dengan Mimin yang dijadikan wallpaper. Bagaimana kalau laki-laki itu dan keluarganya sudah tahu fakta tentang Iko dan saat ini sedang merencanakan sesuatu," ucap Lydia yang lebih mencemaskan sang sahabat, jadi bukan karena hati jagonya yang sensitif karena Iko akan menjadi kakak.
"Hah, apa yang kamu bilang itu benar Sayang, kalau David sudah curiga dengan anaknya yang masih hidup?" Kali ini Mami Misel langsung terlihat sangat cemas juga sama dengan Lydia yang tetap kepikiran dengan apa yang suaminya katakan tadi saat pulang ke rumah.
"Kalian tenang saja, semuanya pasti aman," balas Aarav yang kali ini sedang berdiri dengan menepuk-nepuk jagoannya yang masih tersengal sisa tangisnya.
"Kayaknya kita tidak bisa main tenang-tenang saja deh Mas. David dan keluarganya itu orang yang cukup berkuasa, pasti mudah untuk mereka meminta orang lain untuk mencari fakta tentang Mimin, apalagi kemarin kita mengadopsi Iko pasti ada data-data lengkap, dan bukanya kalau data seperti itu bukan yang harus dilindungi privasinya, jadi bisa saja tersebar fakta kalau kita adopsi dari siapa dan alasannya apa?" ucap Lydia. Wanita berhijab itu hanya takut, kalau pihaknya terlalu santai nanti malah kecolongan oleh David yang ternyata bisa tahu semua faktanya.
"Benar tuh Aarav, kita tidak bisa asal santai-santai saja, karena David pasti tidak akan tinggal diam. Tuan Wijaya juga, mereka butuh keturunan yang bisa melanjutkan bisnisnya. Bukanya David adalah anak tunggal, udah gitu sudah dua kali menikah belum juga punya anak pastinya mereka lebih baik mengambil Iko yang sudah jelas anaknya. Mereka juga pasti ada rasa takut kalau David tidak bisa punya anak. Jadi kita harus tetap waspada," imbuh Mami Misel.
Entah ini memang ketakutannya saja atau justru memang ini sebuah firasat kalau hal buruh akan terjadi pada cucu laki-lakinya.
"Yah, yang Mami dan Lydia bilang benar juga sih. Nanti Aarav akan coba cari tahu dengan David. Kita tidak bisa tetap santai sedangkan Tuan Wijaya adalah orang yang cukup nekad, belum David orang yang licik, kita harus hati-hati karena musuh kita itu orang yang cukup berbahaya."
__ADS_1
Aarav tidak bisa bilang santau, di saat di berbuat sebaik mungkin.
Bersambung....