
Di sebuah rumah yang mewah.
"Jasmin ... Jasmin ...." Seorang laki-laki tua, memanggil-manggil nama putrinya.
Dengan tubuh lemah laki-laki usia tiga puluh empat pun datang, menghampiri laki-laki tua itu.
"Jasmin belum ketemu Yah, Julio sudah cari Jasmin ke mana-mana, tapi belum ketemu juga," ucap laki-laki yang bernama Julio dengan suara lirih seolah tengah berbisik di samping daun telinga Lukman.
"Jasmin ke mana?" tanya Lukman lagi, usianya yang sudah kepala enam dan juga sakit yang dideritanya membuat iya kesulitan berkomunikasi.
"Belum pulang ..." balas Julio dengan sabar.
"Kapan pulangnya?" tanya Lukman lagi. "Dia lagi kuliah?"
"Iya," jawab Julio yang cape menjelaskan pada ayahnya ke mana perginya sang adik. Karena ayahnya akan bertanya pertanyaan yang sama. Sehingga Julio memilih berbohong.
"Mungkin ada tugas, jadi belum pulang," lirih Lukman sembari menatap keluar jendela, dengan pandangan yang kosong menunggu sang putri pulang.
Julio hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah dan mata berkaca-kaca.
"Sus, tolong jaga Ayah yah, aku ada kerjaan." Julio yang kembali dilanda kesedihan pun menyerahkan penjagaan ayahnya pada perawat yang ditugaskan menjaga Lukman.
Setelah Julio meyakinkan kalau ayahnya aman dengan perawatnya. Julio pun masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Pikirannya terbang melayang meratapi nasibnya. Ia mengingat peristiwa lima belas tahun yang lalu di mana tiba-tiba keluarganya yang harmonis tiba-tiba diterpa masalah yang maha dahsyat. Saat itu usianya sembilan belas tahun sedangkan adiknya usianya tujuh belas tahun.
Ia masih mengingat pertengkaran ayah dan ibunya, di mana tiba-tiba ada kabar yang kurang mengenakan. Lukman mengatakan bahwa sang ibu berselingkuh dengan supir pribadinya dan mengakibatkan ibunya hamil dan itu artinya adiknya yang hanya beda dua tahun adalah bukan anak ayahnya. Pertengkaran terus terjadi masing-masing memiliki pembelaan hingga berujung penceraian dan Lukman mengusir sang ibu dan adiknya.
Julio pun memutuskan tinggal dengan ayahnya karena benci dengan ibunya yang ternyata mengkhianati ayahnya. Hingga tidak lama ibunya pergi datang seorang wanita cantik yang diperkenalkan ayahnya sebagai calon ibunya namanya Tizi, pernikahan terjadi mereka hidup bahagia hingga lupa dengan. Jasmin dan ibunya.
Namun setelah lima tahun ini sebuah fakta mengungkapkan kalau ternyata Jasmin adalah anak kandung dari Lukman yang artinya tuduhan selingkuh pada sang ibu itu tidak benar. Karena merasa bersalah Lukman pun mencoba mencari tahu di mana Jasmin untuk menebus kesalahannya selama ini, dan tiga tahun terakhir Lukman yang terlalu sedih dan bersalah akhirnya diserang sakit gagal ginjal, hingga Tizi yang cape mengurus suaminya yang sakit-sakitan pun memilih bercerai, dan kini hanya Julio, yang Lukman punya.
__ADS_1
Bukan hanya Lukman yang menyesal karena dugaannya salah dan marah dengan mantan istrinya serta menelantarkan Jasmin. Julio pun merasakan hal yang sama karena sudah lebih dari sepuluh tahu dia merasakan kebencian pada adik dan juga ibunya, karena beranggapan kalau ibunya telah berbohong dan Jasmin hanya pembawa sial.
"Kamu di mana sih Min, aku cari-cari nggak ketemu juga. Abang pengin minta maaf sama kamu dan ingin tahu di mana makam ibu?" lirih Julio dengan mata berkaca-kaca menatap langit-langit kamarnya.
Lima tahun kebelakang adalah tahun yang berat karena semua fakta dia dapatkan, mulai dari status adiknya, dan juga perbuatan ayahnya yang sangat membuat kecewa Julio, tetapi ia sebagai anak juga tidak bisa menghakimi Lukman, apalagi selama ini Lukman adalah sosok orang tua yang sangat baik dan juga penyayang. Sehingga rasanya Julio tidak pantas kalau harus menghakimi ayahnya. Apalagi sekarang sang ayah sedang sakit.
Lukman yang dulunya adalah pejabat tinggi di salah satu perusahaan yang dikelola negara, kini hidupnya hanya mengandalkan uang pensiun. Sedangkan Julio ia dari kuliah sudah merintis usaha kecil-kecilan membuka toko mainan anak dan juga peralatan olahraga dan musik. Hingga sekarang dia sudah memiliki tiga cabang di Ibukota. Sehingga dia masih bisa membiayai ayahnya yang masih sakit.
"Ya Tuhan tujukan jalan ke mana aku harus mencari adikku, setidaknya aku ingin meminta maaf." Julio ingat betul terakhir ia berkomunikasi dengan adiknya di saat ibunya baru meninggal dunia. Mimin mengabarkan kalau sang ibu meninggal, meminta Julio datang untuk membantu mengurus pemakaman ibunya, tetapi Julio yang masih marah dengan sang ibu pun memilih mengabaikan pesan Jasmin, hingga komunikasi terakhir ketika Jasmin meminta dirinya mencari tahu kematian ibunya, tetapi lagi-lagi Julio tidak mau. Hasutan dari Lukman dan Tizi membuat Julio semakin marah dengan ibunya.
Setelah cukup lama Julio merebahkan diri kini ia kembali bangun, dan meninggalkan rumahnya, ia akan pergi ke toko untuk mengurangi pikiran buruknya. Hanya dengan bekerja Julio bisa sedikit melupakan masalah keluarganya.
*******
Kembali ke rumah sakit.
Mimin dan Hadi masih terus mengobrol terutama dengan pekerjaan mereka akan sangat nyambung dengan obrolannya. Tidak lama kedua orang tua Hadi pun masuk setelah makan malam dengan makanan spesial yang dibawa oleh calon menantunya.
"Iya dong kan habis makan spesial dari calon menantu. Masakannya enak banget Min, kayanya besok harus pesan lagi ngomong-ngomong beli di mana?" tanya Ahmad, benar kata Mimin kalau kemungkinan besar kedua orang tua Hadi akan suka dengan makanan yang Mimin bawa, dan hasilnya tidak sia-sia mereka bahkan ketagihan. Yeh sogokannya berhasil yah Min.
"Iya loh Sayang, Mamah baru rasain makanan yang rasnya sangat enak. Di Kalimatan belum ada masakan kaya gitu," imbuh Arum yang. Entah beneran tidak ada atau justru Arum ingin memuji pemberian calon menantunya.
"Kalau Mamah dan Papah mau biar besok Mimin pesankan untuk makan siang dan makan malam."
Jelas tidak masalah bagi Mimin menjamu kedua calon mertuanya, kalau memang mereka menyukai masakan dari catering yang ia pilih.
"Tidak usah biar kamu sebutkan saja beli di mana, nanti Mamah yang pilih-pilih mau cari menunya." Yah, tentu sebagai orang tajir melintir tidak enak kalau setiap hari makan mereka dipasok oleh calon menantu yang jelas hanya bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan anak dan dirinya, kasihan dong udah kerja capek masa malah harus bayarin makan calon mertuanya.
"Ini nomor ponselnya Mah." Mimin memberikan nomer ponsel catering langganannya.
__ADS_1
"Ok, makasih yah, nanti Mamah akan beli sendiri." Arum pun sekalian meminta nomer telepon calon menantunya. Mereka pun terus mengobrol dengan hangat seolah memang mereka sudah kenal lama, termasuk membicarakan pekerjaan. Hingga pukul sembilan lewat Mimin pun pamit pulang.
"Aduh Sayang ini sudah malam loh, apa tidak bahaya?" tanya Arum yang mendengar kalau Mimin akan pulang.
"Tidak Mah, nanti naik taxi di depan," balas Mimin.
"Kamu hati-hati yah, kamu itu orangnya sering teledor, jadi hati-hati kalau mau pulang, apalagi sekarang udah malam. Coba kalau aku tidak sakit pasti bisaa antar," sahut Hadi yang cemas kalau Mimin pulang sendirian.
"Tidak apa-apa Mas, ini belum malam banget kok. Pokoknya yang penting cepat sembuh aja," balas Mimin dengan senyum teduh.
"Yah Papah juga nggak tau kota Jakarta mau antar yang ada nanti nyasar sendiri." Ahmad pun ikut nyambung, dan berhasil bikin tawa.
"Ya udah Papah diam aja, nanti malah ngerepotin," balas Arum, bukanya cari solusi malah ngelawak.
"Nah, makanya itu Papah takut nanti malah hanya bikin masalah baru."
"Ya udah Mah, Pah, Mimin pulang dulu insyaAlloh besok datang lagi." Mimin pamitan dengan kedua calon mertuanya terakhir baru menghampiri ranjang pasien lagi.
"Pulang dulu yah, semoga cepat sembuh," ucap Mimin dengan suara lirih karena malu kalau diketahui oleh calon mertuanya.
"Iya, hati-hati yah, kalau udah sampai rumah kabarin," balas Hadi.
"Iya siap, calon imam," bisik Mimin dengan suara kecil dan ia pastikan hanya Hadi yang dengar. Laki-laki usia tiga puluh delapan tahun itu pun langsung tersenyum dengan lebar. Ah, rasanya sakitnya langsung sembuh.
"As'salamuallaikum ...."
#Tuh kan kalau dokternya udah datang langsung pengin cepat-cepat pulang.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...