
Melihat Mimin yang langsung duduk dengan lemas, Hadi pun langsung bersiap menahan Mimin, takut kalau sang istri jatuh pingsan. "Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hadi sembari menahan tubuh Mimin agar tidak jatuh.
"Mas, apa yang kamu katakan tidak benar kan? Ayah masih hidup kan?" tanya Mimin, dengan mata berkaca-kaca, dan nafas yang kasar.
"Maaf Min, ini memang menyakitkan untuk kamu, tapi percayalah kalau ini adalah takdir Tuhan yang harus kamu terima," balas Hadi dengan suara yang lirih, laki-laki itu juga tahu berada diposisi Mimin pasti berat. Baru saja ia berperang dengan perasaanya untuk berdamai dengan ayahnya, tapi kembali dipatahkan, dengan takdir yang justru Tuhan mengambil ayahnya ke pangkuan-Nya.
Cukup lama Mimin diam, hanya isakan yang terdengar dari bibir Mimin, dan Hadi pun membiarkan Mimin menangis agar lebih tenang.
"Mamah napa ...?" tanya Iko yang terganggu dengar suara tangisan Mimin. Mendengar suara Iko, Hadi pun jadi semakin panik.
Hadi bergantian menghampiri Iko. "Iko, bobonya sama Nenek dan Kakek yah, Mamah mau ke rumah eyang," bisik Hadi, cukup kaget karena anaknya bangun.
"Mamah napa ...?" tanya ulang Iko kali ini dengan suara yang lirih. Anak laki-laki itu tidak tega melihat mamahnya menangis.
"Mamah tidak apa-apa Sayang. Mamah hanya sedih." Mimin memeluk Iko untuk kekuatanya. Dan benar saja setelah memeluk putranya, ia pun seperti mendapatkan kekuatan baru. Mimin merasa tenang dan tidak sesedih sebelumnya.
"Iko sama Nenek dan Kakek yah, Mamah ada kerjaan dulu," ulang Hadi, dan Iko pun mengangguk dengan lemah ketika mendengar ucapan Hadi.
"Sayang, aku antar Iko dulu yah. Kamu siap-siap saja. Kita sekarang ke rumah Ayah, kasihan kalau Ayah kelamaan nungguin kamu." Tanpa menunggu jawaban dari Mimin, kini Hadi pun sudah langsung menggendong Iko untuk dititipkan pada orang tuanya.
Tok ... Tokk... Cukup lama Hadi berdiri di depan pintu kamar orang tuanya. Hingga akhirnya bunyi kunci di buka membuat Hadi lega.
"Tunggu ..." terdengar suara Ahmad dari dalam sana.
"Loh, kenapa Di? Ini Iko kenapa lagi?" tanya Ahmad dengan kaget, ketika melihat Hadi berdiri dengan menggendong Iko. Bukan hanya Ahmad yang kaget, tapi juga Arum yang masih setengah sadar pun kaget ketika cucunya digendong oleh putranya.
__ADS_1
"Ini Iko kenapa? Nangis?" tanya Arum dengan mengambil alih Iko dari Hadi. Wanita paruh baya itu menimang Iko agar tidak nangis.
"Tidak Mah, Maaf sebelumnya ganggu Mamah dan Papah tidur. Tapi Hadi mau nitip Iko, soalnya kita barusan dapat kabar kalau ayahnya Mimin meninggal dunia, dan sekarang kita akan ke sana untuk mengurus pemakaman," jelas Hadi.
"Innalilahi WA Inalilahi rojiun. Kalau gitu Papah ikut," ucap Arum dan Ahmad secara bersamaan, sedangkan Iko tampak bingung.
"Terus Mamah kira-kira perlu ikut tidak?" tanya Arum, masih syok dengan kabar duka yang putranya bawa.
"Tidak usah Mah, Mamah tolong jaga Iko aja besok Mamah main ke rumah Lydia aja biar Iko tidak bosan, karena sepertinya pemakaman ayahnya Mimin akan di makamkan di samping makam ibunya jadi cukup lama untuk menempuh perjalananya. Kasihan nanti Mamah malah sakit karena perjalanan yang menguras waktu dan tenaga."
"Ya udah, kalau gitu Mamah hanya bisa doakan saja." Arum pun pagi ini menjaga Iko sedangkan Hadi, Ahmad dan Mimin langsung bertolak ke rumah Lukman untuk mengurus pemakaman ayah mertuanya.
Tahap demi tahap di lewati dengan suasana haru, Mimin pun masih saja tidak percaya kalau ayahnya secepat ini akan pergi, tetapi berkat Hadi yang terus berusaha menasihati Mimin, hingga wanita itu pun mencoba menerima kepergian ayahnya.
Tepat pukul delapan pagi. Mobil jenazah dan rombongan pun berangkat ke kota kelahiran Lydia di mana memang permintaan Lukman untuk terakhir kalinya ingin dimakamkan di samping makam sang istri pertamanya.
Hadi yang tahu kalau Mimin pasti sedih, pun memeluk wanita bercadar itu. "Aku tahu, ini pasti berat banget untuk kamu, tapi aku mohon kamu bisa kuat menghadapi ini semua. Percayalah semua yang hidup di dunia ini pasti akan berpulang ke pangkuan-Nya. Kita hanya tunggu giliran. Lebih baik kita doakan Ayah agar diampun semua dosa-dosanya." Hadi memeluk tubuh Mimin dengan mesra. Dan wanita itu pun mengangguk perlahan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan kini Mimin dan yang lainya pun sudah sampai di makam sang Ibu. Mimin langsung berlari dan bersimpuh di atas pusara sang buda tercinta. Wanita bercadar itu langsung menumpahkan kerinduannya. Hadi oun mengikuti dari belakang.
"Ibu, Mimin datang Bu ..." Mimin memeluk gundukan tanah yang banyak rumputnya.
"Bu, apa Ibu kangen dengan Mimin?" Wanita bercadar itu masih terisak meluapkan kerinduannya pada sosok ibu yang selama ini ia rindukan. Di belakangnya berjalan dengan lemah Julio. Sedangkan Hadi pun bersimpuh di samping Mimin.
"As'salamualaikum Ibu. Saya Hadi, suami Mimin. Salam kenal dan saya mohon restu untuk pernikahan kami. Maaf baru bisa berkunjung sekarang." Hadi menyapa dengan ramah.
__ADS_1
"As'salamualaikum Bu. Ini Julio datang. Julio ingin meminta maaf dengan Ibu karena sudah berpikir yang tidak-tidak dengan Ibu. Bu, maafkan Julio baru datang sekarang. Julio memang anak yang durhaka." Tidak berbeda jauh dengan Mimin, Julio pun terisak di atas pusara sang ibu.
"Bu, Mimin dan Julio datang ke sini mau antarkan Ayah. Ayah ingin di makamkan di samping Ibu." Julio kembali berbisik di atas pusara ibunya. Seolah sang ibunda tercinta mendengar apa yang mereka katakan.
Setelah berpamitan kalau mereka datang ke sini untuk memakamkan ayahnya. Dan melepaskan rindu dengan sang ibu. Proses pemakaman pun dilangsungkan. Hadi dan Julio turun ke bawah untuk memakamkan Lukman.
Air mata Mimin terus jatuh ketika perlahan tanah menutup tubuh Lukman. "Ayah, maafkan Mimin," gumam Mimin dengan bersimpuh rasanya tubuhnya hilang tulang belulangnya ketika melihat kalau tubuh ayahnya telah di kubur.
Sama seperti yang ia rasakan dulu, saat memakamkan tubuh ibunya. Bahkan ia dulu beberapa kali tidak sadarkan diri saking sedihnya ketika menyadari kalau sang ibu tidak ada lagi di sampingnya.
Hadi menopang tubuh Mimin. "Kamu yang sabar yah. Ikhlaskan Ayah, pasti Ayah akan bahagia."
Kini kedua orang tuanya sudah di makamkan di tempat yang sama dan bersebelahan seperti yang Lukman inginkan.
"Ibu, Ayah kalian berbahagia yah. Ayah sekarang sudah bersama dengan Ibu. Ayah sudah tidak sakit lagi. Tolong kalian saling mengasihi. Kami di sini juga akan saling mengasihi dan menjaga satu sama lain," ucap Mimin, dan dibalas anggukkan oleh Julio.
"Ayah, Ibu, kalian jangan sedih. Julio akan jaga Mimin. Julio janji tidak akan membuat sedih Mimin. Kalian berbahagia di dalam sana yah." Julio pun menguatkan ucapan Mimin, mereka pun terus meratapi kesedihan mereka di atas pusara ibu dan ayahnya.
Setelah mereka menumpakan kesedihanya. Mimin dan Hadi, Julio serta rombongan pun meninggalkan makam kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, Mimin dan Julio pamit yah. Kita akan sering-serung ke sini untuk menjenguk kalian." Terakhir Mimin mencium nisan ke dua orang tuanya.
"Ibu, Ayah, Hadi pamit yah. Kalian jangan khawatir Hadi akan jaga Mimin, dan bahagiakan putri Ibu dan Ayah." Hadi pun melakukan hal yang sama dengan Mimin. Begitu pub Julio, berpamitan dengan ayah dan ibunya.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...