
Setelah dua jam di ruang observasi tubuh Lydia pun sudah boleh dipindahkan ke ruangan rawat inap. Di dalam sana sudah ada mertua dan juga Aarav yang menyambut dengan senyum bahagia kedatangan ibu baru itu.
"Selamat yah Sayang, anak kalian cewek cowok. Mami sudah lihat mirip banget sama Aarav dulu saat masih kecil." Mami Misel langsung mengajak ngobrol Lydia.
"Terima kasih Mih, tadi Lydia lihat belum tahu mirip siapa malah kaya lihat boneka aja. Tidak jelas." Ya jelas mungkin karena dia banyak pikiran dan kaget tiba-tiba sudah lahiran saja.
"Nanti sebentar lagi pasti akan diantar ke sini tadi lagi pada bobo." Aarav langsung menyahut ucapan sang istri.
"Ngomong-ngomong namanya siapa cucu mami?" Mami Misel sangat antusias ingin tahu nama cucinya.
Lydia dan Aarav pun langsung saling tatap. Mereka justru bingung masih kasih anaknya dengan nama siapa. Karena saking mereka menikmati masa kebersamaan sampai untuk sebuah nama belum mempersiapkannya. Bahkan untuk perabotan justru mami Misel dan papi Sony yang lebih antusias mempersiapkannya. Itu semua karena kehamilan Lydia yang perutnya sangat besar kasihan kalau harus cape-cape untuk keliling mall. Meskipun ada beberapa perlengkapan yang sengaja dicari oleh Lydia dan Aarav.
"Apa jangan-jangan kalian belum kasih nama kalian," tanya Mami Misel dengan menatap bingung dan benar saja baik Lydia maupun Aarav hanya tersenyum malu-malu.
"Mamih saja yang kasih nama kalau gitu, buat kado cucunya." Lydia langsung menyahuti.
"Kok Mamih sih, kan itu anak kalian, nanti kalau Mamih kasih nama yang aneh-aneh kalian malah tidak suka lagi," protes Mami Misel.
"Ya udah kalau Mamih tidak mau kasih nama cucu Mami, biar Papi yang kasih namanya." Sony yang baru datang pun langsung siap memberi nama cucunya.
"Kok Papih langsung pulang padahal kan lagi di Malaysia." Mamih Misel wajahnya langsung bahagia.
"Iya tadi pas Mamih bilang mau temenin Lydia periksa Papi langsung cari penerbangan. Bahkan adik-adik Aarav juga sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Ingin menyambut anggota baru," balas papi Sony tidak sabar ingin melihat cucu-cucunya.
"Tapi kerjaan sudah selesai Pah?" tanya Aarav.
"Belum, biarlah kerjaan sampai kapan juga tidak akan selesai. Udah kangen pengin ketemu cucu," balas Sony dengan santai.
"Wah, sedang kumpul nih. Pasti lagi nungguin anak yang tampan dan cantik." Dua orang suster datang dengan mendorong anak-anak Lydia. Benar saja kedatangan si kembar membuat ruangan semakin terharu. Lydia pun langsung mengucapkan masyaAlloh berkali-kali ketika melihat anaknya yang lucu-lucu memakai pakaian berwarna biru dan pink. Aarav pun bergantian belajar menggendong anaknya.
__ADS_1
Jagoan dan princess OM Duda nih Senggol dong.
Eaa ... si kecil yang memakai baju biru langsung nangis ketika di gendong sama Aarav.
"Kasih Lydia Rav, Boy tidak mau kalau sama kamu," ucap Mami Misel yang sedang gendong baby girl.
"Yah, padahal Papah baru gendong Sayang." Dengan berat hati Aarav pun memberikan baby boy sama Lydia.
Di ruangan VIP itu pun semua sedang berbahagia, dan nama baby twins pun diberikan oleh sang kakek. Namanya. Azzura dan Azzam. Semua pun setuju dengan nama itu. Nama yang cantik dan tampan sesuai dengan wajah mereka yang tampan dan cantik.
*****
Namun namanya anak kecil tetap ingin pergi padahal yang dibeli ada juga di kulkas. Hadi mengembangkan senyum ketika membaca pesan dari Aarav yang berhasil memperkenalkan anggota baru yang bernama Azzam dan Azura.
[Selamat yah semoga jadi anak yang soleh dan soleha. Aku sebentar lagi akan ke sana.] Itu adalah balasan yang dikirimkan oleh Aarav. Dalam hatinya tidak henti-hentinya berdoa untuk dirinya yang ingin segera menyusul Aarav dan Mimin. Tidak harus langsung dua kasihan karena kondisi fisik sang istri tidak seperti Lydia. Mimin hingga detik ini juga masih kontrol rutin untuk memastikan kalau tubuhnya tidak ada sel-sel kangker yang tumbuh di tempat lain.
Memiliki riwayat pernah terkena kangker atau tumor memang akan selalu dihantui dengan tumbuhnya sel kangker baru. Meskipun itu ganas atau tidak, tetapi tetap saja akan tetap menakutkan.
"Kini Hadi tinggal menunggu Mimin bangun dan setelah itu ia akan langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk baby Azzura dan Azzam. Baru juga ditinggal membalas chat pada Aarav. Iko pun menyusul Mimin tidur. Dengan tidur memeluk ibunya.
Melihat pemandangan itu sangat tenang hatinya. Kerja ditemani istri dan anak membuat Hadi semakin bersyukur. Meskipun andai ia tidak diberikan keturunan lagi. Hadi sudah bersyukur karena akhirnya tetap bisa memiliki anak dan istri yang sayang dengan dirinya.
Tentu Hadi mengabadikan momen indah ini melalui jepretan kamera. Melihat anak dan istrinya tidur dengan damai. Ia semakin semangat kerja dan membahagiakan anak dan istrinya.
******
__ADS_1
Di lain tempat justru seorang laki-laki berpakaian religius merasakan dadanya tiba-tiba nyeri dan bayangan putranya dan juga sang istri kembali melintas. Yah, dia adalah David. Laki-laki itu mengambil foto yang pernah ia minta dari Aarav. Yah foto anaknya penyemangatnya saat ini untuk memperbaiki diri.
Berkat foto itu kini David semakin semangat untuk merubah dirinya, ia tidak ingin nanti anaknya malu memiliki ayah yang berhati dan sifat jahat. David ingin Iko bangga dengan dirinya yang baik dan menuju jalan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Ia menatap foto Iko yang hampir tidak pernah dia tinggal selalu ada di sakunya. Sengaja ia laminating agar tidak lusuh dan bisa ia tatap terus selama di dalam penjara.
"Hai, anak Ayah. Sekarang lagi apa? Ayah tiba-tiba kangen dengan Iko. Apa Iko kangen dengan Ayah?" David mengusap wajah Iko yang sangat tampan. Mirip dirinya yang juga tampan. Tapi juga tidak bisa dipungkiri wajah Mimin juga mendominasi.
Nah loh othor kasih foto iko yang rumus biar David gak bisa tidur gara-gara kangen anaknya
Ia kembali mengingat wajah mantan istrinya yang mirip dengan Iko.
"Min, apa kamu sudah punya pengganti aku? Apa kita masih punya jodoh? Aku ingin suatu saat nanti kita masih tetap memiliki jodoh. Aku masih sayang sama kamu. Aku menyesal menyia-nyiakan kamu," ucap David hatinya sakit setiap mengingat perbuatannya pada Mimin, tetapi ia juga tidak bisa memungkiri masih sayang masih sering memimpikan Mimin.
Seperti hari ini tiba-tiba ia teringat Mimin dan juga putranya. David pun masih sering berdoa agar ia diberikan jodoh kembali dengan sang istri.
Andai waktu bisa diputar pasti dia tidak akan Menyia-nyiakan istrinya apa pun yang terjadi dengan Mimin ia pasti akan bersama. Namun inilah hidup pahit manis terus berganti hingga ia tidak bisa mengelak.
"Iko, Ayah sayang sama Iko. Ayah rindu dengan Iko." David mencium foto sang putra.
Bersambung....
BTW kayaknya David lucu kali yah kalau di jodohin dengan Janah yang baik tapi agak ngeselin dan kadang-kadang lolanya minta ampun dan ceplas-ceplos. Untung Tazi dan Meli sabar punya temen kaya dia dari pada berantem terus sama. Handan mending kasih ke David 😅
...****************...
__ADS_1