
"Sayang kita ke rumah Mami yuk!" rengek Aarav.
"Kenapa sih Mas tumben banget pengin ke rumah Mami," tanya balik Lydia yang merasa suaminya sangat berbeda sejak pagi ini.
"Tidak apa-apa, Mas pengin makan masakan Mami," balas Aarav dengan jujur, sontak saja Lydia langsung melebarkan matanya, kaget bin terkejut.
"Masakan Mami? Masakan apa?" tanya Lydia lagi yang merasa heran saja pada suaminya, setahu wanita itu beberapa kali kalau sang mami mertua itu mengatakan kalau tidak bisa masak, bahkan untuk sekedar masak mie Instan juga tidak tahu takaran mie matang seperti apa testurnya. Nah, sekarang sang suami pengin makan masakan sang mami mertua.
"Entah lah apa saja yang penting di masak sama Mami, terserah mau tempe goreng atau apa lah, yang penting masakan Mami kayaknya enak banget, kalau makan masakan dari tangan ibu." Dapat Lydia lihat dari wajah sang suami kalau dia sangat menginginkan makanan olahan dari tangan sang wanita yang telah melahirkanya.
"Kapan kita ke sana? Sekarang, kalau sekarang Lydia nitip jagoan mau siapkan keperkuan Iko dulu."
Lydia langsung memberikan Iko bersama Aarav. Dan wanita itu pun langsung merapihkan keperluan putranya setelah suaminya memberikan anggukan sebagai jawaban kalau dia ingin makan masakan mami mertua saat ini juga.
[Hah, Aarav ingin makan masak Mami? Apa dia tidak tahu kalau ibu kandungnya tidak bisa masak? Bahkan bumbu-bumbu dapur Mamih tidak hafal magaimana mau masak Lydia, suami kamu itu ada-ada saja. Apa dia ingin mengerjai mamihnya?] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh mertuanya Lydia, ketika sang menantu mengabarkan kalau dia sedang siap-siap untuk berangkat ke rumah mertua, dan mengabarkan kalau anaknya ingin makan masakan sang mami.
Jangankan Lydia yang bingung dengan permintaan sang suami, ibu kandungnya sendiri juga bingung ketika anaknya tiba-tiba ingin makan masakan sang ibu, bahkan Mami Misel sudah memberi tahukan pada Lydia kalau dia adalah wanita paling payah urusan dapur, selain dia tidak hobby masak dan juga tidak menyukai bermain di dapur, wanita paruh baya itu juga tidak suka dengan yang ribet-ribet, lebih suka yang praktis.
[Ya udah biarkan nanti Lydia yang akan bantu Mamy masak, tapi juga kalau Mas Aarav tidak sadar dengan masakan yang di masak oleh Lydia.] Lydia sembari terkekeh membalas pesan dari sang mertua, jujur wanita itu juga ingin mencicipi masakan dari Mami mertuanya.
__ADS_1
[Udah tidak apa-apa Sayang, kayaknya Aarav ingin mengetes Mami. Mungkin ini saatnya Mamy menunjukan bakat terpendam Mami, enak tidak enak awas saja kalau anak itu tidak makan, sudah bikin Mami susah.] Aku pun langsung terkekeh ketika membaca pesan dari mamih mertuanya.
Tidak menunggu lama kini wanita itu sedah siap dengan segala keperluan sang jagoan untuk persiapan di rumah sang nenek, padahal tanpa membawa banyak barang juga di rumah mami mertuanya sudah banyak pakaian dan juga perlengkapan Iko yang memang sering bolak balik pindah ke sana dan ke sini.
"Ayo Mas, Mami sudah nungguin kita," ucap Lydia dengan membawa barang-barang sang putra.
"Kamu sudah bilang kalau Mas ingin makan masakan dari Mami?" tanya Aarav dengan muka memerah dan senyum tipis di wajahnya. Seperti anak yang segera terkabul segala keinginannya.
Lydia membalas dengan anggukan kepala. "Kok tumben sih Mas ingin makan dengan masakan Mami, apa Mas Aarav ingin mengerjai Mami, bukannya Mas tahu kalau Mami itu tidak pandai memasak," tuduh Lydia, itu adalah kata yang diucapakan oleh sang mami mertua, bahkan ibu kandungnya menuduh Aarav kalau mau mengerjai sang Ibu. Tidak aneh sih, itu karena Aarav yang memang sangat iseng itu, bukan hanya ibu kandungnya yang jadi korbanya, adik dan kakak kandungnya juga sudah sering jadi korbanya.
"Tidak, ini memang benar-benar ingin makan masakan Mamih, kan hampir sepanjang hidup Mas, tidak pernah makan olahan Mami jadi kayaknya ini waktu yang tepat untuk mencicipi masakan Mami tercinta, tapi kamu jangan bantui yah. Mas benar-benar ingin makan masakan yang benar-benar di olah oleh tangan Mami bukan kamu maupun asisten rumah tangga."
"Ya udah yuk buruan, kasihan Mami katanya sudah deg-degan karena bakal dapat ujian dari kamu Mas."
Hahaha... Aarav tertawa dengan renyah ketika mendengar ucapan istrinya.
Di saat Aarav dan sang istri tengah heboh bersiap akan main ke rumah maminya. Di tempat lain David langsung pulang kembali ke rumahnya, untuk mengabarkan pada sang papi, ketika ia pagi tadi bertemu dengan Mimin.
"Apa Papa duga, Papah yakin seratus persen wanita pesakitan itu tidak mungkin kehilangan anak kalian, satu tahun lebih kamu buang sia-sia, coba kalau kamu sudah cari tahu tentang wanita itu. Bisa jadi anak kamu sudah ada di tangan kita." Tuan Wijaya langsung menunjukan sifat kuasanya ketika David pulang-pulang langsung bercerita kalau dia bertemu dengan Mimin, tentunya soal foto anak kecil yang bersama dengan Mimin itu dia ceritakan detail ciri-cirinya.
__ADS_1
"David sudah cari tahu sebelumnya, tetapi tidak ada tanda-tanda kalau Mimin memang pernah melahirkan," balas David dengan pasrah, tapi setelah dia melihat foto mantan istrinya dengan anak kecil yang sangat mirip dengan dirinya.
"Itu karena kamu yang bodoh. Papah heran kenapa kamu bisa percaya banget sama wanita itu. Sudah berapa kali kamu dibodohin oleh dia tapi kamu masih percaya. Harusnya kamu tetap selidiki karena dia tidak mungkin mau anaknya kita ambil. Mulai sekarang biar Papah yang cari tahu tentang anak kamu. Dan kamu tinggal duduk manis, terima hasilnya."
Ketika sang papah sudah memberikan keputusan seperti itu, maka David juga tidak bisa membantah.
"Tapi Papah tidak akan buat bahaya Mimin kan? Papah akan cari tahu dengan cara aman kan?" tanya David, dalam hati kecilnya dia masih mencintai mantan istrinya, sehingga dia tidak tega kalau terjadi sesuatu dengan Mimin.
"Kalau Papah akan melakukannya, sudah dari jauh-jauh hari Papah menyingkirkan wanita itu. Kamu tahu kan Papah tidak mungkin melakukannya, meskipun Papah terlihat kasar, tapi Papah masih punya perasaan. Biarkan dia tetap hidup dan menikmati penderitaan yang dia pilih."
Glekk... David menelan salivanya dengan kasar, dia tidak tahu alasannya apa kenapa bisa sangat benci dengan mantan istrinya itu.
"David percaya dengan Papah," balas David dengan pasrah dan juga membiarkan sang papah mencari tahu tentang anak yang ada di ponsel Mimin.
Setelah semua urusan diambil alih oleh sang papah. David pun memilih kembali mengerjakan pekerjaannya. Meskipun dia masih belum bisa fokus dengan pekerjaannya itu semua karena dalam pikiranya masih memikirkan sang mantan istri dengan Hadi.
"Sepertinya aku harus tetap cari tahu sendiri siapa anak itu, dan ada hubungan apa Mimin dengan Hadi," gumam David setelah hampir satu jam dia kerja tidak juga bisa konsentrasi.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...