
Hadi membuang nafas kasar ketika sang istri justru kedatangan tamu bulanan. Padahal dia sudah siap untuk membuat adik untuk Iko. Tapi ternyata Othor berkata lain, Hadi justru harus kembali puasa.
#Gak apa-apa Bang paling seminggu kok....
"Dasar tamu tidak tahu diri, udah mah minum jamu rahasia pemberian Papah malah Mimin kedatangan tamu lagi," gerutu Hadi sembari menghentakkan kakinya, ia pun akhirnya pergi untuk mencari roti tawar permintaan sang istri.
Langkah kaki Hadi pun terhenti ketika ia akan ke kamar Arum untuk tanya setok roti tawar. Namun, laki-laki itu pasti yakin kalau ia bertanya roti tawar pada mamahnya pasti ujung-ujungnya ia akan diledek habis-habisan oleh wanita yang telah melahirkan kanya, belum sang papah yang pasti juga ikut julid tertawa di atas penderitaan orang, sehingga Hadi pun lebih memilih untuk mengurungkan niatnya mengganggu sang mamah tercinta. Ia lebih baik pergi ke depan komplek untuk membeli roti jepang di supermarket yang ada di depan perumahan tempatnya tinggal.
Sedangkan Mimin, selesai membersihkan tubuhnya ia pun memilih merebahkan tubuh, perutnya kalau datang bulan hari pertama itu sangat tidak nyaman sehingga ia memilih untuk merebahkan tubuh di kasur yang empuk. Mungkin dengan rebahan ia akan lebih baikan perutnya.
"Kok lama banget Mas Hadi beli rotinya. Ini udah banjir deh," batin Mimin ia sudah berapa kali ganti dalaman karena banjir susah dibendung.
Sementara Hadi berjalan dengan pelan karena efek jamu pemberian papahnya sudah mulai bekerja. Rasanya sangat menyiksa, salah dirinya sih langsung buru-buru diminum sedangkan ia tidak tahu kalau sang istri akan datang bulan. Alhasil tubuhnya serasa meriang.
Mimin menatap Hadi yang berjalan dengan lemas. "Mas, kenapa? Apa berutnya sakit?" tanya Mimin langsung menghampiri suaminya yang sedang berjalan dengan lemah.
Hadi memberikan tas belanjaan yang berisi satu pak roti tawar sesuai yang Mimin katakan mereknya, dan juga beberapa botol jamu tradisional yang digunakan untuk mengurangi nyeri datang bulan.
"Mimin bantu," ucap Mimin sembari menuntun Hadi ke kasur. Wanita yang sekarang tidak memakai penutup wajah pun perlahan membantu Hadi berjalan. Ada rasa bersalah karena ia justru kembali merepotkan suaminya. Mimin justru meletakan tas belanja yang Hadi berikan. Ia mengusap kening sang suami yang berkeringat.
"Maafkan Mimin, gara-gara Mimin, Mas jadi sakit lagi," ucap Mimin dengan rasa bersalah. Andai ia tahu kalau Hadi akan sakit lagi seperti ini sudah pasti Mimin tidak akan meminta belikan roti tawar.
__ADS_1
"Tidak usah minta maaf ini gara-gara kerjaan Papah," balas Hadi sembari meringis menahan rasa tidak nyaman ketika sang adik terus memberikan kode ingin bercinta.
"Kok Papah, emang Papah salah apa?" tanya Mimin dengan bingung. Ya iya dia bingung mertuanya salah apah, karena Mimin tidak tahu obrolan antara orang dewasa sebenarnya tadi itu apa aja.
Hadi menatap Mimin dengan tatapan yang lain. Laki-laki itu juga baru sadar kalau sang istri tidak lagi memakai penutup wajahnya.
"Kamu cantik," lirih Hadi dengan tubuh bersandar ke tumbukan bantal yang memang Mimin tumpuk untuk sandaran Hadi.
"Terima kasih Mas," balas Mimin dengan suara yang lembut, dan wajah malu-malu.
"Begitupun dengan Hadi yang justru langsung tidak berkedip ketika melihat sang istri karena dari pernikahan dia belum sempat membuka cadar Mimin, ya alasanya karena kondisi ayah mertuanya yang semakin memburuk dan susana semakin kacau. Sehingga paska sah dia lupa melihat wajah sang istri.
"Maaf Mas, mau ke kamar mandi dulu sudah banjir," ucap Mimin, dengan buru-buru bangkit dari duduknya dan menyambar tas belanjaan yang berisi roti prsanan Mimin. Sedangkan Hadi baru sadar kalau Mimin itu cantik banget. Maklum dia pertama kali bertemu dengan Mimin ia sudah memakai penutup wajah, dan baru kali ini Hadi melihatnya secara langsung.
"Astaga kenapa malam pertama menyedihkan banget sih, nggak bisa berpetualang." Hadi membayangkan wajah Mimin yang malu-malu, dan itu berhasil membuat Hadi terkesima.
Sembari menunggu Mimin ke luar dari kamar mandi Hadi pun mengecek ponselnya. Sama seperti biasanya, teman sekaligus perusuh siap merusuhkan malam pertama Hadi. Yah siapa lagi kalau bukan papah Aarav. Ada lima panggilan yang tidak terjawab, dan pasan yang belum Hadi buka.
Meskipun Hadi tahu betul kalau Aarav telpon atau kirim pesan tidak lain dan tidak bukan adalah dia yang ingin usil pada dirinya, tapi Hadi pun penasaran takut ada yang penting, sudah hampir jam dua belas malam. Hadi pun menghubungi sahabatnya. Laki-laki itu memilih mengobrol di balkon, agar tubuhnya rileks juga dan si adik tidak ngambek terus karena tidak di kasih keinginanya.
[Apa loe telpon-telpon gue malam malam?] tanya Hadi tanpa basa basi tentu setelah mengucapkan salam yah.
__ADS_1
[Udah dapat berapa tarikan?] Nah kan sesuai dengan yang Hadi pikirkan kalau Aarav hanya ingin mengejek saja.
[Boro-boro berapa tarikan. Mimin lagi kedatangan tamu,] balas Hadi, biarin dah Aarav makin senang dengan mengejeknya toh memang laki-laki itu kerjaanya selalu senang kalau lihat Hadi teradiyaya. Dan benar saja apa yang Hadi katakan, Aarav dengan lantang langsung tetawa dengan renyah.
[Ya Alloh kasihan banget besti aku ini, udah malah sepuluh tahu duda. Baru mau buka puasa malah ada aja halanganya tamu datang lagi. Gimana otang aman," kelakar Aarav bahagia banget kalau lihat Hadi sengsara.
[Puas, puasain aja loe ketawa.] Hadi sudah tidak aneh dengan kelakuan temanya.
[Kayaknya loe kurang amal perbuatan banyak menyimpang Di.] Masih aja disangkut pautkan dengan amal dan perbuatan, si Aarav memang nggak ada obat.
[Ya udah terserah loe ajah deh. Asal loe seneng lanjutkan.] Pasrah banget pengantin baru ini. Aarav pun benar-benar ngakak tertawa dengan puas. Malam ini dia sangat bahagia karena sahabatnya tidak bisa malam pertama. Nah ini namanya sahabat sejati, di mana temanya kena musibah dia tertawa puas. Untung Hadi sabar kalau nggak bakal langsung diajak tempur.
Hadi dan Aarav pun masih ngobrol, dari pembahasan malam pertama yang gagal, dan juga pembahasan pekerjaan, hingga pengasuhan Iko, yang Hadi juga sebagai orang tua baru ingin mengasuh Iko. Dan Aarav berjanji akan membicarakan dengan istrinya. Ya meskipun Aarav yakin kalau Lydia tidak akan keberatan kalau Iko diasuh juga oleh Mimin dan Hadi, tapi agar tidak jadi kekecewaan karena dianggap mengambil keputusan sepihak maka Aarav pun memilih membicarakan dulu dengan Lydia.
Sama halnya dengan Aarav, Hadi sendiri tidak keberatan ketika Aarav akan membicarakan tentang pengasuhan Iko dengan Lydia.
Ketika Aarav dan Hadi masih asik ngobrol, Mimin di dalam kamar justru tidak bisa tidur, yah meskipun dia sedang datang bulan, tapi dalam hati Mimin wanita itu juga merasa kasihan pada suaminya. Karena Mimin tahu sebagai suami Hadi ingin dilayani oleh Mimin. Dia bukan anak yang masih lugu yang tidak tahu bagaimana memuaskan suami meskipun sedang berhalangan. Pengalaman dengan pasangan sebelumnya sudah cukup bekal buat saling bisa melayani satu sama lain. Meskipun sedang datang tamu bulanan.
Mimin masih menunggu sang suami, ia tidak ingin membiarkan suaminya tidur dengan hati yang kesal karena tidak mendapatkan peralayanan. Meskipun tidak bisa berpetualang, naik gunung dan melewati lembah hingga sungai mengalir indah, tapi setidaknya Mimin tetap bisa menina bobokan dan menidurkan adik kecil serta memberikan pengalaman malam pertama yang tidak akan terlupakan untuk mereka berdua.
Bersambung ....
__ADS_1