Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Buka Bersama Dengan Keluarga


__ADS_3

"Mamih belum mau pulang kan?" tanyaku setelah melihat jam baru pukul lima, dan besar kemungkinan mamih mertua akan buka bersama di rumah kami.


Mamih Misel melihat jam di ponselnya dan mungkin mengecek pesan dari sang suami. "Papih juga belum pulang, Mamih pulang kalau Papih sudah jemput kalau belum berati kemungkinan buka puasa di rumah kalian dan kalau tidak jemput juga berati di berikan waktu untuk Mamih bobo dengan Cucu,"  balas Mamih Misel dengan senyum bahagia.


"Kalau belum pulang Lydia nitip Iko yah, Lydia mau siapkan bukaan untuk buka puasa sekalian mungkin Mamih ingin dibuatkan menu spesial oleh Lydia sebagai ucapan terima kasih karena sudah berkenan repot karena dititipkan Iko seharian ini?' tanyaku dengan bersiap untuk beranjak dari duduk dan menuju dapur untuk bertempur.


"Apa saja yang ada, lagian kalau buka puasa makan sedikit juga langsung begah, kekenyangan jadi yang ada ajah yang penting tidak mengandung racun." Kami pun tersenyum dengan candaan mami mertua dan aku pun langsung meninggalkan mami mertua dan juga Iko, lalu menyiapkan bukaan, meskipun pasti sudah di siapkan oleh Bi Lilis dan Mbok Jum, tetapi dari pada aku  duduk dengan tidak ada kerjaan mending membantu menyiakan bukaan puasa.


"Bi, besok kita akan bikin kue lebaran, Bibi nanti siapkan bahan-bahanya  yah terutama selai nanasnya, karena pasti akan bikin nastar dulu yang seolah ini adalah kue terwajib saat lebaran tiba. Bibi bisa kan bikin selai nanas, kalau bisa nanasnya di parut yah Bi agar ada serat-seratnya jadi cantik nanti kalau udah jadinya," ucapku sembari membantu menyiapkan bukaan puasa.


"Siap, kira-kira nastarnya bikin berapa Mbak, dan nanas nya pakai berapa banyak?" tanya Bi Lilis yang siap mencatat bahan apa saja yang di butuhkan untuk membuat kue besok.


"Beli sepuluh saja yang besar-besar yah dan pilih yang sudah benar-benar matang karena tua, dan batter-nya juga yang kualitas bagus yah ambil ajah yang standar Wisman, meskipun lebih bagus Ancor tetapi harganya lebih merakyat Wisma. jadi ambil wisma, blue band, gula halus, susu bubuk, maizena, .." Aku terus menyebutkan satu per satu apa saja  dan bahan-bahan lain yang kami butuhkan untuk membuat kue-kue lebaran yang mulai besok kami akan mulai buat, selain untuk menghemat pengeluaran untuk membeli kue tentunya agar kami lebih banyak kegiatan bersama dan lebih dekat nantinya.


Tidak lama aku di dapur mami mertua pun datang dengan Iko dan Mas Aarav serta papi mertua yang juga akhirnya ikut buka di rumah kami.

__ADS_1


"Loh, kok tumben pulang Lydia tidak dengar suara mobil Mas?" Aku pun segera menghampiri mas suami dan juga papa mertua untuk bersalaman sebagai menantu yang baik aku pun harus menyambut beliau dengan ramah.


"Iya Mas pulang nebeng sama Papih, mobil Mas ada di kantor, tadi baru selesai meeting dengan Hadi rasanya malas banget kalau harus balik ke kantong. Soalnya tadi berangkat  tinjau lokasi pakai mobil Hadi jadi minta Papih jemput biar bisa dapat tebengan gratis," balas Mas Aarav dengan tersenyum puas karena bisa mendapatkan tumpangan gratis dari sang papih.


"Mentang-mentang lagi dalam mode baik langsung di manfaatin sama suami kamu," balas Papih Sony yang langsung bergantian menggendong Iko yang ternyata sudah bangun, aku pikir masih anteng tidur.


"Mas, mandi dulu yah masih ada waktu tiga puluh menit untuk bersih-bersih, dan setelah itu buka bersama. Lydia sudah siapkan bukaan, meskipun bukan Lydia yang masak tapi di jamin masakan Mbok Jum nggak ada lawannya." Setelah duduk duduk sebentar mas suami dan papi mertua pun naik ke atas untuk membersihkan tubuhnya yang seharian untuk bekerja.


Ini adalah buka bersama dengan keluarga suami yang kesekian kalinya, meskipun tidak memungkiri rasanya hati ini sakit ketika bisa buka bersama dengan keluarga suami, tetapi justru dengan keluarga sendiri aku hanya buka bersama hanya menggunakan sambungan telepon. Yah, inilah resiko ketika kita tinggal berjauhan dengan orang tua, rasanya rindunya hanya dituangkan melakui sambungan telepon.


"Oh iya Lydia kabar orang tua kamu bagaimana, Papih dengar nanti mereka akan lebaran di sini yah?" tanya Papih Sony di tengah-tengah makan bersama kami. Aku pun cukup terkejut ketika ternyata papih sony tahu apa yang saat ini aku pikirkan, yaitu rasa rindu dengan orang tuanku.


"Tidak apa-apa sekali-kali malah. Kami senang malah kalau besan bisa lebaran di sini, jadi nanti suasana lebaran makin meriah dan pastinya beda dari tahun-tahun sebelumnya."


Buka puasa kamu pun berjalan dengan hangat, sesekali kami menyelipkan obrolan untuk membuat suasana semakin harmonis. Seperi biasanya setelah buka, dan cukup untuk menunggu makanan turun kamu pun melanjutkan unjuk jamaah sholat Magrib, dan ternyata papi mertua juga memutuskan tarawih di sini sehingga pukul sembilan Papih dan juga Mamih Misel baru bisa pulang ke rumah masing-masing. Mungkin kalau bukan paksaan dari papih Sony mungkin Mamih Misel tetap ingin istirahat di rumah kami.

__ADS_1


"Ayo Min, kan besok bisa main ke sini lagi, bukanya besok juga bakal bikin kue jadi kan kesini lagi," rayu Papih Sony yang mana aku dan Mas Aarav hanya tertawa saja dengan kelakukan mertuaku.


"Nah, makanya itu Pih, Mamih malas bangun toh besok ke sini lagi," tolak Mamih Misel yang ingin tetap istirahat di rumah kami. Namun, setelah di rayu-rayu oleh papih mertua akhirnya mamih pulang juga.


"Iko, Oma, dan Opa pulang yah, besok ketemu lagi." Itu adalah ucapan perpisahan dari mamih mertua dan kami pun langsung kembali masuk ke dalam begitu Papih mertua dan mamih mertua pamit pulang.


"Mas ada yang ingin Lydia bicarakan apa Mas tidak cape?" tanyaku dengan halus, aku takut mas suami merasa kalau akhir-akhir ini aku lebih fokus dengan sahabatku sehingga aku tidak ingin hubungan aku malah kurang bagus karena pada kenyataannya aku lebih banyak membahas Mimin.


"Tidak katakanlah, soal kesehatan Mimin? Atau soal keluarga kamu? Sini biar Iko, Mas yang gendong."


Aku pun memberikan Iko sama Mas Aarav dan aku duduk di tepi ranjang.


"Ini soal Mimin, Lydia mau minta izin sama Mas untuk memberikan perawat pribadi untuk Mimin, karena dia tidak punya siapa-siapa lagi, dan juga dia butuh pantauan dari orang yang mendampingi agar bisa memantau perkembangannya."


Aku menatap Mas suami cukup. lama diam, sehingga aku jadi merasa serba salah.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2