
Aku membuka mata ini, di mana pagi hari ini sangat berbeda. Biasanya aku bangun karena jeritan alarm dari ponsel yang sengaja aku atur untuk membangunkan ku. Namun, dipagi ini aku terbangun karena tangisan bayi yang sangat merdu. Yah, jagoan ternyata bangun lebih dulu dan meminta orang tuanya juga ikut bangun.
Di saat biasanya aku bangun masih sangat berat karena kantuk yang masih menggelayuti mata. Dipagi ini aku bangun langsung segar.
"Hai... selamat pagi Jagoan, kenapa kamu nangis? Aku kamu haus Sayang," tanyaku sebisa mungkin aku menyapa dulu jagoan sebelum menggendong dan membuatkan susu dengan baby Iko. Meskipun aku tahu Iko tidak bisa menjawabnya, tetapi rasanya ngomong sama bayi itu menyenangkan dan juga membuat pikiran tenang.
"Iko udah bangun Sayang?" tanya mas suami dengan suara yang serak dan berat.
"Iya Mas, berisik yah? Mungkin Iko sudah lapar. Makanya bangun. Dan juga ini udah waktunya Sholah Subuh, Iko membangunkan kita, agar tidak kesiangan. Mas bersih-bersih kih terus Sholat. Lusa kita sudah puasa nanti dibiasakan yah sholatnya di masjid. Cowok pahalanya lebih banyak Sholat di masjid loh dari pada Sholat di rumah," ucapku dengan membuat susu untuk Iko. Semalam sudah aku siapkan semuanya, sehingga ketika jagoan bangun maka semuanya tinggal seduh.
"Ok, baiklah Sayang, nanti Mas biasakan ibadan di masjid." Selama mas bojo mandi aku pun menjaga Iko dan setelah itu menyiapkan segala keperluan mas suami. Memang untuk pertama kali merubah kebiasaan cukup kagok, tetapi aku yakin semakin hari maka akan terbiasa. Apalagi Iko juga masih kecil belum bisa lari sana sini sehingga untuk pengawasanya cukup mudah, belum memerlukan banyak tenaga untuk menjaganya.
Berbeda kalau sudah bisa merangkak dan latihan berjalan itu pasti momen yang banyak di tunggu orang tua termasuk aku yang seolah tidak ada puasanya, ingin terus cepat terlaksana itu semua, plus harus ekstra hati-hati karena pasti banyak kejutan saat menjaganya.
"Mas, mau olahraga nggak?" tanyaku ketika mas suami selesai sholat.
"Mau, emang kamu sudah selesai?" tanya mas suami dengan wajah senyum-senyum bahagia banget. Aku pun mengernyitkan dahi dengan sempurna.
"Kok, udah selesai? Maksud Lydia itu olahraga yang di bawah, tempat GYM," ucapku yang tahu kalau pikiran mas suami itu pasti olahraga yang ngadon mochi.
"Oh... olahraga itu. Boleh lah, mau ngapain lagi juga. Enggak ada kerjaan juga." balas mas suami sembari menghampiri Iko dan terus menciumnya. Padahal jagoan belum mandi, tetapi di ciumin terus katanya keringatnya bau segar.
"Nanti Lydia nitip Iko yah. Iko cukup di tidurkan saja ko, kalau nangis baru panggil Lyda." Kini aku menyiapkan air untuk membersihkan tubuh bayi tampanku dan mengganti pempes serta pakaianya.
__ADS_1
"Ok, siapa takut. Cuma jaga jagoan mah gampang," balas mas suami. Kami pun sama-sama turun ke bawah setelah Iko ganti baju dan pempes serta sudah kenyang dan juga tidak lagi bernyayi merdu lagi.
"Pagi Iko, semalam tidak rewel Mbak?" tanya Mbok Jum ketika kita baru turun dan Iko serta mas suami pun langsung menuju lantai dasar di mana ruangan GYM ada di lantai dasar menyatu dengan taman, tempat bermain dan kolam renang. sehingga udara lebih segar dan sejuk.
"Tidak Mbok alhamdulillah. Mungkin Iko betah. ucapku sembari menyiapkan bahan masakan untuk sarapan papahnya Iko.
"Iya Mbak, anak bayi juga bisa merasakan nyaman dengan Mbak Lydia dan Tuan Aarav karena memang kalian baik," puji Mbok Jum yang langsung membuatku terbang.
Setelah satu jam memasak kini menu sarapan pun sudah terhidang dengan rapi dan aku pun langsung membersihkan diri dan akan mengambil Iko yang nampaknya masih anteng dengan papahnya.
"Loh Mas, kamu nggak olahraga?" tanyaku yang justru melihat Mas Aarav sedang santai bermain dengan bayi Iko. Kembali aku mengamati mas suami yang tidak ada kringatnya. Berbeda dengan biasanya yang kalau berolahraga karismanya menambah karena keringat yang membanjiri tubuhnya, tetapi kali ini rupanya keringatnya malu untuk keluar.
Aku melihat jam di dinding, yang sudah menunjukan pukul enam. "Kalau gitu, Iko biar Lydia yang jaga Mas olahraga sana. lumayan dapat setengah jam." Kini aku mengambil alih menjaga jagoan. Namun bukanya olahraga seperti biasanya. Laki-laki yang sudah lengkap memakai pakaian olahraga justru tidur di pangkuanku.
"Lagi malas Bun, ingin bermain sama jagoan aja," balasnya yang mana kini justru Iko kembali diletakan di atas dada mas suami.
Ehemmzz... bilang aja berat ninggalin bayi Iko. Mana nyalahin Iko katanya nggak bisa ditinggal. Masa anak sebaik ini nggak mau ditinggal papahnya olahraga."
Mas Aarav pun tertawa dengan renyah ketika bayi Iko justru menggigit pakaianya seolah dia gemas dengan papahnya yang sudah berbohong dengan membawa namanya. Padahal Iko tidak pernah rewel.
Pagi ini kami pun menghabiskan pagi untuk bercengkrama di taman dengan berjemur hangatnya sinar mata hari pagi.
__ADS_1
"Loh kalian ada di sini. Pantasan Mamih cari ke kamar kosong," ucap Mamih Misel yang berhasil mengagetkan kami. Yang sedang serius dengan obrolan ringan kami.
"Mamih, tumben pagi-pagi udah datang?" tanyaku sembari memberikan salam dengan ibu mertuaku.
"Yah, Mamih udah kangen dengan Iko," jawab Mami Misel dengan mengambil Iko dari pangkuanku.
"Sepagi ini Mih? Apa Papih nggak marah?" tanya Mas Aarav dengan terkekeh melihat kelakuan wanita yang sudah melahirkanya. "Apa jangan-jangan Mamih tidak bisa tidur lagi. Memikirkan Iko terus," ledek mas suami lagi.
"Yah, semalaman Mamih hampir bermimpi Iko terus. Entahlah Mamih seperti melihat kamu saat masih kecil. Papih juga ikut pagi ini ada pertemuan dengan Tuan Wijaya makanya Mamih bisa langsung kabur ke rumah kalian," balas mamih Misel yang terus mencium jagoan kami.
"Kenapa Mamih, dan Papih tidak tidur di sini saja. Kan makin ramai kalau tidur di sini," jawabku. Biar dikata kebalik juga dari pada pulang juga pikirannya di sini terus. Lebih baik tidur di rumah ini, lebih enak dan ramai kan.
"Iya inginnya gitu. Tapi Iko bobonya sama Mamih yah," kelakar Mamih Misel yang mana tahu kalau pasti mas suami dan aku tidak akan mengizinkannya. Maklum kami juga sedang senang-senangnya memiliki mainan baru.
"Enak aja, nggak boleh lah. Ini jatah Aarav dan Lydia merasakan jadi orang tua. Dan kalau Aarav kerja tidak apa-apa Iko diasuh oleh Mamih, biar Lydia tidak kecapean mengasuh Iko sendiri." Sesuai dugaan aku mas Aarav tidak akan mau kalau Iko di bawa tidur bareng dengan mamih mertua.
"Ya udah Mamih ngalah, tapi nanti kalau kalian sudah punya bayi sendiri Iko tinggal sama Mamih yah, biar Mamih dan Papih tidak kesepian rasanya tidak ada anak di rumah itu bosan banget tiap hari hanya bermain dengan tipi dan kalau tidak baca buku di perpustakaan. Kalau ada Iko kan semakin rame rumah, dan rumah Mamih juga makin ramai dan hangat," pinta mamih Misel yang aku sendiri tercubit hatinya. Yah, meskipun bukan aku yang merasakanya secara langsung, tetapi aku tahu pasti mamih misel sangat rindu dengan jeritan anak-anak bermain di rumah mewahnya.
"Doakan yah Min, agar kami cepat bisa kasih Cucuamih lagi, biar rumah Mamih semakin ramai, jadi Mamih dan Papih tidak kesepian hanya berdua di rumah yang super besar pasti sangat kesepian," ucapku, rasanya tidak sabar ingin memberikan kado untuk kedua mertuaku, yang mana anaknya yang dekat hanya aku dan mas suami.
"Amin..."
Bersambung....
__ADS_1
...****************...