
"Maksud kamu apa? Mimin siapa? Apa Mimin yang kamu maksud Jasmin?" cecar Mas Aarav dengan suara yang bergetar dan pandangan mata yang bingung sama seperti aku yang bingung kenapa Mas suami bisa bertanya soal Mimin?
Aku menatap Mas suami bingung, "Emang Lydia bilang apa?" tanyaku dengan suara yang berat dan lirih.
"Mimin, maksudnya Mimin siapa?" tanya balik Mas suami.
"Mas, bisa antar Lydia ke rumah sakit Menuju Sehat nggak? Nanti semuanya akan Lydia ceritakan di sana," ucapku, ini bukan waktu yang tepat untuk cerita, nanti tanpa aku cerita juga pasti Mas suami akan tahu dengan apa yang terjadi, tanpa aku jelaskan lagi. Namun apabila masih diinginkan penjelasan maka aku akan jelaskan semuanya.
"Ya udah ayo buruan. Mas mau titip Iko sama Bi Lilis," ucap Mas suami, tetapi aku buru-buru menahannya.
"Iko ikut Mas."
"Enggak bisa Sayang, Iko masih kecil rumah sakit mana yang boleh bawa bayi? Percuma dibawa juga Iko tidak akan bisa masuk," protes Mas Aarav.
"Iya Lydia tahu, tetapi nanti kita berusaha dulu. Soalnya yang sakit adalah ibu kandung Iko, kondisinya drop, dokter Sera bilang agar bawa Iko, takut malam ini terjadi hal buruk, setidaknya Iko bertemu dengan sang ibu untuk terakhir kalinya, apabila memang yang kita takutkan terjadi," jelasku yang langsung Mas suami tidak bisa berkata-kata lagi langsung menyanggupi apa yang aku katakan. Dan setelah kami berkemas tanpa menunggu lama langsung menuju rumah sakit di mana dokter Sera sebutkan.
Meskipun rumah sakit yang di maksud menurut Mas suami tidak terlalu jauh, tetapi karena pikiran yang cemas rasanya lama sekali sampainya.
Setelah beberapa kali aku bertanya, masih jauh nggak? Yah aku sangat tidak sabar ingin buru-buru sampai di rumah sakit dan melihat kondisi Mimin. Akhirnya kami sampai di depan rumah sakit yang cukup besar dan pastinya alat-alat yang digunakan pasti cukup lengkap, aku berharap bisa mengobati Mimin dengan fasilitas terbaik dan pelayanan terbaik, Mimin bisa melewati ini semua.
Sebelum masuk aku pun mengabarkan pada dokter Sera bahwa kami sudah ada di halaman rumah sakit. Tanpa menunggu lama dokter Sera ke luar dengan wajah sembab.
Aku pun meminta dokter Sera untuk masuk ke dalam mobil, agar kita bisa berbicara mengingat aku membawa anak bayi di mana kalau ketahuan security pasti tidak boleh ada bayi sehat dalam lingkungan rumah sakit karena tahu nanti terkena virus dan bisa tertular sakit.
"Iko boleh masuk Dok?" tanyaku sebelum benar-benar turun dari mobil. Dan dokter Sera juga udah masuk ke dalam mobil.
"Tadi saya sudah berbicara dengan petugas, katanya lebih baik jangan, dan sekarang kondisi Mimin juga sudah mulai membaik lagi tadi sempat drop bahkan sampai kami bingung untuk menanganinya, tetapi setelah mendapatkan penanganan selama tiga jam wajahnya sudah tidak sepucat tadi, meskipun belum sadar betul, tetapi dokter bilang Mimin hanya stres makanya tubuhnya drop," jelas dokter Sera sembari mengambil alih Iko yang sedang pulas tertidur.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau memang sekarang kondisinya sudah membaik lagi. Mungkin ini adalah cara Allah agar Mimin mau dibawa ke rumah sakit yang memadai. Mungkin kalau kondisi Mimin masih bisa dia tahan, mana mungkin dia mau untuk datang ke rumah sakit yang lebih baik. Pasti akan banyak alasan yang Mimin katakan, dan akhirnya sakitnya bukanya sembuh malah semakin menumpuk," balasku, jujur bukanya marah, tetapi aku seperti kehilangan ide untuk membujuk Mimin agar mau memeriksakan diri ke rumah sakit yang lebih baik, dan setidaknya tahu sakit apa yang dia derita dan juga untuk penangananya.
"Iya betul yang kamu katakan Lydia, kalau sudah seperti ini Mimin tidak bisa mengelak lagi, dan besok akan dilakukan pemeriksaan keseluruhan untuk mengetahui sakitnya dan akan dilakukan tindakan untuk dia." Nyatanya bukan aku saja yang merasa ada hikmah bagus dari kondisi Mimin yang tiba-tiba drop. Dokter Sera pun akhirnya merasakan hal yang sama.
"Apa Lydia boleh lihat Mimin?" tanyaku, mengingat dokter Sera sepertinya sangat lelah.
"Boleh masuk saja, ada di ruangan melati nomor sepuluh. Tadi ada Ambu di dalam sana, makanya saya bisa ke luar karena Ambu yang bagian jaga. Dan biarkan Iko untuk sementara sama saya, kebetulan saya juga sangat kangen dengan Iko," balas dokter Sera. Dan aku pun tanpa menunggu lama meminta Mas suami untuk ikut denganku. Dan Mas suami pun tanpa banyak bertanya langsung mengikuti aku masuk ke dalam rumah sakit.
"Sayang, boleh duduk dulu sebentar," ucap Mas suami yang langsung menghentikan langkahku. Aku menatap kursi yang mas suami tunjuk.
"Nanti yah Mas, setelah kita tahu kondisi Mimin," ucapku, aku bahkan sudah tahu tujuan Mas suami meminta aku untuk duduk. Yah, aku bakal ceritakan semuanya, tetapi setelah aku mengetahui kondisi temanku.
Dan Mas suami pun tanpa protes langsung kembali mengikuti langkahku, aku tahu dalam pemikiran Mas suami banyak sekali pertanyaan, tetapi aku juga kalau cerita tanpa tahu dulu kondisi Mimin rasanya kurang nyaman.
Setelah beberapa kali bertanya pada petugas, kami pun saat ini tengah berdiri di depan ruangan melati nomor sepulu. Ruangan kelas tiga yang mana dalam satu ruangan terdiri dari beberapa ranjang pasien.
"Mas mau ikut masuk atau mau tunggu di luar?" tanyaku dengan lembut, bohong kalau aku tidak deg-degan takut kalau Mas Aarav bakal marah karena selama ini aku tidak membicarakan siapa orang tua Iko sesungguhnya, tetapi aku juga tetap berusaha biasa saja, menekan ketakutanku dan tetap terlihat tenang.
kelopak mata ini langsung memanas ketika melihat kondisi Mimin, jujur kondisi Mimin saat ini sudah jauh lebih baik dari pada terakhir aku bertemu. Bahkan aku cukup bahagia di pertemuan kali ini Mimin sudah mengenakan hijab.
"Ambu... saya Lydia teman Mimin," ucap ku dengan ramah pada wanita yang mungkin usianya sudah kepala lima, mengingat dari wajahnya juga sudah banyak keriputan. Aku pun mencium tangan Ambu dengan taksim sebagai salam pertemuan. Sedangkan Mas suami di belakang aku terus menatap Mimin yang masih pulas tertidur.
"Salam kenal juga Nak, kalau gitu Ambu ke luar yah, mau cari bukaan dari tadi baru minum air putih," ucap wanita paruh baya yang berhijab panjang. Aku pun sampai lupa tidak membawakan makanan untuk mereka, bahkan sepertinya dokter Sera juga belum buka puasa dengan makanan besar.
"Terim kasih Ambu, tapi Mimin belum sadar yah?" tanyaku mengingat kita datang wanita yang tengah terbaring dengan lemah masih memejamkan matanya dengan rapat.
"Tunggu saja Nak, tadi dokter bilang Mimin hanya istirahat karena pengaruh obat, semoga tidak akan lama bangun."
__ADS_1
Setelah pamit dan juga memberitahukan kalau Mimin bangun dan mungkin butuh sesuatu ada di nakas. Aku pun mengangguk dan bergantian jaga.
"Duduk Mas," ucapku pada Mas suami yang berdiri di belakangku, kelas tiga memang sempit untuk dua orang yang menunggu saja sudah sempit dan tidak bebas untuk bergerak.
Mas Aarav pun dengan pandangan terus tertuju pada Mimin duduk seolah laki-laki yang sudah menyandang sebagai setatus suamiku tidak sabar menunggu penjelasanku.
"Sekarang tanpa Lydia jelaskan Mas sudah tahu kan siapa sebenarnya ibu kandung Iko?" ucapku dengan tangan mengusap punggung tangan Mimin dan posisiku tengah berdiri di samping Mimin sementara mas suami duduk di samping ku.
"Kenapa kamu tidak bilang?" tanya balik Mas suami dengan suara lirih dan berat.
Aku menghirup nafas dalam, dan menghubungkannya dengan pelan.
"Mimin yang minta, dan atas permintaan Lydia juga, Mas Aarav pasti akan kaget kalau Lydia cerita semuanya."
"Ceritakan, aku akan sangat kaget lagi kalau kamu tidak menceritakan," balas Mas suami dengan nada dinginnya.
"Semua akan Lydia ceritakan, tetapi tidak di sini, ada waktu dan tempat yaang lebih baik, tapi bukan di sini."
Bersambung....
...****************...
Anak kecil bergembira bermain ketapel
Ada juga yang bermain Kincir-kincir
Nih othor rekomendasiin Nopel
__ADS_1
Yuk lah readers mampir!