
Di kantor, Mimin menatap jam yang berada di meja kerjanya. "Alhamdulillah akhirnya pulang juga," gumam wanita bercadar itu. Di mana ia tiba-tiba sangat kangen dengan sang putra. Dan kali ini dia akan main ke rumah sahabatnya untuk melepas kangen dengan buah hatinya.
Selama ini memang Lydia dan Aarav adalah orang tua yang sudah sah di mata hukum untuk sang putranya, tetapi kapan pun Mimin rindu dia bisa menemuinya sesuka hatinya. Bahkan tidak jarang Mimin mengajak jalan Iko, dan sesekali menginap untuk melepaskan rindunya.
Wanita bercadar itu bergegas merapihkan meja kerjanya, dan mematikan komputernya, lalu bersiap untuk pulang. Seperti yang sudah-sudah setiap mau bertemu dengan sang jagoan. Mimin pasti akan mampir ke sebuah toko mainan dan akan membelikan mainan untuk memberikan kado untuk Iko. Sedangkan dari ruangan lain, Hadi pun terus memperhatikan gerak gerik wanita bercadar itu.
Hadi tahu apabila Mimin, sangat antusias untuk bersiap akan pulang itu tandanya wanita itu akan menemui buah hatinya. Tidak usah menunggu lama Hadi pun menyusul apa yang Mimin lakukan, ia secepat kilat menyelesaikan pekerjaanya dan akan menemui Mimin agar pulang bareng. Alasanya ia akan menemui Aarav untuk alasan pekerjaan. Apalagi hari ini Aarav tidak masuk kantor yang artinya itu alasan yang sangat masuk akal.
Tidak menunggu lama, Hadi pun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Laki-laki itu langsung beranjak dari kursi kebesarannya, dan menyambar jas yang tergantung di sandaran kursi. Kaki jenjangnya diayunkan dengan tegas dan segera mengambil mobil lalu ia akan menemui Mimin di tempat biasa yaitu halte depan kantor.
Di luar gedung yang jadi tempat untuk mengais rezeki oleh Mimin. Laki-laki tampan sedang duduk di balik kemudi dengan cemas. Bahkan laki-laki itu sudah memarkirkan kendaraan roda empatnya mungkin lebih dari dua jam. Yah, dia adalah David, yang sejak dua jam yang lalu menunggu Mimin, dia akan mulai memberikan perhitungan untuk Mimin, wanita yang sangat dia percayai, nyatanya justru membohonginya bukan hanya berbohong saja wanita itu kuat bahkan mengatakan anaknya sudah mati, tetapi kenyataanya anaknya dia jual, yang uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Itu yang sang Papah katakan, dan tentunya David percaya saja dengan apa yang diucapkan oleh sang papah.
Senyum terkembang sempurna dari wajah tanpan laki-laki yang sudah dua jam duduk dengan gelisah di dalam mobil, ketika laki-laki itu melihat sosok wanita yang terbungkus pakaian dengan tertutup, bahkan yang terlihat hanya kedua matanya, dan telapak tangan. Laki-laki itu pun segera membuka pintu mobilnya dan ia berdiri dengan menyandarkan tubuhnya ke body mobil mahalnya, serta kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. Pandanganya tertuju dengan tajam ke arah mantan istri yang sedang berjalan ke arahnya berdiri.
Sedangkan Mimin yang tidak tahu kalau David menunggunya pun tetap berjalan dengan sesekali mengulas senyum manis dari balik cadarnya untuk menyapa teman kerja yang kebetulan berpapasan.
"Kita harus bicara, Min."
Deg!!
Suara yang sangat Mimin kenal pun berhasil menghentikan langkah Mimin yang tergesa. Wanita bercadar itu memejamkan kedua bola matanya dan menghirup nafas dalam, dan membuangnya perlahan untuk mengurai keterkejutan, dan juga kekesalannya. Karena kini David sudah tahu di mana tempatnya bekerja, dan itu tandanya Mimin harus siap kalau hari-harinya akan terus terusik oleh mantan suaminya.
"Tidak ada yang perlu dibiacarakan lagi. Karena urusan kita sudah selesai sejak dua tahun yang lalu," ucap Mimin dengan dingin, dan nada bicara yang masih enak didengar.
__ADS_1
"Ini tentang anak kita," balas David, yang sama laki-laki itu juga masih bisa mengolah emosinya.
"Harus berapa kali aku bilang kalau anak kamu sudah..." ucapan Mimin langsung terpotong ketika dia mendengar tawa renyah dan mengejek dari bibir sang mantan suami.
"Kamu bilang anak aku sudah mati. Yang benar bukan mati, tapi kamu jual untuk mendapatkan banyak uang yang kamu gunakan untuk berfoya-foya. Ibu macam apa kamu yang tega menjual anaknya pada orang lain, dan kamu tetap berkeliaran mencari mangsa baru," cecar David yang langsung membuat hati Mimin panas.
"Jaga mulut kamu, kalau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara. Hubungan kita sudah berakhir jadi apapun yang terjadi dengan aku bukan lagi urusan kamu, apalagi mulut kamu berbicara yang asal." Mimin pun langsung mengangkat wajahnya, dan menatap David dengan tatapan yang sengit dan penuh kebencian. Rasanya saat ini juga dia ingin memberikan perhitungan pada laki-laki yang pernah ia cintai.
"Ok, hubungan kita berakhir, dan urusan kamu tidak ada hubungannya dengan aku, tapi tidak dengan anakku. Sampai kapan pun akan jadi anakku dan akan aku ambil kembali." David mulai menggunakan pancingan, untuk menggertak Mimin.
Sedangkan Mimin yang sebenarnya sudah dikuasai oleh api kekesalan pun hanya bisa menahan kemarahanya dan tetap berusaha tenang agar tidak terpancing oleh David. Ia tahu kalau mantan suaminya saat ini hanya ingin mengetes kesabaranya saja.
"Anak mana yang kamu akan ambil? Sampai mati pun kamu tidak akan bisa mengambil anak yang kamu maksud. Bukanya kamu pernah menuduh aku selingkuh dan juga anak yang aku kandung dulu kamu katakan anak Bang Jono, dan saat itu aku marah, kecewa dan sangat kesal dengan apa yang kamu katakan, tapi saat ini anggap saja yang kamu tuduhkan itu benar. Aku selingkuh dan anak yang aku kandung dulu adalah anak Bang Jono. Puas kan kamu, sekarang kamu lebih baik pulang, dan layani istri kamu biar cepat hamil. Jangan dianggurin terus bagaimana istri kamu mau hamil kalau kamu saja tidak pernah melayaninya, kasihan istri kamu, suaminya tidak bisa move on dari mantan istrinya," balas Mimin kali ini dengan nada yang sinis.
Deg!!!
Kali ini Mimin seolah jantungnya kembali berhenti berdetak. Setelah mendengar apa yang David katakan. Wajahnya pun langsung memanas di balik cadarnya.
"Kenapa, kaget gitu. Bukanya benar kan apa yang aku katakan, kamu menjual anakku pada Aarav. Berapa uang yang kamu dapatkan dari menjual anakku?" cecar David kali ini laki-laki itu justru tersenyum dengan sinis, ketika berhasil membuat Mimin tidak bisa berkutik.
"Jaga mulut kamu David, aku tidak pernah menjual anakku. Apa yang aku lakukan adalah demi kebaikan anakku. Karena aku tahu ada orang licik yang ingin mengambil anakku," balas Mimin, tidak mau kalah.
"Ok, aku sekarang tidak akan mengganggu anak itu, tapi dengan satu syarat," ucap David dengan suara yang dikecilkan.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" tanya Mimin dengan suara yang setengah bergetar karena menahan emosinya.
"Kamu ikut aku, ada yang ingin aku katakan, khusus dengan kamu berdua saja."
"Kalau aku tidak mau?" tanya Mimin dengan nada yang ketus.
"Aku akan mengambil Iko secara paksa, karena dia adalah darah dagingku."
Deg!!!
Entah mimpi apa wanita itu malam tadi hingga hari ini dia sangat sial. Kembali dibayangi oleh masa lalunya yang sangat menyebalkan.
"Baiklah aku ikut kamu, tapi ingat kamu jangan lakukan apapun padaku, karena kalau kamu melakukanya, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan anakku," ancam Mimin, setelah ia mempertimbangkan ajakan David dengan matang, akhirnya Mimin mau mengikuti apa kata David.
" Ok, itu semua bisa diatur."
Sedangkan dari tempat yang tidak terlalu jauh, dari lokasi Mimin berdebat, sepasang mata sejak tadi mengawasi perdebatan antar Mimin dan mantan suaminya.
" Sial, laki-laki itu terus saja cara perkara!"
Bersambung....
...****************...
__ADS_1