
Di ruangannya Mimin sedang bekerja dengan serius. Jari-jari lentik yang sedang menari di atas keyboard berhenti ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Tanpa menunggu lama Mimin meraih ponsel dan melihat siapa yang mengirimkan pesan.
[Min, nanti pulang kerja mampir ke rumah yah, ajak juga Hadi!] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Lydia untuk sahabatnya. Mimin yang baru baca pun langsung mengerutkan keningnya.
"Ada apa Lydia minta aku datang ke rumahnya? Mana dengan Mas Hadi segala, padahal bukanya dia lagi mudik?" gumam Mimin, dalam otaknya penuh dengan pertanyaan.
"Apa dia sudah pulang? Tapi bukanya kata Mas Hadi Aarav dan Lydia mudik itu satu bulan, ini perasaan baru satu minggu, masa sudah pulang sih." Mimin malah jadi kepikiran takut terjadi sesuatu dengan Lydia, Iko atau malah Aarav.
[Ngomong-ngomong ini ada apa Lyd? Apa kamu sudah pulang?] tanya Mimin yang justru jadi tidak fokus dengan pekerjaannya kalau belum tahu apa yang kiranya terjadi dengan Lydia.
[Pokoknya kamu datang aja ke rumah, tidak ada hal yang perlu dicemaskan kok. Semuanya aman tidak perlu berpikir macam-macam.]
Setelah mendapat balasan dari Lydia, Mimin pun jadi lebih tenang dan dia bisa bekerja dengan serius lagi. Tidak lupa pasti wanita bercadar itu pun mengabarkan pada calon suaminya dengan apa yang Lydia katakan. Tepat pukul lima Hadi pun ke ruangan Mimin untuk mengajak pulang, ia juga tidak sabar dengan apa yang membuat Lydia meminta kalau Hadi dan Mimin datang ke rumahnya.
"Apa kerjaan masih banyak?" tanya Hadi ketika masuk ke ruangan Mimin. Namun, Mimin masih nampak serius dengan layar laptopnya.
"Tidak, memang dari tadi juga nungguin Mas ko, kita pulang sekarang kan?" Mimin pun mematikan laptop dan mengambil tas selempangnya. Mereka pun bergegas langsung meninggalkan ruangan Mimin.
"Udah tidak sabar, pengin ketemu Iko. Ini sih kayaknya Aarav ngerjain deh. Ini pasti mereka sudah pulang, dan Aarav bilang satu bulan itu bohong." Hampir sepanjang perjalanan Hadi pun terus ngegerundel, laki-laki itu sudah sangat yakin kalau Aarav mengerjai dirinya.
"Ya udah sih Mas bukanya bagus malah kalau Aarav pulang lebih awal," balas Mimin, mencoba menenangkan Hadi. Sebenarnya Mimin sih sudah tidak aneh lagi Hadi dan Aarav memang akan selalu bertengkar terus, tetapi orang yang seperti Hadi dan Aarav justru yang membuat jarang bertengkar sungguhan mereka akan sering beradu mulut tetapi mereka juga akan sangat mudah berbaikan.
"Iya sih, apalagi aku juga akhir-akhir ini badan kayak lemes banget, mungkin karena sering lembur dan hari sabtu dan minggu juga tetap dihajar untuk lembur jadi kayaknya nanti kalau Aarav masuk aku akan ambil cuti untuk istirahat." Hadi berbicara dengan suara yang lebih kecil. Mendengar curhatan Hadi, Mimin pun langsung menolehkan pandangan matanya pada calon suaminya.
__ADS_1
Memang Mimin juga merasa kalau Hadi sekarang itu wajahnya seperti pucat dan sangat terlihat kalau dia kurang istirahat.
"Kenapa lihatnya kaya gitu banget sih. Kamu tenang saja, aku hanya kecapean kalau nanti ambil cuti dan istirahat juga akan kembali segar lagi. Mungkin ini ekek dari tidur kurang, makan tidak teratur, dan juga pekerjaan yang banyak sehingga memeras otak. Jangan terlalu dipikirkan lah." Hadi yang tidak nyaman ditatap dengan penuh curiga oleh Mimin pun jadi salah tingkah dan juga tidak nyaman.
"Kalau gitu nanti coba priksa ke dokter mungkin saja setelah mendapatkan vitamin akan lebih enak badanya, jangan terlalu dianggap sepele istiraht juga selesai. Bukanya aku juga dulu kaya gitu dipikir hanya kecapean dengan pikiran yang terus berpikir keras, tetapi justru sakit yang cukup serius dan butuh waktu yang cukup lama untuk penyembuhanya. Makanya Mas nanti langsung periksa untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja."
Mimin tidak mau kecolongan kalau sampai Hadi sakit. Apalagi calon suaminya itu di bukota hanya sendirian, keluarganya ada di. luar pulau semua, sehingga membuat Mimin harus super waspada jangan sampai malah gara-gara terlalu rajin bekerja jadi sakit.
Melihat Mimin yang sekarang lebih perhatin membuat hati Hadi semakin senang, ia sangat senang karena sekarang mah sudah ada yang menasihati dan mencemaskanya.
"Iya-iya nanti akan ke dokter setelah pulang dari rumah Aarav."
"Apa mau ke dokter Sera saja?" tanya Mimin lagian dokter Sera juga kan dokter bahkan sejak tinggal dengan dokter Sera Mimin jarang banget sakit karena makanan dan vitamin selalu disiapkan dengan sangat baik.
"Ya udah tapi benaran loh yah, serius priksa ke dokter jangan sampai malah nanti sudah sakit baru pergi ke dokter." Mimin kembali memastikan kalau Hadi tidak sedang berusaha ngeles agar tidak datang ke rumah sakit untuk periksa.
"Iya-iya. Masa sih aku bohongan kan yang merasakan juga aku, kalau badan lemas juga tidak enak," balas Hadi dengan tetap fokus pada jalanan yang pasti di jam pulang kerja kaya gini volume kendaraan makin padat.
Setelah Hadi mau periksa ke dokter di dalam mobil pun kembali hening, biasa Mimin juga sedang bertukar kabar dengan sahabatnya. Tidak harus menunggu lama, kini Mimin dan Hadi pun sudah sampai di rumah Aarav. Sesuai dengan tebakan Mimin dan juga Hadi, begitu sampai di rumah Aarav memang sudah ramai biasa ada Mami Misel dan Papi Sony pun nampaknya tidak ketinggalan sudah lebih dulu sampai di rumah Aarav.
Tanpa bersalah Aarav pun tersenyum dengan manis. Menyambut kedatangan Hadi dan Mimin.
"Gak usah marah-marah dulu, niat gue emang mau satu bulan, tapi berhubung gue orangnya baik dan juga pengertian jadi gue pun usahakan pulang lebih awal." Aarav yang melihat tatapan Hadi sudah hampir marah pun langsung memberikan penjelasan tanpa Hadi yang bertanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Gue nggak marah kok, malah gue bersyukur. Lagian gue datang ke sini karena udah kangen sama Iko. Mana Iko? Sekarang dia sedang suka apa? Apa masih suka ikan?" tanya Hadi mungkin sekarang ganti Iko bukan suka Ikan lagi tetapi justru suka dinosaurus kan bisa saja, seperti nama salah satu anak artis yang terkenal gumus yang ternak dinosaurus bahkan dibikin ternak sepertinya. Kalau tidak salah nama panggilannya adalah Capung, eh salah nama panggilannya Cipung.
"Sudah ganti sekarang lebih suka ke be'lut. Tuh bawa be'lut satu ember gue hampir tiap hari ke sawah buat cari be'lut Di, dan sekarang gue bawa banyak, mungkin loe mau bawa buat makan, kan banyak gizinya siapa tau loe kurang gizi," ledek Aarav dengan menujuk be'lut yang sangat banyak itu.
"Ih tidak lah, ini mah sangat menakutkan geli lihatnya juga," balas Hadi yang malah tubuhnya meremang ketika melihat banyak binatang yang berkulit licin itu.
"Yeh dia malah takut."
"Mas Hadi sini, banyak oleh-oleh mau pilih yang mana." Lydia meminta Hadi mengambil oleh-oleh hasil buruanya kemarin bersama suaminya.
"Nanti aja aku kangen sama Iko ajah." Hadi langsung memeluk Iko setelah Mimin puas berpelukan dengan anaknya.
"Iko kangen nggak sama Om?" tanya Hadi. Sembari meng angka-angkat tubuh calon anaknya.
"Kangen, tapi lebih kangen sama Mamah." Iko menunju Mimin. Ya iya atuh Iko Mimin mah yang ngelahirin kamu masa kangennya dikit.
Haduh nih anak gumus satusatu pengin othor bawa pulang deh.
...****************...
Sembari nunggu kisah kelanjutan kebersamaan dua sahabat Mimin dan Mbak Lydia. Yuk mampir ke novel bestiee othor, di jamin bikin baper.
__ADS_1