Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Nasihat Suami


__ADS_3

Jalan-jalan keluarga sudah berlalu. Malam harinya Iko masih tidur dengan kakek dan neneknya. Maklum besok Arum dan juga sang suami sudah pulang ke kampung halamannya. Sehingga malam ini pun mereka ingin menghabiskan malam bersama dengan cucu tercintanya. Untuk stok kangen selama mereka pisah nantinya.


Pagi hari menyapa Arum dan Ahmad pun bersiap karena mereka mengambil penerbangan jam sembilan pagi. Tidak hanya Arum yang sibuk bersiap. Mimin, dan sang suami pun bersiap karena mereka akan mengantar kedua orang tuanya ke Bandara. Tidak ketinggalan tentu si kecil, Iko yang pastinya akan ikut mengantarkan nenek dan kakeknya.


Pukul delapan mereka sudah sampai di bandara. setelah check- in mereka pun menunggu informasi keberangkatan. Hadi dan keluarga memilih menunggu di anjungan pengantar sembari melihat pesawat dari lantai dua bangunan bandara terbesar di kota Jakarta.


Iko yang baru pertama kali melihat pesawat pun antusias. Tepat pukul delapan lewat tiga puluh menit informasi keberangkatan sudah terdengar. Arum dan Ahmad pun langsung bersiap untuk kembali ke tanah kelahiran.


"Sayang, Mamah dan Papah pulang dulu yah. Kalian di sini sehat-sehat. Nanti kalau semuanya sudah membaik kalian main ke Kalimantan yah, sekalian ajak Iko biar merasakan naik pesawat." Arum pertama kali berpamitan dengan menantunya.


"Iya Mah, Mamah dan Papah hati-hati dan semoga selamat sampai tujuan. Kalau sudah sampai rumah segera kabari kami. Dan soal ke Kalimantan secepatnya kita akan main ke sana," balas Mimin, dengan hati yang haru karena ia akan berpisah anak lagi dengan mertuanya.


"Hadi, Mamah titip menantu dan cucu Mamah yah. Kalau kamu mau mengadakan resepsi pernikahan kamu bilang saja sama Mamah, pasti Mamah dan Papah akan bantu. Tapi Mamah pengin kalian adakan resepsinya di Kalimantan saja. Kan keluarga kita ada di sana semua dan juga rekan bisnis Mamah dan Papah banyakan di sana. Teman-teman kamu juga banyakan di sana. Jadi lebih baik kamu adakan resepsinya di Kalimantan yah." Arum sempat-sempatnya memikirkan resepsi anaknya yang belum terlaksana.


"Iya Mah, itu urusan gampang. Nanti mungkin kalau Lydia sudah lahiran dan  Aarav sudah bisa handel pekerjaan sendiri baru pikirkan masalah resepsi. Sekarang benar-benar sedang sibuk dengan pekerjaan, dan lagi Lydia juga akan lahiran otomatis Aarav pasti akan izin untuk tidak masuk kerja. Kalau semuanya izin kasihan Om Sony." Yah, sebagai teman yang baik tentu Hadi tidak bisa egois karena dia juga selama ini banyak dibantu oleh Aarav dan Lydia. Mereka sudah saling menganggap satu sama lain menjadi keluarga.


"Ya udah kamu atur saja. Yang penting kalau sudah ada waktunya kamu pulang ke Kalimantan untuk mengabarkan kabar bahagia pernikahan kalian ini."

__ADS_1


Setelah pamit dengan menantu dan anaknya. Dan Iko nampak bingung karena Arum lagi-lagi menangis sedih karena akan berpisah dengan anak dan menantunya. Namun yang paling sedih sudah jelas meninggalkan Iko. Apalagi selama satu minggu lebih Arum tinggal di Jakarta sudah sangat dekat dengan cucu tirinya. Andai diizinkan Iko dibawa pulang ke Kalimantan Arum pasti akan senang, dan tidak akan sedih.


Kini wanita paruh baya itu pun merangkung (Jongkok) mensejajarkan diri dengan sang cucu. Tangannya mengusap wajah Iko dengan lembut. "Sayang, Nenek pulang dulu yah. Nanti kalau Papah sudah tidak banyak kerjaan dan adik bayi sudah lahir Iko main yah ke rumah Nenek dan Kakek."


"Iya Nek, Nenek kenapa nangis?" tanya Iko dengan polos ketika lagi-lagi Arum terisak sedih, ketika berpamitan dengan cucunya.


"Nenek tidak nangis, hanya kelilipan." Arum mengusap air matanya yang bandel ingin keluar terus. Padahal ini bukanlah perpisahan selamanya. Ini hanya mereka akan melakukan perjalanan untuk berpisah tempat, mereka masih bisa berkomunikasi melalui ponsel mereka.


Iko mengembangkan senyum dan memeluk neneknya yang kata kakek Ahmad saat dulu beliau adalah primadona kampus sehingga untuk mendapatkan hati sang nenek. Kakeknya butuh perjuangan dan pesaing yang berat-berat.


Setelah berpamitan Arum dan Ahmad pun langsung menuju terminal keberangkatan dan Iko bersama kedua orang tuanya melihat dari tempat mereka berdiri hingga pesawat yang ditumpangi Arum dan Ahmad lepas landas.


Kini mereka pun meninggalkan bandara untuk kembali pulang ke rumah.


"Sayang ini mau diantar ke mana?" tanya Hadi pada istrinya yang sejak keluar dari bandara jadi pendiam. Mungkin masih terbawa dengan sedih karena sekarang berpisah jarak dengan mertua yang ia anggap seperti orang tua.


Mimin menatap Hadi. "Apa Mimin sekarang nggak kerja lagi?" tanya balik Mimin, dengan Iko yang duduk di antara mereka.

__ADS_1


"Kalau kata aku kamu fokus dengan Iko ajah. Kasihan kalau kamu balikan ke Lydia. Sekarang dia sedang mempersiapkan kelahirannya. Jadi kamu jaga Iko sampai mungki Lydia sanggup menjaga Iko lagi. Meskipun ada Mami Misel yang membantu. Tapi anak Lydia nanti kembar kasihan kalau Iko malah merasa kurang kasih sayang." Hadi sebagai kepala rumah tangga tentu tidak ingin kalau istrinya bekerja lagi dan justru mempercayakan anak mereka pada Lydia yang sedang mempersiapkan kelahiranya.


"Tapi apa nanti Lydia tidak merasa sedih dan kecewa karena aku justru ambil Iko lagi?" tanya Mimin, tentu tidak ingin ada selisih paham dengan sahabatnya itu.


"Kamu bisa bicarakan baik-baik antara kamu dan Lydia. Dan jelaskan kalau kamu ambil Iko untuk sementara kapan pun Lydia mau bertemu dengan Iko kamu bisa antarkan. Jadi Lydia tidak merasa kalau kamu menguasai Iko. Keputusan Iko diadopsi oleh Lydia dan Aarav adalah keputusan kamu. Jadi jangan sampai nanti kita menguasai Iko karena menganggap kamu sudah tidak ada masalah lagi dengan ayahnya Iko. Iko sampai kapanpun akan tetap jadi anaknya Lydia dan Aarav serta ibunya Iko sampai kapanpun tetap kamu. Kalian tetap memiliki Iko dengan porsi yang sama." Hadi yang datang sebagai suami baru Mimin, serta ayah tiri bagi Iko. Yang artinya tanggung jawab Mimin, dan Iko ada di tanganya. Serta ada persahabatan yang harus dijaga tidak ingin hanya masalah sepele membuat hubungan yang sudah terjalin lama jadi berantakan, dan ada perang dingin.


Mendengar nasihat Hadi, Mimin pun langsung mengembangkan senyumnya. Sifat ini yang mampu membuat Mimin makin cinta dan sayang dengan suaminya. Hadi sudah membuktikan kalau dia tidak hanya sayang pada Mimin, tetapi sayang dengan semuanya baik Iko maupun pertemanannya.


"Kalau gitu antar kita ke rumah Lydia ajah. Nanti kalau Mas sudah pulang jemput lagi. Mimin ingin seharian ini main di sana. Biar Iko juga nggak terlalu kangen dengan bundanya serta oma dan opanya."


"Ok deh." Sebelum berangkat ke kantor Hadi pun mengantarkan anak dan istrinya ke rumah Lydia. Bahagia terlihat di wajah Iko ketika Mimin dan Hadi bilang kalau dia akan main ke rumah bundanya.


"Yeh, Iko mau ketemu dengan ikan-ikan Iko," ucap Iko sembari berjingkrak bahagia ketika Mimin bilang kalau mereka akan pulang ke rumah Lydia.


Hadi dan Mimin pun tertawa dengan renyah, dengan yang Iko katakan. Namanya anak-anak memang gitu. Kalau orang dewasa akan kangen dengan bunda dan papahnya atau bahkan kangen dengan opa dan omanya. Iko justru kangen dengan ikan-ikannya yang sudah lama dia tinggal.


#Tetep yah Ko, ikan nomor satu. Gimana kalau ikannya dimakan kucing yah....

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2