Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Harapan Untuk Sahabat


__ADS_3

"Udah kenyang?" tanyaku dengan semangat, rasanya enak banget nyuapin mas suami sampai aku yang sebelum pulang ke rumah sudah kenyang rasanya ikut lapar lagi, dan kami pun akhirnya makan satu piring berdua. Bahkan kami sampai nambah makan bersama. Itu sebabnya aku tanya sudah kenyang belum, takutnya mas suami belum kenyang juga.


"Udah Bun, jangan kenyang-kenyang jagoan benar-benar ngajak ronda kayaknya. Padahal sudah hampir dua jam belum bobo juga."


"Biarin Mas kalau bergadang sekarang, itu nanti waktunya kita tidur Iko juga ikut bobo," balasku yang mana aku harus melatih kebiasaan baru perlahan jam tidur jagoanku agar tidak acak-acakan. Karena aku yakin bayi itu ngikuti ajaran dari kita.


"Bun, tolong ambilkan ponsel. Mas mau cari ranjang bayi dan juga mainan untuk Iko. Kasihan banget anak aku masa mainanya hanya jari-jari tidak ada mainan lain. Mobil-mobilan atau pesawat gitu biar nggak bosen masa mainanya tangan terus. Kalau nggak tangan kaki diangkat-angkat," ucap Mas suami yang menujuk ponselnya di atas nakas.


"Namanya bayi memang gitu Mas mainanya tangan, kalu nggak kaki. Kalau main mobil-mobilan itu kalau sudah bisa duduk atau merangkak, biar dia makin senang untuk gerak tubuhnya. Kalau untuk usia Iko kamu belikan Banana Teether ajah, sekalian untuk merang'sang gigi-gigi agar tumbuh juga.


"Belikan em'peng kali yah biar dia ada yang di ku-lum agar tidak bosan tangan terus yang digigitin," tanya mas suami. Maklum kami belum pernah punya anak jadi belum tahu kebutuhan apa saja yang dibutuhkan anak usia 0 sampai 6 bulan.


"Boleh  Mas, tapi pilih yang ukuran 0 sampai 6 bulan jangan salah beli ukuran agar ukuran pas dan tidak mempengaruhi struktur bibirnya. Karena kalau salah beli ukuran kata orang bibirnya bisa doer." Kami pun sembari menemani bayi Iko bergadang memilih- milih perlengkapan untuk bayi kami dari mulai bok dan segala jenis mainan untuk Iko. Maklum kamu dapat reseki kayak uang kaget tiba-tiba, jadi tidak ada persiapan apa-apa sampai sampai semua yang digunakan oleh Iko serba darurat. Pakain Iko saja hanya ada beberapa saja. Itu pun ada pakaian ponakan mas suami yang sengaja di antarkan oleh Mamih menggunakan ojek ke rumah kami, itu semua saking tidak ada persiapan. Jadi jangan aneh ketika Iko cowok, ada pakai baju atau kaos warna pink.


Tapi sekarang tidak dong itu semua karen mas suami malam ini membelikan banyak pakaian dan perlengkapan untuk Iko. Tanpa terasa Iko pun kembali tidur di jam sebelas malam.

__ADS_1


"Mas istirahat, Iko udah bobo nih, nanti malah Mas sakit kan Mas besok harus kerja. Lydia bobonya nanti dulu mau cuci dot dan menyiapkan susu untuk Iko, takut nanti bangun jadi tinggal seduh saja." Aku meminta mas suami istirahat sekaligus jaga Iko. Karena aku akan turun ke bawah untuk membersihkan botol-botol susu milik jagoan.


Di sela-sela membersihkan botol Iko. Aku pun membuka ponselku mungkin saja ada pesan dari dokter Sera. Benar saja dokter Sera menanyakan Iko, dan keluargaku menerima Iko dengan baik atau tidak. Aku pun sangat senang karena ternyata banyak sekali yang sayang dengan jagoan baruku.


Aku membalas pesan dokter Sera, dan mengabarkan keadaan Iko, serta keluarga yang dengan sangat baik menerima kedatangan Iko. Bahkan aku mengirimkan kedekatan Iko dengan mas Aarav tentu setelah aku memblur bagian wajah mas suami. Mengingat takutnya dokter Sera menyampaikan foto Iko pada Mimin nanti Mimin bisa tahu kalau suamiku adalah mantan kekasihnya di jaman sekolah menengah atas.


Betapa kagetnya aku ternyata dokter Sera belum tidur, bahkan beliau melakukan panggilan sambungan telepon. Setelah memastikan kalau mas suami sudah tidur aku pun mengangkat sambungan telepon dokter Sera.


[Malam Dok, maaf baru balas pesan Dokter, abis dari tadi heboh dengan Iko, tapi sekarang jagoan sudah tidur makanya baru bisa angkat telepon," ucapku begitu sambungan telepon sudah diangkat.


[Tidak apa-apa, dengar kabar kalau keluarga kamu menerima Tiko dengan sangat baik saja aku sudah sangat bahagia.] Kami pun banyak cerita terutama mengenai Iko dan kebiasaan, aku juga bertanya alergi, vaksin dan segala macam, untuk pegangan aku merawat Iko dengan yang terbaik sesuai yang aku mampu.


[Mimin, masih sama kondisinya Lyd, bahkan sejujurnya saya bingung harus merayu Mimin untuk semangat berobat seperti apa lagi. Dia tidak mau berobat. Selalu saja bilang, percuma karena paling juga ujungnya ia akan meninggal,] jawab dokter Sera dari nada bicaranya wanita tengah baya itu juga sangat putus asa dengan semangat Mimin yang benar-benar seolah ingin segera meninggal tidak ada semangat untuk hidup lagi.


Aku memegang dadaku yang sesak sekali mendengar ucapan dokter Sera. [Dok, bisakah Dokter Sera bawa Mimin berobat ke rumah sakit yang lebih baik, atau mungkin ke luar negri saya akan bantu biaya rumah sakit Mimin, yang penting dia bisa sembuh. Lagian, bagaimana Mimin tahu kalau dia mengidap kangker kulit Melanoma, sedangkan bukanya Mimin tidak pernah melakukan check up dengan pasti. Setahu saya yang tadi juga sepat baca-baca artikel dari internet untuk mendiagnosa kangker kulit dan membedakan jenis yang menyerang butuh beberapa tahapan, yang tidak asal,  bahkan untuk pengobatanya dari yang sudah pernah terdiagnosa mereka tahu kangker dengan jenis yang fatal itu setelah check up ke luar negri di mana fasilitas pengecekan di sana jelas dan pasti. Saya takut ada salah diagnosa, makanya lebih baik check pasti dulu dan setelah itu lakukan pengobatan. Saya akan berbicara dengan suami Lydia untuk memberikan bantuan pengobatan untuk ibunya Iko,] ucapku dengan nada yang setengah memohon.

__ADS_1


Lagi pula bukanya manusia tidak boleh berpikiran atau berkeinginan mendahului takdir Tuhan hukumnya dosa. Kalau Mimin pasrah dan seolah menyiksa tubuhnya dengan tidak mau berobat dan berharap kematian menjemputnya. Lalu apa bedanya dengan orang yang bunuh diri. Sedangkan orang yang bunuh diri apabila Tuhan belum mengizinkan kematianya datang maka akan banyak cara untuk tetap hidup dan usahanya gagal dan berakhir sia-sia.


Cukup lama aku tidak mendengar jawaban dari dokter Sera yang mana dari suaranya aku dengar kalau beliau sedang terisak sedih.


[Itu lah Lyd, Mimin tidak mau jauh dari saya. Kata Mimin saya seperti almarhum ibunya itu sebabnya dia ingin terus bersama dengan saya, dia tersiksa batinya jadi putus asa yang dia rasakan. Jujur kalau untuk biaya Mimin sebenarnya punya kartu ATM yang isinya sangat cukup untuk berobat. Tapi dia  memilih tidak menggunakan kartu itu, karena dia tidak mau nanti suaminya tahu persembunyianya. Suaminya diam-diam masih terus memberi nafkan untuk dia yang kalau Mimin mau bisa digunakan uang-uang itu untuk berobat. Bahkan ATM itu ada pada saya. Tapi sampai detik ini Mimin tidak pernah menggunakan ATM itu, itu sebabnya dia lebih memilih menjual barang-barangnya dari pada dia kembali dipertemukan oleh suaminya yang mana Mimin terlalu takut kalau keluarga suaminya akan mengambil anaknya.]


Kembali aku mendengar isakan yang semakin kuat dari dokter Sera, aku pun merasakan sesak semakin aku tahu kehidupan sahabatku semakin hati ini menyimpan bongkahan kekesalan yang sangat dalam.


Dalam hidup siapa yang tidak pernak terluka? Hampir semua insan yang hidup di muka bumi ini pernah merak yang namanya terluka. Luka karena terjatuh, terluka karena ditinggal orang yang terkasih, atau bahkan orang tua, terluka karena sesuatu hal yang sangat pait, putus cinta, penghianatan, pandangan rendah dari orang, dan masih banyak lagi sebab kita terluka.  Namun, dengan adanya waktu yang akan menjadi penyebuh serta doa yang selalu diucap melalui lisan. Di dalam doa ada obat yang menjadi penyembuh dari setiap luka.


Dalam kegelapan hadirlah cerah, Dalam kegelapan pula terdapat kesulitan, di dalam kesulitan mengandung luka. Dalam luka ada kekuatan untuk bangkit, terus dan tetaplah berjuang wahai sahabatku, jangan biarkan kesulitan dan luka ini mengubur semangatmu. Aku tahu kamu butuh bahu untuk bersandar, butuh teman untuk melangkah bersama, jangan biarkan putus asa merubah kamu menjadi manusia yang penuh dosa. Tetaplah kuat demi putra kamu yang kelak akan menjadi kekuatanmu.


Aku tahu saat ini kamu berada di titik terpurukmu, bersedih lah, menangislah tetapi jangan sampai kesedihan itu membuat kamu lupa bahwa ada putra kamu yang masih butuh kasih sayang ibu kandungnya.


Semoga siapa pun itu yang telah membuat kamu seperti ini, akan sadar dan mendapatkan balasan yang sebagaimana mestinya. Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan mendengar doa-doamu. Aku akan terus mendoakan kamu untuk kesembuhan sakitmu, dan kebahagiaan versi yang kamu inginkan.

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2