Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Masakan Spesial


__ADS_3

Pagi hari di rumah mewah.


Lydia dan Mami Misel tengah bersiap untuk mengunjungi rumah sakit untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Aarav dan juga sekaligus melihat kondisi Hadi. Sengaja Lydia datang lebih awal sekaligus mengantarkan sarapan untuk suaminya.


Kebetulan semalam Aarav memang sudah memberitahukan di rumah sakit mana Hadi dirawat. Sehingga pagi hari Lydia tidak harus repot mencari alamat Hadi. Apalagi Aarav dari tadi tidak juga memberikan kabar, bahkan di WA pun tidak dibalas. Yah, Lydia pun berpikir mungkin suaminya memang sedang serius menjaga Jadi yang tengah sakit sehingga tidak lagi menghubunginya, karena takut ganggu.


Hal yang sama juga terjadi di rumah yang tidak terlalu mewah.


"Kamu tahu dari siapa kalau Hadi di rawat di rumah sakit Min?" tanya Dokter Sera ketika Mimin berpamitan berangkat kerja lebih pagi. Agar ia bisa lebih dulu mampir ke rumah sakit.


"Dari Aarav, Dok. Semalam kebetulan telpon Hadi, tapi ternyata yang angkat telpon Aarav dan mengatakan kalau Hadi sedang sakit. Dan sekarang saya mau jenguk sebelum berangkat kantor," balas Mimin dengan menyiapkan bubur buatan dirinya. Wanita itu sengaja membuat bubur untuk calon suami setelah menjalankan sholat subuh, dan sekarang di jam lima ia sudah siap akan berangkat ke rumah sakit, dengan membawakan bubur untuk sarapan Hadi.


Mungkin saja kalau makan yang hasil tangan calon istri langsung sembuh.


"Ya udah kalau gitu salam saja yah, untuk Hadi. Semoga cepat sembuh, dan nanti kalau tidak sibuk kita akan datang menjenguk."


"Amin, terima kasih doanya, Dok. Tidak apa-apa kalau sibuk juga yang terpenting doakan saja semoga Mas Hadi cepat sembuh."


Setelah berpamitan Mimin pun tanpa membuang waktu langsung berangkat ke rumah sakit.


Tok ... Tok ... Tokkk ....


Lydia mengetuk pintu tiga kali, dan setelah mendapat jawaban dari dalam wanita dengan perut buncit dan menuntun anak yang tampan pun masuk ke kamar rawat Hadi. Namun, justru Lydia, dan Mamy Misel cukup terkejut melihat pemandangan di dalam sana.


"Astaga kenapa Mas Aarav jadi yang seperti pasien." Lydia menatap Hadi yang masih setia duduk entah berapa lama laki-laki itu duduk di atas sofa. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa tidur karena ternyata ia selalu ingin ke kamar mandi.


"Yah itu lah suami kamu, datang cuma numpang tidur," balas Hadi dengan bersalaman dengan Mami Misel. Lalu meminta Iko untuk mendekat, tetapi Iko sepertinya justru takut karena Hadi ada selang di tangannya.


"Tidak apa-apa Sayang ini tidak sakit kok." Hadi memegang tangan yang ada selangnya dia tidak menujukan sakit.

__ADS_1


Kembali Iko menggeleng. "Sepertinya Iko mungkin takut gara-gara kejadian semalam Mas, yang Mas Hadi kesakitan," balas Lydia, Hadi pun tidak lagi memaksa Iko untuk mendekat pada dirinya karena takut malah nanti akan menangis.


Lydia pun berjalan menghampiri suaminya dengan menggandeng putranya. Aarav benar-benar sangat nyaman tidur, sampai-sampai tidak dengar padahan ruangan Hadi bising. Lydia mengangkat Iko agar membangunkan papahnya. Anak kecil saja sudah bangun, sudah mandi dan sudah wangi papah Aarav malah masih saja tidur dengan nyeyak.


Liat anaknya sudah tampan kaya gini, tapi papahnya masih berguling dengan bantal.



"Papah ... Papah ... bangun!!" Iko menggerakan tubuh Aarav agar bangun.


Mendengar suara yang sangat dikenal Aarav pun langsung membuka matanya.


"Selamat pagi Sayang." Aarav mencium Iko, tetapi sedetik kemudian ia langsung sadar bahwa dirinya tidak tidur di kamarnya.


Laki-laki itu langsung beranjak bangun ketika ia sadar bahwa saat ini sedang di rumah sakit.


"Enak Tuan tidurnya? Nyeyak banget yah tidurnya," ledek Hadi yang gemas dengan kelakuan sahabtanya.


"Lagian kenapa loe nggak bangunin gue," ucap Aarav sembari beranjak turun dari ranjang pasien, dengan menggendong Iko.


"Kalau nih kamar ada kamera CCTV pasti bakal gue putar, biar loe tau berapa kali gue bangunin loe," balas Hadi, padahal laki-laki itu tidak membangunkan Aarav karena memang perut yang tidak bisa diajak kerja sama sehingga cukup susah kalau harus naik turun ranjang.


"Iya-iya gue minta maaf. Abis ngantuk banget. Loe berati semalaman tidur di sini," tunjuk Aarav pada sofa tempat duduk Aarav.


"Tidak, gue nggak bisa tidur, dari semalam bolak balik kamar mandi terus sekarang tinggal lemasnya."


"Astaga, Mas Aarav memang tidak bisa diandalkan. Padahal seharusnya bantu Mas Hadi untuk ke kamar mandi atau panggil dokter." Lydia cukup kasihan melihat Hadi yang memang terlihat cukup pucat tubuhnya.


Aarav sendiri merasa sangat bersalah. "Apa gue butuh panggil dokter?" tanya Aarav, merasa bersalah banget karena keenakan tidur sampe lupa misinya datang ke rumah sakit adalah untuk menjaga sahabat yang sedang sakit.

__ADS_1


"Tidak usah nanti juga sebentar lagi dokter datang, semalam sudah ada perawat yang datang untuk periksa dan berikan obat, tapi katanya memang seperti ini adalah efek samping dari infeksi usus besar," jawab Hadi.


"Assalamu'alaikum ...." Suara yang sangat familiar pun terdengar.


"Wa'alaumussalam, wah kalau dokter sungguhanya sudah datang pasti sembuh," ledek Aarav dengan menepuk pundak Hadi pelan. Laki-laki itu pun langsung beranjak dari samping Hadi dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Wah kok pagi-pagi udah rame," ucap Mimin yang kaget di kamar calon suaminya sudah rame.


"Iya kita juga baru datang, bawakan sarapan dan pakaian ganti untuk Mas Aarav." Lydia yang mengambil alih menjawab pertanyaan Mimin, sedangkan Mami Misel bermain dengan Iko. Biasalah ketika ke mana-mana membawa anak kecil maka alat tempurnya juga harus lengkat seperti Iko saat ini lebih banyak bawa mainan Iko dari pada bawa barang lainya.


"Mas Hadi gimana keadaanya?" tanya Mimin sebari meletakan bubur hasil buatan dari tangan Mimin langsung.


"Sudah baikan sekarang," balas Hadi, meskipun kalau dirasa justru saat ini tubuhnya semakin tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Justru sekarang rasanya ada lemes perut melilit terus dan juga tidak bisa tidur, tapi badan sangat cape.


"Yang bener, tadi bukanya dari semalam nggak bisa tidur karena bolak balik ke kamar mandi terus?" sela Lydia.


"Kenapa emang? Diare atau kenapa sih. Aarav semalan belum kasih tahu sakit apa sebenarnya Mas Hadi itu," tanya Mimin penasaran karena meskipun Hadi bilang baik-baik saja, tetapi dari wajahnya Mimin juga tidak bisa dibohongi. ia tetap merasakan kalau calon suaminya sedang berusaha menutupi sesuatu.


"Iya diare," jawab Hadi dengan pasrah karena bohong pun Lydia sudah tahu sakitnya. Pasti akan cerita juga pada Mimin.


"Mau sarapan? Mimin bawa bubur, tadi bikin sendiri mungkin habis makan bubur jadi enakan." Mimin mengambilkan satu mangkok bubur dan tim telur sutra mungkin akan sedikit membantu menghangatkan perut Hadi.


"Aduh padahal ini seharusnya makanan paling spesial karena dimasakin langsung sama kamu, tapi pas dimakan lagi kurang sehat ini rasanya pasti akan pait," kelakar Hadi sembari tanganya lebih dulu mengabil tim telur sutra.


"Ya udah cepat sembuh nanti dimasakin lagi," balas Mimin, yang kelihatannya sangat menggoda.


"Padahal udah atuh Min, kalian kan sudah deket banget. Nikah ajah, sekali jaga Mas Hadi mungkin kalau ada yang menjaga gak akan kecolongan lagi. Lagian kalau udah ada niat baik disegerakan godaan setan banyak." Lydia yang melihat sahabat sudah sangat dekat dengan Hadi pun takut kalau malah akan jadi fitnah.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2