Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Surat dari David


__ADS_3

"Sayang, Mas berangkat kerja dulu yah. Ingat kamu jangan kasih tahu siapa pun kalau kita saat ini tinggal di sini, dan jangan keluar pagar rumah tanpa seizin Mas dan apabila  ada hal-hal yang mencurigakan kamu kasih tahu Mas saja yah." Sebelum Aarav pergi bekerja laki-laki itu lebih dulu memastikan keamanan untuk sang istri.


"Iya Mas, kamu jangan bikin Lydia jadi tambah parno dong."


Mendengar nasihat-nasihat dari sang suami, Lydia jadi lebih parno padahal papi mertuanya sudah memastikan kalau rumah ini benar-benar aman, selain rumah ini terletak di komplek elite yang tidak sembarang orang bisa masuk, di rumah ini juga keamanan kamera pengawas ada di setiap sudut rumah sehingga untuk Lydia dan mami mertua yang tinggal di rumah itu harusnya sangat aman dan tidak ada yang bisa mengusik."


Aarav mengusap pucuk kepala sang istri. "Maaf kalau Mas bikin kamu jadi semakin kepikiran. Kamu jangan takut dan berpikir macam-macam, itu semua karena Papi sudah benar-benar memilih tempat ternyaman dan teraman untuk kalian."


"Pa- Pah ikut..." Iko malah yang berjalan mendekat ke Lydia dan Aarav merengek minta ikut pada Saran yang sudah bersiap akan bekerja.


"Hai Jagoan, Papah kan mau kerja, Abang di rumah bareng sama Bunda dan Oma yah, kan di sini juga banyak mainan untuk Iko."


"Arkhhhh..." Iko malah merajuk ingin Iko dengan papahnya untuk bekerja. Mungkin niatnya akan bantu-bantu bekerja untuk beli susunya.


"Mas mungkin kamu ajak main dulu sebentar nanti kalau Iko sudah tidak rewel lagi kamu baru berangkat kerja," usul Lydia yang kasihan kalau nanti malah Iko menangis karena ingin ikut dengan papahnya kerja.


"Ya udah sekarang Iko main sama Papah dulu yah." Aarav mengambil bola dan menendangnya ke arah Iko, dan anak belum genap dua tahun itu pun tampak sangat senang. Dan langsung bersemangat untuk bermain.


"Ingat yah Sayang, nanti kamu jangan terlalu sering angkat-angkat Abang, kamu boleh minta tolong sama Mami, atau kalau Mami cape bisa minta tolong sama Bibi dan yang lainya. Pokoknya kamu harus ingat kalau kamu itu sedang hamil, anaknya kembar lagi. Jadi harus super berhati-hati." Entah berapa banyak Aarav  selalu mengingatkan hal yang hampir sama.


"Iya Mas, lagian Iko sudah tahu di perut bunda ada dedeknya, dia malah takut kalau mau di gendong kan Mas sendiri yang bilang kalau nanti Iko minta gendong dedeknya sedih dan sakat."


Lydia mengingatkan kembali apa yang diucapkan oleh sang suami. Aarav pun hanya membalas dengan mengulum senyum, yah tidak aneh kini ia memang jadi super posesif dengan sang istri, saking takut buah hatinya akan kenapa-napa. Maklum ini adalah kali pertama ia merasakan sang istri hamil.


"Mas, Iko kayaknya sudah mulai lupa dan coba Mas pamit dengan Abang, mungkin sekarang sudah boleh kalau Mas mau berangkat kerja."


Lydia menunjuk jagoanya yang sedang asik main mobil-mobilan.

__ADS_1


"Bang..." Iko yang sudah tahu kalau mulai sekarang dipanggil dengan sebutan abang pun langsung memalingkan pandanganya mencari sumber suara yang memanggilnya.


"Papah mau berangkat kerja apa sudah boleh? Abang main dengan Oma dan Bunda," ucap Aarav dengan nada bicara yang sangat lembut.


"Boleh dong, kan Iko mau main sama Oma, lihat ikan di kolam belakang gede-gede." Mami Misel yang baru turun dari kamarnya langsung mengambil alih jawaban untuk Iko, dengan menirukan suara anak kecil.


"Yuk Iko lihat ikan bareng Oma." Wanita paruh baya itu langsung mengulurkan tanganya agar sang cucu segera menggandeng dan mengikuti ke taman belakang.


"Hust, pamit dulu sama Papah kan Papah mau kerja." Iko yang sudah bercingkrak ingin segera lihat ikan pun kembali berputar dan mengulurkan tanganya pada Aarav.


"Wah hebat Abang sekarang sudah boleh Papah kerja ya Nak?" tanya Aarav untuk memastikan lagi, dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Iko. Setelah itu bocah tampan itu langsung berlari seperti bebek mengikuti omanya ke taman belakang untuk melihat ikan dan memberikan makan untuk ikan-ikannya.


"Kalau gitu Mas berangkat lagi yah, selama Iko sama Mami kamu istirahat biar tidak cape."


Lydia hanya mengulas senyum tipis, ia sudah bingung mau jawab bagaimana lagi karena ia senang dengan perhatian yang Aarav tunjukan. Namun, juga ada rasa tidak nyaman karena sekarang apa-apa banyak dibatasi, masak dan segala macam tidak sebebas dulu sebelum hamil, sekarang masak ia hanya boleh mengerjakan yang ringan-ringan saja.


"Jangan senyum-senyum gitu nanti Mas malah nggak jadi berangkat kerja."


"Udah ah, Lydia mau istirahat ikut apa kata Mas." Lydia tahu kalau mereka ngobrol terus yang ada suaminya makin telat untuk berangkat kerja, apalagi sekarang Mimi, dan Hadi mungkin masih di rumah sakit sehingga Aarav harus bekerja lebih berat.


Perjalanan yang biasanya ditempuh oleh Aarav sampai satu jam, hari ini justru tidak sampai satu jam ia sudah sampai di depan kantor, itu semua karena laki-laki itu berangkat sudah kesiangan.


"Pak Aarav, ada tamu." Seorang security menghampiri Aarav yang baru beberapa langkah turun dari kendaraanya.


Reflek Aarav berhenti dan mengikuti kemana arah tangan security menunjuk tamunya. Laki-laki itu mengernyitkan dahi karena ia tidak merasa mengenal laki-laki yang mengaku tamunya.


"Selamat pagi Pak Aarav, maaf saya mengganggu Anda, kenalkan saya Yanto, kebetulan saya datang ke sini ada amanah dari seseorang untuk menyampaikan surat ini pada Anda."

__ADS_1


Mendengar lawan bicaranya memperkenalkan diri dengan sopan dan mengulurkan tangan Aarav pun melakukan hal yang sama.


"Saya Aarav." Meskipun Aarav masih belum terlalu kenal dan percaya dengan laki-laki paruh baya yang terlihat akrab dengan dirinya tetapi Aarav tetap mencoba percaya dan juga gerak matanya menatap awas lawan bicaranya, waspada.


Aarav pun mempersilahkan tamunya duduk di sofa yang memang disediakan untuk menjamu tamu-tamu yang datang ke kantornya tanpa ada janji terlebih dahulu.


"Ngomong-ngomong tadi bilang ada amanah, amanah apa dan dari siapa yah pak?" tanya Aarav memulai obrolan.


Laki-laki bernama Yanto tersebut memberikan amplop berwarna putih. "Saya ditugaskan mengantarkan ini."


Aarav menatap bingung dengan amplop yang terlalu biasa untuk kalangan pembisnis seperti dirinya, bahkan logo perusahaan dan lain sebagainya tidak ada.


"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu surat dari siapa?" Aarav tentu tidak mau menerima benda sembarangan apalagi dia saat ini sedang dalam mencekam yang cukup sulit.


"David."


Raut wajah Aarav langsung berubah ketika laki-laki yang duduk di hadapanya menyebut nama David.


"Anda tenang saja Tuan, David memberikan surat ini niatnya baik, Anda bisa baca dulu setelah itu Anda bisa simpulkan maksud dari David mengirim surat ini."


"Anda siapanya David?" tanya Aarav lagi. Perselisihanya dengan David dan orang tuanya membuat Aarav harus waspada dengan apapun yang David berikan, Aarav masih tidak terlalu percaya kalau David itu baik.


"Saya anggota polisi yang menjaga di penjara tempat David di tahan."


Setelah mendengar jawaban Yanto. Aarav pun menerima surat itu, dengan meembaca basmalah Aarav membuka amplop itu dan membaca dengan sesekali  kening yang mengerut karena surat yang David tulis.


#Nah jangan-jangan surat tagihan pinjam online lagi....

__ADS_1


Bersambung......


...****************...


__ADS_2