Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Aku yang Terpancing


__ADS_3

Indra pendengarku  terus menangkap dengan jelas, apa yang mas suami obrolkan dengan David. Yah, bukan kemunginan lagi tebakanku selama ini, Memang David adalah ayah biologis dari jagoanku. Meskipun David tidak menyebutkan dengan detail nama sang istri, tetapi aku yang sudah pernah dengar cerita versi Mimin pun sangat yakin, kalau wanita yang saat ini sedang David ceritakan adalah Mimin sahabatku.


Aku masih menunduk, dengan telinga yang semakin aku tajamkan, seolah aku tidak ingin barang satu kata pun terlewat. Ada rasa kesal karena David terlalu bodoh, terlalu takut akan miskin sehingga tega membiarkan Mimin menghadapi semuanya sendiri.


"Mohon, maaf kalau saya ikut nimbrung dengan obrolan Mas dan Pak David, tetapi saya sebagai peremuan sangat kecewa dengan keputusan Anda. Apalagi Anda tadi sempat mengatakan kalau, yang penting Anda selama ini memberikan uang untuk biaya hidup mantan istri Anda, yang Anda tinggalkan dalam kondisi hamil, demi tetap menuruti perintah orang tua. Lalu apa Anda pernah berpikir kalau wanita itu tidak selalu bahagia dengan uang-uang saja? Ada wanita yang hanya bahagia karena bersama dengan orang yang dicintainya. Apa Anda yakin kalau uang yang Anda berikan selalu dipakai oleh wanita itu? Bagaimana kalau ternyata uang-uang itu tidak pernah dipakai oleh wanita itu, karena yang dia inginkan bukan uang, tetapi kehadiran Anda?" tanyaku dengan setiap nada yang aku ucapkan penuh penekanan.


Yah, rasanya hati ini sangat geram ketika David bilang. [Saya sudah memberikan ganti rugi dengan sejumlah uang] Sontak aku yang awalnya ingin menjadi pendengar saja, rasanya hati ini sangat terbakar. Dan ingin membuat David sadar, kalau perbuatannya sangat jahat.


Apalagi setelah tahu David ingin mencari keberadaan mantan istrinya yang dengan kata lain ingin mencari Mimin. Karena Joe, sang istri harus melakukan angkat rahim karena bermasalah di rahimnya sehingga dia mengalami ke guguran. Tidak terima, sudah pasti. Sama seperti dengan Mimin, aku juga tidak terima kalau jagoanku diambil oleh David.


Cukup lama aku tidak mendengar jawaban dari David, padahal rasanya aku tidak sabar ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh David.


"Yah, memang yang aku tahu mantan istriku tidak memakai uang-uang itu. Laporan pengeluaran dari rekening yang aku berikan pada dia tidak ada," jawab David dengan nada yang seperti terlihat sangat menyesal. Tetapi aku tidak tahu apakah laki-laki itu menyesal atau tidak.

__ADS_1


"Kalau gitu Anda tidak berhak atas anaknya, karena Anda dan orang tua Anda sudah jelas-jelas meminta mantan istri Anda menggugurkan bayi itu. Kalau aku jadi wanita itu pun aku tidak akan memberikan Anda kesempatan untuk melihat anak itu apalagi merawatnya. Sudah jelas saya tolak dengan tegas," balasku lagi. Saking emosinya sampai aku justru mengambil alih obrolan mereka. "Jujur yah, saya selaku wanita, merasakan sikap Anda dan keluarga Anda seperti orang yang tidak lahir dari wanita. Tega menyakiti wanita hanya karena setatus sosialnya. Kalau tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang Anda lakukan kenapa Anda nikahi, dan ketika hamil Anda dan papah Anda meminta anak tak berdosa itu di gugurkan. Lalu apa bedanya Anda dan orang tua Anda, dengan pebunuh Tuan? Tidak ada bedanya Anda membunuh anak Anda dan juga ibunya. Anda seorang pembunuh, meskipun tidak secara sekaligus, tetapi mental ibunya sudah Anda matikan, jahat sekali kalian," imbuhku dengan suara yang bergetar dan selaput mata yang sudah bisa aku rasakan kalau aku sangat sakit melihat semua ini, dan ingin menangis.


Aku merasakan pundanku diusap dengan lembut oleh mas suami, yang tahu kalau aku sangat emosi mendengar ucapan David.


"Yah, mungkin ini hukuman dari Tuhan, karena ku sudah menelantarkan anak dan mantan istri aku, tetapi kenapa harus diambil rahim istri aku?" tanya David dengan suara lemahnya.


Aku tersenyum sinis, ada rasa senang karena dia akhirnya tidak bisa punya anak, dan Tuhan memang maha adil. Mimin tidak perlu cape-cape membalas semunya, ia hanya cukup tetap bedoa dan berusaha sembuh Tuhan yang sudah memblasakan semua sakit hatinya.


Kembali indra penglihatan terfokuskan pada David yang nampak menunduk terlihat sangat sedih.


"Kalau tidak ada urusan lain, kita pulang saja yuk Mas. Mohon maaf Pak David bukan saya ikut campun dengan urusan Anda, tetapi saya sebagai wanita terpancing dengan ucapan Anda. Saya mohon maaf kalau kata-kata saya menyakiti Anda." Yah, aku merasa tidak enak dengan mas suami karena aku malah terkesan kurang sopan dengan teman kerjanya, dan aku juga tidak ingin mas suami malu karena telah membawa aku untuk mengunjungi temanya yang sakit.


"Dan untuk Mas Aarav, saya minta maaf kalau bicara saya justru membuat Mas malu, saya hanya merasa tidak terima ketika ada laki-laki yang memperlakukan wanita se HINA itu. Apalagi sampai meminta menggugurkan anaknya sendiri dan juga keluarganya memberikan tekanan yang sama yaitu meminta menggugurkan anaknya rasanya sangat tidak terima," ucapku dengan menekankan kata hina, dalam obrolan kamu.

__ADS_1


Aku melihat mas suami menggelengkan dengan lemah. "Kamu tidak salah, yang dikatakan kamu memang alami dari perasaan wanita. Mas ngerti perasaan kamu."


"Kalau gitu gue pulang Vid, buat Joe semoga cepat sembuh dan juga jangan terlalu kepikiran, masih ada banyak anak di luar sana untuk bisa kalian adopsi," ucap mas suami yang aku masih dengar dengan nada bicara yang sangat lembut. Aku pun hanya tersenyum dengan bangga, karena pada kenyataanya mas suami tidak marah dengan ucapanku.


"Iya terima kasih atas kunjunganya Rav, dan salam buat anak kalian," balas David yang mana sepertinya laki-laki itu seperti tidak terima aku nasehati. Yah setelah berbasa-basi kami pun langsung pergi ke luar dari ruangan mewah itu. Jujur aku melihat tatapan David seperti orang tengah marah, tetapi aku mencoba menepisnya mungkin saja dia sedang sangat sedih bukan marah.


"Mas, Lydia minta maaf yah. Tadi Lydia spontan saja rsanya tidak terima sekali ketika ada yang merendahkan wanita seperti itu, padahal setatusnya istri. Padahal mereka lahir dari seorang perempuan tetapi kenapa terlalu merendahkan seperti itu. Apalagi istrinya sedang mengandung anaknya. Lydia nggak terima sekali ketika David berbicara kalau dia sudah mengganti semuanya dengan uang-uang yang dia kirimkan selama ini. Hati siapa yang tidak sakit mendengar ucapan itu?"


Bersambung.....


Foto Mbak Lydia dan Om Duda sebelum menjenguk Joe.


__ADS_1


__ADS_2