Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pulang Kampung


__ADS_3

Aku tersentak kaget, ketika majikanku dengan santai mengatakan kalau dia akan melanjutkan menikahi aku.


"Tapi Mas, untuk acara seperti adik-adikku rasanya terlalu sayang uangnya. Lebih baik ditabung untuk kebutuhan paska nikah, atau malah kita sumbangkan agar berkah pernikahan kita. Belum juga kalau mengikuti kemauan Bapak, kamu akan mengeluarkan uang yang cukup banyak, belum cape untuk mengikuti tradisi yang cukup melelahkan," balasku, aku hanya takut kalau nantinya Aarav akan terlalu merasa memiliki aku karena membeliku dengan harga yang fantastis sehingga bisa melakukan apapun sesuka dirinya. Aku jadi tidak tenang dengan nasibku kedepanya.


"Kamu tenang ada Lyd, aku tidak akan langsung bangkrut hanya karena menikahi kamu," ucapnya dengan santai, tanganya terus menyendok sup yang ada di mangkuk bahkan kali ini sup pun sudah hampir habis. Yang menandakan kalau majikan aku memang lagi-lagi suka dengan olahan hasil tanganku.


"E... gimana kalau untuk beli seserahan yang diminta Bapak kita pakai uang patungan. Biar sebagian dari uang tabungan saya. Agar Mas jangan terlalu berat," ucapku dengan sedikit ragu, takut kalau aku dikira merendahkan kemampuan Aarav, tetapi aku juga rasanya terlalu tidak enak ketika Bapak meminta seserahan yang cukup mewah.


"Lyd, aku masih mampu untuk mengurus itu semua. Kalau kamu memang punya tabungan kamu simpan saja untuk kebutuhan kamu, mungkin nanti ada barang yang ingin kamu beli, kamu bisa gunakan dengan uang kamu itu. Dan soal pernikahan, aku masih bisa  mencari uang sendiri," jawab majikan aku dengan santai.


"Maaf yah Mas, kalau permintaan Bapak, membuat kamu harus mengeluarkan uang banyak untuk pernikahan ini. Aku jujur tidak enak dengan kamu terutama keluarga kamu. Pasti Mamih dan Papi menganggap kami matre."

__ADS_1


"Enggak lah, aku mencoba mengerti posisi Bapak kamu, di mana keluarga kamu di kampung itu orang yang cukup terpandang, jadi wajar Bapak kamu minta seperti itu, udah gitu juga kalau kamu hanya nikah KUA dan sangat berbeda dengan pernikahan adik-adik kamu, nanti kamu kena julid lagi. Udah, selagi aku masih bisa bilang sanggup maka kamu hanya tinggal siapkan semuanya."


Setelah mengucapkan itu majikanku pun kembali ke kamarnya untuk bersiap kerja. Aku pun seperti biasa melakukan kegiatan pembantu bersih-bersih dan beres-beres. Aku tidak mau mentang-mentang sebentar lagi akan jadi istri majikan yang artinya akan naik kedudukan menjadi majikan, aku tidak mau melupakan siapa aku sesungguhnya. Aku adalah pembantu yang kebetulan naik derajat menjadi majikan, tetapi ingat tujuan pertamanya adalah untuk membuat Mbak Siska, mantan istri majikan aku agar kabur tidak lagi mengganggu Aarav.


Hari terus bergulir tanpa terasa aku di Jakarta sudah hampir satu bulan, dan juga pernikahan aku tinggal menunggu satu minggu lagi.


"Mas, tadi Bapak telpon katanya aku di minta pulang untuk mempersiapkan pernikahan. Apa Anda mengizinkan?" tanyaku dengan hati-hati. Aku sangat menikmati pekerjaan aku sampai aku pulang untuk persiapan melangsungkan pernikahan pun rasanya sangat berat.


"Tidak usah Mas, nanti Bapak katanya akan jemput, lagi pula aku bisa naik bis," jawabku seraya menggerak-gerakan tanganku, agar majikan aku jangan mengantarku.


"Gini saja, nanti sopir Mamih yang akan antar kamu pulang, jangan naik bis apalagi mengandalkan Bapak jemput repot harus bolak balik. Biar sopir yang antarkan sekali jalan." Lagi, kalau Aarav sudah menentukan pilihan maka aku tidak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


Aku pun hanya mengangguk saja. Aku tahu kalau majikan aku tidak suka kalau ucapanyua dibantah sehingga aku pun pasrah diatar pulang dengan sopir.


"Jadi kapan kamu pulang?" tanyanya lagi.


"Besok  Mas, mungkin setelah Mas berangkat kerja, aku akan siap-siap untuk pulang, dan konci rumah aku titipkan satpam seperti biasa."


"Ok, kalau gitu kamu hati-hati yah," ucapnya dengan kembali melanjutkan makan malam. Yah, aku tahu memang kalau majikan aku belum bisa mencintai aku, pernikahan kami hanya karena ada kepentingan masing-masing. Namun aku tidak ada kata lelah untuk selalu berdoa agar majikan aku bisa mencintai aku dengan tulus. Pernikahan kami pun menjadi pernikahan yang diridhoi oleh Semesta dan bahagia dia ujungnya.


"Terima kasih Mas," balasku, aku pun kembali  fokus dengan makan malamku.


Sesungguhnya aku cukup malas untuk pulang terutama bertemu dengan adik-adikku dan juga tetangga. Aku malas mendengarkan sindiran-sindiran mereka. Pasti akan ada saja guncingan dari mereka, benar saja di gunjingin, apalagi salah, jomblo saja di ledekin terus apalagi mau nikah, dengan duda lagi. Beuhhh... entahlah setebal apa lagi telingaku harus aku buat, agar aku tidak terganggu dengan gunjingan mereka.

__ADS_1


Kadang kita perlu pura-pura acuh dan bersikap tak perduli untuk menyelamatkan mental kita. Itulah yang aku lakukan, agar aku tetap waras.


__ADS_2