
"Pada hari ini, Senin, 29 Mei 2023. Pengadilan akan memutuskan hasil dari persidangan atas penggugat Tuan Wijaya dan tergugat, sodara Jasmin, Aarav, dan Lydia. Penggugat sebagai kakek dari ananda Tiko. Dengan permohonan gugatan, di mana sejak tahun 2021 Sodara Jasmin menjual putranya yang bernama Tiko pada pasangan suami istri atas nama sodara Aarav dan Lydia. Pada hari ini pengadilan memutuskan menolak permohonan gugatan penggugat untuk seluruh tuduhan yang diarahkan pada sodara Jasmin, maupun pasangan suami istri sodara Aarav dan Lydia. Pengadilan menyatakan bahwa Tiko diadopsi oleh sodara Lydia dan Aarav atas tujuan keamanan, dan tidak ada jual beli sesuai yang ditujukan oleh pengugat. Pengadilan menghukum penggugat untuk patuh pada putusan pengadilan, dan menghukum penggugat untuk membayar seluruh biaya yang dikeluarkan pada perkara ini. Demikian hasil dari persidangan ini. Tok... tok... tok..." Palu di ketus sebagai tanda bahwa persidangan atas tuduhan Wijaya telah selesai.
"Alhamdulillah ...."
"Allahuakbar ...."
Ruangan sidang yang awalnya sunyi senyap, khusu mendengarkan bacaan putusan sidang pun jadi berubah riuh. Bahkan Aarav dan Mimin bersujud karena gugatan dari Wijaya gugur. Sedangkan Lydia hanya berdoa dalam hatinya, ia tidak bisa bersujud perutnya sudah mulai membesar sehingga sulit untuk sujud.
"Alhamdulillah Sayang, kita tidak terbukti bersalah." Aarav memeluk Lydia yang menitikan air mata kebahagiaan. Dalam hati Lydia sejak tadi terus berdetak sangat kencang. Takut yang ia rasakan, takut kalau gugatan Wijaya bakal dikabulkan jelas mereka akan menjalani hukuman penjara belum uang denda yang tidak sedikit. Beruntung Tuhan maha baik, sehingga mengabulkan doa orang-orang baik.
"Udah dong jangan nangis lagi. Ini kan kabar bahagia kenapa harus nangis lahi." Aarav mengusap kelopak mata Lydia yang terus mengeluarkan air mata bahagia.
"Lydia sangat senang Mas, akhirnya Tuhan mengabulkan apa keinginan kita," balas Lydia dengan memberikan senyum terbaiknya.
"Kan Mas sudah bilang kalau kita pasti akan menang. Kebaikan akan terus menang melawan kejahatan Sayang." Aarav pun terus menghujami Lydia dengan ciuman mesra. Hingga membuat yang melihatnya iri pasti.
#Untung Author gak lihat.
"Selamat yah Sayang, kalian tidak terbukti melakukan hal yang dituduhkan Wijaya." Mami Misel dan Papi Sony langsung menghampiri putra dan menantunya untuk memberikan selamat.
Hal yang sama pun terjadi pada Mimin. Wanita bercadar itu pun menangis bahagia. Tanganya sejak tadi dingin karena saking tegangnya, tetapi apa yang ia perjuangan lagi-lagi membuahkan kebahagiaan.
Hadi perlahan menghampiri Mimin terlebih dahulu sebelum menghampiri sahabatnya. Bukan hanya Mimin, Aarav dan Lydia yang nampaknya deg-degan dengan hasil putusan sidang. Hadi pun menjadi orang yang sangat harap-harap cemas menunggu hasilnya juga. Siapa yang tega kalau melihat wanita yang dicintainya terkurung di dalam penjara, bukan hanya itu Aarav dan Lydia adalah sahabat baiknya membuat Hadi semakin cemas, dan yang bikin cemas lagi adalah pengacara mereka adalah Handan adiknya sendiri kalau kalah kali ini kinerja Handan harus dipertanyakan. Jauh-jauh panggil dari Kalimantan ke Jakarta masa bikin kecewa.
__ADS_1
Namun, semua itu tidak terjadi sehingga Hadi pun sudah menyiapkan hadiah yang fantastis untuk Handan.
"Selamat yah Min, sekarang bisa tidur nyenyak," ucap Hadi, sembari mengembangkan senyuman. Mungkin kalau sudah sah jadi pasangan suami istri Hadi juga akan melakukan hal yang sama dengan Aarav.
"Terima kasih Mas, untuk dukunganya, dan tentunya berkat bantuan adik Mas Hadi semuanya bisa berjalan sesuai yang kita harapkan." Mimin pun menatap Handan yang berdiri tidak jauh dari Hadi dan Mimin. Dan Handan pun membalas dengan anggukan kepala dan senyum manisnya.
"Semua yang aku lakukan memang karena kalian tidak salah. Hukum harus tegak berdiri tidak runcing ke bawah atau ke atas harus adil seadil-adilnya," balas Handan, dengan bangga. Kerjanya selama hampir setengah tahun di Jakarta tidak mengecewakan, semua kasus yang ia tangani membuahkan hasil yang positif.
"Alhamdulillah Min, kita tidak terbukti bersalah." Kini Lydia menghampiri Mimin untuk meluapkan rasa bahagianya.
"Iya Lyd, aku sangat senang."
"Kalau gitu nanti malam kamu ke rumah yah. Mami bakal merayakan kemenangan kita," ucap Mami Misel.
"Yes, uang makan utuh." Hadi pun tidak mau kalah.
"Ck, kalian memang benar-benar adik kakak," dengus Aarav melihat tingkah Hadi dan Handan yang sama-sama selengean. Tapi baiknya jangan diragukan lagi.
******
Di saat Mimin, Aarav dan keluarganya sedang bahagia. Wijaya yang tidak bisa mendatangi putusan akhir pengadilan pun hanya bisa mendengarkan putusan dari pengacaranya. Laki-laki yang tidak lagi muda duduk bergeming dengan pandangan kosong. Akhir-akhir ini laki-laki tua itu memang bersembunyi di sebuah tempat yang tidak bisa ditemui sembarangan oleh orang lain.
Bahkan pengacaranya pun ingin menemui Wijaya harus benar-benar ada izin dari polisi yang menjaganya. Semua dilakukan untuk memberikan keamanan pada Wijaya.
__ADS_1
[Tuan, apa Anda baik-baik saja?] tanya pengacara dari balik sambungan telepon. Wijaya yang sebenarnya sebelumnya sudah menyiapkan mental atas apyapun putusan pengadilan, tetapi begitu putusan menyatakan gugatanya gugur pun laki-laki tua itu tetap terkejut dan syok.
[Tuan, apakah Anda baik-baik saja? Apakah Anda di sana seorang diri?] tanya pengacaranya ulang, yang tidak mendapatkan respon lagi oleh Wijaya.
Mengetahui klien-nya tidak memberikan respon juga. Pengacara pun langsung memutuskan sambungan telepon. Kini pengacara bergantian menghubungi Risa, istri dari Wijaya.
[Nyonya, bisa tolong lihat suami Anda, apakah baik-baik saja atau ada masalah dengan kesehatanya? Barusan saya telpon dan mengabarkan hasil sidang, tetapi tiba-tiba tidak mendapatkan balasan apa-apa dari Tuan Wijaya. Saya takut terjadi apa-apa dengan suami Anda,] ucap pengacara ketika sambungan telepon diangkat oleh Risa.
Risa yang mendengar ucapan dari pengacara suaminya pun langsung meninggalkan pekerjaanya yang ikut kacau dengan adanya berita David yang jadi tersangka dan suaminya yang bangkrut, berpengaruh pada pendidikan yang ia kelolah, banyak donatur yang menarik bantuan untuk sekolahnya. Sedangkan dia yang menjadi kepala yayasan tentu sangat pusing dengan kabar ini semua, dan sekarang harus pusing lagi dengan urusan suaminya.
Brak.... Risa langsung membuka ruangan pintu kerja suaminya yang ternyata benar kekawatiran pengacaranya. Suaminya sudah pingsan mendengar berita yang diberikan oleh pengacarnya.
"Tolong... tolong... tolong suami saya." Risa berlari sembari berteriak, di depan rumah persembunyiannya ada petugas kepolisian yang sedang berjaga, sehingga Risa langsung meminta bantuan. Rumah yang awalnya sepi kini pun cukup ramai dengan kedatangan tenaga medis yang siap membawa Tuan Wijaya yang terhormat ke rumah sakit.
"Pah, bertahan Pah. Ini hanya berita ringan Papah harus bertahan jangan kenapa-napa," isak Risa yang tidak bisa membayangkan kalau hal buruk terjadi pada suaminya.
Sudah satu minggu terakhir suaminya memang susah tidur, makan pun tidak berselera dan banyak melamun, sehingga ketika jatuh sakit Risa sebenarnya tidak terlalu kaget tetapi yang membuat Risa takut adalah ia akan menghadapi ini seorang diri. Masalah kerjaan dia saja bertumpung dan sangat menguras energi dan sekarang suaminya jatuh sakit. Itu sangat berat untuk Risa.
"David, apa kamu tahu Mamah dan Papah di sini sedang banyak masalah. Andai kamu tidak bertindak bodoh, mungkin kamu bisa sedikit membantu kami mengatasi masalah ini." Risa terisak di samping tubuh suaminya yang masih terbaring pingsan.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1