
Setelah mendengar kabar gembira di mana anaknya akan nikah tentu Ahmad dan juga Arum langsung bergegas mencari seserahan, perhiasan dan segara keperluan anak sulungnya yang mau nikah itu.
"Pah, ini Hadi mau nikah. Emang kita nggak kasih kabar sama Handan, dia kan adiknya Hadi, dia anak kita juga masa nggak kita kabarin," ucap Arum ketika mereka sedang menempuh perjalanan untuk menujuk ke mall.
"Ya udah Mah, kabarin aja Handan, meskipun dia nggak bisa datang, tapi setidaknya dia tau kalau abangnya mau nikah," balas Ahmad. Arum pun langsung membuka ponselnya dan menghubungi Handan.
Di tempat lain Handan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya pun terkejut ketika ponselnya berbunyi.
"Mamah, ada apa yah kira-kira, apa Hadi sudah sembuh?" gumam Handan, tidak harus menunggu lama laki-laki usia tiga puluh enam tahun pun langsung mengambil ponselnya dan menekan ikon telepon berwarna hijau.
[Ada apa Mah, apa Hadi sudah sembuh?] tanya Handan begitu telepon tersambung dengan sang ibu.
[Kalau dibilang sembuh ya belum juga, tapi sudah pulang dan sekarang mau nikah.]
[Uhukkk ... uhuukk ... ] Handan langsung tersendak ketika mendengar kabar kalau sodara satu-satunya akan menikah.
[Kenapa dadakan sekali apa dia kebobolan?] tanya Handan dengan nada bicara yang mengejek.
[Hust, kamu sama abangnya kok ngomong kaya gitu. Dia tidak mungkin melakukan itu. Pernikan yang dilakukan oleh kakak kamu karena orang tua Mimin sedang sakit parah dan ingin menyaksikan pernikahann anaknya, makanya dilakukan pernikahan yang cukup dadakan. Mamah dan Papah juga kaget, apalagi abang kamu dan Mimin sama-sama baru keluar dari rumah sakit, pas dapat kabar mereka mau nikah ya kaget sama dengan kamu.] Arum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar Handan tidak salah menduga, apalagi sampai berpikir yang tidak-tidak.
[Oh, ya maaf lagi Handan juga nggak serius. Handan tau Hadi kaya apa, imannya dia cukup kuat jadi tidak mungkin dia aneh-aneh. Semoga lancar aja pernikahan Hadi dan Mimin, dan untuk orang tua Mimin semoga cepat sembuh. Handan nggak bisa datang banyak kerjaan.]
[Ya terima kasih doanya. Mamah dan Papah juga hanya mengabarakan saja, dan kamu juga jaga diri jangan main cewek terus, apalagi sampai berbuat yang tidak-tidak. Cepat cari cewek buat diajak serius, jangan pacar-pacaran terus.] Nasihan Arum pada anak bungsunya, yang sangat berbeda dengan Hadi, kalau Hadi adalah tipe laki-laki setia dan tidak suka tebar peson pada banyak cewek, kalau Handan justru kebalikanya dia selalu tebar pesona pada hampir setiap teman wanitanya, sehingga banyak yang baper.
__ADS_1
Meskipun apa yang dilakukan Handan tidak sampai making love, tapi cukup membuat sebutan play boy lintas kampus masih melekat hingga usianya ke tiga puluh enam tahun. Yeh gimana gak dapat sebutan unik itu, dia yang membuat citra itu. Di mana hampir setiap kampus ada mantannya.
[Yeh Mah, itu namanya seleksi. Jadi cowok kan wajib seleksi agar tidak salah pilih,] bela Handan dengan tertawa renyah.
[Jangan terlalu banyak pilih, nanti malah ujungnya dapat yang sisaan orang. Mending kalau sudah merasa cocok langsung saja di halalin, biar nggak jadi fitnah.] Ahmad menyaut obrolan ibu dan anak itu.
[Ya nggak apa-apa kalau yang sisaan orang malah berpengalaman Pah, nggak harus ngajarin lagi sudah langsung tempur dan gas, ngeng...] Handan tertawa renyah, hingga Arum hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
[Kamu emang susah dinasehati, lebih baik sana cari cewek, kalau nggak dapat juga Mamah kawinin dengan cewek pilihan Papah dan Mamah.] ancam Arum, nyuruh orang kawin susah banget emang.
[Iya-iya nanti bakal kawin, tapi nikah nanti belakangan yah.] Kan Handan emang rada-rada lain. Malah nantang orang tuanya.
[Handa ... kamu jangan macam-macam yah, jangan bikin malu orang tua kamu,] balas Arum dan Ahmad hampir bersamaan.
Setelah memberi kabar pada putranya Arum, Ahmad dan juga calon cucu mereka pun berburu keperluan untuk nikahan mamah dan calon papahnya Iko.
Untung Iko anak yang baik sehingga tidak rewel ketika diajak berbelanja barang yang cukup banyak tidak main-main perhiasan yang Arum belikan untuk calon menantunya pun perhiasan dengan harga yang fantastis. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk calon menantu barunya.
*******
Di rumah mewah papah Aarav.
Lydia yang belum lama pulang dan sedang bersantai pun kaget ketika sang suami tercinta mengabarkan kalau sahabatnya akan menikah saat ini juga. Bahkan saking kagetnya sampai-sampai Lydia beberapa kali menggosok-gosok matanya, dan mencubit lengan tangannya.
__ADS_1
"Ini aku nggak lagi ngimpi kan. Pesan ini beneran dari Mas Aarav?" gumam Lydia, beberpa kali wanita dengan perut buncit itu membaca pesan dari suaminya.
Bahkan untuk memastikan kalau apa yang ia baca benar. Lydia sampai menghubungi sang suami untuk menanyakan kebenaranya, dan ternyata benar Mimin memang mau nikah saat ini juga.
[Kamu, kalau cape nggak usah datang Sayang, apalagi kamu lagi hamil besar baru pulang dari rumah sakit takutnya malah kamu ke capean.] Itu pesan berikutnya yang Aarav kirimkan.
[Enggak apa-apa Mas, lagian aku kan cuma duduk manis ingin menyaksikan juga pernikahan Mimin dan Mas Hadi, aku nggak bakal ikut bantu-bantu yang berat-berat. Lydia hanya ingin menyaksikan pernikahan mereka.] Yah, sebagai temanya Lydia juga ingin kalau dirinya ikut andil menyaksikan pernikahan sahabatnya.
[Ya udah kalau gitu kamu berangkat sama Mami yah, nanti Mas telpon Mami agar berangkat bareng kamu.]
Lydia pun setuju saja kalaupun harus berangkat dengan ibu mertuanya. Dari pada tidak diizinkan datang. Lagi pula ia sudah dari tadi rebahan dan kalau terlalu lama rebahan juga cape, dan bosan.
*******
Tidak ada bedanya dengan keluarga Lydia dan Arum yang langsung bersiap untuk datang ke pernikahan Mimin dan Hadi. Keluarga dokter Sera pun tidak mau ketinggalan. Mereka semua pun sibuk bersiap untuk menghadiri pernikahan Mimin, yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
Sedih campur bahagia itu yang dirasakan oleh Dokter Sera bersama dengan suaminya. Layaknya Mimin memang anak mereka sungguhan. Apalagi Dokter Sera adalah orang pertama yang menemani Mimin dari pertama pindah ke Jakarta dan langsung diserang sakit. Sehingga beliau sangat bahagia ketika mendengar kabar kalau Mimin akan menikah.
Tentu yang membuat mereka makin bahagia adalah calon suaminya, yang sudah mereka kenal dengan sifat baik, tanggung jawab, bisa memimpin Mimin ke jalan yang jauh lebih baik lagi, dan tentunya bisa menerima Mimin dengan kekurangannya. Sehingga Dokter Sera dan suaminya serta Orlin pun tenang kalau Mimin jatuh ke tangan yang tepat.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1