Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Harapan Mamih Mertua


__ADS_3

"Iko sayang sekarang Bunda udah wangi, dan udah siap mau cium Jagoan nih," ucapku dengan tangan kembali merentangkan dan juga Bibir yang siap untuk mencium jagoanku.


Namun, lagi-lagi Mamih Misel menahannya kali ini masih jauh juga tangan Mamih Misel udah diulurkan sebagai tanda aku tidak boleh mendekat lagi.


Lagi, dan lagi hati ini berkecil hati karena aku rasa Mamih Misel tidak memberikan akses untuk aku mengasuh jagoanku.


"Hust, jalanya pela-pelan jagoan kalian baru saja tidur," ucap Mamih  Misel dengan meletakan jari telunjuknya si depan bibir yang berwarna merah.


Aku pun kembali merasakan lega, karena pikiran buruk ini bisa ditepis dengan fakta yang ada nyatanya aku bukan tidak boleh mendekati jagoanku, hanya saja Mami Misel ingin agar aku berhati-hati untuk melangkahkan kaki agar tidak  mengganggu tidur jagoan kami.


Sesuai dengan yang Mami Misel mau, aku pun berjalan dengan sangat pelan, bahkan sangat pelan sekali. Agar jagoanku tidak terusik tidurnya.


"Iko baru saja tidur, dari tadi mungkin karena bukan dengan Bundanya tidak tidur-tidur dan kesenangan bermain, tapi begitu kamu datang Iko langsung tidur." Mami Misel mengajakku berbicara dengan suara yang setengah berbisik.


"Tapi Iko rewel nggak?" tanyaku, meskipun dari obrolan kami sejak tadi melalui sambungan telepon kalau Iko tidak rewel, tetapi rasanya ingin dengar langsung lagi dari mamih mertua.


"Rewel mah enggak dong hanya saja tidak mau bobo."


Aku pun sangat gemas ketika melihat gaya tidur jagoanku yang semakin hari semakin menambah cinta saja, rasanya berat banget kalau harus ninggalin Iko ya ini kadang tidur saja sudah membuat hati ini tenang.

__ADS_1



"Gimana kabar Mimin sekarang?" tanya Mamih Misel yang langsung membuat aku cukup terkejut, pasalnya aku pikir kalau mamih mertuaku tidak tahu keadaan Mimin, tetapi sepertinya kang mas bojo sudah menceritakan semuanya.


Aku menghirup nafas dalam dan duduk di samping mertuaku yang di pangkuannya ada baby Iko. "Mamih sudah tahu ceritanya tentang Mimin?" tanyaku lagi hanya ingin memastikan apa saja yang sudah Mamih mertua dengar dari Mas Aarav, pasalnya aku sendiri dari pagi tadi belum sama sekali menyinggung soal Mimin, tetapi sepertinya mami mertua sudah tahu banyak dengan kondisi ibu kandung Iko.


"Suami kamu sudah menceritakan semuanya pada kami, bahkan siapa suaminya sudah Aarav ceritakan, dan kami cukup kaget karena tidak menyangka malah anak dari laki-laki itu kamu yang merawatnya."


Aku melihat mami mertua seperti menghirup nafas dalam, dan seperti merasakan berat yang teramat.


"Mamih kira-kira keberatan tidak kalau anak laki-laki itu kami yang asuh?" tanyaku lagi ketika melihat raut wajah mami mertua seperti merasakan berat, aku hanya ingin kepastian untuk berjaga-jaga agar aku tahu bagaimana perasaan Mamih Misel ketika mengasuh Iko yang ternyata adalah anak dari David.


Aku melihat bibir Mamih Misel melengkung sempurna. "Meskipun kami dan keluarga Tuan Wijaya ada masalah dan lain sebagainya Iko adalah anak bayi yang tidak tahu apa-apa, kenapa Mamih keberatan untuk mengasuhnya, tentu Mamih tetap sayang dengan Iko, apalagi setelah mendengar cerita dari suami kamu, yang mereka seperti sampah di buang dari keluarga itu, tidak ada salahnya kita menolong untuk memberikan tempat berlindung dan tempat yang aman untuk Iko, lagi pula dia adalah anak yang baik, jadi Mamih tidak akan pernah keberatan untuk merawat Iko, dia anak yang malang yang perlu kita bantu."


"Lydia senang banget dengar jawaban dari Mamih Misel." Kembali aku menatap jagoan yang tetap tidur dengan nyenyak meskipun pastinya cukup bising dengan suara kami.


"Jadi bagaimana kondisi Mimin, sudah baikan dan untuk penanganan dokter bagaimana" tanya Mami Misel, yang mana aku justru lupa untuk menjawab pertanyaan yang itu.


"Oh astaga Lydia lupa jawab pertanyaan Mamih yang itu. Untuk kondisi Mimin apabila di tanya perkembangan kesehatannya masih belum terlalu mengalami perubahan yang berarti, tetapi ada yang membuat Lydia sangat senang dan sangat yakin kalau Mimin akan sembuh adalah, semangat Mimin yang jauh banyak sekali perubahannya, bahkan mungkin saat ini perkembangan untuk semangat Mimin yang ingin sembuh sangat berbanding terbalik dengan yang dulu seratus delapan puluh derajat perbedaanya. Kalau dulu Mimi hanya ada putus asa dan harapannya hanya satu yaitu kematian menghampirinya, kini justru ibu kandung dari Iko sangat bersemangat untuk sembuh."

__ADS_1


"Wah, bagus itu, kalau bersemangat seperti itu, tandanya cepat sembuh," balas Mami Misel yang mana pemikirannya sama dengan dokter Doni tadi. Bahwa obat yang paling mujarab sebenarnya ada dalam diri pasien, apabila ingin sembuh maka daya tahan tubuh meningkat dan imun tubuh naik bibit-bibir penyakit pun minder kalau mau lama-lama di tubuh pasien yang mana tidak mudah di tumbangkan, sehingga dari pada malu di kacangin lebih baik pergi.


"Oh iya Mih berhubung sebentar lagi mau lebaran bagaimana kalau besok kita bikin kue lebaran bareng. Mamih sudah punya kue lebaran belum?" tanyaku yang sebari mengisi waktu luang dan juga sembari mendekatkan diri dengan mami mertua. Meskipun selama ini sudah cukup dekat tapi apabila terlibat bikin kue bareng pasti lebih dekat lagi.


"Emang kamu bisa bikinnya? Kalau Mamih sih biasanya karena pengin yang simpel dan juga Mamih ini adalah tip mager jadi dari pada capek-capek bikin nastar yang satu-satu di cetak di oven oles-oles ribet mending beli, tapi kalau kamu bisa dan mau bikin boleh lah. Kita praktek, siapa tahu setelah Mamih bikin nastar dapat satu toples tahu depan bisa buka po untuk jualan kue lebaran," kelakar Mamih Misel yang langsung membuat aku tertawa, tetapi tenang tawa kami tidak sampai membuat jagoan bangun, bahan sekedar geser pun tidak, sepertinya Iko memang benar-benar cape sehingga istirahat pun sangat nyenyak.


"Kalau jago sih tidak Mih, hanya suka saja, kalau bikin langsung itu selain bahan-bahan yang kita gunakan tahu kualitasnya dan juga kalau bikin itu ada rasa kangen gitu kebersamaan saat lebaran yaitu bikin kue-kue khas hari raya," ucapku yang mana dalam pikiran ini aku sudah banyak  sekali menyusun deretan kue yang aku buat. Nastar, Nastar Nutella, kue putri salju kastengel dan yang menjadi favorit aku adalah thumbprint stroberi, bluberi dan masih banyak kue-kue khas lebaran idul fitri, tetapi ada yang lebih wajib ada di setiap lebaran yaitu rengginang, yah makanan ringan yang terbuat dari nasi ketan dan dibentuk lalu di jemur itu memiliki cita rasa yang khas sehingga rasanya hari raya tanpa rengginang, bagai toples bekas khong guan tak berpenghuni.


"Ok-ok kalau gitu  besok kita buat kue lebaran, kalau kamu memang bisa memang lebih  baik bikin selain hemat pasti kue buatan kamu jauh lebih enak dari pada yang biasa mamih beli. Tidak salah memang Aarav pilih istri semuanya serba bisa, Bahkan sejak kamu jadi menantu Mamih, rasanya Mamih ingin jadi bisa masak biar kita bisa duet di dapur untuk menghidangkan olahan yang lezat, tetapi sayang Mamih itu bukan orang yang sabar seperti kamu, Mamih sangat tidak bisa sabar membuat satu per satu masakan untuk di hidangkan, pokoknya Mamih ingin semuanya sudah siap ada di meja jadi tinggal makan."


Aku pun terkekeh mendengar ucapan Mamih Misel yang hidupnya selalu tidak suka di buat ribet, bahkan untuk makanan sja Mamih Misel tidak mau ribet.


"Yah, setiap orang memang beda-beda  dalam berpikir, Kalau Lydia itu merasa sangat senang kalau masak, apalagi kalau Mas Aarav senang rasanya lelah masak hilang sudah dengan melihat reaksi Mas Aarav ketika mencicipi masakan Lydia," balasku, dalam bayanganku membayangkan reaksi mas suami ketika makan makanan yang aku masak selalu puas.


"Yah, Mamih berterima kasih banget sama kamu, karena kamu bisa merawat anak Mamih dengan baik, Mamih senang dengan cara berpikir kamu, tidak ada henti-hentinya agar rumah tangga kalian diberkahi dan di berikan kebahagiaan yang sejati."


Amin....


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


# Ada yang mau ikutan bikin kue bareng Lydia besok?...


__ADS_2