
"Ayo kita masuk dan makan dulu, pasti kalian belum makan. Tadi Mamah sudah masak pas kalian bilang mau pulang."
Arum menggandeng menantu barunya dengan ramah dan mesra. Mengajaknya makan malam. Menikmati makanan spesial buatannya.
Rasa lapar yang sejak siang menghilang, kini ketika Arum memasakan masakan spesial untuk menantunya, rasa lapar pun langsung menghampiri Mimin. Dari tampilan masakan yang Arum masak tidak terlalu berbeda dengan masakan lainya, tetapi dari harumnya, langsung membuat air liur mengucur, tidak sabar rasanya Mimin mencicipi masakan hasil olahan tangan mertuanya.
''Ayo makan, ini Mamah yang masak buat kamu dan Hadi. Ini namanya sop jahe ayam kampung. Cocok untuk kamu dan Hadi , ini sambel teri kecombrang, kamu pasti suka, dan untuk Hadi tidak boleh makan ini dulu. Perut kamu masih harus makan yang lunak-lunak." Arum mengambilkan nasi lauk untuk menantu dan anaknya.
"Terima kasih Mas, ini malah jadi Mimin yang dilayani sama Mamah."
"Hist, tidak apa-apa, Mamah dan Papah sudah makan, lagian Mamah senang sekarang sudah nambah anak lagi. Kalian makan yang banyak biar cepat nambah cucu lagi, Mamah pengin punya cucu yang banyak," ucap Arum antusias banget anaknya mau malam pertama langsung minta cucu yang banyak. Sedangkan Ahmad yang duduk di sofa tidak jauh dari meja makan pun hanya menyimak obrolan istri dan menantunya, serta anaknya.
Padahal laki-laki paruh baya itu ingin kasih ramuan rahasia pada anaknya biar langsung jos, jadi kalau ngadon, tapi Ahmad masih ingat kalau Hadi baru saja operasi kalau dikasih ramuan turun temurun keluarganya bisa-bisa takut sakit lagi, karena pasti semalaman bawaannya pengin bikin adonan terus.
"Sebenarnya gampang Mah, kalau pengin dapat cucu banyak dan cepat," jawab Hadi dengan bibir mengulum senyum.
"Iya Mamah juga tahu, kalian adopsi anak," balas Arum menebak ucapan anak sulungnya.
"Ya enggaklah, lagian adopsi anak itu juga nggak sebentar dan gampang. Ada yang gampang dan ini dijamin nggak ribet-ribet," imbuh Hadi semakin menambah penasaran Arum.
__ADS_1
"Apa caranya, jangan kasih ide yang aneh-aneh," ancam Arum, wanita itu memang bercita-cita ingin punya cucu yang banyak dan rumahnya rame sama cucu-cucunya, jadi ketika masa tuanya dia tidak kesepian.
"Minta Handan nikah dengan janda, kalau perlu jandanya yang anaknya banyak dijamin langsung rame rumah Mamah seperti yang Mamah inginkan," usul Hadi dengan tertawa dengan renyah.
"Hist kamu itu Bang, ngajarainnya nggak bener, lagian janda mana yang mau sama adik kamu, playboy kaya gitu. Masa usia tiga puluh enam tahu masih saja belum ada tanda-tanda nikah, Mamah jadi khawatir dengan dia, jangan-jangan dia malah nggak suka cewek. Apa dijodohkan aja yah Bang, kamu dulu dua puluh tiga tahun sudah nikah, lah adik kamu tiga puluh enam tahun masih saja main-main." Arum jadi keinget anak bungsunya yang belum juga ada tanda-tanda bakal menyusul kakaknya.
"Ya mungkin memang lebih baik gitu Mah. Paksa aja biar nikah. Dia itu terlalu nyaman sendiri nanti malah kelewatan nyaman bisa makin suah lagi untuk nikah. Apalagi dia juga hari-harinya sibuk dengan kerjaan. Mungkin tidak ada waktu untuk cari calon suami makanya belum nikah-nikah." Hadi membayangkan kalau adiknya dijodohkan bagaimana hebohnya seorang play boy yang mantannya saja sulit buat di hitung, tapi nikah dijodohkan. Nanti malah gak. percaya kalau dia play boy.
"Ya udah nanti kalau Mamah dan Papah pulang bilang lagi sama Handan, dan mudah-mudahan kali ini dia mau kalau Mamah jodohkan, masalahnya adik kamu itu selalu tidak mau alasannya dia bisa menikah dan cari calon istri sendiri padahal kenyataanya, dia cari calon istri sampai umur tiga puluh enam tahun nggak ada tanda-tanda bakal bawa calon menantu untuk Mamah dan Papah."
Arum sangat senang ghibah anak bungsunya, sedangkan Handan di tempat yang berbeda telinganya langsung berdengung dengan kuat.
"Sial siapa ini yang lagi ghibah laki-laki tampan ini," gerundel Handan ketika telinganya berdengung, kata orang jaman dulu kalau telinganya berdengung itu tandanya ada yang ngomongin.
"Ya Mamah sih nggak masalah mau dia janda atau gadis, bagi Mamah yang penting cewek ya baik dan bisa sayang dengan Handan, Mamah akan terima dengan senang hati. Asalkan anak-anak Mamah bahagia, pasti akan dukung. Lagian malah Mamah dan Papah jadi rame kalau banyak cucu," balas Arum. Mimin sendiri yang hanya menyimak dari tadi lagi-lagi kagum dengan cara berpikir mertuanya yang sangat baik dan tidak macam-macam. Bahkan untuk memilih jodoh untuk anaknya tidak ada kriteria khusus, harus perawan harus kaya atau pekerjaan apa. Arum dan Ahmad benar-benar membebaskan anak-anak mereka mencari jodoh yang menurut mereka baik dan tidak macam-macam, serta bisa membahagiakan anaknya.
"Yah memang harus seperti itu Mah, karena yang anak menjalani rumah tangga adalah anak-anaknya jadi orang tua hanya perlu doakan."
"Coba kamu Bang, nasihati adaik kamu. Ya kali aja kalau kamu yang nasihati Handan bisa dengar dan serius bisa bawa menantu untuk Mamah dan Papah dalam waktu dekat," bisik Arum.
__ADS_1
"Atau mungkin Mimin, punya kenalan teman, saudara atau siapa gitu, kenalkan sama Handan, biarin deh mau janda atau perawan juga yang penting bukan istri orang. Mamah tidak masalah." Arum juga melibatkan obrolan perjodohan untuk anaknya.
Mendengar ucapan mertuanya, Mimin hanya mengulas senyum. "Pengin sih kenalin, tapi masalahnya tidak ada teman yang masih singel," balas Mimin.
"Kita tunggu aja Mah, satu atau dua tahun lagi biar Handan cari sendiri, tapi kalau ternyata tidak juga menemukan jodohnya, baru kita kawinkan rame-rame dia, Kalau perlu buat pengumuman buat cari istri buat Handan." Hadi terkekeh membayangkan adiknya di obral dengan murah.
"Hist kamu itu sama adiknya jahat banget. Udah ah, Mamah mau istirahat dulu, untuk bekas makan nanti ada bibi yang rapihkan kalian habis makan langsung olahraga aja, buat cucu yang banyak untuk Papah dan Mamah." Arum mengedipkan matanya pada Hadi dan juga Mimin.
Yang langsung membuat wajah Hadi panas seperti terbakar begitupun Mimin yang merasakan hal yang sama, malu. Itu yang Mimin rasakan, dari tadi udah coba tahan tapi malah kelepasan juga.
"Pah, kita istirahat yuk sudah malam, nanti malah kita ganggu anak kita." Arum masih saja senang sekali menggoda anak dan menantunya. Ahmad pun langsung beranjak dan mendekat ke meja makan.
"Kamu bisa pakai ramuan turun temurun keluarga." Ahmad akhirnya memberikan ramuan keluarga yang pasti bakal langsung jos dan segera menciptakan generasi penerus. Tangan Ahmad di bawah sana mengepalkan benda yang ia katakan ramuan keluarga ke tangan Hadi. Mau tidak mau Hadi pun di bawah meja mengambil pemberian Ahmad. Dan juga ingin membuktikan apakah ramuan turun temurun keluarga bakal benar-benar jos gendos atau justru hanya istilah saja, kenyataanya tidak ada.
"Kamu bisa minum satu saset setelah makan malam. Khasiatnya langsung bisa kamu rasakan. Ini ramuan tradisional jadi aman buat lambung kamu, tapi nggak aman buat adik kamu, " bisik Ahmad sembari tersenyum jahil, sebelum menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Mimin sendiri yang duduk berhadapan dengan Hadi pun tidak bisa begitu mendengar ucapan Ahmad. Karena ternyata dua orang itu sangat-sangat menjaga obrolan mereka.
Hadi pun hanya membalas dengan anggukan dan memasukkan ramuan rahasia turun temurun dalam keluarganya ke dalam saku celananya, ia akan minum nanti ketika sudah selesai makan. Biar cepat tercipta generasi penerus bangsa dan negara.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...