
Pagi hari di kediaman Mimin dan Hadi. Satu mangkuk rawon ikan patin dan sambal sudah terhidang dengan sempurna, ditambah dengan bakwan jagung menemani sarapan Mimin dan Hadi.
"Sayang ini namanya apa? Aku masih penasaran dengan apa yang kamu masak pagi ini." Hadi menunjuk makanan dengan kuah coklat itu.
"Itu namanya Rawon ikan patin, dan kata dokter Sera itu asalnya dari Jawa Timur. Coba deh apa Mas suka atau tidak." Mimin mengambilkan nasi dan rawon serta sambel dan bakwan jagung. Lengkap pokoknya bagaimana Hadi tidak makin cinta karena Mimin yang pandai masak dan. memanjakan dirinya.
Tanpa bertanya lagi Hadi pun langsung mengambil satu sendok makanan yang disebut rawon oleh sang istri. Kesan pertama makanan itu masuk ke dalam mulutnya ada aroma yang khas rempah-rempah yang cukup kuat, dan rasanya sekilas hampir sama dengan sop, tapi kuahnya lebih kental dan gurih.
Hadi mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya dengan pelan-pelan dan seolah dia adalah master chef yang sedang mencicipi makanan hasil olahan pesertanya.
"Bagaimana Mas, apa rasanya enak?" tanya Mimin dengan wajah yang napak cemas.
"Enak, hampir kaya kuah sop hanya saja ini rempah-rempahnya jauh lebih berasa dan kuat. Dan soal rasa kuahnya juga jauh lebih gurih. Ikan patinya pas tidak bau amis, dan tidak bauh tanah. Padahal biasanya ikan patin itu bau tanah dan itu cukup membuat Mas sebenarnya kurang suka dengan ikan patin, tapi kali ini kamu masak berhasil menghilangkan citra jelek ikan patin," ucap Hadi dengan detail menjabarkan apa yang dia bisa nikmati dengan masakan yang baru kali ini Hadi coba.
Mendengar pujian dari sang suami dan juga mendengarkan masukan yang terkandung dengan pujian. Mimin pun semakin senang. Inilah yang sesungguhnya membuat di sangat senang dengan memasak karena Hadi benar-benar menghargai masakan yang Mimin olah. Dia menikmati setiap masakan hasil sang istri dan bisa menjabarkan rasa dengan sangat detail sangat mirip dengan seorang kometator makanan.
Pagi ini mereka pun sarapan dengan hangat dan tentu sesekali terlibat candaan di antara obrolan mereka. Setelah sarapan dan olahraga tipis-tipis. Mimin dan Hadi pun langsung menuju ke rumah Lydia untuk mengambil Iko dan melepas kangen dengan Azam dan Azura.
"Mamah ...." Seperti biasa Iko kalau mamah dan babanya datang dia pasti akan lari untuk menghampirinya dengan lari kencang dan merentangkan tangannya.
"Iya Sayang. Iko nakal nggak?" tanya Mimin dengan memeluk anaknya setelah itu pun bergantian Hadi yang menggendong anak sulungnya.
"Tidak Mah, Dede Zura sakit Mah. Semalam nangis telus muntah-muntah." Iko langsung menceritrakan bagaimana kondsi adik yang cewek.
__ADS_1
"Hah Adik Zura sakit, kasihan sekali. Yuk kita lihat." Mimin tanpa menunggu lama pun langsung masuk ke rumah sahabatnya dan mencari di mana keberadaan adik kecilnya Iko yang di bilang sakit itu.
"Zura sakit Lyd?" tanya Mimin sembari melihat kondisi Zura di mana mereka sedang berkumpul di ruangan keluarga.
"Tidak, kata siapa sakit?" tanya balik Lydia yang justru kaget karena Zura nggak sakit.
"Adik kecil nggak sakit Abang, kata Abang Iko tadi Adik Zura sakit," ucap Mimin menatap Iko yang juga nampak bingung.
"Semalam Adik Azura nangis terus muntah. Iya kan Bun." Iko menatap Lydia seolah meminta bantuan agar Lydia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh itu, bukan muntah Abang, tapi olab atau gumoh. Biasa kalau bayi abis minum susu suka gumoh. Dan pas gumoh kena tangan Iko yang sedang pangku Zura, dan Iko yang jijik pun teriak. Alhasil Zura kaget dan nangis deh. Tapi bukan sakit yang gimana-gimana kok itu biasa saja kan selama kita pun anak memang gitu," jelas Lydia dan di balas dengan O secara bersamaan oleh Mimin dan Hadi. Jadi bukan Aura yang sakit tapi hanya salah sangka ajah.
Seperti biasanya Mimin pun langsung mengasuh baby kembar. Sebelum mengajak Iko pulang.
"Oh iya, ngomong-ngomong kalian kapan mau pulang ke Kalimantan?" tanya Lydia sembari membuatkan jus untuk Mimin dan Hadi. Meskipun ada asisten rumah tangga tetapi Lydia tidak pernah manja apa-apa selalu di kerjakan sama orang. Selagi dia bisa makan Lydia akan mengerjakannya sendiri.
"Oh ya udah tidak apa-apa. Nikmati hari kalian. Lagian Iko juga anak kalian kalau mau ajak nggak apa-apa. Tapi aku dan Mas Aarav dan anak-anak sama mamih dan papih mudah-mudahan tidak ada halangan dan bisa hadir diacara kalian."
"Amin." Mimin dan Hadi membalas dengan bersamaan.
"Ngomong-ngomong Aarav ke mana kok tumben sepi." Yah kalau ada Aarav malas karena jahil tapi kalau tidak ada Aarav sepi juga rasanya.
"Mas Aarav sedang ke kantor katanya ada kerjaan yang harus dikerjakan. Tapi nggak lama kok hanya sebentar saja," ucap Lydia.
__ADS_1
Pukul empat Hadi dan Mimin pun pamit, tentu kali ini ada Iko yang ikut dengan mereka.
"Sayang, sekarang Iko kan mau ke rumah kakek dan nenek, Iko jangan rewel yah. Iko jangan nakal, dan jangan nangis. Nanti Bunda, Papah dan adik bayi nyusul Iko yah," ucap Lydia menasihati putra sulungnya dengan hati-hati.
"Siap Bunda Iko tidak akan nakal, nangis dan lewe. Da-dah Bunda, Papah adik bayi. Abang mau naik pesawat." Iko nampak sangat bahagia banget dengan rencana baba dan mamahnya yang akan mengajaknya naik pesawat. Maklum lagi-lagi ini adalah pertama kalinya Iko akan naik pesawat. Biasanya hanya bisa menonton TV, tapi kali ini dia benar-benar akan naik pesawat.
Kini Mimin dan Hadi serta Iko sudah ada di dalam mobil. "Iko senang mau ketemu kakek dan nene?" tanya Mimin, yang melihat Iko kaya tidak sabar.
"Senang Mamah, nanti abang mau naik pesawat," ucap Iko yang jauh lebih suka ketika naik pesawatnya dibandingkan ketemu dengan kakek dan neneknya. Mungkin karena sudah biasa berkomunikasi melalui sambungan telepon sehingga Iko pun tetap merasa dekat dengan kedua kakek dan neneknya.
"Selain pengin naik Pesawat, Abang mau naik apa lagi?" tanya Hadi dengan serius.
"E ... apa yah." Iko nampak berpikir dengan sangat serius.
"Abang mau naik pelahu, naik beko, naik mobil pemadam, naik forklift, mau naik bus yang tinggi, naik keleta, naik mobil molen, naik, tanki, sama naik bajai." Dengan antusias Iko menjelaskan ia ingin naik apa saja.
Hadi dan Mimin pun saling pandang, lalu tertawa sendiri mendengar ucapan Iko.
"Ya udah nanti di Kalimantan kita naik perahu beko dan buldozer." Yah, mengingat orang tuanya pun pabrik penggalian batu bara jelas alat berat sudah jadi alat yang wajib dimiliki.
"Selius Baba.... " Iko menatap Hadi dengan wajah berbinar bahagia.
"Benar Sayang."
__ADS_1
Bersambung....
...****************...