Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Dua Chef Dadakan


__ADS_3

Tidak ada hentinya wanita berhijab panjang yang sedang duduk tersenyum dan kagum dengan sang suami dan mami mertua yang nampak kompak masak makanan yang entah seperti apa rasanya nanti. Wanita itu benar-benar membiarkan mami mertuanya dan sang suami memasak yang bermodal internet. Lydia pun terus mengabadikan momen yang langka ini, bahkan wanita itu sempat mengirimkan gambar sang suami dan juga mami mertuanya masak bersama pada grup keluarga yang langsung hampir semua iparnya tidak percaya kalau sang sodara laki-laki mereka dan sang ibu mau ke dapur hanya untuk masak.


[Ini serius sang Nyoya besar dan anak laki-laki nya masak di dapur?]


[Foto ini bukan editan kan? Kayaknya nggak mungkin banget Nyonya besar dan anak laki-lakinya mau masuk dapur]


[Fix, kita bakal dapat anggota baru. Aarav lagi ngidam masak sama Momy.]


[Aku sih nggak yakin kalau hasil masakanya bisa dimakan, aku juga takut nanti habis makan masakan mereka langsung pada sakit perut.]


Itu adalah serangkaian pesan yang di kirimkan oleh sodara perempuan Aarav begitu melihat kalau Aarav dan sang ibu mau masak di dapur. Mereka bahkan sangat tidak yakin dengan rasa masakan dari Aarav dan ibunya. Lydia jadi kembali teringat kalau dia ingin mengetes dirinya benar hamil atau tidak, bukan hanya mami mertuanya yang menuduh bahwa dirinya hamil, bahkan iparnya juga menuduh kalau dia hamil. Apa ciri-ciri orang hamil suaminya mau masak? Batin Lydia setelah membaca pesan dari iparnya.


"Jangan-jangan aku beneran hamil," batin Lydia dengan tangan kanan mengusap perutnya yang masih rata. Wanita itu ingin membuktikan ucapan mami mertua dan iparnya, tetapi Lydia tidak ingin meninggalkan momen di mana sang mertua dengan suaminya sedang heboh dengan pekerjaannya. Bahkan Lydia membiarkan sang jagoan diasuh oleh asisten rumah tangga demi dia bisa terus melihat dua chef baru yang sedang duet masak.


Sesuai yang Lydia inginkan wanita itu tidak beranjak sedikit pun dari duduknya, karena dia benar-benar menjadi penonton yang ingin menyaksikan suami dan mertuanya masak hingga selesai, bahkan tidak jarang Lydia terkekeh dengan kelakuan ibu dan anak itu, terutama ketika mereka berdebat soal nama bumbu dan gunanya. Dua orang yang hampir tidak pernah masak, tiba-tiba masuk dapur dan masak yang cukup rumit dan prosesnya panjang.


Maklum mereka bukan tipe penunggu dapur sehingga nama bumbu-bumbu untuk masak mereka benar-benar banyak yang tidak tahu. Terima kunyit, jahe jurus andalan mereka tentu bertanya pada internet bagaimana ciri-ciri bumbu yang akan dipakai.


"Alhamdulillah akhirnya setelah hampir setengah hari masak, jadi juga masakan ini," ucap Mami Misel dengan merentangkan tanganya yang mungkin tubuh wanita paruh baya itu kaku karena memasak.


"Besok-besok Aarav tidak akan mau masak lagi dengan Mami, bau bawang dan itu rasanya sangat menyiksa," imbuh Aarav dengan beberpa kali mencium tanganya yang laki-laki itu sebut bau bawang itu.


"Pantas saja Lydia lihat Mas bolak balik cuci tangan itu karena nggak mau bau bawang?" tanya Lydia dengan setengah meledek pada suami yang sejak tadi beberapa kali terlihat mencuci tanganya, dan juga beberpa kali mencium tanganya yang tidak terbiasa masak dan mencium bawang yang mentah membuat Aarav menyerah untuk ke dapur lagi.

__ADS_1


"Emang kamu aja yang tidak suka bau bawang. Momy juga tidak suka bau bawang dan sebagainya, tapi demi kamu Mami lakuin, dan sekarang seharusnya kamu beri hadiah untuk Mami," sela Mami Misel yang langsung di sambut kelak tawa lagi oleh Lydia yang mendengar jawaban yang Mami.


"Kalau gitu kita makan Mam, Mas, Lydia tidak sabar ingin mencicipi masakan dari Mami dan juga Mas Aarav, kalau dari harumnya sih Lydia yakin akan enak sekali." Lydia pun langsung membantu sang suami dan mertuanya untuk menyiapkan masakan hasil olahan mereka. Yang hampir saja menghabiskan waktu setengah hari untuk menyiapkan hidangan yang kalau dilihat dari bentuknya tidak terlalu buruk dan itu pastinya Mami Misel dan Mas Aarav memang sangat handal dan bekerja keras.


"Tapi kenapa Mas malah seperti tidak yakin kalau masakan hasil tangan kita akan enak dimakan." Aarav justru terkekeh dengan masakan hasil mereka debut di dapur.


"Mas jangan ngomong gitu, Lydia yakin sekali masakan yang Mas dan Mami masak pasti rasanya enak," balas Lydia yang tidak ada hentinya selalu memberikan semangat untuk sang suami dan mertuanya. Selagi tidak bikin sakit perut itu tandanya berhasil.


"Yah, yang kamu katakan betul. Aku harus yakin kalau Mami dan aku pasti punya bakat terpendam, mungkin setelah ini kita akan membuat restoran," kelakar Aarav yang langsung memacing gelak tawa atara tiga orang itu, jangan ditanya tentang Iko, karena kalau di rumah sang Opa dan Omanya pasti anak itu sangat betah di taman belakang bermain dengan binatang pliharaan yang Opa, ada ikan, burung, kura-kura, kelinci, dan kucing.


Nih jagoan yang sedang asik dengan si rabit



"Nomer satu paling enak atau paling ancur? Kayaknya sih nomer satu ratting jelek," sela Papi Sony yang ternyata langsung memutuskan pulang ketika tahu kalau sang istri dan anaknya sedang masak. Laki-laki paruh baya itu tidak mau ketinggalan ikut menikmati hasil masakan yang pasti sangat sepesial itu.


"Loh Pih, kok udah pulang?" tanya Mami Misel dengan wajah merahnya, seolah wanita paruh baya itu tahu tujuan sang suami pulang tidak lain dan tidak bukan pastinya ingin mencicipi masakan yang diolah oleh chef dadakan.


"Iya Papi ingin mencoba masakan Mami dan juga Aarav, apakah layak untuk buka restoran atau tidak." Laki-laki paruh baya itu pun nampak tidak sabar ingin ikut merasakan hasil masakan anak dan istrinya, masakan super sepesial yang dimasak dengan penuh cinta.


"Kalau gitu kalian makanlah. Mami mau temenin Iko kasih makan kelinci."


"Loh Mi, kok tidak ikut makan, Iko bisa ditemani oleh Bibi, sekarang Mami ikut makan lah, tidak enak dong kalau Mami tidak ikut makan, bahkan Papi rela pulang untuk menikmati makan bersama masa Mami malah tidak ikut makan," balas Papi Sony yang menahan istrinya agar tidak pergi ke mana-mana dan tetap di meja makan untuk makan bersama.

__ADS_1


"Mami tidak siap mendapatkan pujian dari Papi dan Lydia, biarkan Aarav saja yang di puji," balas Mami Misel dengan sangat percaya diri. Sesuai yaang mereka inginkan akhirnya mereka pun tetap makan bersama.


"Gimana Mas?" tanya Lydia pada Aarav orang yang sangat antusias untuk makan dengan hasil masakan sang ibu.


"Enak, Mas suka masakan Mami ternyata enak," balas Aarav, dengan semangat dan nampak laki-laki itu makan dengan lahap. Bahkan Lydia lupa tidak makan, saking senang melihat suaminya makan dengan lahap.


Papi Sony yang tergiur ketika melihat Aarav yang makan dengan lahap pun mencicipi masakan spesial itu.


"Tidak enak yah Pi?" tanya Mami Misel dengan dahi mengkerut, bersiap mendapatkan kritikan dari sang suami.


"Tidak terlalu buruk," balas laki-laki paruh baya itu.


"Tapi kok, Papi kunyahnya pelan sekali, tidak seperti Aarav. Kalau Papi kaya makan masakan yang tidak enak," tanya Mami Misel lagi.


"Ini bukan tidak enak Mam, tapi Papi ingin merasakan masakan ini dengan pelan, jadi bisa menghayati rasanya," balas Papi Sony dengan senyum manis terkembang dengan sempurna.


Lydia yang sangat penasaran pun ikut mencicipi masakan yang di bilang enak itu.


Uhuk...Uhukk.. Lydia langsung terbatuk ketika satu sendok masakan masuk ke mulutnya.


#Nah loh kira-kira benar-benar enak atau justru sebaliknya tuh masakan dari dua chef dadakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2