Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kado dari Abang Iko untuk Baby Twins


__ADS_3

Pukul dua siang Mimin terbangun lebih dulu. Tangannya terasa kebas, ia meringis karena merasa ada yang me'nin'dih bagian lengahnya. Dengan perlahan wanita cantik itu pun perlahan membuka matanya. Mimin mengembangkan senyum bahagia ketika melihat apa yang membuatnya tangannya kebas.


Yah ada Iko yang ternyata tengah tidur di sampingnya, dengan beralaskan lengannya sang ibu. Padahal sudah bebearapa kali Hadi pindahkan pada bantal, tetapi tidak juga mau, anak tampan itu akan memilih lengan sang mamahnya kembali tidur seolah itu menjadi tempat paling nyaman.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" Suara Hadi kembali mengagetkan Mimin. Ia pun membalas dengan jari telunjuk diletakan di depan bibirnya, memberi kode agar Hadi tidak kencang-kencang saat memanggilnya.


"Sudah, Iko lagi tidur jangan berisik." Momen seperti ini memang bukan untuk yang pertama kalinya, tetapi tetap membuat Mimin bahagia karena bisa melihat putranya nyaman dengan dirinya. Wanita itu pernah berpikir dan merasa takut ketika ia nantinya tidak bisa lagi melihat Iko yang dekat dengan dirinya. Namun, semuanya tidak terjadi Mimin tetap bisa merasakan rasa yang sama dengan ibu diluaran sana.


Hadi pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mengulum senyum. Lalu kembali bekerja. Membiarkan istri dan anaknya menikmati kebersamaannya.


Sementara Mimin sembari menunggu Iko bangun. Ia membuka ponselnya, betapa terkejut, bahagia dan menyesalnya dia baru tahu kabar bahagia yang Lydia bagikan. Apalagi foto anak-anak Lydia sangat menggemaskan.


"Mas, Lydia sudah lahiran. Anaknya lucu-lucu banget." Saking bahagianya Mimin malah membuat kegaduhan, dan benar saja Iko yang justru terbangun dan menangis karena merasa tidurnya terganggu. Mimin sampai salah tingkah dan menggaruk kepalanya karena merasa bersalah, karena kelepasan.


Ia langsung meletakan ponselnya dan coba memangku Iko dengan pelan-pelan diusap pelan punggungnya agar Iko jangan nangis. Begitu pun Hadi yang langsung menghampiri Iko agar anaknya tidak nangis.


Hadi bersimpuh di hadapan Mimin yang sedang duduk di atas sofa dengan memangku Iko. "Jangoan jangan nangis. Iko sudah jadi abang, adik-adik Iko sudah lahiran? Iko mau lihat adik-adik Iko seperti apa?" Hadi dengan pelan membisikan kata-kata yang ia yakini Iko pasti tidak akan nangis lagi.


Benar saja Iko langsung mengangguk dan mengusap air matanya, dengan sangat menggemaskan. "Mau lihat, Baba." Iko menjawab masih dengan nada tangisannya yang masih tersisa.


"Ya udah, sini Abang duduknya bareng Baba. Mamah kasihan perutnya masih sakit." Hadi mengambil alih Iko lalu memangkunya.


"Enggak kok Mas, sekarang perut Mimin sudah tidak sakit lagi. Sudah enakan. Kayaknya benar deh kata dokter Mirna kalau aku hanya cemas jadi bikin memancing rasa yang sakit seperti orang akan melahirkan," adu Mimin, yang sekarang merasa jauh lebih segar. Benar kata orang lebih baik mengalami sendiri saat lahiran tidak terlalu cemas dan tidak akan mulas-mulas juga, berbeda dengan mendengar akan menyaksikan ikutan mulas dan lain sebagainya. Itu yang Mimin rasakan.


"Ya udah setelah ini kita ke rumah sakit. Nanti tapi sebelumnya kita ke mall dulu cari kado untuk Azzam dan Azzura."


'Wah, Mas sudah tahu namanya? Beruntung banget yah Lydia punya anak sekaligus dua, cewek sama cowok lagi sepasang. Jadi pengin punya anak cewek juga," balas Mimin tidak sabar ingin hamil lagi.


"Ya udah nanti kalau habis dari rumah sakit kita bikin lagi biar cepat jadi yang kaya punya Aarav dan Lydia." Nah, Hadi kalau soal produksi pasti tetap nomor satu. Maklum pabrik sudah sepuluh tahun libur produksi baru mulai produksi baru-baru ini lagi semangat-semangatnya.

__ADS_1


"Ok, mau dua yah." Mimin langsung membisikkan semangat di belakang telinga Hadi.


"Satu ajah cukup kok, kan udah ada Iko, nanti kalau kurang nambah lagi. Jangan langsung dua, satu-satu aja yang penting sehat." Hadi membalas dengan senyum yang menggoda.


"Ya udah nanti sekalian ke rumah sakit kita periksa ke dokter SPOG yah, apakah subur atau tidak rahim Mimin," balas Mimin dan langsung di balas anggukan kepala oleh Hadi, Baba mah setuju aja pokoknya kalau soal produksi mochi.


"Baba, apa ini adik Iko?" tanya Iko ketika melihat adik bayi yang lucu dan menggemaskan sekali.


"Iya Sayang itu adik bayi Iko. Mau ketemu nggak sama adik bayi?" tanya Hadi. Yang langsung dibalas anggukan semangat oleh Iko.


"Ya udah kita langsung siap-siap pulang karena kita akan ke mall, untuk beli kado adik bayi," balas Hadi yang langsung di balas 'Yes' oleh Iko dan langsung turun sembari berjingkrak-jingkrak karena ia akan bertemu adik bayinya.


"Mamah, ayo kita ke mall. Kita mau lihat adik bayi Mamah, adik bayinya lucu banget." Iko langsung menarik-narik tangan Mimin agar cepat bangun segera berangkat untuk beli kado dedek bayi.


'Ayo Sayang." Mimin langsung merapihkan pakaianya dan juga memakai kembali niqab yang sejak tadi di buka.


"Mas tidak apa-apa pulang lebih awal?" tanya Mimin.


Kalau biasanya Mimin dan Hadi akan berjalan secara beriringan dan tidak banyak menarik perhatian. Kali ini yang berpapasan dengan Mimin dan Hadi pun sudah mulai memberikan tatapan yang banyak mengandung pertanyaan. Namun, Hadi dan Mimin tetap slow, biarkan mereka berpikir dan menebak-nebak sendiri. Bukan tidak ingin memberikan kabar bahagia ini, tetapi mereka berpikir sebenarnya lagi baik Mimin dan Hadi akan mengadakan resepsi dan itu dianggap sudah cukup untuk memberitahukan kabar bahagianya, dan juga mejawab pertanyaan yang pastinya banyak yang pertanyakan.


Tidak harus menempuh perjalanan yang lama dan macet-macetan. Kini Pak super sudah memarkirkan mobil di sebuah loby mall yang ramai dan besar. Sama seperti saat di kantor. Iko langsung atusias berjalan paling depan dengan Hadi dan Mimin di belakangnya tentu tetap dengan pengawasan Mimin dan Hadi.


Hadi dan Mimin membiarkan Iko yang memilih kado untuk adiknya bayinya. Mereka tidak ingin merusak kebahagiaan Iko untuk memilihkan kado untuk adik-adiknya. Meskipun Hadi dan Mimin juga tetap memilihkan kado yang menurut mereka penting dan akan di pakai nantinya oleh anak Aarav dan Lydia.


"Baba adik bayi mau ini." Iko mengambil mobil-mobilan yang bisa dikatakan itu bukan adik bayi yang mau, tapi abangnya yang menginginkannya.


"Ya udah Iko pilih apa yang adik bayi mau. Nanti Abang kasih untuk adik bayi yah." Hadi membiarkan Iko berlari mengambil apa yang kata dia mau untuk adik bayinya. Meskipun apa yang Iko beli bisa dikatakan bukan kebutuhan adik bayinya, tapi untuk dia sendiri.


Yah, kereta panjang dengan pengeluaran terbaru, mobil-mobilan dan masih banyak lagi mainan yang bisa dipastikan akhirnya yang menggunakannya adalah abang Iko juga.

__ADS_1


"Mas lihat Iko belinya masa kaya gitu semua. Itu kan malah buat mainan Iko." Sebagai seorang ibu tentu jiwa ibu-ibunya keluar termasuk membeli barang yang tidak perlu, termasuk mainan yang harganya tidak murah dan bukan untuk kebutuhan si kecil.


"Tidak apa-apa, biarkan Iko mengepresikan sayangnya pada adik-adiknya meskipun diawali dengan memilihkan kado yang menurutnya adik-adiknya akan suka. Itu sudah menunjukan kasih sayang dia sama adiknya. Biar dia bahagia juga, menyambut adiknya. Dan hal seperti ini pasti akan dia rasakan kalau punya adik baru lagi. Karena ia akan memiliki kesempatan untuk membeli yang menurut dia suka dan adiknya akan suka. Itu tandanya dia sudah bisa berpikir cara membahagiakan adik-adiknya. Meskipun apa yang dia pilih salah. Tapi semakin besar nanti dia akan tahu mana yang dibutuhkan adiknya dan mana yang tidak." Hadi mencoba menjelaskan kenapa dia tidak melarang Iko membeli barang yang tidak dibutuhkan oleh adik bayinya. Justru bisa dikatakan dia yang akan menggunakannya.


"Tapi itu namanya pemborosan," balas Mimin dengan suara pelan, biasa yah jiwa emak-eman mau sultan atau rakyat miss qween tetap saja sama, akan sayang kalau uangnya dipakai buat hal-hal yang tidak terlalu penting.


"Tidak apa-apa, kan kerja juga buat anak istri," balas Hadi dengan santai, dia yang duit tinggal cetak tentu uang untuk membeli yang Iko ambil tidak akan mengurangi koma dalam digit saldonya.


"Ya udah lah terserah Mas saja, tapi nggak boleh sering-sering loh pemborosan kaya gini," ancam Mimin dengan tatapan yang mematikan.


"Iya Nyonya Hadi Al Husain...." Hadi memeluk Mimin mumpung toko perlengkapan bayi masih sepi, dan Iko di depan sana masih antusias mengambil apa pun yang kata dia cocok untuk adik-adiknya.


Dua troli berisi kado untuk Azzam dan Azzura. Yah satu troli pilihan dari abang Iko yang berisi mainan untuk adik-adiknya, satu troli lagi pilihan dari baba Hadi dan Mamah Mimin, dan tentu ini jauh lebih bisa digunakan nantinya, karena sudah diseleksi dengan ketat.


"Iko senang?" tanya Hadi ketika tak henti-hentinya anaknya tersenyum dan jingkrak-jingkrak ketika kado pilihannya di bungkus kertas kado.


"Seneng Baba. Terima kasih." Anak itu. sangat antusias dengan barang-barang yang berhasil ia beli untuk adik-adiknya, katanya.


Bersambung....


seperti ini kira-kira barang yang abang Iko beli.




Nah ekspresi Abang kira kira seperti ini.


__ADS_1


...****************...


__ADS_2