Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Korban Peram'pok


__ADS_3

"Tuan Hadi...."


Laki-laki yang sejak tadi entah berapa balik berjalan di ruangan IGD untuk memastikan wanita yang ia tolong baik-baik saja. Ia langsung mengangkat wajahnya dan berjalan dengan tidak sabar menghampiri laki-laki berjas putih yang memanggilnya.


"Kondisi teman saya saat ini gimana Dok?" tanya Hadi dengan wajah cemasnya.


"Kondisi pasien sudah kembali normal, beruntung Anda datang tepat waktu sehingga ia tidak sampai kehilangan nyawanya. Cekikan hanya mengakibatkan pasokan oksigen menipis dan mengakibatkan pingsan, menurut pemeriksaan tidak ada yang harus dikhawatirkan semuanya sudah kembali normal," jelas laki-laki paruh baya itu.


"Untuk visum yang saya minta bagaimana Dok? Apa semua bukti bisa mengarah pada kejahatan?" Bukan tidak mungkin David akan melakukan pembelaan sehingga Hadi harus menyiapkan bukti sekecil apapun, agar tidak ada celah untuk David melakukan pembelaan.


"Visum sudah kami lakukan semua, yang terjadi hanya luka luar, kecemasan yang Anda katakan tidak terjadi, alias laki-laki yang Anda maksud, belum sempat melakukan pelecehan, tetapi untuk luka di kulit wajah, yang di sebabkan tamparan, dan luka di pergelangan tangan dan leher saya rasa sudah cukup kuat untuk membuat bukti, kalau laki-laki itu akan melakukan perbuatan yang kurang menyenangkan, dan bisa juga dengan tuduhan pembunuhan berencana. Luka dileher, dan sudah cukup kuat kalau laki-laki itu menginginkan teman Anda meninggal."


Hadi mengusap dadanya lega, karena apa yang dia takutkan tidak terjadi. Ia akan semakin merasa sangat bersalah kalau sampai apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, alias David memaksa melakukan hubungan suami istri. Meskipun ini belum sepenuhnya terlepas dari rasa lega, tetapi setidaknya ada setitik harapan kalau ia bisa memberikan pelajaran pada laki-laki itu.


"Apa sekarang saya sudah bisa menjenguk pasien Dok?" tanya Hadi, ia ingin memastikan kalau karyawanya baik-baik saja.


"Anda boleh temu pasien sekitar sepuluh menit lagi di ruang rawat, sekarang pasien sedang di pindahkan ke ruangan rawat, dan mohon untuk menjaga dengan baik karena bukan tidak mungkin akan ada orang yang melakukan hal yang sama pada pasien selama di rumah sakit. Tentu kami dan pihak keamanan rumah sakit akan melakukan penjagaan yang ketat juga, tetapi alangkah baiknya ada kerja sama dengan Anda juga." Laki-laki berjas putih itu pun  memastikan agar Hadi tidak lalai menjaga Mimin, yang diketahui menjadi korban pembunuhan berencana, tetapi berhasil digagalkan.


"Baik Dok, Anda jangan khawatir, saya akan pastikan semuanya baik-baik saja."


Setelah memastikan kalau obrolan dengan dokter semuanya baik-baik saja. Kini Hadi pun duduk untuk menunggu kalau wanita yang ia tolong siap untuk dijenguk, tanganya merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang selama ini ia percaya untuk mencari tahu tentang Jono, laki-laki yang pernah dituduh berselingkuh dengan Mimin.


[Ada apa Bang?] tanya seseorang dari tempat yang berbeda.


[Yang kemarin gue minta gimana?]


[Soal Jono? Mandor di perkebunan sawit milik keluarga Wijaya?]


[Emang ada lagi yang lain? Perasaan aku mintanya hanya itu.]


[Beres, gue udah punya kontaknya. Kenapa kayaknya penting banget?]


[Loe datang ke Jakarta dan bawa laki-laki itu sekalian ada tugas penting!]


[Gila loe Bang, gue di sini juga ada banyak kerjaan banyak kasus yang gue hadapi di sini,]


[Kasus ini lebih penting, soal pembunuhan berencana, bukanya loe paling senang mengungkap kasus yang penuh teka-teki seperti ini?] Hadi tahu betul adiknya lebih tertantang dengan masalah-masalah yang rumit dan butuh ketelitian.

__ADS_1


[Korbanya siapa? Orang biasa atau orang penting? Kalau biasa serahin sama pengacara wilayah sana aja. Kalau penting gue ambil.]


[Sombong banget punya adik juga, mentang-mentang klien-nya kelas kakap ngadapin yang biasa nggak mau. Ini jauh lebih penting,] jawab Hadi dengan bersungut.


[Pejabat atau pebisnis?]


Ck, Hadi mengecap bibirnya dengan kencang, males banget sebenarnya meminta bantuan sang adik, tapi hanya Handan yang bisa membantu dirinya, karena Hadi percaya Hadan tidak mungkin bisa ditawar dengan materi.


[Perampok!!] jawab Hadi dengan ketus.


Krikkk... Krikkk...


Cukup lama tidak ada jawaban dari sang adik.


[Kenapa masih nggak mau bantu?] tanya Hadi kembali.


[Enggak heran aja, sejak kapan loe mau bantu perampok untuk mendapatkan keadilan? Bukanya perampok itu sudah masuk kejahatan, konsekuensinya, kalau tidak dibunuh ya masuk bui. Tapi kenapa loe ngotot banget bantu dia? Loe termasuk ke dalam korbannya atau pelakunya] tanya Handan, sesuai dengan kemauan Hadi adiknya sudah tertarik dengan kasus yang dia bilang.


[Iya, dan gue korbannya] Kembali Hadi justru membuat Handan berpikir berat.


[Makanya loe datang ke sini, bawa tuh si Jono, ada hubungannya sama laki-laki itu juga.]


[Ini loe serius kan, kalau loe jadi korban perampokan? Kalau cuma ngarang cerita gue nggak mau yah, kerjaan gue di sini juga nilainya tidak kecil.] ancam Handan.


[Yang di sana pegang sama tim loe dulu, sementara waktu loe bantu gue, janji ini kasusnya penuh dengan tantangan,]


[Ya udah deh, lusa gue terbang ke sana, setelah membereskan masalah di sini. Tapi awas aja kalau ngeprank gue.]


[Iya, bawel!]


Nut... Nut...


Hadi pun terkekeh ketika dengan gampang bisa membuat adiknya datang ke Jakarta untuk membantu masalahnya. Ya, meskipun kalau Handan tahu kalau perampok yang dia maksud adalah perampok hati, pasti adiknya bakal marah besar, tetapi lebih baik dimarahin oleh adiknya dari pada kasus ini dipegang oleh pengacara yang ia sendiri belum tahu kinerjanya. Bukan tidak mungkin di Jakarta juga banyak pengacara yang jujur dan amanah, tetapi Hadi tetap lebih percaya pada Handan, selain dia tidak mungkin bisa dibeli dengan uang, adiknya itu yang sebenarnya bertugas di pulau Kalimantan tentu Hadi sudah sangat paham, tahu bagaimana kecurangan perusahaan keluarga Wijaya beroperasi. Seolah sudah menjadi rahasia umum, bagaimana para pemilik kebun kelapa sawit besar bergerak hingga bisa memiliki untung yang berkali-kali lipat.


Mulai dari menekan pekerja agar pengeluaran untuk upah karyawan tidak membengkak, kesejahteraan pekerja yang masih minim, mereka tidak pernah memberikan jaminan kesehatan untuk para pekerja meskipun itu seharusnya diterapkan. Yang penting untung besar, dan masih banyak lagi yang mereka tutupi dengan mengandalkan uang.


Setelah memastikan kalau Handan bisa datang ke Jakarta, dan juga orang yang Mimin cari sudah ketemu. Kini Hadi pun akan menemui Mimin dan memastikan kalau dia baik-baik saja.

__ADS_1


Dengan pelan Hadi membuka pintu berwarna putih. Padangan Hadi dan Mimin bertemu.


"Aku senang kamu tidak kenapa-napa," ucap Hadi sembari mengulas senyum samar.


"Terima kasih, sudah membantu saya. Di mana laki-laki itu sekarang?" balas Mimin dengan suara lemahnya.


"Dia dalam tempat yang seharusnya."


"Penjara...?" tanya Mimin dengan suara yang lebih berat  dari sebelumnya.


"Hanya tempat itu yang pantas untuk David bukan?"


Mimin mengangguk lemah dengan pandangan mata menunduk. "Saya masih tidak percaya kalau dia bisa melakukan ini semua."


"Kamu harus lebih berhati-hati lagi. Cukup sekali kamu seperti ini, jangan sampai ada kesempatan lagi untuk laki-laki itu membuat hal yang jauh lebih buruk lagi. Tapi kamu tenang saja, dia tidak akan bisa bebas, ini sudah masuk kriminal. Kamu harus menjadi saksi untuk kasus ini. Laki-laki itu harus mendapatkan pelajaran. Kalau dia dibiarkan untuk bebas pasti akan berbuat yang semakin gila."


"Saya tahu, saya harus berbuat apa. Mungkin ini terdengar kejam karena bagaimanapun dia adalah ayah dari anak. saya, tetapi saya yakin Iko suatu saat tahu, kalau yang ibunya lakukan adalah demi kebaikan bersama."


"Kamu jangan khawatir, Iko pasti tahu kamu melakukanya karena papahnya yang memulai duluan. Jangan pernah takut untuk mencari keadilan banyak yang dukung kamu. Jangan kecewakan orang-orang yang dukung kamu dengan pembelaan dia ayah dari anakmu. Justru Iko akan lebih malu kalau sampai papahnya ternyata adalah pembunuh ibunya. Dia bukan hanya malu tetapi juga pasti akan membenci ayahnya."


"Apa Iko baik-baik saja?" tanya Mimin yang jadi kepikiran dengan putranya.


"Apa kamu ingin telpon dia?" tanya balik Hadi dengan menunjukkan foto yang dijadikan wallpaper oleh Hadi.


Mimin memberikan jawaban lewat anggukan samar.


"Iko pasti senang kalau mamahnya telpon."


Mimin memberikan seulas senyum samar, meskipun wajahnya masih pucat tetapi tidak mengurangi kecantikanya.


"Kamu, wanita kuat. Entah berapa kali aku kagum dengan semangat hidupmu." Hadi terus menatap wanita yang ia tolong.


Bersambung....


...****************...


__ADS_1


__ADS_2