Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Teguran Langsung


__ADS_3

Satu jam telah berlalu dan kini operasi yang Hadi jalani pun sudah selesai. Kini Hadi pun  di pindahkan ke ruang pemulihan (PACU) setelah kondisinya sudah setabil. Maka Hadi akan di pindahkan kembali ke ruang perawatan.


Di kantor PT Healthy Mandiri. Mimin pun masih terus kepikiran dengan keadaan Hadi. Wanita itu sudah beberapa kali kirim pesan dengan Lydia, tetapi belum di balas juga. Meskipun tangan dan matanya terus melihat ke pekerjaan, tetapi untuk pikiranya Mimin masih terpecah dengan memikirkan calon suaminya.


Pukul lima Mimin mendapatkan pesan dari sahabatnya.


[Maaf baru balas, Hadi sudah dipindahkan ke ruang rawat. Aku sekarang sudah di rumah. Dan kondisi Hadi sudah setabil.] Itu adalah balasan dari Lydia.


Membaca pesan yang dikirimkan oleh Lydia, ia pun langsung mengucapkan hamdalah berkali-kali dan mata yang berkaca, karena ternyata sebegitu hebatnya kabar gembira ini. Kini Mimin bisa fokus bekerja, mengejar ketinggalan pekerjaan yang sejak tadi ia abaikan.


Pukul enam, karena mengantuk Mimin pun memilih pergi ke kantin untuk memesan kopi agar ia bisa kembali fokus dalam kerjaan. Gara-gara tadi pagi yang ia hampir kabur, pekerjaan pun jadi menumpuk dan Mimin memutuskan akan lembur hingga jam delapan malam.


Begitu wanita itu membuka pintu bertepatan juga Aarav yang mau pulang. Rasa kesal Mimin masih bisa lihat dari wajah Aarav, tetapi Mimin mencoba menyapa suami dari sahabatnya.


"Kamu mau pulang Rav?" tanya Mimin.


"Iya, kamu belum pulang?" tanya balik Aarav.


"Mungkin nanti, mau cari kopi dulu. Apa kamu mau mapor ke rumah sakit?' tanya Mimin kembali.


"Kenapa kalau ke rumah sakit?" Dua orang ini malah saling lempar pertanyaan terus.


"Tidak, mau nitip salam aja untuk Hadi," balas Mimin.


"Salam? Kenapa nggak langsung datang sendiri aja. Jenguk sekalian kenapa harus nitip ke aku?"


"Masih ada kerjaan," balas Mimin sembari pandangan matanya menatap ruanganya.


"Kerjaan sampai kapan pun akan tetap ada. Tidak mungkin ada habisnya. Tinggalkan kerjaan, pulang dan datang ke rumah sakit. Temui Hadi setidaknya beri dukungan karena saat kamu sakit juga Hadi rela menemani kamu. Setidaknya kali ini kamu lakukan hal yang sama dengan yang pernah Hadi lakukan ke kamu. Dan temui juga orang tua Hadi. Kalau kamu tidak mau menikah dengan Hadi setidaknya jangan buat permusuhan, karena aku takut nanti akan berimbas dengan perusahaan yang kami dirikan bersama." Aarav kembali menasihati Mimin, karena memang wanita itu kadang harus di beri pecutan yang pedas agar tidak seenaknya sendiri cara berpikirnya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, kamu pulang duluan aja. Nanti aku nyusul," balas Mimin, ia akan tetap lembur, tapi hanya sampai jam tujuh malam setelah itu akan pulang dan mampir ke rumah sakit seperti yang Aarav katakan.


"Kamu tidak sedang berusaha untuk kabur lagi kan?" tanya Aarav, mungkin saja Mimin masih bebal kepalanya dan sekarang ia sedang merencanakan diri untuk kabur dari tempat ini lagi.


"Astaga Rav, enggak lah. Aku sudah sadar kok, apa yang kamu omongkan tadi pagi semuanya benar. Aku tidak perlu pergi, aku hanya butuh berbicara dengan Hadi dan juga aku sudah yakin aku akan hadapi apa masalah yang sedang aku alami," balas Mimin, kali ini dapat dilihat dari sorot matanya wanita itu tengah menebar senyum dibalik cadarnya.


"Baguslah kalau gitu. Aku hanya takut kamu masih bebal. Kalau gitu aku pulang duluan. Kamu jangan terlalu malam datang ke rumah sakit, karena Hadi masih tahap pemutihan sehingga tidak boleh bergadang."


Mimin pun hanya membalas dengan anggukan. "Kalau gitu kamu hati-hati dan salam untuk Lydia dan Iko."


Kini gantian Aarav yang  membalas dengan senyuman. Papah Aarav pun kembali mengayunkan kakinya dan meninggalkan Mimin, tentu ia akan maampir dulu ke rumah sakit baru nanti setelahnya akan kembali pulang. Aarav yang memang sudah mengenal Mimin jauh lebih lama, jadi tahu lebih banyak sifat Mimin seperti apa maka sebab itu Aarav jauh lebih berani untuk menasihati Mimin.


Kekurangan kasih sayang dari orang tua dan juga hidup penuh dengan kebebasan dan tekanan dengan guncangan mental yang cukup hebat paska sang ibu meninggal dunia, membuat Mimin memang sedikit bersikap semaunya karena ia beranggapan sebelumnya bisa hidup seorang diri dengan bebas pasti sekarang akan kembali bisa juga, tapa Mimin sadari sekarang sudah banyak bedanya dengan Mimin yang dulu. Yang belum punya anak, dan tidak ada yang perduli seperti sekarang ini. Sehingga Aarav memberikan pemahaman agar Mimin jangan bandingkan dia yang dulu dengan dia yang sekarang gara-gara satu dua masalah yang dianggap berat olehnya. Lalu akan kabur seperti dulu. Tentu saat ini berbeda.


Ketika sudah punya anak dan gambaran masa depan sangat berbeda dengan kehidupan di masa gadis, yang bebas pergi dan akan kabur ke mana pun sesuka hati. Kalau sekarang harus dipertimbangkan apalagi dengan anaknya.


Begitu Aarav pergi. Mimin memilih kembali masuk ke dalam ruanganya, ia akan memanfaatkan satu jam terakhir sebelum pulang untuk menyelesai pekerjaan yang penting-penting dulu. Baru setelah itu akan dilanjutkan besok harinya.


Papah Aarav masuk dengan membawa buah. Tumben banget papah Aarav sangat pengertian dengan temanya yah. Apa gara-gara tadi nasihati Mimin dan berhasil, sekarang otaknya jadi jauh lebih bisa diandalkan.


"Ck ...." Hadi mengecap dengan kasar ketika Aarav datang, apalagi dengan membawa buah-buahan.


Aarav yang memang baik dan sopan pun bersalaman dan ngobrol dulu dengan Arum dan Ahmad. Setelahnya menghampir Hadi yang masih nampak lemas. Ya iya lah lemas kan obatnya belum datang yah Bang.


"Nih, gue bawakan buah. Buat cuci mulut, cuci mata atau muka juga boleh." Aarav meletakan di samping Hadi. Kan iseng banget tuh papah Aarav padahan kan bisa diletakan di atas nakas tidak harus di samping Hadi.


"Ck ... nggak modal banget. Bawa yang bermodal kek. Ngomong-ngomong loe ambil buah dari supermarket bayar nggak. Kalau nggak bayar ngga usah bawa apa-apa jauh lebih enak, dari pada bawa kaya ginian hanya pencitraan." Hadi pun melirik parsel buah yang cukup besar dengan buah-buahan lengkap.


"Husttt ... mulut loe jaga napa. Gak enak dengan bokap nyokap loe. Lagian kok loe tahu sih kalau gue nggak bayar." Dengan tidak tahu diri laki-laki itu malah buka parsel buahnya dan mengambil apel lalu memakanya. Hadi pun sudah tidak heran dengan kelakukan rekan bisnisnya. Udah mah bawa buah ambil dari toko mereka tanpa bayar, lalu dimakan sendiri lagi.

__ADS_1


Ada saingan gak kira-kira?


Untung Hadi masih sakit jadi tidak ingin bertengkar dulu dengan Aarav, tetapi tunggu setelah sembuh bakal dibalas dua kali lipat.


"Kenapa loe lihatnya kaya gitu banget. Gue laper belum makan apa-apa jadi nggak apa-apa kan kalau gue makan buah yang gue bawa. Lagian bukanya loe lagi sakit itu tandanya belum boleh makan buah-buahan, karena pasti pencernaan loe belum kuat kan. Paling loe bolehnya makan bubur dan makanan yang dibelender seperti bayi. Jadi buahnya sepertinya aku yang makan aja," cerocos Aarav kali ini mengambil anggur dan jeruk kimkit.


"Terus loe sebenarnya bawah buah ini buat apa? Kalau loe sendiri sebenarnya sudah tahu kalau gue nggak boleh makan buah?" tanya Hadi, sabar sih sabar, tapi lama-lama papah Aarav memang sangat menggemaskan malah lebih menggemaskan dari pada Iko sepertinya.


"Tidak ada maksud apa-apa," jawab Aarav dengan bibir terus mengunyah buah.


"Eh, ada ding gue ingin bikin iri loe. Kalau sehat itu makan apa aja enak. kayak gue sekarang makan buah, martabak, sate atau apalah enak. Sedangkan loe harus makan bubur dan makanan yang dibelender, duh kasihan," ledek Aarav dengan tertawa yang cukup renyah.


Bruggg... sebuah jeruk sunkit pun melayang.


"Dasar teman durjana," geram Hadi. Sedangakan Aarav malah tertawa dengan renyah. Papah Aarav nggak tahu kalau Hadi lagi garang karena Mimin yang tak kunjung datang makanya uring-uringan.


"Kenapa sih baper banget. Mimin pulangnya sebentar lagi. Enggak usah marah-marah terus, dokter cinta juga nanti datang." Aarav mengedipkan sebelah matanya agar Hadi jangan marah-marah terus.


"Dia lembur?" tanya Hadi kali ini suaranya lebih enak didengar.


"Tidak, hanya mengerjakan yang belum selesai dikerjakan. Udah ah kok tumben perut gue mules. Mau numpang ke kamar mandi." Aarav pun langsung berlari ke kamar mandi.


"Apa itu namanya kualat?" tanya Hadi ingin tertawa, tetapi perutnya masih sakit kalau ketawa seperti ada yang menarik di dalam sana. mungkin bekas operasi sehingga Hadi pun tidak bisa menertawakan Aarav yang langsung dapat teguran karena meledek Hadi.


Kini Hadi pun sedikit lega setelah Aarav bilang kalau Mimin akan datang ke sini. Yah, dari tadi perasaanya sangat tidak baik-baik saja karena beranggapan kalau Mimin masih marah dengan dirinya. Tapi setelah Aarav bilang Mimin masih kerja dan akan datang ke sini kini Hadi pun kembali tenang.


#Cie yang dokter cinta mau datang. Panas dingin gak Bang?


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2