Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kebahagiaan Abadi


__ADS_3

Sesuai yang ditunggu-tunggu baik Mimin maupun Hadi pun akhirnya merasakan juga menjadi raja dan ratu sehari. Konsep perayaan resepsi pun benar-benar mewah dan tamu undangan pun sangat banyak dan tentunya ada Lydia, dan Aarav serta Mami Misel dan Papi Sony.


Pakain dan segara asesoris yang dipakai Mimin pun di sesuaikan dengan kondisi Mimin yang sudah berbadan dua. Mimin sendiri lebih banyakan duduk dan untuk menyambut-tamu-tamu lebih banyak Hadi. Yah resiko mengadakan resepsi belakangan memang seperti ini sudah hamil dan itu membuat Mimin semakin sulit untuk beraktifitas.


Untuk pengapit manten Mimin pun di wakilkan oleh papi Sony dan mami Misel. Mereka dengan terbuka mau menggantikan ke dua orang tua Mimin yang sudah berpulang.


Acara pun di tutup di jam sembilan malam. Memang acara resepsi ini tidak terlalu lama mengingat Mimin yang sedang hamil. Namun jangan diragukan tamu undangan yang datang benar-benar banyak, dan mereka pun ikut bahagia dengan pernikahan Mimin. Sisa dari acara pernikahan yang sudah selesai Hadi dan Mimin gunakan untuk jalan-jalan tentunya mengikuti kemauan anaknya yaitu naik perahu, naik doser dan beko. Semuanya Hadi turuti, dan jelas Iko bahagia banget.


Malah kalau ditanya mau pulang lagi ke Jakarta atau tidak maka Iko akan berbicara kalau dia tidak ingin pulang ke Jakarta, mungkin karena di tempat kakek dan neneknya ia banyak temannya. Bukan hanya itu dua hari mau kembali ke Jakarta Hadi pun menepati janjinya untuk memperkenalkan Mimin pada mantan istrinya. Meskipun Hadi dan Mimin tidak pernah membahas almarhum itu lagi. Mimin dan Hadi mengunjungi makam Almarhum sang istri.


Baik Mimin maupun Hadi sudah menutup kisa masalalunya. Setelah hampir dua minggu di Kalimantan, Iko dan kedua orang tuanya pun pamit. Meskipun semuanya masih berat melepaskan Mimin dan Iko pulang ke Jakarta.


"Sayang nanti kalau kamu sudah mau lahiran kabar-kabar Mamah yah, biar Mamah buru-buru datang ke rumah kalian." Arum meskipun berat dan matanya yang bengkak tetapi akhirnya rela juga mengizinkan Hadi dan Iko serta Mimin untuk pulang ke Jakarta. Toh nanti akan kembali bertemu lagi.


******


Hari-hari Mimin dan Hadi pun kembali ke aktivitas semula. Iko pun kembali di atur untuk tinggalnya. Kini Iko pun sudah menjadi anak yang sekolah yah. Di usia yang sudah tiga tahun keempat orang tuanya Iko sepakat akan menyekolahkan Iko diusia ke tiga tahun.


Kini di kantor pun sudah pada tahu kalau Hadi dan Mimin sudah menikah. Untuk pengasuhan Iko pun masih sama senin sampai jum'at di Hadi dan Mimin dan sabtu dan Minggu oleh Lydia dan Mimin.


Hari-hari Mimin lebih dikesibukan untuk mengantar sekolah Iko, dan juga mengajarkan Iko apa yang bisa dia ajarkan agar Iko makin pandai. Terbukti Mimin dan Iko memang bukan tipe orang yang menahan Iko sehingga Iko cepat bisa berinteraksi. Terutama untuk menjelaskan apa pun yang terjadi di antara Mimin dan Hadi pun berjalan dengan lancar.


Berbeda seperti saat diusia kehamilan yang pertama di mana Mimin sangat senang memasak. Di usia kehamilan memasuki usia ke delapan bulan. Mimin justru akan pusing dan bahkan muntah ketika mencium aroma tumisan bawang dan bumbu-bumbu lainnya yang membuat Mimin tidak bisa masak dan bahkan hanya ingin rebahan saja.


Wanita hamil itu tidak bisa lagi menjaga Iko sehingga selama Mimin ngidam Iko dititipkan di rumah Mami Misel. Hampir dua bulan Mimin mengalami ngidam yang sangat parah. Untuk makan Mimin pun paling sehari satu kali itu pun kalau Hadi paksa. Setiap jam makan siang Hadi akan pulang untuk mengajak Mimin makan. Di rumah itu tidak ada aktivitas masak sama sekali. Karena setiap ada yang masak Mimin pasti akan nangis karena bau yang tidak ia sukai.


Sudah hampir dua bulan Mimin seperti ini dan itu tandanya Mimin bulan ini sedang menunggu kelahirannya.


"Sayang, ayo lah makan. Mas udah rela pulang loh buat kamu. Ini Mas sudah beli makanan yang kamu minta." Hadi menjajarkan makanan yang Mimin minta, tetapi tidak Mimin makan padahal sudah Hadi bujuk dengan segala bujuk rayu.


"Tidak Mas, Mimin nggak mau itu." Semakin Hadi memaksa maka Mimin juga semakin tidak mau memakannya.


"Kalau gitu kamu mau makan apa?" tanya Hadi dengan suara yang kembali pelan.


"Mimin pengin makan dengan masakan Mamah." Mimin berbicara dengan pelan, dan memang benar ia sudah satu minggu ini Mimin sangat ingin makan, makanan yang di olah sama mertuanya.


Mendengar ucapan Mimin, Hadi pun langsung mengulas senyum.


'Oh ternyata calon anak aku ingin makan makanan, hasil olahan neneknya. Baiklah Baba telpon sekarang ke Mamah. Jangan nangis jelek," goda Hadi dengan sesekali menoel hidung Mimin yang merah.


"Apaan sih Mas. Mimin nggak nangis. Hanya sedih aja Mas paksa-paksa makan terus sedangkan Mimin tidak mau makan. Mimin hanya mau makan hasil masakan Mamah."


"Iya-iya kata Mamah mau ke sini langsung." Hadi menunjukkan chat dengan Mamah Arum. Beruntung Mimin pengin makan masakan mertuanya langsung mau datang.

__ADS_1


Yah, memang keluarga Hadi baik-baik. Makanya ketika Mimin minta makan dari olahan tangan mertuanya langsung mau datang.


*****


Sesuai yang Mimin minta, hari itu juga Arum mencari jadwal penerbangan ke Jakarta. Karena jarak Kalimantan dan Jakarta bisa ditempuh dengan dua jam perjalanan udara sehingga sore hari Arum sudah tiba di Jakarta, dan langsung memasakan makanan yang Mimin inginkan.


Meja makan pun sudah penuh dengan masakan mertuanya. Aneh bin ajaib ketika Mimin yang ingin mertuanya masak. Ia tidak merasakan mual, pusing bahkan pengin muntah. Mimin justru iku membantu memasak.


"Makasih yah Mah. Sudah mau datang ke sini, dan langsung masak lagi. Pasti Mamah cape banget," ucap Mimin sangat terharu dengan perjuangan mamah mertuanya.


"Iya Sayang. Mamah tidak keberatan dengan apa yang kamu inginkan. Jujur Mamah malah senang dengan apa yang kamu inginkan Mamah senang karena cucu Mamah suka masakan Mamah. "


Makan malam hari ini pun terasa spesial, ada Iko juga setelah dua bulan Iko datang hanya sabtu dan minggu setelah ada neneknya Iko pun kembali tinggal di rumah Mimin.


Bahkan kebahagiaan Mimin semakin bertambah ketika mertuanya akan tetap tinggal di sini, setidaknya sampai Mimin lahiran.


Sepertinya makanan yang di masak oleh Arum sangat manjur baru juga Mimin selesai makan dengan porsi yang banyak tiba-tiba perutnya mulas dan punggungnya panas. Mimin yang sudah pernah melahirkan Iko pun tetap tenang ia tidak dulu memberitahukan pada Hadi maupun Arum karena beranggapan kalau ini kontraksi palsu. Namun semakin sering rasanya. Hingga pukul sepuluh Mimin merasakan kalau ini bukan lagi kontraksi palsu. Melainkan ini memang kontraksi sungguhan, dan itu tandanya ia akan segera melahirkan.


"Mas ... Mimin pun membangunkan Hadi yang baru saja tidur."


Meskipun malas Hadi pun membuka matanya, ia berpikir kalau sang istri ingin sesuatu. Yah, sensai memiliki istri yang sedang hamil memang seperti ini malam-malam membangunkan minta sesuatu, tetapi Hadi sangat senang ketika istrinya ngidam karena itu tidak pasti Mimin akan hamil lagi sehingga Hadi sangat menikmatinya.


'Kenapa Sayang? Apa kamu pengin sesuatu?" tanya Hadi dengan mata yang sudah dibuka sempura.


"Oh ya Alloh kenapa bisa seperti ini. Hadi langsung menggendong Mimin la bridal shower, dan berteriak pada asisten rumah tangga dan mamah Arum .


"Bibi ... Bibi ... siapkan perlengkapan baby dan Mimin antar ke rumah sakit."


"Mah ... Mamah tolong siapkan perlengkapan Mimin, antar ke rumah sakit. Hadi berangkat dulu. Mimin akan melahirkan. Mamah langsung nyusul yah."


Arum yang kaget pun hanya bengong. Kaget campur bingung ia baru saja akan tidur ketika baru selesai menelepon sang suami, tapi langsung kaget dengan teriakan Hadi. Yang mengatakan kalau menantunya akan lahiran.


"Ya Tuhan mudahkan lahiran menantu hamba." Arum langsung masuk ke kamar anaknya menyiapkan perlengkapan calon cucunya. Sedangkan Hadi pun mengemudi dengan cepat dan keringat yang keluar sebesar biji jagung.


Berbeda dengan Hadi yang merasakan mulas, deg-degan dan panas dingin. Mimin justru terlihat lebih bisa mengontrol perasaanya.


"Apa yang kamu rasa Sayang?" tanya Hadi dengan menggenggam tangan sang istri.


"Tidak ada Mas, hanya mulas sesekali," jawab Mimin dengan santai.


'Kamu sabar yah, sebentar lagi kita sampai," balas Hadi dengan mengusap perut Mimin.


"Kamu sabar yah Sayang, jangan keluar dulu rumah sakit sebentar lagi. Jangan buat Mamah sakit yah Sayang," ucap Hadi memberitahu sang buah hati, dan Mimin pun hanya mengangguk bahagia dengan perlakuan suaminya yang romantis.

__ADS_1


"Dok ... Dok bantu istri saya akan lahiran." Hadi berlari meminta dokter dan sang istri membantu istrinya. Hadi yang pertama kali akan merasakan jadi ayah pun lebih tegang. Terlihat dari cara ia menghadapi kelahiran sang istri. Untung Mimin udah berpengalaman sehingga Mimin lebih santai.


Dokter dan perawat pun langsung memeriksa Mimin. "Wah ini udah pembukaan sempurna kita siapkan persalinan sekarang yah," ucap Dokter yang berjaga. Dan Mimin hanya mengangguk ramah. Sedangkan Hadi justru tampak pucat. Perutnya mulas, sakit dan tubuhnya yang lemas. Keringat pun keluar seperti orang sakit. Beruntung Arum juga tidak lama datang ketika Hadi sudah di rumah sakit.


"Pak kayanya Bapak istirahat saja, takut pingsan," kata perawat yang melihat Hadi menunduk dengan memegangi perutnya yang terasa sangat melilit.


"Tidak apa-apa Sus saya ingin lihat istri saya lahiran." Hadi mengusap keringatnya. Arum yang baru datang dan melihat anaknya pun kasihan.


"Kamu yakin kuat Sayang, takutnya nanti Mimin lahiran kamu yang pingsan," ucap Arum dengan wajah cemas.


"Tidak Mah, Hadi hanya tegang aja." Hadi tetap berada di samping Mimin yang sesekali meringis ketika merasakan mulas.


"Bu, kalau saya meminta dorong, ibu dorong yah yah. Jangan ditahan lepaskan." ucap dokter yang membantu Mimin lahiran.


Mimin pun hanya mengangguk dengan tetap santai.


"Dorong Bu ..." Mimin mendorong dengan sekuat tenaga.


"Iya dorong lagi ....!"


"Bagus, sedikit lagi.... "


Setelah tiga kali mendorong. akhirnya suatra bayi yang nyaring terdengar.


Oeee....


"Selamat yah, anak Ibu dan Bapak sudah lahir. Jenis kelaminnya perempuan."


"Alhamdulillah.... "


Brug!! Benar saja Hadi malah pingsan ketika anaknya menangis, dan tahu jenis kelamin anaknya.


Untung ada Arum yang mendampingi mereka lahiran.


"Mas Jadi kenapa Mah?" tanya Mimin yang kaget dengan suara kegaduhan karena Jadi pingsan.


"Tidak apa-apa. Hanya terlalu bahagia."


Mereka pun mengucapkan hamdallah secara bersamaan karena memiliki anak dan cucu sepasang.


(END)


Jangan kabur dulu yah others bakal kasih bonus part yang rindu Om David dan Om Wijaya bakal hadil di ekstra part.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2