Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kabar Gembira


__ADS_3

"Terima kasih untuk jamuanya Rav, dan Mbak Lydia, semoga ini adalah awal yang baik untuk kerja sama kita. Dan jujur saya sangat senang kerja sama dengan kalian karena kalian enak untuk diskusi dan tidak mentok ide, selalu punya ide yang bagus-bagus," ucap Tuan Hadi, entah berapa kali laki-laki itu terus mengucapkan terima kasih dan juga entah berapa laki-laki itu mengucapkan puas dengan pertemuan di awal kita.


"Sama-sama Di, aku juga terima kasih karena sudah mau mampir ke sini. Sering-sering mampir lagian Iko juga kayaknya suka sama kamu," kelakar mas suami yang membuat aku pun ikut tersenyum. Yah, itu karena mas suami yang terlalu berlebihan lagian namanya anak kecil memang seperti itu sering mau dengan siapa saja. Eh, tapi ada sih yang nggak mau juga kalau diajak....


"Oh kalau itu sudah pasti yang Iko, Ayah pulang dulu yah, nanti kita main lagi, dan nanti calon ayah kamu bakal bawa mainan yang banyak," kelakar Tuan Hadi, yang membuat hati ini jadi tercubit.


"Ayah-ayah, udah siap emang nikah sama ibunya?" kelakar mas Aarav lagi yang mana justru membuat aku jadi teringat ibunya Iko.


"Ya, siapa tahu aja, nanti jodohnya ibu-nya Iko kan itu tandanya bisa jadi ayahnya. Paket lengkap nikahi ibunya bonus anaknya." Justru malah candaan Tuan Hadi dilanjutkan.


"Amin." Aku pun entah mengapa rasanya bibir kalau tidak mengucapkan Amin sangat berat sehingga bibir ini pun mengucapkan Amin dengan tulus. Jodoh, maut tidak ada yang tahu, mungkin saja memang Mimin bisa tetap bertahan untuk mengobati sakitnya dan juga menemukan jodohnya nanti.


Setelah pamitan mengandung obrolan ngalor ngidul akhirnya Tuah Hadi pun pamit setelah memberikan amplop THR untuk Iko padahal hari raya saja belum, tetapi Iko sudah dapat bonus untuk beli susu dari Tuan Hadi.

__ADS_1


"Mas ngomong-ngomong istrinya Tuan Hadi benaran sudah meninggal?" tanyaku yang sedari tadi menahan rasa kepoku. Sehingga begitu Tuan Hadi pulang aku langsung mencecar dengan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal.


"Udah lama banget Sayang, kata Hadi sih udah sepuluh tahu menduda, maklum istrinya pacar pertama dan dinikahi sehingga cintanya sangat awet," balas mas suami yang menceritakan apa yang ia tahu dengan kehidupan pribadi rekan bisnisnya yang baru.


"Ngomong-ngomong sakit apa istrinya?" tanya aku lagi yang justru malah aku sangat senang untuk menggosip.


"Kalau tidak salah berawal dari sakit asam lambung, mungkin udah parah, tapi itu juga sakit sembuh dan kaya gitu terus sampai di usia pernikahan yang ke lima tahun tahun, justru sang istri menyerah untuk berjuang. Kasihan sih tapi mungkin itu sudah takdirnya. Mana kalau tidak salah saat meninggal almarhum istrinya lagi hamil lima bulan, dan itu yang membuat Hai jadi setrauma saat ini, itu karena dia merasa seperti orang yang gagal mengurus istrinya. Kata Hadi saat istrinya meninggal dia lagi membantu bisnis papahnya di Kalimantan sehingga pulang-pulang sang istri sudah tidak ada."


Kami pun saking asiknya bercerita tanpa terasa sudah sampai di lantai atas dan juga langsung merebahkan Iko, yang makin hari berat badanya semakin bertambah saat ini sudah lima kilo, padahal belum ada satu bulan di rumah kami tetapi sudah hampir naik dua kilo, itu karena susu formula untuk minum Iko, kami ganti dan juga bayi itu istirahat yang teratur sehingga badanya semakin naik.


Selagi Mas suami mandi, membersihkan badan aku pun membuka ponselnya. Yah, seperti biasanya selalu bertukar kabar dengan orang tuaku, tetapi betapa kagetnya aku begitu melihat ada pesan dari dokter Sera. Seperti yang sudah-sudah aku pun lebih tertarik membaca pesan dari dokter Sera.


Besar harapan aku kalau dokter Sera membawa kabar baik di mana Mimin mau di jenguk oleh kami. Aku janji kalau Mimin mau di jenguk maka aku akan ceritakan semua sama mas suami, tetapi tidak dengan jati dirinya dulu, aku akan merahasiakan sampai Mimin mengizinkan aku untuk bercerita siapa sebenarnya ibu kandung Iko.

__ADS_1


[Lydia, saya barusan sempat mengunjungi Mimin untuk mengantarkan obat-obatan, dan saya juga sampaikan amanah dari kamu dari mulai uang dan pesan kamu yang mengatakan syarat adopsi serta kondisi Iko yang semakin besar dan semakin pandai. Tidak lupa aku juga katakan kamu yang ingin bertemu dengan Mimin, dan juga Iko yang mungkin ingin bertemu dengan ibunya, dan alhamdulillah kali ini Mimin sudah banyak kemajuan, terutama untuk semangatnya untuk sembuh, bahkan saat ini Mimin sudah sangat jauh untuk semangat untuk sembuh. Dan soal keinginan Mbak Lydia yang ingin menemui Mimin, juga sudah saya sampaikan dan hasilnya Mimin mau bertemu dengan Mbak Lydia, kira-kira Mba Lydia kapan ingin bertemu dengan Mimin?] Itu adalah pesan yang aku baca, dengan jantung terus memompa dengan kencang.


"Yes... Yes... tanpa sadar aku memekik saking bahagianya kalau akhirnya Mimin ada kemajuan."


Aku yakin kamu pasti sembuh, Tuhan pasti bersama dengan kamu terus Min, kasihan Iko kalau dia tidak sampai tahu siapa wanita yang sudah mau mengorbankan nyawanya demi sebuah kehidupanya. Tidak henti-hentinya aku mengucapkan syukur atas berita ini. Dan aku pun menatap bayi yang tengah senyum-senyum di saat ia pulas tertidur, seolah bayi itu tahu kalau ia tengah mendengar kabar bahagia.


"Sabar yah Sayang sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Ibu kamu.'



Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2