Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Hari Kemenangan Telah Tiba


__ADS_3

"Hah, Anda serius Dok?" tanya Lydia dengan sangat terkejut ketika wanita itu mendengar cerita dokter Doni. Bahkan bukan hanya Lydia, laki-laki yang ada di sampingnya pun tidak kalah terkejut dengan apa yang Doni kisahkan.


"Yah betul Mbak Lydia, mungkin nanti akan saya bicarakan dengan dokter Marni atau yang lainya agar perawatan Mimin sebaiknya jangan di rumah sakit lagi. Karena saya takut pihak rumah sakit tidak bisa mengawasi orang-orang itu dan justru terus meneror Mbak Mimin," imbuh Doni, yah laki-laki itu pun pada akhirnya menceritakan apa yang terjadi sore tadi, di mana David kembali meneror Mimin dengan bertanya anaknya ada di mana.


"Gila yah laki-laki itu, saya semakin takut kalau dia tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan malah justru akan membahayakan teman saya," ucap Lydia lagi tidak henti-hentinya wanita berhijab itu mengutuk David yang semakin sulit untuk di maklumi.


"Nah saya pun berpikir seperti itu Mbak Lydia. Saya akan lakukan apapun untuk menyelamatkan pasien saya jadi kalau laki-laki itu akan menyelakai pasien saya itu tandanya dia berhubungan dengan saya," balas Doni dengan sangat yakin. Yah ini bukan upayan pertama Doni untuk melindungi pasienya dari gangguan orang luar, sebelumnya dia juga melakukan hal yang sama pada pasienya yaitu Alzam dan langsung perang dengan Deon yang notabenya sodara satu ayah. Yah sodara satu ayah saja dia berantas sampai tidak berkutik apalagi David mungkin sampai akarnya pun akan Doni pangkas.


"Saya sangat berterima kasih dipertemukan dengan dokter seperti Anda yang benar-benar berpikir untuk kesehatan pasien," ucap Lydia terharu dengan kegigihan dokter Doni untuk melindungi pasienya bahkan sampai mau cape-cape mengurus David. Kini Lydia merasa semakin banyak yang bakal berdiri dipihaknya sehingga ia tidak lagi terlalu cemas. Untuk menghadapi David.


"Ini sudah menjadi bagian dari tanggung jawab saya Mbak Lydia. Dan saya paling tidak suka sama orang yang mengganggu pekerjaan saya. Contohnya seperti David karena ucapan-ucapan laki-laki itu bisa saja Mbak Mimin kepikiran dan malah jadi menambah beban pikiranya dan menjadi sulit untuk sembuh, oleh sebab itu urusan Mbak Mimin dan David selama Mbak Mimin jadi pasien saya maka itu jadi urusan saya juga."  Prinsif Doni dari dulu hingga sekarang sehingga banyak pasien yang sangat puas dengan kinerja dokter tampan itu.


Bonus yang bening-bening...



"Jadi intinya Mimin boleh kan Dok untuk izin di esok hari?" tanya Lydia untuk memastikan lagi ucapan dokter Doni sebelumnya.


"Yah, tapi untuk memastikannya lagi, besok saya akan cek dulu kalau kondisinya tidak drop dan ok, saya izinkan untuk berkumpul bersama, agar pikiran Mbak Mimin Happy sehingga proses penyembuhan pun semakin maksimal."


Setelah mendengar jawab dokter Doni dan mengobrol tentang David dan perkembangan sahabatnya, Lydia pun langsung pamit dan mematikan sambungan teleponnya. Dan menatap sang suami yang juga sedang menatap Lydia dengan bingung.


"David meneror Mimin lagi?" tanya Aarav kembali memastikan kalau yang ia dengar itu sebuah kebenaran. Dan Lydia pun membalasnya dengan anggukan kepala.


"Laki-laki itu tidak percaya kalau apa yang dikatakan Mimin tentang anaknya yang sudah meninggal itu. Dia masih yakin kalau Mimin itu berkata bohong," jawab Lydia dengan nada bicara yang malas ketika membahas David.


"Makin hari David makin bahaya, dia tidak bisa dibiarkan terus-terusan dekat dengan Mimin. Mas takut kalau dia itu justru merencanakan hal lain. Kita harus dengarkan juga saran dokter Doni tadi, kalau memang mereka mau melakukan  yang tadi direncanakan Dokter Doni Mas rasa itu lebih aman untuk Mimin, mengingat tinggal di rumah sakit justru Mimin malah seolah tidak terkontrol. karena pintu rumah sakit banyak, udah gitu bisa saja yang datang menemui Mimin bukan David, bisa jadi orang lain yang mungkin berniat buruk pada Mimin, kan kita nggak tahu. Lebih baik mencegah dari pada mengobati buka?"


"Ya udah kita serahkan dulu pada Dokter Doni, Lydia percaya kalau Dokter Doni orang yang sangat perduli dengan pasiennya. Mas mau kembali lagi ke depan untuk ngobrol-ngobrol?" ucap Lydia, tetapi ini adalah momen satu tahun sekali sehingga wanita itu tidak ingin merusaknya.

__ADS_1


"Emang tidak ada bonus akhir Ramadhan?" tanya Aarav dengan memberikan kode-kode cinta.


"Gimana kalau bonusnya, apabila acara kumpulnya sudah berakhir? Sekarang di luar sedang pada kumpul-kumpul dan juga momen seperti ini hanya ada satu tahun sekali, jadi sepertinya Mas harus kumpul-kumpul dulu, baru deh setelah selesai boleh minta bonus." Wanita itu pun menjelaskan dengan sangat berhati-hati agar sang suami tidak merasa kalau dirinya menolak, tetapi hanya menunda.


"Ok baiklah, kalau gitu Mas balik dulu ke depan yah."


Cup... satu kecupan diberikan oleh sang suami untuk menemani tidur sang istri. Tidak lupa jagoannya pun diberikan bonus kecupan agar bobonya semakin nyenyak juga, dan tentunya agar tidak iri.


Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.


Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.


Allaahu akbar walillaahil - hamd.


Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....


Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,...


Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu


Mukhlishiina lahuddiin


Walau karihal - kaafiruun


Walau karihal munafiqun


Walau karihal musyriku


Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah.

__ADS_1


Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar.


Allaahu akbar walillaahil - hamd.


Dari jendela kamar langit masih terlihat gelap, yang diselimuti bayang cakrawala. Suara Adzan Subuh berkumandang. Dengan penuh semangat wanita itu beranjak dari atas pembaringannya. Ia bergegas untuk membersihkan diri dan lalu melanjutkan untuk beribadah wajib dan juga di lanjutkan untuk ibadah bersama ke masjid. Kali ini wanita itu akan melakukan sholat idul fitri dan untuk putranya akan di titipkan di rumah dengan Masaya yang sedang mengidam sehingga tidak ikut ibadah ke masjid. Malam tadi Lydia sudah membicarakannya dengan sang kakak ipar dan Masaya tidak keberatan justru sangat senang ketika dititipi bayi tampan itu.


"Mas bangun, kita sholat Subuh dan setelah itu dilanjutkan ke masjid untuk sholat idul fitri." Dengan pelan Lydia membangunkan sang suami dan laki-laki itu pun menyambut hari yang bahagia dengan segurat senyum bahagia. Yah, ia sangat bahagia karena sudah dapat bonus akhir Ramadhan.


Pukul lima lebih tiga pulu menit keluarga besar Sony dan juga Rubi pun berjalan kaki bersama menuju masjid terdekat untuk melaksanakan ibadan sholah idul fitri dengan penuh semangat.


Serangkaian ibadah pun sudah dilewati dan kini tiba ke acara inti dari perayaan idul fitri yaitu saling maaf memaafkan. Atau orang mengatakannya sungkeman. Air mata pun sebagai saksi bahwa mereka benar-benar larut menikmatinya momen indah ini. Tangis haru bahagia karena masih diberikan umur untuk merayakan hari raya lebaran, dan bisa meminta maaf dan saling memaafkan mejadi  momen yang sangat dinanti, dan menjadikan hari raya dul fitri adalah hari raya yang sangat sakral dan juga meriah. Serangkaian demi serangkaian terus berjalan dengan hikmat, tamu pun berdatangan silih berganti merayakan hari raya idul fitri.


Seperti sebelumnya di sebuah kamar rumah sakit wanita berhijab pun sama sedang merayakan hari raya idul fitri, bedanya ia merayakannya hanya dengan suster Maria dan juga perawat yang berjaga dan beberapa pasien yang nasibnya kurang lebih sama dengan Mimin. Mungkin apabila dikatakan sedih, yah wanita itu sangat merasakan kesedihan yang sangat luar biasa. Meskipun wanita itu sudah ditinggal meninggal oleh sang ibu belasan tahun, tetapi setiap hari raya rasa sedih masih terus menyelimuti. Tidak ada hal yang paling menyedihkan lagi di dunia ini selain merayakan hari raya tanpa seorang ibu, itu yang Mimin rasakan.


Setidaknya wanita itu bisa terhibur sedikit oleh perawat dan pasien yang nasibnya kurang lebih sama dengan saling bercerita dan bercanda ringan Hingga Mimin bisa melupakan sedikit rasa sedihnya.


"Siang Mbak Mimin..." Sapa dokter Doni sesuai janjinya hari ini dia akan mengabulkan apa yang Lydia rencanakan.


Wanita berhijab itu justru bingung ketika dokter Doni tiba-tiba datang berkunjung sedangkan ini hari libur.


"Dok saya tidak sedang mimpi kan? Kok tiba-tiba ada dokter Doni datang?' tanya Mimin dengan cukup bingung.


"Iya ada hadian hari raya dari saya untuk Mbak Mimin, kira-kira siap tidak menerima hadiahnya?" tanya dokter Doni balik dengan senyum semangatnya.


"Wah pasti siap dong. Saya jadi tidak sabar ingin tahu apa hadiahnya?" Mimin pun semakin tidak sabar dengan yang dikatakan hadiah oleh dokter Doni.


"Ok tapi periksa dulu yah. hanya memastikan apakah kuat untuk menentukan kejutan ini atau tidak.


Dengan semangat Mimin pun mengikuti serangkaian pemeriksaan yang dilakukan dokter Doni, karena wanita itu tidak sabar ingin tahu bonus yang akan diberikan oleh sang dokter yang selama ini menjadi teman sekaligus dokter penanggung jawab.

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2