
Dua hari sudah aku dan Mas Aarav menginap di rumah mertuaku, dan hari ini aku pun pulang ke rumah kami mengingat hari ini juga kang mas bojo sudah harus bekerja.
Selepas Sholat Subuh kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah yang hampir dua minggu aku tinggal.
"Apa mau berdiri saja di depan pintu?" tanya mas suami ketika aku bergeming di depan pintu. Masih teringat jelas dalam bayanganku, pertama aku datang ke rumah ini hanyalah sebagai pembantu, tapi kali ini aku datang lagi dengan setatus baru yaitu istri dari majikanku.
"Lydia hanya masih tidak percaya Mas, kurang lebih satu bulan yang lalu, Lydia datang ke rumah ini sebagai pembantu. Bersandiwara menjadi istri bohongan Mas Aarav, tapi malah kali ini aku datang kembali menjadi istri Mas Aarav yang sungguhan." Aku menatap Mas Aarav yang tersenyum tenduh.
"Iya karena kamu adalah 'Pembantu Spesial Untu Om Duda' Makanya kamu langsung datang kedua kalinya dengan status yang spesial," balas mas bojo, selalu membuat hati ini bergemuruh dengan hebat.
"Berarti lain kali kita ngomongnya hati-hati Mad, karena omongan adalah doa. Buktinya dari omongan Mas waktu itu bercanda menjadi pasangan suami istri, dan Tuhan kabulkan dengan ucapan Mas. Kita jadi suami istri sungguhan." Tapi seharusnya aku bersyukur karena dari candaan menjadi kenyataan.
"Iya yah, kalau gitu Mas harus sering ngomong anak, terutama kembar siapa tau dikabulkan lagi," kelakar Mas bojo. Aku pun hanya membalas dengan ucapan 'Amin' karena itu doa baik wajib di ambilkan.
Kami pun masuk ke dalam rumah mengingat hari ini Mas Aarav jam delapan harus sudah kerja. Hari pertama kerja paska pernikahan kami.
"Selamat Datang Tuan, Nyonyah," sapa wanita paruh baya, yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Mamih Misel namanya Mbok Jum, dia adalah asisten rumah tangga yang akan membantu aku beres-beres rumah ini.
"Pagi Mbok Jum. Kalau boleh panggilnya jangan Nyoya. Lebih baik paggil Mbak saja biar lebih akrab," balasku dengan menjabat tangan wanita yang mungkin umurnya hampir sama sepertu ibuku di kampung.
"Dek, Mas mandi dulu," ucap Mas Aarav ketika aku masih berkenalan dengan Mbok Jum.
"Mas mau makan apa?" tanyaku mengingat tadi pagi kami belum sempat sarapan di rumah Mamih mertua.
"Terserah kamu saja Sayang. Apa pun yang kamu masak aku makan," balas kang mas bojo yang sudah di lantai atas. Bahkan suara teriakanya hampir memenuhi ruangan rumah kami.
Aku untuk beberapa saat diam memutar otakku untuk membuatkan sarapan spesial untuk mas suami. Mengingat sudah hampir dua minggu mas bojo tidak makan makanan olahan tanganku. Aku mengecek bahan makanan yang ada di kulkas ternyata bahan makanan sudah hampir kosong. Mau Wa sama Mbak Suli pun rasanya waktu tidak terkejar. Pandanganku tertuju pada Puff Pastry yang masih ada, dan jagung beberapa daging cincang dan sosis serta masih ada wortel.
__ADS_1
Zuppa Soup otakku langsung terpikirkan dengan menu yang simpel itu. Dengan cekatan aku meracik bumbu untuk membuat Cream Soup-nya dan setelah itu menyusun di cup dan di tutup dengan Pastry dan di masukan ke dalam open, setelah itu aku menyiapkan buah dan teh hijau seperti biasa mas suami kalau sarapan.
"Loh, Mbak udah masak? Mbok tadi abis jemur seprai di atas," ucap Mbok Jum dengan setengah tersengal nafasnya.
"Enggak apa-apa Mbok khusus untuk menu makan, Lydia saja yang masak, dan untuk nyetrika dan nyuci pakaian suami dan Lydia biar saya juga yang kerjain termasuk merapihkan kamar pribadi kami, biar Lydia yang kerjain juga. Mbok Jum kerjakan yang lain saja. Biar Lydia ada kerjaan. Kalau nggak ada aktifitas bosen juga," ucapku dengan santai. Aku tidak enak kalau pakaian suami dan pakaianku dicucikan apalagi di setrika oleh orang lain kecuali aku dalam keadan sakit. Kalau sehat aku masih bisa mengerjakanya sendiri.
Aku melihat Mbok Jum seperti bingung dan mungkin juga tidak enak karena pekerjaanya malah aku yang ambil alih. Atau malah berpikir kalau aku tidak suka kerjaan Mbok Jum?
"Mbok jangan ngerasa tidak enak, atau Lydia nggak percaya dengan kerjaan Mbok. Lydia hanya ingin benar-benar melayani suami dengan baik, terus juga karena Lydia memang suka masak dan membereskan rumah, jadi kalau hanya leha-leha nggak betah," imbuhku ketika melihat Mbok Jum seperti kebingungan.
"Ba... baiklah Mbak kalau memang Mbak Lydia maunya seperti itu. Tapi apa nanti Tuan Aarav nggak marah, karena Mbak Lydia mengerjakan semua pekerjaan Mbok Jum?" tanya asisten rumah tanggaku lagi. Mungkin memang masih segan sama Mas Aarav. Mengingat dia memang rada menyeramkan, bawaannya agak kaku dan dingin. Pertama aku datang dan bekerja dengan mas suami juga merasakan hal itu. Namun seiring berjalannya waktu dan sudah saling menyatu dia orang yang cukup hangat, lucu dan pengertian.
"Tidak, nanti Lydia yang akan bilang sama Mas Aarav," balasku, dan Mbok Jum pun melanjutkan pekerjaanya lagi dan aku pun melanjutkan masakanku. Mengetes apakah sudah matang atau belum.
Namun, baru juga melangkah mendekati oven tiba-tiba bel berbunyi. Tidak hanya sekali tapi berbunyi sampai tiga kali. Aku pun mengurungkan melihat Zuppa Soup ku yang sudah mulai mengeluarkan aroma yang harum dan menggugah selera.
"Pagi Mbak Siska," ucapku dengan ramah. Namun, aku melihat tatapan Mbak Siska yang seperti meremehkan.
"Ternyata hanya pembantu," balasnya yang aku baru sadar kalau clemek masih menggantung di leherku. Aku pun membalas dengan senyuman, dan mengabaikan ucapan sinisnya, yang aku tahu dia hanya menatapku dari penampilanku yang masih memakai alat tempurku.
"Mbak Siska ada perlu apa? Mau ada urusan dengan saya, atau mau ada urusan dengan Mas Aarav?" tanyaku tetap tak layanin dengan bahasa yang sopan dan juga santun. Api tidak bisa dibalas dengan api. Api hanya akan mati apabila bertemu dengan air, itu adalah prinsipku. Aku sudah diajarkan mengalah jadi sudah bukan hal yang aneh lagi aku akan meladeni dengan bahasa yang sopan meski lawan bicaraku bahasanya memprofokasi.
"Gue mau ketemu dengan Bos kamu, apa dia ada?" tanyanya seolah tidak suka kalau aku memanggil Mas, pada mantan suaminya. Aku hanya membalas dengan senyum.
"Ayo masuk Mbak, Mas Aarav sedang bersiap mau kerja." Aku membuka pintu dengan lebar. Padahal aku sebenarnya malas menanggapi Mbak Siska yang menurut penuturan suami dia itu masih ingin balikan dengan kang mas suami. Padahal mereka sudah cerai hampir satu tahun. Ah, aneh memang ada orang yang merendahkan harga dirinya meskipun sudah di tolak tetap saja cari-cari cara untuk tetap menjadi pendampingnya.
"Duduk Mbak. Kebetulan saya masak cukup banyak, Mbak bisa sarapan bareng," ucapku tetap ramah dan sopan seolah wanita itu adalah teman baikku, bukan sainganku. Aku merasa terlalu murahan kalau harus bersaing dengan wanita lain yang sudah jelas disingkirkan dari hati mas bojo.
__ADS_1
Aku meninggalkan Mabk Siska yang duduk dengan mata mengawasi kesegala arah. Kembali aku mengecek masakanku yang sudah mengembang dengan sempurna. Ku matikan oven dan masakanku segera dikeluarkan agar cepat dingin mengingat saat ini sudah hampir jam tujuh pagi nanti malah mas suami mau sarapan menu makan masih panas seperti lahar pegunungan.
"Mbak Siska nggak ada kerjaan kenapa masih pagi sudah bertamu?" tanyaku setengah menyindir. Ya, keterlaluan bukan pukul enam lewat bertamu. Seharusnya menjadi tamu juga tahu waktu bukan masih pagi gini bertamu selain mengganggu, juga sang tuan rumah belum siap untuk menerima tamu.
"Suka-suka aku mau bertamu kapan saja. Toh ini juga rumah ku. Ada harta gono gini yang seharusnya aku terima dari mantan suamiku, di dalam rumah ini," balasnya dengan ketus.
"Oh, mau nagih harta gono gini..." jawabku santai. "Kalau gitu aku panggil mas suami dulu yah Mbak, biar nanti urusanya sama Mas Aarav. Lydia di sini hanya istri, tidak mau mengurusi harta suami," balasku seharusnya dia sadar diri kalau aku sangat bosan selalu bertemu dengan mantan dari suami yang dibahas, balikan dan harta. Pantas Mas Aarav meminta aku untuk jadi istri pura-pura pasti risih juga di kejar-kejar mantan. Seperti dikejar-kerjar Depkolektor kali rasaya.
"Tidak usah Sayang, aku sudah selesai kok. Kamu tidak usah cape-cape panggil Mas." Suara mas suami menahan langkahku yang hampir meninggalkan meja makan, untuk naik ke kamar mengabarkan mas suami ada tamu yang minta harta gono gini.
Kami saling tatap dan mengagumi dalam hati. Andai tidak ada mantan istri dari suamiku. Otakku ingin menyambut dengan bait puisi cinta yang langsung terpikirkan dalam otakku ketika melihat mas suami turun dari tangga.
Namun, bait puisi cinta yang muncul di otakku aku kembali simpan dengan rapih di otakku untuk momen yang lain.
...****************...
#Sembari nunggu hati yang gosong, yuk mampir yuk ke novel Othor yang baru.
Rahasia Kebaikan Ibu Mertua
Cinta Berselimut Dendam
Semoga menghibur🙏🏻🙏🏻
__ADS_1