
Setelah hampir tiga jam aku mengecek semua rumah baru kita, dan memastikan semuanya tidak ada yang kurang. Mulai besok Mas Aarav pun meminta aku mulai pindah dan tentunya untuk pindah pakaian dan lain sebagainya Mas Aarav sudah menyewa orang yang lebih bisa diandalkan.
"Sayang bangun, udah sampai." Aku merasakan tubuhku digoyang-goyangkan. Dan aku pun perlahan membuka kedua bola mataku, yang terasa berat.
"Udah sampai Mas?" tanyaku dengan tangan mengucek-ngucek mataku, dan Mas Aarav membalas dengan anggukan. Aku pun langsung mengikuti Mas Aarav turun dan...
"Kejutan, begitu kami masuk dikejutkan dengan Mbok Jum dan juga petugas keamanan yang meniup trompet. Dan bodoh bin pikunya aku benar-benar lupa kalau aku sudah menyiapkan ini semua.
Dan lagi yang paling terkejut aku. Aku bahkan sampai memekik kaget dan lutut aku terasa lemas karena aku pikir ada keributan apa di rumah ini, dan ternyata yang punya otak dari semua keributan ini adalah aku sendiri. Oh, Tuhan kenapa bisa aku lupa dengan rencana aku sendiri. Dan aku justru merasa kalau kekuatan berbalik pada diriku sendiri. Karena aku lihat mas suami malam menertawakan aku yang kaget pake banget.
"Mbok Jum, Lydia kaget," ucapku dengan suara yang sedikit di tahan karena ini sudah malam.
"Hehe... Maaf Mbak, kan yang punya rencana Mbak Lydia, tapi kenapa Mbak Lydia kaget? Apa Mbak Lydia lupa?" tanya Mbok Jum dengan suara juga sedikit di pealankan. Wajahku langsung memanas. Dan tangan kananku reflek mengusap tengkukku yang benar-benar langsung tegang seolah tersengat aliran listrik.
Aku tatap mas suami yang seperti biasa akan terkekeh dengan santai.
"Hehe, maaf Mbok, ternyata Lydia yang lupa," balasku dengan tersenyum seolah aku sedang mencoba merayu. "Mas, maaf yah, Lydia bikin kejutan, tapi justru Lydia yang lupa, dan terkejut sendiri," ucapku dengan menatap penuh sesal pada mas suami. Tidak henti-hentinya aku merutuki kebodohan aku yang sangat pelupa ini.
"Tidak apa-apa sungguh Sayang. Jujur kejutanya malah semakin terlihat natural. Maklum manusia itu sumber pelupa," ucap Mas suami sembari mengajak aku duduk. Padahal aku sebelum pulang masih ingat akan rencanaku. Gara-gara aku yang tertidur di dalam mobil justru langsung lupa akan rencana kecil-kecilanku.
Aku membalas dengan senyum malu, itu semua karena kepikunanku.
"Jadi ini alasan kamu tidak mau makan di luar dan pengin buru-buru makan di rumah kamu siapkan kejutan ini? Tapi kok bisa lupa?" tanya Mas Aarav yang aku yakini kalau Mas Aarav juga sedikit mengejek otakku yang mulai tidak bisa diandalkan.
"Aku menghirup nafas dalam dan juga meraih satu gelas air mineral dingin untuk menghilangkan keterkejutan aku yang masih terasa di badan, lemas. "Entah Mas, gara-gara ketiduran dan pikiran tidak terfokus aku jadi lupa dengan rencanaku sendiri," balasku. Dan aku pun langsung menyiapkan menu makan malam yang sudah di beli dari restoran yang cukup terkenal makananya.
"Maafyah kalau kejutanya telat, udah gitu sedikit ada mis komunikasi alias lupa jadi justru Lydia sendiri ikut terkejut," ucapku sembari memberikan satu kue yang tidak terlalu besar dan hanya sebagai simbol.
Kue dipersembahkan dari buatan othor sendiri biar kelihatan natural.
Aku lihat Mas Aarav beberapa kali tersenyum seperti salting dengan kejutan dari aku. Dan setelah acara potong kue aku pun melanjutkan memberi kado untuk Mas suami yang pasti tidak seperti kado orang-orang barang mahal dan lain sebagainya kadoku hanya puisi sederhana yang sudah aku rangaki sejak tadi.
"Di hari ulang tahun suamiku ini, aku akan berikan hadiah kecil. Bukan hadiah yang mewah, hanya sebuah puisi yang didasari dari ucapan terima kasih untuk hadirmu." Aku kembali melihat Mas bojo menarik bibir dengan tipis dan menatapku dengan tatapan penuh arti. Jujur aku semakin tegang kalau ditatap seperti ini. Untung saja puisi itu sudah aku tulis kalau tidak momen ini akan hilang karena rangkian kata yang sudah aku susuh dari di kantor hilang karena tatapan mas suami.
**Kado Untuk Mas Suami**
"Waktu terus bergerak ke hilir
Menit berganti mengikuti getaran detik
Umur pun bertambah,
Jatah hidup berkurang dengan pasti
__ADS_1
Sinar sang surya meredup
Berganti dengan redupnya cahaya rembulan
Sinar mentari perlahan permisi
Seolah angin berhenti
Awan mengendap
Hujan pun turun dengan lebat
Tapi... lihatlah
Gelombang cinta darimu telah menghangatkan hati
Telah menyibak tirai sang mentari
Telah menghela cahaya rembulan
Telah menghangatkan kebekuan malam
Telah memanggil musim untuk berganti
Dan, membiarkan cerah menyinar lagi di muka bumi
Terima kasih dari hati yang paling dalam kamu hadir di saat yang sangat tepat
Terima kasih paling tulus dari hati yang penuh cinta
Hari ini adalah hari istimewa untuk kamu
Istimewa juga untuk aku
Selamat ulang tahu wahai suami
Aku sangat bersyukur akan hari ini
Terima kasih telah menjadi bayanganku
Terima kasih telah menghangatkan pikiranku, hatiku, jiwaku,
Aku yakin hari ini tidak akan sebahagia ini tanpa hadirmu
Kamu adalah cahaya untukku,
__ADS_1
Tetap menjadi suamiku yang penuh kasih
Hingga tidak ada celah untuk orang lain hadir dalam tengah-tengah keharmonisan keluarga kita
Hingga maut yang memisahkan kita
Tetap menjadi laki-laki perkasa
Untuk mengukir cerita cinta
Aku hela nafas panjang, karena jujur entah masuk atau tidak puisi ini di momen kelahiran sang suami. Setidaknya aku sudah bekerja sangat keras, bahkan aku harus bolak-balik mengganti bait kata yang aku rasa kurang pas demi mendapatkan puisi yang indah.
"Udah?" tanya Mas suami dengan senyum masih mengembang sempurna. Sedangkan aku tak henti-hentinya menarik nafas dalam untuk membuang kegugupanku.
Aku membalas dengan anggukan dan senyum tipis dengan terpaksa aku buat untuk menghangatkan suasana. Meskipun bibir ini kelu saking gugupnya.
"Fix ini hadiah paling sepesial." Mas suami menunjukan rekaman puisi yang aku bacakan dengan sesekali menghela nafas panjang dan suara yang sedikit kabur dibeberapa kata. Karena Jujur aku menahan tangis. Ada rasa takut kalau aku tidak akan lagi menemani momen-momen sepesial ini. Ada rasa takut kalau ujian rumah tangga ini adalah dengan semua yang dipunya oleh suamiku. Aku takut banyak yang tidak suka dengan kebahagiaanku sehinga entah secara sengaja atau tidak mereka berucap keburukan untuk kebahagiaan kita.
Aku tahu ini semua adalah ujian. Aku takut dari kelemahanku, Tuhan mengujiku. Aku terlalu mermuja suamiku sehingga Tuhan menguji melalui suamiku, tapi aku juga tidak bisa untuk bersikap biasa saja. Mungkin kalau orang bilang aku terlalu bucin dengan mas suami.
"Mas jangan bikin aku GR," ucapku dengan terisak. Antara senang karena itu artinya Mas suami akan mengabadikan hadian dariku dalam ponselnya. Entah digunakan untuk apa nantinya, tetapi setidaknya hadiah dariku tidak hilang begitu saja.
"Serius, sejak kenal kamu hal yang paling aku suka adalah rayuan kamu. Seolah hari ini akan semakin bersemangat kalau kamu rayu aku dengan puisi cinta kamu," balas Mas Aarav yang langsung menatap semakin dalam ke arahku.
"Oh iya, Lydia ada kado lagi." Aku kembali bangkit dan menyeka sisa air mata. Kembali semangat dan mengambil kado yang dengan sengaja di sembunyikan oleh Mbok Jum.
"Jangan dinilai dari harganya tapi di lihat dari maknanya yah. Ada harapan sangat besar dari kado ini. Semoga Mas adalah imam yang terbaik untuk aku, calon anak-anak kita nanti." Aku memberikan kado yang kalau dinilai dari materi kadoku jauh tidak ada harganya. Namun, Inaya Allah aku ingin menjadikan rumah tangga ini sama-sama meraih surganya baik, ada atau tidaknya harta.
"Mas makin merasa beruntung, kamu memberikan banyak sekali kado. Apa tahun depan kamu akan beri kado yang jauh lebih spesial," ucap mas suami dengan tangan meraih kotak kado yang aku berikan.
"Amin, InsyaAllah dengan seizin Allah makanya kita ketuk pintu langit agar Tuhan semakin cepat memberikan kabar gembira. InayaAllah Tuhan akan berikan sesuai kebutuhan kita. Kalau belum di kasih itu tandanya Allah ingin kita lebih baik belajar menjadi orang tua, dan waktu saling mengenal untuk menjadikan rumah tangga yang harmonis."
"Apa yang kamu katakan benar. Kita harus perbaiki diri kita agar ketika kado istimewa itu hadir kita sudah siap lahir batin. Ngomong-ngomong ini boleh di buka kan?" tanya mas suami tangannya aku perhatikan sudah nggak sabar ingin buka kado dari ku.
"Kalau Lydia bilang jangan, yang ada makan malamnya semakin tertunda rasanya udah lapar banget. Jadi buka sekarang agar cepat keacara inti yaitu makan. Cacing sudah ngasih kode dari tadi," balasku setengah bercanda. Menghilangkan ketegangan dalam diriku.
Aku sudah bisa melupakan sedikit ketegangan dari yang aku rasakan. Bahkan aku kini bisa sedikit melempar candaan untuk menghangatkan suasana.
Kembali aku melihat Mas suami yang nampak berkali-kali terkejut dengan apa yang ada dihadapanya. Aku sungguh tidak bisa menahan lagi rasa haruku karena aku bisa lihat dari tatapan mata mas suami kalau dia sangat menyukai apa yang aku berikan.
"Mas nggak tahu harus bilang apa sama kamu, selain kamu memang istri terbaik. Permata dunia, hiasan dan bidadari surga. Semoga aku bisa memegang terus janji aku dihadapan Tuhan dan orang tua kita. Jangan lepaskan genggaman tangan ini meskipun badai besar menghadang rumah tangga kita. Aku akan merasa sangat lemah tanpa adanya kamu. Kamu adalah kekuatan bagiku. Dan tegur aku apabila aku salah. Jangan abaikan kesalahku, karena aku butuh teman untuk menahkodai, membelokan perahu layar kita ke jalan yang kembali lurus." Mas Aarav malam ini sangat manis dan cukup banyak berbicara.
"Amin... Lydia tahu Mas adalah terbaik untuk Lydia. InsyaAllah kita akan saling mengingatkan. Udah kan, makan yuk lapar banget," ucapku lagi setelah aku berkali-kali mengucapkan lapar pada akhirnya kita makan juga. Rasnya cacing-cacing ini berjingkrak, bersorak gembira di dalam perut sana. Bahkan aku tahu kalau mereka sedang saling bersiap menangkap makanan yaang sedang dalam proses penggilingan. Hehe... canda giling....
__ADS_1
Bersambung....
...****************...