
Malam ini. pun obrolan bapaknya semakin seru, apalagi semakin malam topik pembahasan yang semakin luas dan menarik, tetapi Lydia sepertinya harus berpamitan untuk mengakhiri obrolan ini mengingat ini jagoannya nampaknya sudah tidak nyaman dan ingin segera istirahat.
"Mam, Bu, dan yang lainnya Lydia ke kamar dulu yah, kasihan Iko kayaknya sudah ngantuk," ucap Lydia yang melihat bahwa jagoanya sudah beberapa kali menggosok wajahnya hingga merah.
"Ya, udah kalian bobo duluan, kasiah Iko," balas Mamih Misel, dan aku pun tidak lama langsung memboyong jagoan ke kamar yang tentunya aman dari suara-suara gaduh dari luar, dan benar saja tidak lama aku boyong jagoan untuk pindah ke kamar, baby Iko tidak lama tidur.
"Apa aku telpon dokter Doni yah, aku masih kepikiran dengan Mimin, mungkin kalau dia besok diziinkan sebentar saja untuk ke luar dari rumah sakit rasa rindu dia akan sedikit terobati dengan bertemu anaknya. Aku saja sendirian di dalam kamar kaya gini, rasanya sudah kesepian belum lagi Mimin yang sendirian di rumah sakit lagi," batin Lydia dengan menatap layar telponya.
"Tapi aku baiknya tanya Mas Aarav dulu, apalagi dokter Doni laki-laki tidak baik bukan kalau menghubungi laki-laki lain tanpa seizin suami." Kembali Lydia bermonolog dalam batinya. Tidak lama jari jempolnya pun terus menari dengan indah di atas layar ponselnya.
[Mas, bisa ke kamar dulu sebentar, ada yang ingin Lydia tanyakan.] Itu pesan yang dikirimkan Lydia pada sang suami, dan tidak lama pun wanita itu tersenyum malu setelah membaca pesan dari sang suami.
[Ok Sayang, Mas sekarang on the way, sekalian bonus akhir ramadhan yah.] Itu adalah pesan yang di kirim Aarav untuk Lydia, apa coba bonus akhir romadhan mungkin Aarav juga ingin THR seperti ponakan-ponakanya.
Tidak lama menunggu pintu pun di ketuk. "Masuk Mas," jawab Lydia yang sudah sangat yakin, kalau yang mengetuk pintu adalah suaminya. Senyum teduh sang suami lansung terlihat begitu pintu di buka.
"Kenapa mau ngasih bonus?" tanya Aarav dengan bibir masih melengkung sempurna, dan berjalan menghampiri sang istri yang sedang duduk dengan sang anak di sampingnya.
"Bonus sudah pasti tapi bukan sekarang. Sekarang ada yang ingin Lydia bicarakan. Duduk Mas." Lydia menggeser tubuhnya agar Aarav bisa duduk bersebelahan dengan dirinya.
__ADS_1
"Kok kayaknya serius banget, ada apa nih?" tanya Aarav semakin kepo dengan apa yang ingin sang istri katakan.
"Maaf kalau Lydia kembali membahas Mimim," ucap wanita itu setiap ingin membahas sahabatnya ia sebenarnya merasa kurang nyaman dengan sang suami. Takut ada rasa bosan, takut ada rasa yang masih tertinggal mengingat Mimin itu mantanya, tetapi dia juga tidak tega melihat kondisi Mimin yang ia tahu bahwa sahabatnya itu tidak ada siapa-siapa yang perduli, kalau bukan dirinya yang perduli lalu siapa lagi, kasihan. Bukanya manusia itu makhluk sosial diajarkan dari kecil sudah saling tolong menolong.
Aarav pun mengerutkan keningnya, dan sebelah tangan diusapkan ke hijab sang istri. "Kenapa harus minta maaf sih, Mas akan dengarkan apapun yang akan kamu bicarakan, baik Mimin, adik kamu, pekerjaan kamu atau apapun itu Mas akan dengarkan sampai selesai."
Lydia pun kembali mengembangkan senyumnya sebagi ungkapan rasa terima kasih. "Jadi tadi Lydia telpon Mimin, Lydia kasihan saja dia tidak ada siapa-siapa lagi yang perduli dengan dia, makanya Lydia sebisa mungkin selalu menyempatkan untuk berkomunikas. Apalagi ini adalah hari kemenangan untuk kita umat muslim, sekaligus Lydia ingin memberikan kabar bahwa anaknya baik-baik saja dan bahagia di sini. Tapi Lydia lihat Mimin menangis, mungkin sedih. Dan Lydia jadi ingat beberapa waktu lalu Mimin pernah bilang kalau dia benci hari raya, itu semua karena dia setiap hari raya tidak tahu arti kebersamaan dia merasa kalau hari raya justru dia bukan diselimuti dengan bahagia karena bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang perduli dengan dia, tetapi dia selalu sendirian, termasuk saat ini."
Untuk sesaat wanita itu menghentikan ceritanya dan menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya.
"Lalu rencana kamu apa?" tanya Aarav dengan nada yang lembut dan mengusap punggung sang istri, untuk memberikan kekuatan bahwa dia tidak sendirian bisa berbagi kesedihan dengan sang suami.
"Lydia berencana bertanya pada dokter Doni, apakah Mimin boleh diizinkan untuk ke luar dari rumah sakit barang sebentar untuk merasakan kebersamaan kumpul bersana di rumah ini dan bertemu dengan Iko, mungkin ini bisa memberikan semangat untuk Mimin kalau banyak yang perduli dengan dia bukan hanya kita saja. Mengingat kalau kita datang ke rumah sakit tidak bisa, apalagi membawa Iko, kalau dia yang datang kan mungkin bisa berpura-pura naik ambulance untuk pergi sehingga apabila ada orang yang ditugaskan oleh David untuk mengawasi Mimin tidak akan sadar kalau sang target ke luar rumah sakit barang sebentar," ucap Lydia dengan harapan kalau sang suami bisa mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Alhamdulilah kalau Mas dan Lydia berpikir hal yang sama. Lydia juga yakin kalau dokter Doni pasti akan izinkan kan Mimin juga hanya tinggal terapi yang penting dan sakit Mimin bukan sakit yang menular sehingga tidak usah ditakutkan, apabila bertemu dengan orang lain."
Lydia pun langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi dokter Doni seperti rencana awalnya.
Sedangkan di tempat lain.
__ADS_1
Dokter tampan yang terkenal dengan anak Momy, anak manja tapi tetap berwibawa. Begitu pulang tugas pun langsung menuju dapur untuk menyapa sang bidadari tanpa sayapnya.
"Hay Mom, masak apa nih, dari luar udah kecium harum sekali, jadi lapar," tanya Doni tentu itu adalah pertanyaan basa basi dia sudah tahu kalau sang ibu sedang memasak rendang dan ketupat itu bisa dia lihat dari wajan yang ada dihadapanya.
"Momy hari ini masak banyak untuk diantarkan ke rumah abang kamu sebagia, kasiahan apalagi istrinya lagi hamil. Ini hadiah dari Momy karena dia sudah mau memberikan cucu untuk Momy," jawab sang ibu dengan nada yang setengah mengejek anaknya yang hingga usianya ke tiga puluh tiga tahun belum laku juga.
"Kalau gitu Doni mau ke kamar Mom, tiba-tiba badab pada pegel," balas laki-laki tampan itu, yah hingga detik ini dia tidak ridho kalau ibunya baik pada abang tirinya. Meskipun dia sudah berdamai dengan Cucu tetapi tidak dengan Deon bagi dia Deon tetap makluk paling menyebalkan.
Rencana kabur Doni pun di dukung dengan panggilan masuk. [Iya hallo, dengan dokter Doni ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Dokter tampan itu dengan nada bicara yang sangat ramah.
[Sebelumnya saya minta maaf Dok, apabila di hari kemenangan ini saya malah mengganggu Anda. Sebelumnya izinkan saya danĀ keluarga mengucapkan selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin apabila saya sebagai keluarga dari pasien Mimin ada salah kata, maupun perbuatan yang kurang berkenan di hati dokter Doni," sapa Lydia dengan ramah sedangkan Aarav di samping sang istri memberikan kekuatan dengan memeluk tubuh sang istri dengan mesra. Sehingga laki-laki itu tahu dan dengar apa yang Lydia dan Doni bicarakan. Yah, inilah yang Lydia mau apapun yang dia bicarakan dengan orang lain terutama lawa jenis bisa terbuka dengan sang suami.
[Sama-sama Mbak, saya juga sebagai dokter mungkin ada kata atau perbuatan saya yang kurang berkenan mohon dibukakan pintu maaf, tapi ngomong-ngomong ada perlu apa? Sepertinya ada hal yang ingin Mbak Lydia bicarakan?] tanya dokter Doni ulang.
[Benar Dok, tujuan saya menghubungi Anda memang ada yang ingin dibicarakan. Mengingat Anda adalah dokter penanggung jawab dari Mimin, mungkin ini akan terdengar kurang sopan karena ini urusan pekerjaan tapi justru saya hubungi di luar jam kerja Anda jadi gini...."
Lydia menjelaskan apa yang jadi maksud malam-malam menghubungi dokter Doni, seperti yang ia jelaskan tadi pada sang suami.
Nafas berat pun terdengar dari balik telepon, sehingga membuat Lydia jadi semakin tegang ketika akan mendengar jawaban dari dokter Doni. Besar harapan dokter Doni bisa mengizinkan apa yang dia inginkan, tetapi dia juga tidak bisa memaksa mengingat yang jadi keputusan dokter Doni pasti untuk kebaikan pasien.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...