
Masih di dalam kamar yang luas. Pasangan suami istri yang sudah selesai ibadah wajib bersama pun menikmati kebersamaan dengan saling bermesraan. Obrolan ringan dengan sesekali diselingi candaan pun membuat arti kebersamaan yang semakin hangat.
Dua insan manusia yang tengah merasakan butiran cinta yang baru. Mereka duduk mesra di sofa kamar yang luas. Hadi menatap lembut wajah cantik sang istri. Netra yang bening sebening mata air surga. Mengalir melewati sungai cinta, penawar rasa dahaga yang telah lama sungai itu mengering. Senyum keduanya merekah menghadirkan bahagia yang baru. Luka yang pernah menganga, kini kering lah sudah. Bercak hitam di dinding hati kini musnah sudah dibakar api cinta.
"Mas, ini sudah pukul delapan. Kita turun yuk, takut Iko nyari," ucap Mimin setelah puas menikmati pagi yang cerah dengan cerita ringan dari sang suami.
Mendengar kalau sekarang sudah pukul delapan. Hadi pun langsung menatap jam di dinding kamarnya. Kedua matanya melebar sempurna, ternyata mereka sudah ngobrol hampir tiga jam. Entah apa saja yang dibicarakan hingga Hadi dan Mimin tidak sadar kalau sudah siang.
"Ya udah yuk kita turun." Hadi membantu sang istri berganti pakaian yang lebih tertutup. Berbeda dengan tadi di mana Mimin masih memakai pakaian dinas untuk memanjakan suaminya.
Hadi dan Mimin pun keluar kamar dengan berjalan bergandengan tangan seolah mereka takut kalau bakal terpisah atau bahkan hilang kalau tidak bergandengan tangan.
"Kok kayaknya sepi banget Mas," ucap Mimin ketika menapaki satu persatu anak tangga.
"Iya pada ke mana yah. Biasanya suara Iko pasti rame." Mereka pun terus melanjutkan menuruni anak tangga hingga ke ruang makan bahkan dilihat di taman belakang tidak ada siap-siapa.
"Bi, Iko dan Mamah pada ke mana?" tanya Hadi pada asisten rumah tangga yang masih sibuk membersihkan dapur karena mereka baru selesai menyiapkan sarapan.
"Abang Iko lagi pada jalan-jalan ke taman Mas, sudah dari jam enam pagi mungkin nanti sebentar lagi pulang," jawab asisten rumah tangga dengan jelas. Sontak Hadi dan Mimin pun saling pandang.
"Pantes tidak nyariin ternyata sedang jalan-jalan pagi," ucap Hadi sembari membuat kopi dan teh buat Mimin. Meskipun Mimin sudah melarang agar Hadi jangan membuatkan, tetapi laki-laki usia tiga puluh delapan tahun itu tetap melakukanya. Dengan alasan ingin melayani sang istri. Kembali hati Mimin merasakan sangat dihargai di pernikahan yang kali ini, karena Hadi benar-benar melayaninya dengan sangat baik.
"Mamah, Baba ..." Suara Iko langsung menggema dengan berlari dengan tangan kanan membawa balon yang warna warni dan tangan kiri memegang mainan pesawat yang bisa terbang hampir menyerupai layangan hanya ini lebih kecil.
"Hay Sayang, kamu dari mana? Mamah dan Baba kok di tinggal." Mimin memeluk putra pertamanya yang nampak sangat bahagia karena sudah jalan-jalan pagi bersama dengan kakek dan neneknya.
"Jalan-jalan pagi Mah, selu banyak teman dan banyak jajan, tadi Iko beli cilok enak Mah, tapi pedes_" Iko dengan antusias menceritakan ke mana pagi-pagi dia pergi. Bahkan sampai bibirnya mangap-mangap seolah menunjukkan kalau dia kepedesan.
__ADS_1
"Wah, kayanya seru, tapi ko Iko tidak ajak Mamah dan Baba sih, kan Baba juga mau makan cilok." Handi menimpali dengan menyuguhkan teh hijau hangat untuk sang istri dan kopi pahit untuk dirinya.
"Terima kasi Mas," ucap Mimin ketika Hadi melayaninya dengan baik.
"Iya sama-sama orang bikin teh dan kopi gampang kok, tidak usah berterima kasih segala." Hadi memegang kepala Mimin karena ia posisinya berdiri di samping Mimin yang duduk dengan memangku putra tampannya.
"Kata Kakek dan Nenek, Baba dan Mamah sedang bikin adek bayi kaya punya Bunda dan Papah Aalav."
Mendengar ucapan Iko, Mimin dan Hadi pun saling pandang. Yah memang sih, dia tadi pagi memang sedang produksi adik untuk Iko.
"Emang Abang mau punya adik berapa?" tanya Baba Hadi kali ini mengambil anak tirinya agar sang istri tidak cape.
Kini gantian Iko yang nampak bingung dengan pertanyaan babanya. "Iko mau yang banyak," jawabnya setelah berpikir keras.
"Ya udah kalau mau yang banyak nanti Baba dan Mamah bikin yang banyak adiknya untuk Abang Iko, tapi ngomong-ngomong kakek dan nenek kamu ke mana Sayang?" tanya Hadi, pasalnya masa sih Iko pulang sendirian nanti malah ke dua orang tuanya nyari-nyari di mana Iko lagi.
Sontak Hadi dan Mimin tertawa renyah dengan ejekan Iko pada kedua kakek dan neneknya yang dibilang payah itu.
"Iko mau makan?" tanya Mimin mungkin habis lari pagi anaknya malah kelaparan.
"Enggak, Iko udah kenyang. Makan baso dong." Kembali Mimin semakin gemas dengan celotehan anaknya yang sangat menggemaskan itu.
"Assalamu'alaikum ..." Suara kakek dan neneknya Iko akhirnya kedengaran juga.
"Wa'alaikumussalam ..." Jawab Hadi dan Mimin hampir berbarengan.
"Ye, Iko juala Kakek dan Nenek kalah...." Iko berjingkrak bahagia karena anak kecil itu lebih dulu sampai di rumah sedangkan kakek dan neneknya baru sampai.
__ADS_1
"Wah Iko hebat selamat yah Sayang sudah jadi juara." Baba Hadi pun memberikan selamat dan hadian ciuman bertubi-tubi pada anak tirinya yang makin hari makin pandai.
"Terima kasih Baba." Iko mengucapkan dengan senyum yang tidak ada hentinya.
"Kalian belum sarapan kan?" tanya Arum dengan meletakan hasil buruan pagi ini. Rasanya kurang afdol kalau ia tidak membeli aneka jajanan yang berjajar dengan rapi dan dengan rasa yang jelas nikmat dan lezat.
"Kebetulan belum. Mamah beli apa?" tanya Mimin dengan mengecek kantong makanan satu persatu.
"Ada baso, pecel, ketoprak dan ada cilok dan somay juga. Mamah tidak tahu kamu suka makanan apa jadi Mamah beli semua aja. Kamu bisa pilih sendiri mau makan yang mana," ucap Arum.
"Aku mau coba baso dan pecel Sayang." Hadi tiba-tiba pengin makan baso yang kayaknya pagi-pagi makan baso terasa segar. Dan pecel ia kangen dengan makanan yang terbuat dari sayuran direbus dan di tabur dengan bumbu kacang.
"Nah Mamah beli pecel juga karena ingat kamu Di. Kamu kan suka banget makan pecel dan mendoan," balas Arum yang sudah jelas tahu betul makanan apa kesukaan anaknya.
"Wah, Kok Mas makanan kesukaannya sama dengan Mimin."
Yah Mimin juga menyukai makanan yang sama dengan Hadi.
"Wah, itu memang ciri-ciri jodoh kata orang Sayang," sahut Hadi dan Mimin. Sementara Mimin dan Hadi menikmati sarapan bersama dengan makanan yang dibelikan oleh Arum dan Ahmad. Iko sendiri saat ini sedang bermain air dengan kakek dan neneknya. Sepertinya Arum memang ingin menikmati kebersamaan dengan cucunya secara full sebelum besok akan pulang ke Kalimantan. Maklum anaknya yang satu lagi juga butuh penjagaan yang ketat agar tidak kecolongan. Apalagi anak yang satu playboy senior jadi harus ada penjagaan ketat agar tidak pulang-pulang minta dikawinin karena hasil tabungan sudah jadi.
Bersambung...
********
#Mohon doanya buat anak othor yang baru menjalankan khitanan semoga cepat pulih yah.🙏🏻
__ADS_1