Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Rahasia Bos


__ADS_3

"Ayo masuk," ucap David sembari membukakan pintu mobil mewahnya, sedangkan mantan istrinya justru masih telihat ragu-ragu.


"Kamu percayalah, kalau aku hanya ingin berbicara empat mata dengan kamu. Aku mana mungkin menyakitu kamu sedangkan kamu tahu kalau aku itu sebenarnya masih sangat mencintai kamu," imbuh David lagi dengan berbagai cara laki-laki itu terus berusaha untuk meyakinkan Mimin kalau dirinya tidak mungkin membuat Mimin sengsara.


"Seharusnya aku percaya dengan semua omongan kamu, tapi itu dulu. Sekarang justru apa yang kamu katakan semakin membuat aku tidak percaya. Memangnya kamu akan ngomong apa? Bukanya bisa dilingkungan sekitar sini saja. Aku juga tidak nyaman kalau harus pergi hanya berdua dengan kamu," ucap Mimin lagi, yang justru bukanya ia buru-buru masuk ke dalam mobil mewah sang mantan, ia justru kembali mematung dengan santai di depan pintu mobil.


"Kita tidak berdua, kan ada sopir aku." David kembali menunjuk sang supir yang sedang duduk dengan tenang di belakang kemudi mobil mewahnya. Kali ini Mimin kembali melirik ke dalam mobil untuk memastikan kalau yang David katakan itu memang benar adanya. Mereka tidak pergi berduaan saja tetapi ada orang lain yang bisa Mimin gunakan untuk mengontrol perbuatan David yang mungkin bisa berbuat diluar perkiraanya. Apalagi setatus David yang memiliki istri sangat beresiko istrinya akan menuduh yang tidak-tidak.


"Ayolah Mimin, ini tidak akan lama. Aku hanya ingin mendengar penjelasan kamu saja, aku hanya ingin tanya alasan kamu memberikan anak kita pada Aarav. Sementara aku, papahnya sangat mampu untuk merawat Iko dengan baik dan berkecukupan. Aku ingin berbicara baik-baik dengan kamu. Sebelum Papah tau dengan keberadaan kamu, dan bisa saja menyerang kamu dan anak kita. Kamu pasti juga masih ingat bagaimana arogant-nya Papah, dan aku hanya ingin melindungi kamu dari rencana Papah yang ingin menjatuhkan kamu," ucap David lagi,  besar harapanya kalau Mimin akan percaya dengan apa yang barusan dikatakan.


"Tapi, kamu janjikan tidak akan berbuat hal yang di rual nalar," balas Mimin, lagi dengan memastikan perbuatan sang mantan suami, yang mungkin saja laki-laki itu sedang melakukan rencana lain yang bisa membahayakan Mimin. Meskipun Mimin dalam hati kecilnya tetap yakin kalau David adalah laki-laki yang baik. Itu alasan dulu Mimin bisa merasakan jatuh cinta, karena David tidak  seburuk papahnya.


"Astaga Mimin, aku harus mengatakan beberapa kali, kalau aku hanya ingin bicara baik-baik, minta penjelasan kamu. Kita harus bicara agar aku tidak salah paham terus," balas David dengan sangat yakin.


Mimin menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan, untuk membuang pikiran ketakutanya. "Baiklah, aku akan ikut kamu tapi kamu jangan macam-macam." Wanita itu sekali lagi memberikan ancaman agar David jangan macam-macam.


"Iya-iya...."


Setelah memastikan kalau David tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Mimin pun langsung masuk ke dalam mobil mewah David, perlahan mobil itu pun meninggalkan halaman kantor tempat Mimin selama satu tahun ini mengais rezeki. Cukup lama kebisuan terjadi di dalam mobil mewah itu. Baik Mimin maupun David tidak terlibat obrolan sama sekali.


Meskipun Mimin kurang nyaman karena pergi dengan sang mantan suami. Tetapi wanita itu mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif, toh di dalam mobil ada orang lain yaitu supir pribadi David.


"Tuan, ini kita akan ke mana?" tanya sang sopir setelah cukup lama mobil melaju, tetapi belum ada juga keputusan mau ke mana dari David.

__ADS_1


"Tempat yang tadi aku bilang," balas David dengan nada yang dingin.


Sebenarnya Mimin ingin memulai mengajak ngobrol, tetapi wanita bercadar itu mengurungkanya setelah beberapa kali ia melirik ke arah David dengan ekor matanya tetapi laki-laki itu  seperti sedang tidak baik suasana hatinya sehingga wanita itu kembali memilih diam dan berdzikir dalam hatinya. Minta perlidungan pada Allah, karena  sebaik-baiknya perlindungan adalah oleh Allah semata.


Entah David mau mengajak ke mana Mimin, di mana wanita itu sudah cukup lama duduk dan hanya diam dan berdzikir sesekali melihat jalanan dan juga melihat David yang sepertinya sedang sibuk dengan ponselnya. Namun, Mimin juga semakin takut, kenapa sudah lama mobil berjalan, tapi tidak juga sampai.


"David, kita mau ke mana sebenarnya kenapa sampai sekarang belum sampai juga?" tanya Mimin, akhirnya memberanikan diri bertanya pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.


"Hemz..." David hanya menjawab dengan deheman. Di mana tangan masih memegang ponselnya dan pandangan mata juga tidak dialihkan dari layar pintar.


"David, aku bertanya. Kita mau ke mana sebenarnya. Kenapa kalau harus ngobrol jauh sekali, bukanya di sekitar kantor banyak tempat yang nyaman untuk ngobrol?" Wanita itu yang merasa David terus mengacuhkan dirinya pun kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


"Kenapa sih kamu bawel banget. Tinggal duduk dan nikmati perjalanan ini. Bawel banget, bikin kepala makin pusing aja," bentak David yang langsung membuat Mimin terkejut. Kenapa David yang sekarang jauh lebih kasar dari sebelumnya.


"Setop Pak," ucap David pada sang sopir yang mana saat itu juga mobil yang mereka tumpangi berhenti. Mimin menghirup nafas lega, karena ternyata David menuruti ucapanya, ia langsung meminta mobil di berhentikan dan itu tandanya dirinya bisa pulang. Masalah pulang naik apa bisa dipikirkan lagi nanti.


"Turun Pak!" David meminta sang supir turun, dan lagi-lagi seperti yang David inginkan sopir itu turun, dan Mimin pun bersiap akan turun, tetapi malang, wanita itu malah dicengkeram pergelangan tanganya dengan kuat oleh David yang artinya David tidak menginginkan untuk turun.


"David lepaskan, kita bukan muhrim, kamu tidak bisa pegang aku sesuka hati kamu," ucap Mimin dengan mencoba melepaskan genggaman tangan David, tetapi laki-laki itu bukanya mengikuti apa kata Mimin, malah menggenggam makin keras. Tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut David.


"David kamu menyakiti aku," ringis Mimin kali ini wanita itu menunjukan wajah merah padamnya, karena menahan sakit.


Brak... David membuka penutup wajah Mimin.

__ADS_1


"David jangan! Kamu, kenapa kamu buka niqab aku." Mimin semakin marah dan kesal ingin mengambil benda berharganya, tetapi David tidak memberikanya.


"Kamu lebih cantik seperti ini. Berapa kamu jual tubuh kamu pada Hadi?" tanya David dengan nada bicara yang sinis. Tanpa melepaskan pegangan tangannya di pergelangan tangan Mimin yang sudah merah. Sedangkan Mimin saat ini memiliki kulit yang sangat sensitif, itu alasanya dia memakai pakaian tertutup selain karena ketaatannya pada Allah, ini juga suatu bentuk ia menyanyangi tubuhnya yang sensitif, ia melindungi tubuhnya dari cahaya matahari dan benda yang bisa melukai kulitnya.


"Jaga ucapan kamu David, hubungan aku dan Mas Hadi hanya sebatas bawahan dan atasan saja, bahkan dia jauh lebih bisa menghormati aku dari pada kamu," balas Mimin dengan nada yang ketus dan tatapan yang sengit, wanita itu malah tidak sedikit pun merasakan sakit padahal kulitnya yang sudah terluka karena tangan Hadi. Kemarahanya lebih menguasai sehingga dia tidak merasakan sakit lagi.


"Ya, anggap saja aku percaya, dan anggap juga aku buta. Bos mana yang mau menerima karyawan tanpa seleksi kerja dan di tempatkan di sutu devisi yang penting tanpa adanya servis sepesial. Hadi, Aarav, mungkin kamu bisa lolos dari istrinya dan dari karyawan lain, tapi aku tidak bisa dibohongi, sudah jadi rahasia umum seorang bos yang duitnya tanpa limit, kalau ingin berada di sekitarnya pasti ada servis yang diberikan? Berapa? sepuluh juta? Lima puluh atau seratus? Enggak mungkin kan diberikan gratisan sedangkan anakku saja kamu jual?" tuduh David dengan nada bicara yang sangat merendahkan wanita yang pernah dicintai.


"Palakkk... Dengan sekuat tenaga wanita itu menampar mantan suaminya.


"Jaga mulut kamu David, sejak tadi aku diam saja setiap tuduhan yang kamu  ucapkan, tapi tidak kali ini. Aku sudah jijik, muak dan najis berhubungan dengan kamu. Saat ini aku ikut dengan kamu bukan karena aku takut sama ancaman kamu, tapi karena aku pikir kamu adalah orang yang pantas diberikan kepercayaan. Namun, nyatanya sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa dipercaya. Kamu menuduh Aarav dan Hadi serendah itu, mungkin itu kamu yang selalu menikmati para anak buah kamu. Jangan samakan tingkah bejad kamu dengan orang lain, karena orang lain tidak serendah kamu."


"Plakkk..." kali ini laki-laki itu membalas tamparan Mimin.


"Aku menyesal telah membiarkan kamu hidup yang malah membuat hidupku jadi runyam."


Mimin tersenyum sinis meskipun ia merasakan ada rasa asin yang artinya bibirnya pasti terluka.


"Sekalipun aku mati ditangan kamu, aku sudah siap."


Bersambung....


#Othor mau semedi dulu, komentar dipersilahkan... 🤭🤭

__ADS_1


...****************...


__ADS_2