
Huaa...Huaa...
"Mas coba Lydia yang gendong Iko," ucap wanita berhijab itu yang tidak tega melihat sang putra menangis bahkan sampai mutar-mutar tubuhnya, menujuk ke taman belakang, tetapi saat Aarav mengikutinya kemauan putranya, anak kecil itu kembali merajuk, dan berganti menujuk ke depan. Begitupun saat memberontak minta turun, saat diturunkan kembali anak kecil itu minta gendong. Di gendong sang nenek tidak mau begitupun yang lainnya.
"Jangan Sayang, tenaga Iko biar kecil begini sangat kuat. Mas takut nanti malah kamu dan sikembar kenapa-napa." Aarav kembali membawa sang putra ketaman belakang untuk melihat kelinci, burung, malah laki-laki itu mengajak Iko untuk menangkap ikan, tetapi anak kecil itu kembali menangis dengan isteris.
"Aarav, Mami sudah panggil dokter Nenti ke sini. Mungkin Iko sedang merasakan sakit, namanya anak bayi memang seperti itu kalau ada yang dia rasakan belum bisa bilang jadi hanya nangis. Lydia yang sedikit paham dengan tatapan Iko pun kembali berdiri, dan menghampiri sang suami.
"Mas, coba Lydia gendong Iko. Mungkin dia sedang ingin di gendong sama bundanya. Tatapan Iko sepeti ingin di gendong Lydia. Kalau Mas takut Iko akan kembali berontak Lydia bisa gendong sambil duduk." Wanita berhijab itu kembali berusaha. Meskipun dia bukan ibu kandungnya, tetapi ia tidak tega dan yakin kalau Iko sedang kangen dengan dirinya.
"Biarkan Rav coba di gendong sama bundanya. Mungkin memang dia hanya ingin dengan Lydia. Kalau masih belum mau diam baru kamu ambil lagi," imbuh Mami Misel yang tidak tega juga melihat sang cucu yang seperti kesakitan gitu. Yah, jelas pasti sakit, dan cape menangis hampir satu jam dan badan mutar-mutar ke sana ke mari pasti sakit badanya. Itu sebabnya sang oma memanggil dokter keluarga.
"Tapi kamu kalau tidak sanggup bilang yah," ucap Aarav dan setelah Lydia membalas dengan anggukan laki-laki itu pun memberikan Iko pada istrinya. Sesuai yang dikatakan oleh Lydia tadi, ia pun menggendong Iko sembari duduk dan menepuk-nepuk bo'kong sang jagoan.
Iko memang tidak langsung diam, tetapi dia juga tidak berontak seperti saat dalam gendongan sang papah. Iko hanya menangis, tapi tetap diam dalam pelukan bundanya.
"Mas, coba telpon Mimin, minta dia ke sini. Mungkin Iko kangen dengan mamahnya," bisik Lydia pada suaminya yang duduk di sampingnya.
Aarav pun tanpa menunggu lama menghubungi Mimin, sesuai apa yang Lydia katakan. Namun sampai panggilan ke lima sambungan teleponya tidak juga Mimin angkat.
"Kenapa Mas?" tanya Lydia, dalam batin wanita itu makin cemas pasalnya Iko tidak pernah menangis sehiseris ini. Bahkan jagoanya jatuh sampai ada telor di jidatnya, dia tidak sampai menangis sedramatis saat ini. Anak itu hanya nangis sebentar setelah itu ia akan kembali bermain.
"Telponya tidak diangkat." Aarav menujukan lima panggilan yang tanpa jawaban.
"Hadi?"
__ADS_1
Kali ini Aarav kembali nurut, ia mengalihkan panggilan pada rekan bisnisnya. Sama halnya Mimin, Hadi pun tidak juga kunjung mau mengangkat telponnya. Bahkan panggilan sudah melebihi panggilan pada Mimin, tapi hasilnya sama saja.
"Kenapa pikiran Lydia malah makin tidak karuan yah. Lydia makin yakin kalau Iko nangis seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi dengan ibunya," gumam Lydia, dengan tatapan menatap Iko yang masih terisak sedih dalam pelukannya. Serta tangan Lydia terus mengusap punggung sang jagoan.
"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak Sayang, Mamih yakin kalau Iko itu ada yang dirasakan dengan kesehatanya, mungkin dia mau tubuh gigi yang belakang biasanya itu sakit banget jadi anak-anak biasanya akan panas tubuhnya dan menangis terus." Sang mertua mencoba menenangkan sang menantu yang tengah berbadan tiga. Meskipun ibu empat anak itu juga memikirkan hal yang sama dengan perasaan sang menantu, yaitu cemas takut ada apa-apa dengan Mimin.
"Mas coba telopon security kantor, apa mereka masih di dalam kantor apa sudah pulang." Aarav terus berusaha memastikan kalau rekan bisnis dan karyawanya baik-baik saja, dan Iko yang menangis terus memang sesuai tuduhan sang mami, kalau dia mungkin akan tumbuh gigi bagian belakang sehingga rasa sakitnya luar biasa.
"Iya coba Mas pastikan, kalau tidak tanyakan pada sekretaris mas atau siapa gitu yang kita-kira bisa memberikan keterangan kalau Mimin dan Hadi dalam keadaan baik-baik saja."
Aarav pun membalas dengan senyum samar, dan laki-laki itu demi kenyamanan bersama memilih taman belakang untuk mencari sesuatu dengan keberadaan Mimin, dan Hadi yang sejak tadi teleponya terus diabaikan.
Pandangan Lydia pun terus tertuju pada sang suami yang terlihat sedang ngobrol dengan orang di balik telepon dan pandangan menunduk serta jalan yang bolak balik. Dengan pandangan terus menatap ke bawah dan sesekali terlihat cemas. Lydia yang bisa melihat dari tempatnya duduk pun mulai tidak tenang.
"Bagaimana Dok? Apa ada gigi yang mau tumbuh?" tanya Mami Misel dengan cemas. Meskipun Iko bukanlah cucu kandungnya, tetapi Mami Misel juga merasakan sedih ketika cucu laki-lakinya seperti ini.
"Sepertinya tidak Tante, mungkin Iko hanya kecapean. Nenti berikan obat dan mudah-mudahan setelaah ini tidak rewel lagi." Dokter Nenti pun memberikan obat untuk Iko dan setelah minum obat yang diberikan dokter Nenti, Iko pun tidak lama istirahat dengan tenang di pangkuan sang bunda. Sedangkan Aarav kembali masuk dengan wajah yang dipaksa tersenyum agar Lydia tidak berpikir yang macam-macam.
"Bagaimana Mas?" Sesuai yang dia bayangkan begitu masuk kembali ke dalam rumahnya langsung dicecar oleh sang istri.
Aarav yang sudah mempersiapkan jawabanya pun duduk di samping Lydia dengan tangan mengusap rambut sang jagoan yang terlihat sangat lelah itu.
"Tadi telpon ke security katanya sedang ada meeting, mungkin ponselnya di-silent jadi mereka tidak tahu kalau Mas telpon. Dan tadi juga tanya sama secretaris kayaknya Mas harus ke kantor deh, sepertinya meeting ini agak alot karena membahas investor, makanya sudah lama belum ada yang keluar. Kamu tidak apa-apa kan kalau Mas tinggal ke kantor? Kasihan Hadi kalau tidak siap presentasi bisa gagal investor mempercayakan usaha kita untuk menjalin kerja sama," jelas Aarav dengan suara yang tenang sedangkan dia sendiri sebenarnya merasakan tidak tenang. Apalagi ketikan security bilang Mimin pergi dengan David. Belum Hadi yang tidak bisa dihubungi. Pikiran Aarav sudah yakin kalau ada sesuatu antara dua temanya. Sehingga ia akan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh ya udah tidak apa-apa, lagian Iko juga sudah tidur."
__ADS_1
"Tapi nanti kalau ada tamu siapa pun tidak dikenal bilang sama Mami atau orang rumah jangan dibiarkan masuk, nanti Mas akan bilang sama security," imbuh Aarav untuk memastikan dia meninggalkan anak istrui serta maminya dalam keadaan aman.
"Siap Mas, kalau gitu Lydia mau bawa Iko masuk kasihan kalau tidur kaya gini terus nanti sakit badannya." Lydia sudah bersiap akan membopong sang putra agar bisa istirahat dengan nyaman, tetapi langsung ditahan oleh Aarav.
"Biar Mas yang angkat jagoan, takut kamu kenapa-napa."
Wajah Lydia langsung merah padam ketika mendengar perkataan dari sang suami yang sangat romantis itu, padahal dokter juga bilang tidak apa-apa gendong baby asal jangan terlalu lama, dan posisi gendong tidak membahayakan sang buah hati.
"Terima kasih yah Mas," ucap Lydia setelah jagoan bisa istirahat dengan nyaman di atas kasur.
"Sama-sama, kalau gitu mas pergi dulu yah. Sayang baby twins, Papah kerluar dulu yah untuk kerja, Papah janji secepatnya akan pulang." Aarav pun tidak lupa pamitan pada istri dan juga calon anak kembarnya.
"Dadah Papah." Lydia pun melambaikan tanganya dan mencoba menirukan suara anak kecil.
Aarav memberikan seulas senyum terbaik pada istri dan anaknya, sebelum meninggalkan mereka. Meskipun berat karena dalam pikirannya takut kalau ini hanya jebakan orang-orang David saja, tetapi Aarav juga tidak mungkin membiarkan Mimin yang kondisinya belum tentu dalam keadaan aman.
"Loh, Rav, kamu mau ke mana?" tanya Mami Misel ketika melihat sang putra sudah berpenampilan lebih rapi dan juga harum.
Aarav pun menarik sang Mami agar ikut ke depan rumah, Aarav menceritakan semua yang tadi dia telpon dari security dan juga memastikan pada sang mami kalau jangan terima siapapun saat Aarav ataupun Papi belum pulang, dan apabila ada sesuatu yang mencurigakan Aarav minta pada security agar langsung hubungi yang berwajib, agar apa yang dia cemaskan tidak terjadi. Memang terkesan sangat berlebihan, tetapi apa yang Aarav lakukan adalah demi kebaikan keluarganya apalagi sang istri sedang hamil, penjagaan harus ekstra bagus lagi.
Setelah memastikan sang mami kalau semuanya baik-baik saja Aarav pun langsung kembali meninggalkan keluarganya dan mencoba menghubungi orang-orangnya untuk membantu melacak keberadaan Mimin dan hadi melalui ponselnya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1