Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Mimin yang Mulai Perhatian


__ADS_3

"Tolong temui aku di depan kantor!" Sebelum Hadi berangkat kerja, ia pun mengirimkan pesan pada orang kepercayaanya dulu. Setelah orang kepercayaannya siap menemui Hadi, laki-laki itu pun langsung melajukan kedaraan roda empatnya dan segera menuju kantor tempatnya bekerja.


Hadi sudah benar-benar sangat mirip dengan bos, berangkat sesuka hati, bahkan jam sepuluh ia baru meninggalkan kediamanya untuk melajukan kendaraanya ke kantor.


Laki-laki itu yang datang lebih dulu pun menunggu orang kepercayaanya sebelum masuk ke dalam parkiran kantor.


Tidak menunggu lama kaca jendela mobil Hadi pun diketuk oleh orang yang ia tunggu. Hadi pun membuka pintu mobilnya.


"Masuklah!"


Orang dengan pawakan tinggi, dan tubuh kekar dengan tato di lengan sebelah kiri pun masuk dan duduk di samping Hadi. Penampilanya seperti preman, tetapi laki-laki itu memiliki hati yang baik, nama dia adalah Joko.


"Maaf telat, tadi macet," ucap Joko begitu ia meletakan bok0ngnya di kursi mobil.


"Hemz, tidak masalah. Belum sampai satu jam aku menunggu. Ngomong-ngomong aku memanggil kamu, ingin memberikan kamu pekerjaan, tapi kamu tolong cari tahu informasi dengan sangat detail jangan sampai ada informasi yang terlewat atau justru tidak akurat." Hadi mengambil alamat, dan juga nama orang yang semalam Aarav berikan.


"Siap Tuan, saya akan bekerja dengan baik," balas Joko dengan yakin.


"Bagus, aku senang dengan jawaban kamu. Ini adalah alamat dan nama orang yang harus kamu cari tahu, dan cari tahu dengan sangat detail, serta usahakan berikan informasi secepatnya untuk aku." Hadi memberikan catatan kecil yang ia sudah sengaja siapkan.


Joko menerima catatan itu, dan membaca nama yang  Hadi tulis. Dodi Sanjaya dan Julio." Joko membaca dengan cukup kencang.


"Yah, tolong cari tahu tentang orang itu. Ingat jangan sampai salah informasi, cari tahu yang sangat detail. Ini bayaran untuk kamu, dan kalau kamu mendapatkan informasi yang jauh lebih bagus, cepat dan akurat. Aku akan memberikan bonus yang lebih dari itu."


Joko pun menghitung nominal yang bagi dia cukup banyak lima juta, untuk pekerjaan mencari informasi itu sudah jauh banyak dari pada orang lain. Laki-laki yang berpenampilan menyerupai preman itu mengembangkan senyumnya. "Anda tenang saja Tuan, saya  akan pastikan bekerja dengan sangat baik."

__ADS_1


"Aku percaya pada kamu, kalau gitu cepatlah pergi bekerja dan cari informasi dengan sebaik mungkin." Joko pun langsung berpamitan pada Hadi.


Setelah memastikan kalau Joko bisa diandalkan, Hadi tentu merasa sangat senang, karena urusan mencari tahu siapa calon mertuanya dan berada di mana sekarang, sudah bisa diatasi oleh Joko. Hadi sangat yakin kalau Joko bisa mengatasi pekerjaan ini dengan baik. Laki-laki bersetelan jas rapi pun langsung masuk ke kantornya, dan harus mengerjakan tugas-tugas yang sudah ia tinggalkan, kalau tidak mau gajinya benar-benar dipotong oleh Tuan Sony sebagai bos dari segala bos.


********


Sudah jam makan siang, tapi pekerjaan Hadi tak kunjung selesai juga. Apalagi tadi pagi ia hanya mengganjal perutnya dengan roti gandum dan selai kacang. Sekarang cacing di dalam perutnya sudah memanggil-manggil minta jatah untuk diisi. Namun, ia melihat tumpukan map yang harus ditanda tangani masih banyak. Ok, kalau hanya tanda-tangan lima belas menit juga selesai, masalahnya ia juga harus mengecek kembali agar tidak ada yang kecolongan untuk laporan. Apalagi laporan yang ia tanda tangani itu bersankutan dengan uang semua, jadi harus super hati-hati. Salah tanda tangan bisa-bisa rugi besar.


Tok... Tok... Tok...


Pintu di ketuk dengan cukup kencang, hingga Hadi pun terkejut.


"Yah masuk," ucap Hadi, tanpa memalingkan pandanganya dari laporan yang ia harus tanda tangani.


Deg!! Meskipun Hadi tidak melihat siapa yang datang, tetapi dari pakaian yang terlihat dari ekor matanya dan wanginya parfum, Hadi sudah hafal betul siapa yang datang itu. Yah, siapa lagi kalau bukan calon istrinya.


"Ini gara-gara tadi kesiangan, kerjaan belum selesai." Hadi menatap tumpukan map yang pastinya nanti setelah jam makan siang akan datang lagi laporan yang harus dia cek dan tanda tangani. Meskipun semua sudah dicek oleh sekretarisnya, tetapi Hadi adalah tipe orang yang sangat sempurna sehingga ia tidak mau kecolongan maka ia mengecek ulang sebelum dia tanda tangani.


"Tapi harus tetap makan kan, jangan sampai selalu ingatkan aku untuk makan, tapi Mas sendiri malah lupa untuk makan. Ini tadi Mimin belikan makanan. Makan dulu tidak akan lama kok." Mimin meletakan kotak makanan yang sengaja ia beli dari kantin. Selama ini Hadi adalah orang yang sangat baik pada Mimin sehingga tidak salahnya Mimin juga mulai memberikan perhatian balik. Itu yang Mimin pelajari dari apa yang dokter Sera katakan. Mimin harus belajar memperlakukan Hadi dengan baik, layaknya Hadi memperlakukan dirinya selama ini.


Hadi kaget dengan sikap Mimin yang sangat manis. "Ini serius, Mimin anterin makan untuk Hadi. Aduh berasa jadi suaminya," kelakar Hadi dengan menggeser laporanya, agar ia langsung bisa makan. Siang ini makan pun terasa spesial karena langsung dibelikan langsung oleh Mimin, tanpa Hadi menitip.


Mungkin ini adalah kali pertama Hadi diperlakukan seperti ini oleh Mimin, mungkin kalau kata orang lain ini sangat biasa, tetapi beda cerita untuk Hadi. Di mana Mimin biasanya akan cuek dan terlihat jarang perduli dengan Hadi, tetapi siang ini sangat berbeda Mimin justru berinisiatif memberikan makanan untuk Hadi.


"Udah buruan makan, nanti malah keburu dingin." Mimin pun duduk di sofa, begitu pun Hadi yang memilih duduk berhadapan dengan Mimin.

__ADS_1


"Kamu udah makan?" tanya Hadi ketika Mimin hanya menatapnya yang tengah makan dengan lahap. Padahal yang Mimin belikan hanya makanan padang, yang tidak terlalu istimewa rasanya tapi ketika dibelikan oleh calon istri nasi padang yang bagi Hadi biasanya terasa biasa saja, kali ini rasanya super istimewa. Lezat bahkan satu porsi terasa kurang.


"Udah tadi bareng dengan yang lain." Mimin hanya membalas dengan singkat dan kembali terfokus dengan ponselnya. Bibirnya di balik cadar melengkung sempurna, seperti ada kabar yang membuatnya bahagia.


"Kenapa?" tanya Hadi penasaran karena dari matanya Mimin sedang tersenyum bahagia.


"Lydia mengirim foto Iko. Udah kangen banget nggak ketemu dengan Iko, padahal belum ada satu minggu nggak ketemu dengan dia tapi berasa satu tahun." Mimin menujukan foto anaknya yang Lydia kirimkan.


Iko udah siap bantuin calon papah Hadi kerja nih.



"Coba aja telpon atuh kalau kangen." Hadi juga pengin ngomong dengan calon anaknya, tadi pagi telpon sama Aarav, Iko sedang banyak acara dengan eyang dan sepupunya.


"Tadi pagi udah, paling nanti sore lagi, kalau siang gini Iko selalu main dengan teman-temanya jadi susah buat ngobrolnya. Maklum sekarang teman-temanya banyak jadi senang bermain kesana ke mari dengan teman-temanya."


"Yah, nanti kan gantian kita yang bersama Iko."


"Emang Mas Hadi sudah izin dengan Aarav dan Lydia kalau mau ajak iko pulang kampung juga?" tanya Lydia dengan serius.


"Belum sih, tapi tenang saja Aarav pasti izinin, kalau soal izin biarin nanti saja kalau mereka sudah pulang." Yah, meskipun Hadi belum izin dengan Aarav dan Lydia, tapi dia sangat yakin kalau dua sahabatnya itu bakal mengizinkan Iko untuk ikut dengan dirinya. Apalagi Mimin juga ibunya jadi tentu mereka akan mengizinkan Iko untuk bersama ke makam neneknya.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


Sembari nunggu kelanjutan kisah Mbak Mimin dan Om Hadi, yuk mampir ke novel besti othor di jamin seru.



__ADS_2