
Brakkk... Wijaya mengebrak meja dengan kencang. Hingga petugas datang untuk menenangkan.
"Ada apa ini?" tanya petugas dengan saling memegang David dan Wijaya untuk melerai.
"Dia Papah saya, tapi sedang mencoba melakukan upaya pencobaan agar saya bisa bebas dengan cara yang licik," tuduh David, agar sang papah segera pergi dari tempat ini. Ia sudah sangat cape dengan semua drama ini. Mungkin saat ini memang David membutuhkan tempat ini untuk menenangkan perasaanya. Apabila ada di luar penjara ia akan banyak sekali pekerjaan, tuntutan agar seperti ini dan itu, dan juga banyak urusan yang membuat dia semakin tidak tahu dengan arah dan tujuan dirinya sendiri.
"David... kurang ajar kamu. Nyesel Papa melakukan semua ini untuk kamu," pekik Wijaya tidak terima semua upaya dia agar bisa membebaskan putranya justru di gagalkan oleh David sendiri. Lagi-lagi Wijaya dibuat sulit untuk mengendalikan putranya, padahal dalam dua tahun ini David sudah bisa ia arahkan bahkan pencapaiannya sudah cukup banyak dalam pekerjaan yang tergolong waktu yang singkat.
David hanya menunjukan tersenyum santai. Mungkin kalau dia di luar penjara akan takut karena tekanan dari sang papa, tetapi di dalam penjara ia bebas melakukan apapun karena laki-laki itu merasa dilindungi, meskipun di dalam sini hanya ada alas seadanya dan makan juga seadanya, tetapi David merasakan tenang dan pikiranya benar-benar seperti istirahat, tidak seperti biasanya yang sibuk dengan semua urusan dunia yang bahkan istirahat saja hanya beberapa jam saja, dan ia tidak menikmatinya.
"Tuan... sebaiknya Anda pulang saja, David butuh waktu untuk memulihkan pikirannya. Dia masih trauma dan banyak pikiran yang mengganggunya," ucap salah satu petugas yang memisahkan David dengan Wijaya.
Laki-laki paruh baya itu pun akhirnya mengikuti saran dari petugas tahanan, terutama David juga sudah kembali dibawa masuk ke dalam.
"Tolong kalian pastikan anak saya dapat fasilitas terbaik," ucap Wijaya pada petugas yang menjaga lapas di mana David di tahan.
"Baik Tuan, Anda tenang saja David akan selalu dalam pantauan kami," balas petugas lagi dengan sopan. Sehingga Wijaya bisa pulang dengan pikiran yang cukup santai laki-laki paruh baya itu pun tidak akan membiarkan David berjalan dengan keputusan pemikirannya.
Setelah laki-laki paruh baya bisa membuktikan kalau David itu baik-baik saja dan tidak akan terlantar. Wijaya pun merogoh ponselnya, untuk memastikan kalau pengacara yang ia tunjuk bisa membebaskan David. Mereka akan menggunakan sesuatu yang ia rencanakan untuk mendapatkan simpati dan juga untuk mengalahkan lawan dalam keputusan hukum atas hak asuh anak dari David dan Mimin. Bahkan kalau dibutuhkan ia akan membuat keterangan gangguan kesehatan mental, agar semuanya bisa bebas. Rasa sayang pada anaknya membuat Wijaya kadang berprilaku yang sangat posesif.
[Bagaimana dengan yang saya minta, Sandy?] tanya Wijaya pada pengacara keluarga yang selalu menangani semua kasus-kasusnya selama ini.
__ADS_1
[Saya sudah pelajari semua yang Anda minta, tapi maaf sulit untuk memenuhi yang Anda inginkan Tuan. Lebih baik ikuti semua prosedur yang berlaku.]
Pengacara keluarga juga pasti sudah mencari tahu bagaimana permasalahan yang terjadi antara anak klien-nya dengan Mimi. Apalagi untuk mengambil Iko, itu sudah sangat sulit, kalau mengambil secara paksa justru pasti akan menimbulkan masalah baru, dan tentunya sudah masuk perbuatan pidana.
[Kalau gitu, biar aku ganti pengacara yang lain saja.] balas Wijaya dengan angkuh.
[Itu semua terserah pada Anda, fungsi pengacara adalah memberikan bantuan hukum pada korban maupun tersangka, mereka bukan hakim yang bisa menentukan hukuman, tugas pengacara hanya memberikan masukan dan solusi agar klien-nya tidak mendapatkan hukuman terlalu berat atau justru memberikan bukti kalau klien-nya tidak bersalah dan bebas dari hukum, tetapi untuk kasus David, saya rasa Anda juga sebenarnya sudah sangat paham, kalau anak Anda ada salah. Saya hanya menyarankan mengikuti semua prosedur dan terus memberikan bukti-bukti yaang positif, agar anak Anda mendapatkan hukum yang lebih ringan. Karena kalau Anda ingin lolos dengan cara yang Anda inginkan malah bisa memberatkan hukuman David.]
Pengacara Sandy dengan sabar memberikan pengarahan pada Wijaya, sebab laki-laki itu sudah puluhan taahun membantu kasus-kasus yang membelit perusahaan Wijaya, dan baru kasus ini yang sangat fatal.
[Kalian sama saja, dengan Yono.] Wijaya kembali memutus sambungan teleponya.
Laki-laki itu duduk termenung di dalam mobil mewah, dengan pikiran yang bekerja keras, ia tetap dalam pikirannya kalau dirinya bisa membebaskan David. Dalam otaknya terlalu yakin kalau hukum di negeri ini biasa dibeli.
*****
Di dalam penjara David duduk termenung dengan fasilitas yang jauh berbeda dengan yang lainya membuat David semakin nyaman berada di dalam penjara. Ada rasa menyesal kenapa ia bisa melakukan kekerasan dengan Mimin, sedangkan dalam hatinya ia masih mencintai wanita itu.
"Apa yang aku lakukan sebenarnya? Apa aku tidak terima karena Mimin dekat dengan Hadi atau kenapa?" gumam David, kadang ia sendiri tidak bisa mengatur apa yang ada dalam pikiranya kadang dia bisa menerima takdir ini dengan sangat lapang, tetapi kadang ia menjadi pemberontak yang sangat keras.
Ia memijat kepalanya yang berdenyut hebat. "Apa aku sudah dalam tahap depresi?" batin David lagi, karena saat ini ia benar-benar dikuasai dengan rasa bersalah dan mengutuk dirinya dengan sangat hebat kaena membuat wanita yang masih ia cintai hampir meninggal dunia. Laki-laki itu sadar betul dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
"Apa aku pantas mendapatkan maaf?"
"Apa aku pantas mendapatkan cinta itu lagi?"
"Apa aku bisa memperbaiki diri ini?"
Entah berapa lama laki-laki itu duduk dengan begitu banyak penyesalan yang menyelimuti nya. Ia terus menatap ke luar ruangan tahanan yang ia tempati seorang diri yang mana setiap adzan berkumandang sebagai seruan untuk sholat, sebagian para tahanan berlomba-lomba untuk beribadah seolah mereka akan mendapatkan jatah makanan yang lezat. Padahal mereka hanya beribadah alias dia tidak mendapatkan jatah makanan yang lezat dan nikmat itu, tetapi mereka sangat antusias.
"Apa ibadah segitu istimewanya hingga orang-orang itu sangat antusias untuk menjalankannya?" batin David heran.
Sebenarnya setiap tahanan yang dalam kartu tanda penduduknya tertera sebagai seorang muslim. Petugas selalu mengingatkan untuk ibadah, tentunya termasuk David yang dalam KTP ia beragama islam, tetapi David yang beragama muslim hanya untuk isi keterangan keperluan dokumentasi pun tidak pernah tertarik dengan tugas, kewajiban dan mempelajari agamanya. Bagi laki-laki itu hanya membuang waktu dan menambah pekerjaan yang tidak ada manfaatnya.
Bukan hanya David saja yang berpikiran seperti itu, tetapi kedua orang tuanya pun seperti itu, sehingga David sendiri tidak heran kalau tidak mengenal arti dan cara ibadah yang benar. Bahkan sang ibu yang bekerja sebagai pemiliki yayasan pendidikan yang terkenal religius pun hanya terlihat dari sampul luarnya saja, dalam hatinya belum sepenuhnya taat dengan segala aturan-Nya.
Kembali David menatap sesama napi yang tadi berebut untuk ibadah, dan kini ke luar dari tempat ibadah dengan wajah yang sangat bahagia, seolah mereka baru saja mendengar kabar kalau dirinya akan bebas esok hari.
"Apa yang mereka dapatkan sehingga wajah mereka sangat bahagia?" batin David lagi dengan makin penasaran ingin tahu dengan banyak apa yang terjadi di dalam sana.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1