
Di saat Wijaya, Risa dan David mendapatkan buah dari yang mereka tanam. Iko dan Mimin justru sedang tertawa bahagia.
Mimin dan Iko pun langsung turun dari mobil dan berjalan ke taman belakang rumah. Yah, si sana tempat favorit untuk Arum dan Ahmad.
"Kakek ... Nenek ..." Iko yang melihat Arum sedang duduk santai di taman belakang pun langsung lari menghampiri dua pasangan paruh baya yang romantis itu. Iko langsung mencium tangan kakek dan neneknya.
"Oh astaga cucu Nenek datang juga."Arum dan Ahmad tampak sangat senang ketika cucu barunya datang.
"Iko mau nginap di sini," celoteh Iko dengan senang kemarin-kemarin Arum dan Ahmad meminta Iko nginap di sini tapi takut nangis jadi dibatalkan dan sekarang Iko benar-benar akan mewujudkan mereka untuk menjadi kakek dan nenek seharian.
"Alhamdulillah, pasti Baba kamu senang." Arum dan Ahmad langsung bermain dengan cucu baru mereka.
Anak usia hampir tiga tahun itu tidak henti-hentinya tertawa dengan renyah ketika bermain dengan kakek dan neneknya. Meskipun mereka hanya main layangan di taman belakang, tapi hebohnya sudah kaya main apaan saja. Ide Ahmad memang bisa diacungi jempol laki-laki itu langsung meminta sopir pribadi anaknya mencarikan mainan layangan untuk cucu barunya.
Bukan mainan yang mahal dan juga bukan permainan yang mewah dan canggih hanya main layang-layang tapi berhasil membuat Iko berkali-kali mengucapkan WOW keren.
"Aas'salamualaikum ..." Hadi pukul empat sudah pulang. Ia memang sengaja pulang lebih awal, karena tahu di rumah ada anak tirinya. Yah, barusan Mimin mengirimkan rekaman di mana Iko dan kedua kakek dan neneknya sedang bermain bersama. Hadi sebagai Baba yang baik pun langsung mengemasi kerjaannya. Tidak mau ketinggalan ketika anak dan orang tuanya sedang menikmati kebersamaan.
"Bi, Iko di mana?" tanya Hadi pada asisten rumah tangga.
"Di belakang Tuan, semuanya ada di belakang," jawab asisten rumah tangga. Tanpa menunggu lama Hadi pun langsung menuju taman belakang. Benar saja, pemandangan yang sudah lama sekali Hadi impikan, kini ia melihatnya dengan langsung. Anaknya bermain dengan orang tuanya, sedangkan sang istri melihat dengan serius dan sesekali tersenyum karena kelucuan yang dilakukan oleh Iko.
Hadi berjalan dengan perlahan, dan dia pun menutup Mata Mimin dengan kedua tangannya. Pokoknya bikin adegan ala-ala film india biar kelihatan romantis.
"Akh ..." Mimin memekik kaget, tetapi sedetik kemudian wanita itu sudah tahu kalau yang menutup matanya adalah sang suami. Yah, Mimin tahu dari aroma parfum yang khas banget milik suaminya.
"Kok tumben Mas udah pulang?" tanya Mimin dengan tangan Hadi masih menempel di matanya.
__ADS_1
"Kok tahu sih kalau yang nutup itu aku?" tanya balik Hadi, dengan melepas tangannya dari mata Mimin.
"Ya iyalah kan ketahuan dari wanginya. Nih wangi banget." Mimin memeluk Hadi yang berdiri di sampingnya.
"Oh iya, aku kan wangi yah, jadi lupa. Kalau gitu izin yah mau iku main dengan anak." Tanpa menunggu jawaban dari Mimin, Hadi pun langsung menghampiri anaknya dan mengangkat tinggi dengan meniup perut Iko hingga anak itu tertawa dengan bahagia.
Sedangkan Arum yang merasa cape pun menghampiri menantunya yang sedang tertawa juga menyaksikan kebersamaan keluarga barunya.
"Mamah senang karena rumah ini sekarang rame," ucap Arum mengagetkan Mimin yang sedang fokus pada Hadi dan Iko yang tengah tertawa dengan renyah.
"Mimin juga senang karena Mamah dan Papah mau menerima Iko seperti cucunya sendiri," balas Mimin, tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Arum dan Ahmad karena mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya. Menerima dirinya lengkap dengan anaknya.
"Iya, Mamah dari dulu tidak pernah melarang anak-anak Mamah mau menikah dengan yang masih sendiri atau yang sudah punya anak seperti kamu. Karena malah kalau sudah punya anak seperti kamu, Mamah dan Papah jadi ada temanya."
Yah, jarang memang ada yang punya pikiran seperti Arum dan Ahmad, dan ini yang membuat Mimin senang dan nyaman berada di tengah-tengah keluarga suami barunya.
Di saat Mimin masak bersama dengan ibu mertuanya. Hadi pun memilih membersihkan diri bersama anak tirinya. Laki-laki itu langsung membagi tugas dengan sang istri meskipun dia tidak pernah merawat anak dekan detail, tapi nuraninya sebagai orang tua langsung keluar. Ia mandi bersama dengan Iko bahkan mereka main air sangat romantis.
Setelah masak Mimin pun naik ke kamarnya dan senang sekali ketika mendengar kehebohan di dalam kamar mandi. Baba dan anaknya sedang mandi bersama.
"Baba, ini gosok sini," celoteh Iko dengan bawel.
[Iko diam Sayang nanti perih, air sabunya masuk ke mata.] Suara Hadi terdengar, yah bisa Mimin tebak pasti mereka sedang menggosok tubuh Iko kalau tidak menggosok rambut baby Iko.
[Udah yuk, udah dingin] Kembali suara Hadi yang terdengar.
[Bantal lagi Baba, lima menit lagi.] Iko mencoba menawar.
__ADS_1
Mimin terkekeh mendengar percakapan-percakapan yang menurutnya itu sangat romantis. Capeknya karena masak hilang sudah ketika mendengar obrolan Iko dan suami barunya. Setelah menguping obrolan laki-laki beda generasi Mimin pun menyiapkan pakaian ganti untuk Hadi dan Iko.
"Hih segel ..." celoteh Iko sembari lari dengan tubuh di balut handuk seperti lontong, dan di kepalanya di lilitkan handuk kecil. Kerjaan Hadi bikin Mimin bisa tertawa renyah.
"Ya Tuhan Mas ini lucu banget jadi kaya anak cewek." Mimin memeluk Iko dan mengangkatnya agar naik ke atas ranjang dan wanita itu langsung menggosok-gosok tubuh kecil putranya.
"Pengin anak cowok apa cewek?" tanya Hadi sembari memeluk Mimin dari belakang. Maklum dingin kalau memeluk istri kan selain dapat pahala juga dinginnya hilang yah Bang.
"Kalau boleh request sih pengin cewek biar sepasang," balas Mimin dengan santai dan tangan masih mengusapkan minyak telon pada tubuh putranya.
"Ya udah nanti kita bikin yang cewek," balas Hadi dengan percaya diri.
"Emang bisa gitu. Bukanya cewek dan cowok itu rahasia yang di Atas?" tanya Mimin serius.
"Ya emang gitu, tapi kan kita ada tips-tipsnya biar anak kita cewek." Hadi menaik turunkan alisnya.
"Ya udah pakai baju sana, masa Iko nanti udah ganteng, wangi dan rapi. Bababnya masih belum pake baju," ucap Mimin setengah mengusir suaminya. Agar ganti pakaian.
"Gimana kalau aku juga dipakaikan baju kaya Iko. Iri dong kalau Iko aja di pakaikan baju sedangkan Baba pakai baju sendiri. Tangan Hadi jangan ditanya sudah menyusup ke balik hijab sang istri. Untung Mimin sudah berpengalaman sehingga hanya memejamkan matanya dan menikmati sensasi darah yang berlomba-lomba naik ke atas kepalanya.
"Mas, udah sana pakai baju, nanti kita makan bersama Mimin sudah masak- spesial loh," ucap Mimin dengan yakin. Ok tanpa menunggu lama Hadi pun memakai baju bareng sama anaknya.
Setelah Mimin, anak dan suaminya membersihkan diri Mereka pun makan malam bersama. Yah malam ini terasa sangat sepesial rumah yang biasanya sepi jadi rame. Bukan hanya itu Hadi pun akhirnya merasakan juga tidur dengan keluarga lengkap ada anak dan istri.
Bukan hanya Hadi, Mimin pun merasakan yang sama.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...