
Ahmad meninggalkan Hadi dan Mimin, dengan perasaan yang bahagia. Sama halnya dengan sang istri yang sangat berharap kalau Hadi dan Mimin bisa langsung memberikan kado spesial untuk mereka. Cucu, itu adalah kado yang diharapkan oleh Ahmad dan juga Arum.
"Pah, apa yang tadi Papah kasih untuk Hadi?" tanya Arum kepo, padahal wanita paruh baya itu tentu juga sudah tahu kira-kira apa yang kira-kira suaminya kasih untuk pasangan pengantin baru.
"Hish ... Mamah pura-pura nggak tahu aja. Apalagi kalau bukan ramuan turun temurun keluarga kita. Yang membuat Mamah langsung hamil padahal baru sekali tempur," bisik Ahmad dengan percaya diri.
"Tapi emang bisa langsung jadi, kalau Mimin nggak minum jamu juga," balas Arum, wanita itu juga sebenarnya ingin memberikan resep turun temurun keluarga juga agar cepat dapat momongan. Tapi Arum takut kalau Mimin justru nantinya akan tersinggung.
"Hist Mamah, tidak usah. Kita lihat saja apakah nanti mereka langsung tek dung, atau justru harus menunggu lama. Tapi kalau Papah bilang pasti mereka akan cepat berbuah. Karena kan ada resep keluarga," balas Ahmad dengan sangat percaya diri. Arum sendiri hanya bisa mengiyakan karena memang resep yang Ahmad berikan pada anaknya sudah terkenal ampuh dan tahan lama, serta bibit kualitas premium dan unggul.
Di saat pasangan suami istri beda generasi dengan asik ghibah soal cucu dan bibit, serta tanam menanam di kebun yang subur. Hadi dan Mimin masih menikmati makan malam bersama. Hadi pun tidak kalah dari tadi sudah senyum-senyum sendiri, Karena dapat ramuan dari papahnya. Ahmad emang ngerti banget kalau Hadi butuh ramuan itu.
"Mas, tadi Papah bisik-bisik apa sih. Kok kayaknya serius banget?" tanya Mimin setelah ia menghabiskan makanan yang sangat lezat, dan berkata masakan mertuanya kini Mimin pun sudah menyimpan tenaga yang aman hingga nanti malam.
Mendengar pertanyaan Mimin, Hadi hanya mengulas senyum, ya kali masa diceritakan kalau papahnya memberikan obat untuk memulai petualangan yang seru menegangkan dan juga membuat andrenalin berperang dengan hebat.
"Tidak ada apa-apa. Biasa laki-laki dan laki-laki, Jadi Papah mengajarkan trik dan tipsnya buat pengantin baru. Apa kamu mau coba sekarang?" tanya Hadi memulai obrolan yang semakin intim. Maklum kalau suasana malam pastinya semakin malam otak semakin berpikir ingin berpetualang.
"Loh, emang Mas Hadi sudah sembuh. Mas Hadi baru juga pulang dari rumah sakit dan baru saja melakukan pembedahan apa tidak lebih baik kita malam ini langsung istirahat dulu saja, setidaknya hingga Mas Hadi pasti sehat dan tidak ada keluhan apa pun. Mimin takut nanti malah ada efek dari luka jahit Mas, kalau langsung mencoba tips dari Papah." Dengan Hati-hati Mimin menjelaskan kenapa dirinya menyarankan agar Hadi justru istirahat dulu jangan langsung mempraktekan jurus dan gaya yang sudah lama tidak ia praktekan.
Serrr ... darah Hadi seolah langsung naik lebih kencang ke kepala. Ketika secara tidak langsung Mimin menginginkan kalau malam inti tidak ada praktek jurus atau justru silahturahmi perkenalan anggota tubuh yang baru.
__ADS_1
"Sayang, mana enak kalau tidak langsung bercocok tanam. Kita coba ajah tipis-tipis kalau aku nanti di tengah-tengah mengalami sakit atau apalah itu makan hentikan kegiatan itu dan kita akan istirahat malam ini, bagaimana?" tanya Hadi usaha dulu yah, biar dapat izin dari pemilik lahan.
"Lagian kita baru makan Sayang kalau tidak langsung olahraga yang ada nanti jadi penumpukan lemak," imbuh Hadi, besar harapan kalau Mimin mau menerima tawaran dirinya yang sedang nego malam pertama udah kaya nego beli bawang aja serius banget proses tawar menawarnya.
"Kalau gitu kita ke kamar saja dulu bersihkan tubuh dan setah itu kita bisa mencoba resep rahasia yang Papah berikan," balas Mimin, ya dia sebagai wanita yang sudah pernah menjalani pernikahan tentu tahu hukumnya seorang istri yang menolak untuk melayani suaminya. Dosa, dan sebagai pemburu pahala tentu mimin tidak ingin ada dosa.
Mendengar jawaban dari sang istri Hadi pun langsung bersemangat.
"Kalau gitu kamu masuk kamar dulu aja, aku mau ke ruangan kerja sebentar," ucap Hadi, dan Mimin pun mengikuti apa kata suaminya. Ia berjalan ke lantai dua di mana di sana terdapat kamar suaminya. Sedangkan Hadi bukanya ke ruang kerja, tapi justru pergi ke dapur. Sesuai yang Ahmad katakan ia menyeduh satu bungkus jamu resep rahasia yang papahnya berikan. Meskipun rasanya sangat tidak enak, tapi demi bibit unggul dan premium seperti yang dikatakan oleh Ahmad, Hadi pun tetap meminumnya.
Setelah semuanya beres, dan Hadi pun sudah minum ramuan dari papahnya, ia menyusul Mimin ke kamar mereka. Pendengaran Hadi pun langsung terganggu dengan suara air yang mengalir. Yah, Laki-laki itu bisa tahu kalau sang istri sedang mandi.
"Apa aku masuk ajah yah, mandi bareng mungkin biar sekalian bikin adiknya Iko. Pikiran Hadi langsung terbayang-bayang hal yang pernah membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
"Gila ini ramuan Papah bener-bener terbukti sangat bagus, belum belum ada lima menit sudah langsung terasa hasilnya. Di bawah sana sudah berdiri terus." Hadi yang sudah mulai tegang pun memilih duduk menunggu Mimin yang sedang membersihkan diri.
"Mas ..." suara Mimin yang lembut membuat Hadi pengin segera masuk ke dalam kamar mandi untuk main basah-basahan.
"Ada apa Min?" tanya Hadi dengan berjalan mendekat ke depan pintu kamar mandi.
"Bisa minta tolong nggak?" tanya Mimin suaranya semakin lirih membuat Hadi semakin curiga. Jangan-jangan tamu tidak tahu diri datang di saat dia sudah minum ramuan rahasia yang Ahmad berikan.
__ADS_1
"Mas ada roti tawar?" tanya Mimin dengan suara yang terdengar sangat pelan.
Deg! Apa yang Hadi takutkan benar terjadi. Coba bayangkan bagaimana tersiksanya dia kalau tidak jadi mendaki gunung dan lewati lembah seperti lagu doraemon.
"Kamu kedatangan tamu?" tanya Hadi dengan suara yang lemah, pasrah dan tidak bergairah.
"Iya Mas, pantesan perasaan dari kemarin perut gak enak banget. Ternyata kedatangan tamu. Mungkin karena stres jadi maju jadwal datang bulannya," balas Mimin, dengan nada bicara lirih tidak enak karena pasti Hadi langsung loyo dengarnya.
Bener saja, rasanya langit runtuh. Mana si adik sudah ngasih sinyal terus minta bermanja-manjaan tapi malah tamu bulanan seolah ngajak perang.
"Ya udah Mas coba tanya sama Mamah, kalau tidak ada kamu bisa pakai roti tawar merek apa. Biar Mas belikan saja."
Yah mau tidak mau harus sabar malam ini. Tapi masalah tongkat kera sakti apa bisa diajak negosiasi?
"Sial-sial ini pasti othor kerjaannya. Ingat thor lagi lebaran malah bikin aku kesel aja," omel Hadi, karena gagal menjelajah.
#Maaf bang jujur othor gak tau.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1